Album Metal Indonesia Terbaik 2016

best-album

source ; warningmagz.com 

Mau di tahun berapa pun, musik metal selalu tampak menarik dan menyenangkan bagi sebagian besar penggemarnya. Setahun kemarin, scene musik metal di Indonesia juga membara dan penuh gairah melahirkan rekaman-rekaman musik yang apik.

Itu tidak lepas dari upaya label-label rekaman dalam negeri yang makin rajin dan sigap merilis album yang kadang di luar dugaan. Daftar katalog album dari label rekaman macam Hitam Kelam, Brutal Infection, atau Armstretch kerap menarik minat fans musik ekstrim metal. Bahkan ada beberapa label asing yang jeli dan nekat merilis album milik band Indonesia yang bagus. A good thing.

Continue reading

The 20 Malang Indie Essential Tracks from 2016

mlg_essen

Artwork by Eiji

Throughout 2016, Malang indie music scene was pretty much fervent with many releases from potential musicians and bands. The music discography, whether in the form of single or album were overflowing and most of them were worth checking out. Music gigs, concerts, or festival level celebration in Malang were packed and they further proved the high enthusiasm within our local music scene. In this special mixtape, we have compiled 20 essential indie tracks that were released by Malang’s indie musicians during 2016 that we thought were compelling enough to wrap up the year.

Continue reading

Memburu Pustaka Di Kandang Serigala

wp_20161019_003

“So many books, so little time.” – Frank Zappa.

“Good books, good foods!” begitu ucap Arisman dengan wajah sok yakin menatap saya. Seakan-akan ia sedang memaparkan tema utama perjalanan kami pagi itu. Kedua tangan pria bertubuh tambun itu tetap memegang kemudi mobil Avanza yang dipacu dalam kecepatan rata-rata. Saya hanya melirik geli mendengar kalimatnya barusan yang seolah-olah hidup pada hari itu hanya soal buku dan makanan, baginya.

Saya duduk tenang di samping pria berdarah Tionghoa tersebut sambil menyimak sampul CD album After The Eulogy-nya Boysetsfire yang sedang diputar saat itu. Tiga buah CD lainnya sudah siap di atas dashboard – Mastodon, Hellcrust, dan Ghaust – yang bakal jadi teman setia kami selama perjalanan Malang – Surabaya PP.

Continue reading

Scene N’ Heard ; Malang

crp8iztukaaldvq

Rolling Stone Indonesia, September 2016

Dengan iklim yang relatif sejuk, anak muda Malang bersenang-senang dengan caranya sendiri.

Sebagai salah satu daerah yang memiliki scene musik yang cukup disegani sejak lama, kota Malang tidak pernah kehilangan talenta-talenta baru khususnya di ranah musik independen. Kota ini bahkan dianggap menyimpan aura rock n’ roll yang kuat, menurut sejumlah kalangan.

Dari kota ini memang pernah melahirkan dan membesarkan nama-nama musisi/band yang cukup disegani karya, pencapaian dan legacy-nya. Seperti misalnya Rotten Corpse, No Man’s Land, Antiphaty, Extreme Decay, Screaming Factor, Begundal Lowokwaru, The Morning After, SATCF, atau Tani maju yang bergerak pada komunitas bawahtanah dan musik independen. Juga ada nama Flanella atau Putih yang sempat mengadu nasib pada label rekaman besar dan memainkan musik pop arus utama, kalau mau dicatat.

Continue reading

Berjalan Melintas Bukit Yang Jazzy

WP_20160821_013

“Waduh, kok ndadak? Mmmmh, sek aku tak mikir dulu 10 menit…” begitu kalimat balasan yang saya kirim melalui WhatsApp saat bercakap dengan Dewi Ratna alias Nana yang tiba-tiba menawari saya untuk ikut dalam Bromo Trip sembari menonton Jazz Gunung 2016. Tawaran mendadak itu datang pada Kamis sore (18/08), dan besok pagi sudah dijadwalkan untuk berangkat bareng-bareng menuju kawasan Bromo sembari menonton gelaran Jazz Gunung yang berlangsung selama dua hari, 20 – 21 Agustus 2016. Uhm…

Continue reading

Memungut Serpihan-Serpihan Kecil Dari Putaran Mesin Gerinda

ED4 - dok. Extreme Decay

dok. extreme decay

Setiap kali berada di backstage Extreme Decay, saya kerap melihat pemandangan yang sama; vokalis humble yang berjalan ke sana ke mari menyapa kawan-kawannya, drummer bertubuh gempal yang sibuk mengutak-atik asesoris drum, pria pendiam yang jongkok di pojok sambil memeluk stang bass-nya, serta gitaris bertubuh mungil yang suka menebar senyum kepada siapa saja.

Sementara para roadies dan kenalan dekat mereka biasanya lebih cair. Berbincang. Bercanda. Saling berbagi cerita, tawa, dan juga botol minuman. Seperti itu biasanya suasana backstage Extreme Decay, beberapa menit sebelum mereka tampil sesuai rundown.

Di atas panggung kemudian, Extreme Decay selalu bermain efisien dan efektif. Singkat dan padat. Tidak banyak omong dan hanya komunikasi seperlunya dengan penonton. Menggeber belasan lagu dalam durasi kurang dari 30 menit. Itu saja sudah penuh dengan peluh keringat dan histeria. Hanya ada satu kata untuk live show mereka; Intens.

Continue reading