Image
may i got a cup of coffee & keep writing?

Pada pertengahan tahun 2010, situs musik Apokalip.com yang saya kelola bersama seorang kawan mendadak terhenti operasionalnya. Padahal saat itu saya baru saja menyelesaikan naskah wawancara panjang dengan Wendi Putranto [editor RSI]. Awalnya naskah itu memang untuk dimuat di Apokalip – dan saya bilang pada Wendi juga begitu. Tapi toh tuhan, kuota bandwidth dan manajemen situs musik sok-cadas itu berkata lain. Apokalip kudu hiatus dan saya belum sempat mengunggah naskah tersebut. Fukk!

Tentu saya agak sebal dan panik. Sebab saya sudah mengolah draft wawancara yang panjang hingga jadi artikel yang cukup dalam. Menguras waktu dan energi. Lagian, isinya saya rasa juga penting untuk diketahui publik. Sebab banyak membahas soal jurnalisme musik dan buku Music Biz-nya Wendi. Hal yang agak baru dan jarang terekspos, kayaknya.

Saya lalu banting setir, mencari media online yang sekiranya cocok untuk memuat artikel tersebut. Dari beberapa nama yang kurang sreg, akhirnya saya menemukan Jakartabeat.net. Uhm, situs musik yang lumayan. Tampaknya mereka suka dengan naskah-naskah yang panjang dan ulasan yang mendalam – satu hal yang sering dihindari oleh media online dengan alasan klasik; naskah online itu gak perlu panjang-panjang, kudu singkat dan to-the-point. Rumus itu katanya berdasar pada survey bahwa pembaca online lebih doyan baca artikel yang pendek. Basi!

Maaf saya sebut basi, karena tulisan saya biasanya cenderung panjang dan lebar. Di Apokalip, saya juga menulis seperti itu. Suka bertutur panjang, kadang gak penting. Jadi, sori kak.

Saya lalu menghubungi redaksi Jakartabeat – via email atau mesej Facebook saya sudah lupa. Saya perkenalkan diri dan menawarkan kalau ada naskah baru yang mungkin mereka minat untuk memuatnya. Mereka langsung menyatakan bersedia menampung ‘sampah’ saya itu. Saya gak tau siapa yang balas mesej saya, tapi pasti kalo gak mas Philips Vermonte ya bung Taufiq Rahman saat itu. Sapa lagi?

Singkat kata, langsung saya kirim naskahnya dan beberapa hari kemudian dimuat. Saya tersenyum, bangga. Seperti itulah keterlibatan pertama saya menulis bersama Jakartabeat. Nyaris tidak sengaja, terpaksa dan layaknya kecelakaan, bukan?!

Beberapa hari lalu adalah perayaan ulang tahun Jakartabeat yang ke-empat. Berikut ini semacam testimoni personal berupa 13 alasan kenapa saya – pernah, mau, sedang, dan mungkin akan tetap – menulis di situs tersebut…

01. Karena Apokalip.com tidak aktif lagi. Maka saya kudu mencari media lain sebagai ‘pelampiasan’ dari hasrat menulis saya. Untungnya, di Jakartabeat saya diterima dengan baik dan menyenangkan.

02. Sebab Jakartabeat selalu membebaskan saya untuk menulis apa saja, sepanjang apapun, dan nyaris tanpa disunting sedikit pun. Jadi saya bisa menulis serial artikel Iron Maiden, wawancara panjang Nova Ruth, stori Radio Senaputra, sampai liputan beberapa konser musik yang saya kunjungi serta ritual tahunan macam list album cadas terbaik.

03. Mungkin juga karena di sana ada dua nama founder yang saat itu masih berstatus mahasiswa Indonesia di Amrik. Akh, mereka pasti ke US karena beasiswa, dibiayai negara, atau mungkin orang tua mereka kaya-raya. Entahlah. Saya gak terlalu ambil pusing dengan hal tersebut. Yang saya tahu, dua pria ini memang menyukai musik, dan merayakan kecintaan mereka pada musik dengan cara yang benar. Konon, mereka juga pengepul rekaman berbentuk plat dan pemburu 500 album terbaik versi majalah Rolling Stone. Begitulah yang pernah saya baca pada blog Berburu Vinyl, yang kelak jadi cikal bakal Jakartabeat.

04. Juga, gara-gara sering disapa oleh Mas Philip dan Mas Taufiq melalui kolom chat di Facebook. Ngobrol-ngobrol ringan saja. Kadang cuma bercanda. Dan kebanyakan, berbincang soal musik dan [rencana] tulisan selanjutnya. Oke, mereka mungkin sedang memainkan peran sebagai redaksi yang ramah dengan modus ‘nagih’ tulisan sih, biasanya. Yah maklum, saya memang agak bandel, malas dan sering telat kirim naskah.

05. Hey, Tidak! Saya tidak pernah curhat pada redaksi tentang asmara dan berkeluh-kesah soal patah hati akibat ditinggal perempuan seperti yang dilakukan oleh kontributor Jakartabeat yang lain [you know who you are!]. Dih, manja!… :p

06. Ya, di Jakartabeat akhirnya saya mengenal kontributor yang lain. Menambah teman baik, yang notabene para penulis berbahaya. Misalnya Idhar Resmadi, yang namanya sudah kondang dan saya kagumi tulisannya semenjak dia masih aktif di Ripple Magazine. Lalu Nuran Wibisono, generasi arek Jember terakhir yang masih doyan hair metal. Ada Jaki yang punya wawasan luas soal blantika musik tanah air. Arman Dhani, selebtwit pencinta buku yang suka mbribik cewek dan selalu gagal. Serta nama-nama lain yang selalu bikin saya merinding kalau baca tulisannya, seperti Anwar Holid, Budi Warsito, Ardi Wilda, Yus Ariyanto, Akhmad Sahal, Nosa Normanda, Pry S, Donny Anggoro, Adi Renaldi, Ayu Welirang, Raka Ibrahim, Debby Utomo, dsb.

07. Ya, saya jadi banyak belajar soal music journalism sampai gonzo journalism gara-gara Jakartabeat. Sepertinya itu juga bikin saya jadi lebih skeptis, cermat dan doyan membaca. Di Jakartabeat saya juga mendapat wawasan musik lebih dalam dan luas lagi. Selera kuping saya melebar, gak melulu musik metal saja. Terus terang, saya justru dikenalkan pada Pavement, The Flaming Lips, Wilco, The National, Television, Fleet Foxes atau Vampire Weekend oleh situs ini. Belum lagi band dan musisi-musisi underrated [underdog?] yang seringkali saya baru tahu namanya dari Jakartabeat.

08. Saya bisa menulis serial tulisan panjang soal Iron Maiden dan berangkat meliput konsernya di Bali. Eh, yang ini sudah saya sebut di atas tadi ya? Ah biarlah.

09. Jakartabeat juga mengajarkan saya untuk jangan terlalu percaya pada press release. Dengarkan dulu musiknya! Tonton sendiri show-nya! Alhasil, tidak semua kiriman CD-CD gratis bisa saya ulas. Tidak semua freepass konser akan berbuah liputan. Saya yakin, para kontributor Jakartabeat adalah ‘jurnalis musik’ yang jarang berada di press conference dan media center. Mereka itu cenderung untuk beli CD dan tiket konser sendiri – lalu menulis secara independen, jujur dan tanpa ada rasa sungkan.

10. Apa lagi ya? Oya, saya bisa masuk ke gedung parlemen dengan alasan keren di pos penjagaan, “Permisi pak, saya mau ijin ambil tiket konser JRL di ruangannya ibu Nova Riyanti Yusuf.” Hasilnya, jalan-jalan keliling kompleks DPR/MPR di Senayan dan sebuah ulasan konser The Smashing Pumpkins titipan mbak Noriyu.

11. Kalau beruntung, menulis di Jakartabeat itu juga bisa masuk buku loh. Contohnya, tulisan saya soal Ulasan DVD Seringai termuat di buku Like This; Kumpulan Tulisan Terbaik Jakartabeat 2009-2010.

12. Eh, tahukah anda ada grup whatsapp yang isinya redaksi dan para kontributor Jakartabeat?! Jangan ditanya topik obrolannya. Cenderung kocak, absurd dan bisa bikin geram. Ha!

13. Pada akhirnya, selalu ada letupan gairah yang sulit untuk diungkapkan ketika saya menulis [maupun membaca] artikel di Jakartabeat. Cukup sureal. Juga mencerahkan. Pada akhirnya, dalam beberapa kasus, menulis di Jakartabeat itu sesungguhnya adalah sebuah ‘kutukan’. Nuff said.

Udah ah, segini aja ceritanya ya. Trims atas kesempatan dan pengalamannya selama ini, Bung. Dirgahayu Jakartabeat!

Ah, cita-citanya sih tulisan ini bisa jadi kado testimoni dan ikut memeriahkan ulang tahun Jakartabeat ke-4 yang jatuh beberapa hari yang lalu. Telat ya?

“Basi! Madingnya udah siap terbit!” cetus Cinta sambil melengos pergi.

….. 

*Ya sudah, baca juga testimoni Awe, Gde Dwitya, Uyan, Dhani, dan Jaki soal empat tahun Jakartabeat.