Upaya Merekam Peristiwa dan Menangkap Sejarah dari Panggung Musik

CollaborACTION 2015

CollaborACTION 2015

“Foto panggung yang berhasil itu yang berdasarkan mukjizat,” kata Firdaus Fadlil dalam sebuah artikel wawancara di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Maret 2015 lalu. Firdaus Fadlil adalah seorang fotografer musik kawakan yang dibesarkan oleh Majalah Hai sejak era 80-an dan sudah memotret ribuan peristiwa musik mulai dari Metallica, Bon Jovi, Mr.Big, Sepultura, NKOTB, Green Day, Woodstock ’99, serta masih banyak lagi.

Music Photography, atau yang hari ini cenderung pada ‘skala’ Stage Photography, memang lahir untuk merekam segala aktifitas di lingkup (panggung) musik. Dengan obyek utama berupa penampilan musisi atau band di atas panggung, kegiatan ini tetap diyakini penting dalam upaya merekam jejak sejarah perkembangan musik dari waktu ke waktu.

Continue reading ‘Upaya Merekam Peristiwa dan Menangkap Sejarah dari Panggung Musik’

Extreme Decay ; Menggerinda ke Negeri Seberang

ExDX SEA tour flyers

ExDX SEA tour flyers

Akhir pekan ini, unit grindcore kawakan asal kota Malang, Extreme Decay, bakal menggelar tur mini ke Singapore dan Malaysia bertajuk Grinding Assault; South East Asia Mini Tour 2015. Mereka direncanakan tampil dalam tiga sesi konser bersama sejumlah band cadas setempat, yaitu di Singapore (08 Mei), Johor Bahru (09 Mei), dan berakhir di Kuala Lumpur (10 Mei).

Menurut mereka, proyek mini tur ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, sekitar tahun 2014 yang lalu. Bahkan konon sebelumnya, Extreme Decay sudah kerap diundang oleh komunitas musik metal untuk manggung di Singapore dan Malaysia, namun selalu saja gagal terealisasi karena jadwal yang tidak memungkinkan serta kesibukan yang belum bisa ditinggalkan.

Baru kemudian pada bulan Mei 2015 ini, Extreme Decay berkesempatan untuk menjejakkan kaki di dua negeri jiran lewat bantuan komunitas musik setempat dan Grind Fucker selaku promotor tur. Kebetulan, di sana Extreme Decay sudah cukup dikenal namanya dan memiliki fanbase yang militan, karena hampir setiap rilisannya juga beredar luas di Singapore dan Malaysia.

Continue reading ‘Extreme Decay ; Menggerinda ke Negeri Seberang’

Di Antara Lapak RSD Malang 2015

source ; netz.

source ; netz.

“Record stores keep the human social contact alive it brings people together. Without the independent record stores the community breaks down with everyone sitting in front of their computers” – Ziggy Marley.

“Lumayan, dapet hampir sejuta hari ini,” kata kawan saya ketika membereskan lapaknya pada hari pertama Record Store Day (RSD) di Malang, 18 April 2015. Dia tampak sumringah. Saya tersenyum dan cuma bisa mengacungkan jempol padanya. Kalau saja ia tahu bahwa omzet satu lapak pada RSD di Jakarta bisa mencapai puluhan juta mungkin ia bakal kaget dan senyumnya surut seketika.

Tapi, biarlah dia menikmati kebahagiaannya malam itu. Mungkin ia sudah cukup puas dengan omzet ratusan ribu. Tidak perlu menjadi tamak dan serakah dalam berdagang. Toh uangnya juga nanti langsung habis dipakai belanja untuk menyegarkan koleksi musiknya sendiri.

Perayaan RSD di kota Malang tidak sebesar di Jakarta, atau di kota besar lainnya. Mungkin lebih mirip dengan acara RSD di kota-kota kecil lainnya. Yang berjalan cukup wajar, normal dan biasa saja. Rasanya masih jauh untuk di-kooptasi oleh industri atau menarik minat korporat besar seperti yang (dikhawatirkan) terjadi di tempat lain. Mungkin belum terjadi di Malang, tapi sangat kecil juga peluangnya.

Faktanya, di sini tidak ada antrian panjang untuk masuk lokasi atau antrian membeli rilisan spesial di lapak official. Tidak terlalu banyak label dan lapak yang terlibat. Tidak ada rilisan super eksklusif atau ‘harta karun’ yang langka hingga kudu dipatok dengan harga yang gila-gilaan. Dan sejauh ini tidak ada yang mengeluh gara-gara toilet, asap rokok, batasan umur, atau hawa panas di lokasi acara. Kepanasan di Malang? Go home, you’re drunk!

Continue reading ‘Di Antara Lapak RSD Malang 2015′

Hasil Buruan di RSD Malang 2015

welcome home, RSD2015 stuffs!

welcome home, RSD2015 stuffs!

…..

19 April 2015, pada jam-jam terakhir perayaan Record Store Day (RSD) di kota Malang, saya baru menghitung hasil penjualan koleksi pribadi di lapak. Lumayan sih, tidak terlalu sedikit, apalagi banyak. Setidaknya cukup buat sedikit berburu dan belanja hari ini.

Menurut catatan, saya telah menjual rekaman Mocca, Homogenic, Panic At The Disco, Rocket Rockers, Autopsy, buku Fariz RM, dan beberapa barang lain. Juga melepas kaset Coldplay dan Franz Ferdinand untuk trade/barter dengan satu keping CD di lapak Barongsai Records. Lumayan.

Sebelum acaranya kelar dan lapak-lapak ini bubar, saya putuskan untuk segera berburu. Ternyata saya tidak sendirian. Para kolega pengelola label pun sudah beranjak meninggalkan lapaknya masing-masing dan mulai mengintip ke lapak sebelah. Ada yang transaksi kerjasama distribusi, ada pula yang memang niat beli rilisan untuk dikoleksi. Maklum, selain ‘pedagang’, sejatinya mereka adalah kolektor musik yang hobi berburu dan belanja demi ‘kesejahteraan’ rak koleksinya.

Sambil berkeliling, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya sudah berhasil mengamankan beberapa barang incaran. Bukan album-album yang langka sih. Sebagian besar cuma untuk melengkapi koleksi, sisanya memang produk lokal edisi rilisan khusus RSD tahun ini.

Continue reading ‘Hasil Buruan di RSD Malang 2015′

Mendefinisikan ‘Indie’ di Radio dan Memuja Jurnalisme Musik di Kelas

Be The Media!

Be The Media!

Sekedar pengalaman ‘manggung’ di ruang siaran radio, serta kelas jurnalisme musik di sebuah sudut kampus.

Jum’at malam lalu, 27 Maret 2015, saya diundang oleh radio Mas FM untuk sekedar bincang-bincang atau talkshow membahas soal musik indie secara on-air. Kata Deedee (Program Director Mas FM), seorang teman yang merekomendasikan saya untuk ‘duduk’ di sana – sebelumnya mereka kerap mengundang band indie lokal pada program tersebut.

Well, agak susah untuk bicara soal musik indie di radio yang punya segmen pendengar keluarga. Mas FM mungkin bukan radio yang hype di kalangan anak muda kota Malang, mereka cenderung lebih adult atau dewasa konsep siarannya. Bahkan, katanya, untuk memutar lagu metal yang berdistorsi saja agak susah di situ.

Continue reading ‘Mendefinisikan ‘Indie’ di Radio dan Memuja Jurnalisme Musik di Kelas’

Mengantarkan “Rima Ababil” Pulang Ke Rumah

Sekeping Plat "Barisan Nisan" di Omah Munir.

Sekeping Plat “Barisan Nisan” di Omah Munir.

“Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetep gagah? saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ganti baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggungjawab, yang mereka akan bayar sampai titik manapun…” – potongan orasi (alm) Munir yang dijadikan intro lagu “Rima Ababil”-nya Homicide.

Salah satu perjanjian semi-rahasia saya dengan Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide terkait dengan proyek rilis ulang Barisan Nisan adalah mengirimkan piringan hitam itu ke Mbak Suciwati, istri almarhum Munir Said Thalib.

Begitu hasil percakapan kami via mesej Twitter dan WhatsApp kala itu. Setelah saya menulis liner notes di buklet Barisan Nisan, Ucok akan mengirimkan dua biji vinyl ke Malang – satu buat saya, satunya lagi dia nitip buat Mbak Suciwati.

Sudah cukup alasan bagi Ucok kenapa Homicide musti memberikan sekeping piringan hitam album mereka kepada istri (alm) Munir. Tidak perlu dijelaskan lagi jika kita menyimak perjalanan Homicide, inspirasinya, pesan-pesannya, atau sekedar pernah mendengar intro lagu “Rima Ababil” yang saya kutip di bagian awal tulisan ini.

Continue reading ‘Mengantarkan “Rima Ababil” Pulang Ke Rumah’

MLG 101 ; Kota Yang Entah

MLG 1914 - 2015

MLG 1914 – 2015

Kumpulan gerutu soal kondisi kota Malang dan 101 masalah yang tidak selesai…

Saya terkadang sebal juga tinggal di kota Malang yang mulai makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai ngeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Continue reading ‘MLG 101 ; Kota Yang Entah’


samack

Axis Blog Award 2012 Nominee


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers