Ebenz: “Memutuskan menjadi musisi metal di Indonesia adalah keputusan ternekat yang pernah saya ambil!”

Foto dok. Burgerkill

Bulan Mei 2015 yang lalu, band metal terbesar di Indonesia, Burgerkill, tepat mencapai usianya yang ke-20 tahun. Itu tentu bukan usia yang singkat bagi sebuah band yang lahir dari sudut distrik perkampungan yang padat dan kawasan industri yang sibuk di bagian timur kota Bandung. Anak-anak muda yang ngotot memainkan musik yang sangat mereka sukai – dari hardcore, punk, sampai metal, serta kombinasi segala musik keras di antaranya.

Seperti yang sering dibilang orang-orang, perjalanan karir Burgerkill memang telah memeras darah, keringat dan air mata hingga tetes terakhir. Tonton video dokumenter mereka, We Will Bleed, untuk kisah detilnya. Itu semua terjadi kalau pun bukan akibat takdir dan kebetulan, pasti karena kerja keras dan mimpi yang selalu mereka perjuangkan sampai hari ini.

Saya mewawancarai gitaris Ebenz untuk menangkap kesan tentang fase awal terbentuknya Burgerkill, momen-momen bersejarah dan pencapaian yang telah diraih, serta bagaimana karir bermusik yang sudah digeluti selama 20 tahun itu akhirnya ikut mengubah hidupnya…

Continue reading “Ebenz: “Memutuskan menjadi musisi metal di Indonesia adalah keputusan ternekat yang pernah saya ambil!””

Blues di Masa Pandemi dan Injeksi yang Sarat Distorsi

kredit: senyawa – alkisah

Bulan Maret 2021 ini genap sudah setahun kita dihantam pandemi. Setahun tanpa konser. Setahun tanpa headbang dan cucur keringat di moshpit. Setahun tanpa sapa dan canda di backstage sembari berbagi bir. Setahun tanpa “silaturahmi metal” di festival musik skala nasional (sembari berbagi bir juga!). Setahun tanpa perjalanan tur atau rock trip ke sana-sini. Setahun yang nihil job bagi para musisi dan kru, tentunya. Singkatnya, setahun yang gini-gini saja.

Continue reading “Blues di Masa Pandemi dan Injeksi yang Sarat Distorsi”

Di Antara Tema Kasih Sayang, Malam Sabbath, dan Dirgahayu Heavy Metal!

Sekarang kita sedang berada bulan kedua dari tahun 2021. Bulan kasih sayang, katanya. Cih. Eh, ciyeee. “Metal kok cinta-cintaan dan valentine-an,” mungkin begitu respon Bvrtan dengan muka sebal sembari memanen padi di sawah. Sudah, jangan diganggu. Pak Kades dkk masih pusing dengan segala cicilan dan tekanan dari para tengkulak beras di masa pandemi sekarang ini.

Continue reading “Di Antara Tema Kasih Sayang, Malam Sabbath, dan Dirgahayu Heavy Metal!”