The Beast dan Lagu-Lagu yang Berani

edane

25 tahun lalu, The Beast muncul dan langsung melesatkan standar musik rock yang tinggi bagi Indonesia.

Continue reading

Advertisements

Piston – Titik Nol

Piston-Titik-Nol

Piston – Titik Nol
Sepsis Records / Lawless Jakarta (2016)

Piston mengawali petualangannya lewat “Menuju Ketiga”, nomor pembuka yang ditaburi mesiu punk dan rentetan koor vokal. Bait refrainnya cukup ramah dan terbuka, “Mari duduk bicara / Selesaikan semua ini / Lepas egomu dulu / Gunakan sedikit nurani…”

Continue reading

Kelakar – The Colonel

kelakar-thecolonel

Kelakar – The Colonel
Hitam Kelam Records (2016)

Sejak track pertama, “Ephesus; The Deprivation of Sacra Symbotism”, unit ini sudah bikin ulah. Memacu musik keras yang menggerinda lalu tiba-tiba meliuk pada komposisi yang jazzy, bossanova dan swing. Formula seperti ini langsung mengingatkan saya pada Exit 13, band sinting lainnya dari Amerika Serikat.

Continue reading

HURT’EM – Condolence

hurtem-cond

HURT’EM – Condolence
Lawless Jakarta Records (2017)

HURT’EM merupakan darah segar di sirkuit hardcore/punk nusantara. Meski begitu, pada line-up band ini ada nama-nama yang tidak begitu asing. Epan (Deth Krokodil) selaku bassist dan penulis lirik telah bersekongkol dengan gitaris Chucky (Slutguts) untuk menciptakan riff yang gelap serta penuh tenaga. Dari balik drumset, ada Oces Rachmat yang menambah daya dan tempo ketukannya setelah melakoni peran yang sama di unit death metal, Carnivored. Mikrofon digenggam kuat oleh Adul (Ancaman) yang mengisi seluruh vokal di album ini.

Continue reading

Getar Jiwa Sang Musisi Pada Cermin Ketujuh

gb-booth-by-fadly

Photo by Fadly

Sekitar jam delapan malam, pelataran God Bless Cafe 2 yang terletak di daerah Blimbing, Malang, tampak penuh dengan kendaraan roda dua dan empat yang parkir. Hujan yang turun sedari sore nyaris berhenti. Hanya menyisakan rintik-rintik kecil air hujan dari langit. Tanah di bumi masih basah menyisakan genangan-genangan kecil. Langit tampak gelap diselimuti awan mendung. Tanpa bintang. Suhu dingin mulai menusuk tubuh.

Di bagian dalam kafe, suasananya tampak lebih hangat. Beragam jenis manusia lalu-lalang dan asyik bercengkerama. Mulai dari bapak-bapak tua berusia lebih dari setengah abad hingga remaja belasan tahun ada di situ. Saling menyapa, bercanda dan berbincang. Sebagian besar malah saling kenal satu sama lain. Saling menegur dan menanyakan kabar. Seperti reuni kecil saja.

Continue reading