Retrospektif Musik bersama Samack

dsc02222

Photo ; Widhi Astana / Whiteboard Journal

Tempo hari, saya diajak berbincang oleh Muhammad Hilmi untuk situs Whiteboard Journal. Seperti ini hasilnya…

Malang adalah salah satu kota yang menetapkan barometer musik lokal. Di kota ini, sejarah musik rock lokal tumbuh dan berkembang, Malang adalah salah satu tempat dimana musik underground hidup dan dihidupi, dan belakangan mencuat kembali dengan keberagaman musik yang segar dan menarik. Whiteboard Journal berbincang bersama salah satu pegiat scene sekaligus pelaku sejarah musik di kota Malang, Samack mengenai sejarah, dikotomi daerah-pusat hingga potensi yang ada di sana.

Continue reading

Advertisements

Mengabadikan Zaman bersama Garna Raditya

garna_raditya_1

Garna Raditya – Foto oleh Scott Russel

Semarang sering luput dari radar youth culture yang terjadi di seputaran Indonesia. Padahal, di dalamnya juga terjadi pergolakan dan semangat yang sama dari anak-anak mudanya. Garna Raditya adalah salah satu sosok penting yang menghidupkan scene Semarang melalui aktivitasnya sebagai gitaris di dua band legendaris Semarang, AK//47 dan OK Karaoke. Whiteboard Journal berbicara dengan Garna yang kini tinggal di Amerika mengenai albumnya, serta pentingnya perkembangan literasi.

Continue reading

Marcel Thee ; “Saya Tidak Yakin Kami Pernah Membuat Album yang Terdengar Terlalu Remaja atau Muda”

Foto Dok. Sajama Cut

Foto Dok. Sajama Cut

Band indie rock asal Jakarta, Sajama Cut, belum lama merilis album yang bertajuk Hobgoblin melalui label Elevation Records. Sudah ada beberapa ulasan dan kritik untuk album tersebut. Pada umumnya, mereka bilang Hobgoblin adalah album yang baik-baik saja, bahkan nyaris istimewa. Dalam artian, memang album itu banyak ditunggu dan ternyata disukai – bahkan oleh mereka yang (mengaku) sebenarnya tidak seberapa paham konsep musik, lirik maupun tema yang sedang diusung oleh Sajama Cut.

Saya hanya sempat mendengarkan beberapa sampel lagu saja ketika memberanikan diri untuk menulis testimoni pendek bagi album Hobgoblin di musim pra-rilisnya; “Marcel Thee & co. tidak pernah jera membuat komposisi musik yang indah dan di luar nalar band-band sejenis. Kompleks dan misterius, namun tetap nyaman di telinga. Pada bagian yang paling sederhana pun masih terdengar epik dan punya nilai seni.”

Ya, mungkin itu hanya dugaan yang agak tergesa-gesa dan diliputi positive thinking belaka. Maklum, dua album mereka sebelumnya, The Osaka Journals (2005) dan Manimal (2010), sudah memberikan standar yang cukup tinggi serta kepercayaan yang kuat bagi saya untuk tidak (pernah) meragukan lagi kualitas bermusik Sajama Cut.

Continue reading

Burgerkill ; 20 Years of Blessing Life and Un-Blank Proudness

Burgerkill - BK.Doc

Burgerkill 2015 – BK.Doc

Bulan Mei 2015 yang lalu, band metal terbesar di Indonesia, Burgerkill, tepat mencapai usianya yang ke-20 tahun. Itu tentu bukan usia yang singkat bagi sebuah band yang lahir dari sudut distrik perkampungan yang padat dan kawasan industri yang sibuk di bagian timur kota Bandung, serta ngotot memainkan musik yang sangat mereka sukai – dari hardcore sampai metal, dan kombinasi segala musik keras di antaranya.

Seperti yang sering dibilang orang-orang, perjalanan karir Burgerkill memang telah memeras darah, keringat dan air mata hingga tetes terakhir. Tonton video dokumenter mereka, We Will Bleed, untuk kisah detilnya. Itu semua terjadi kalau pun bukan akibat takdir dan kebetulan, pasti karena kerja keras dan mimpi yang selalu mereka perjuangkan sampai hari ini.

Saya mewawancarai gitaris Ebenz untuk menangkap kesan tentang fase awal terbentuknya Burgerkill, momen-momen bersejarah dan pencapaian yang telah diraih, serta bagaimana karir bermusik yang sudah digeluti selama 20 tahun itu akhirnya mampu merubah hidupnya…

Continue reading

Menafsirkan Sepakbola Bersama Eddward S. Kennedy

world cup 2014 graffiti [urban times]

world cup 2014 graffiti [urban times]

“Some people think football is a matter of life and death. I don’t like that attitude. I can assure them it is much more serious than that,” kata Bill Shankly [1913 – 1981], salah satu manajer Liverpool FC paling hebat di sepanjang sejarah klub Inggris tersebut.

Ungkapan Bill Shankly itu cukup beralasan jika kita mau melihat sepakbola tidak sekedar permainan 2 x 45 menit semata. Bukan soal skor akhir, atau menang-kalah. Sepakbola, seyogyanya, sudah seperti merayakan denyut dan sendi kehidupan itu sendiri. Indah dan juga rumit. Kompleks.

Eddward Samadyo Kennedy bukanlah sosok komentator sepakbola yang biasa kita tonton wajahnya di layar stasiun televisi nasional kita. Karena memang masih sulit membayangkan ada komentator bola yang lebih suka mengutip kalimat-kalimat Albert Camus atau Jean Paul Sartre daripada Presiden FIFA atau Jose Mourinho, misalnya.

Continue reading

Senandung Rima dari Malang ke Sudut-Sudut Dunia

photo by norman hs / happipolla photoworks

photo by norman hs / happipolla photoworks

Jumat siang lalu, 31 Agustus 2012, saya diberitahu oleh seorang kawan bahwa Nova Ruth baru saja menerima penghargaan dari sebuah lembaga internasional. Saya tidak paham apresiasi macam apa lagi yang didapat oleh kawan kami yang memang cukup getol dalam bermusik, berkesenian dan berkarya itu. Segera saja saya coba selidiki informasi yang dimaksud melalui halaman jejaring sosial milik seniman/musisi yang bernama asli Nova Ruth Setyaningtyas itu.

“Lined up with the greatest artists all over the world. Speechless.” Begitu kalimat yang termuat pada halaman Twitter milik @novaruth. Lengkap dengan tautan situs internet dari lembaga yang mengabarkan tentang informasi tersebut.

Continue reading

Q & A ; M. Rizky “Boncell” Wahyu Utomo

boncell

boncell

Saya pertama kali kenal bocah yang akrab dipanggil Boncell ini sekitar dua tahun lalu. Saat itu saya sedang mengisi talkshow “Jurnalisme Musik” yang digelar Common Ground Magz di SMAN 8 Malang, dan kebetulan Boncell yang jadi host-nya. Oh, sopo arek cilik iki?! pikir saya waktu itu.

Kocak! itu kesan pertama saya tentang bocah ini – dan ini pasti diamini oleh banyak kawan yang sudah mengenalnya, luar-dalam. Memang bener, ada aja celoteh dan tingkahnya yang kadang agak absurd, serta ajaib.

Belakangan, saya jadi sering ketemu dia di berbagai event. Entah itu ketika Boncell jadi MC pertunjukan atau mendadak jadi kru paling bungsu di rombongan band Unda-Undi dan Atlesta.

Continue reading