top-5-list
top-5-list

Mengalami bulan pertama di tahun yang baru, saya sudah disibukkan oleh beberapa rilisan musik yang menarik. Tanpa banyak prolog, berikut lima album anyar yang jadi favorit saya selama sebulan kemarin. Sebuah awal tahun yang bagus, bukan? Yeah, it’s just the beginning…

1. Alcest “Shelter”

Sejak awal tahun 2014, sebut saja di era post-Deafheaven, tempo musik blackgaze seperti dijalankan lebih lambat dan kalem oleh salah satu pionirnya, Alcest. Album “Shelter” bahkan nekat mengajak ‘bapak angkat’ shoegaze, Neil Halstead dari Slowdive, untuk mengisi vokal di lagu “Away”. Sejak track pertama, “Opale”, saya sudah shock dan terpesona. Track lainnya juga terlalu mewah untuk dialihkan. “Shelter” bisa memaku pantat saya di kursi lebih lama. Dan boleh dikata, tidak ada yang metal di segala sisi album ini.

Fave Track ; Opale, musik blackgaze tidak pernah secerah ini sebelumnya – musically & visually. 

2. Thee Silver Mt.Zion Memorial Orchestra “Fuck Off Get Free We Pour Light On Everything”

Saya baru tahu kalo Mt.Zion merilis album baru setelah menguping pembicaraan dua orang teman saat nongkrong bersama di sebuah kedai, beberapa pekan lalu. Saya diam saja. [Pura-pura] Tenang. Tidak terlalu fanatik pada Mt.Zion, aslinya. Hanya saja, saya mengunci nama itu di memori dan tetap penasaran. Tengah malamnya, saya buru album ini pas koneksi internet cukup bersahabat. Kesan pertama; album yang bagus. Setelah beberapa kali disetel; ah, album ini sangat bagus. Katakanlah, “Fuck off Get Free” itu soal kecintaan terhadap kota yang didiami, kehidupan masa kanak-kanak, serta bagaimana menjadi orang tua yang baik.

Fave Track ; What We Loved Was Not Enough, tembang getir yang penuh emosi dan diakhiri tangis. 

3. Mogwai “Rave Tapes”

Begitu banyak instrumen elektronik di album ini – dibandingkan karya-karya mereka sebelumnya. Saya baru dua kali memutar album ini secara penuh, full track. Menarik. Spacey. Astronomik. Mekanikal. Tidak menginjak bumi. Introspektif. Dan pada akhirnya, Mogwai akan tetap menjadi salah satu pilihan wajib untuk aktifitas menatap langit dan bintang. Keep calm and stargaze!

Fave Track ; Repelish, spoken words soal lagu “Stairway To Heaven” dan pesan-pesan satanis?! 

4. Sunn O))) – La Reh 012 

Mini album ini hanya berisi dua lagu dengan total durasi hampir 40 menit. Melelahkan? Mungkin. Kedua track tersebut cuma tentang dengung, feedback dan bebunyian wall of noise yang tidak begitu nyaman bagi telinga. Memang mungkin ada yang salah pada kuping yang hobi mendengarkan suara gitar feedback selama hampir satu jam. Namun, dengan mood dan volume yang tepat, jika itu dianggap sebuah pengalaman spiritual, kita mau apa?!…

Fave Track; Invisible / Sleeper, dengung, dengung, dan…dengung.

5. Layur – Selftitled

Saya mengunduh album ini melalui netlabel Jepang, Totokokolabel. Layur adalah proyek solo dari musisi Jogja, Febriann Mohammad, yang sebelumnya pernah saya tahu/dengar dari laman Soundcloud-nya. Dikatakan bahwa Layur memainkan musik pop-ambient-acoustic-electronic dalam mood yang timbul-tenggelam. Konon, musiknya juga terinspirasi oleh hal-hal yang alamiah seperti rintik hujan, suara burung, desir angin, laut, matahari, pepohonan dan juga pagi. Itu yang mungkin bikin musik Layur terdengar tidak terlalu mekanis dan artifisial – malah begitu hidup dan tumbuh.

Fave Track ; Someday We’ll Leave Our Walls Behind, intro petikan gitarnya sudah cukup menyandera.

*soundtracks; dalam menulis list ini, saya – tentu saja – banyak memutar lima album tersebut di atas. proses editing & upload dilakukan sambil mendengarkan television “marque moon”.