Assemble The Press Kit… Turn That Shit Up!

press-kit_kiss

Press Kit KISS

Di zaman arus informasi yang serba cepat dan praktis dengan sokongan tehnologi digital saat ini, band atau musisi kudu pintar mensiasati kondisi. Salah satunya, bermodal rancangan strategi publisitas dan pemasaran yang efektif. Ada satu amunisi yang mutlak dimiliki oleh setiap band (baru) ketika mulai terjun ke belantara musik independen yang semakin riuh ini, yaitu Press Kit.

Continue reading

Senandung Dari Sungai Mersey Untuk Duka di Hillsborough

ferryjk

Life goes on day after day, hearts torn in every way…

Tempo hari saya tiba-tiba menemukan kaset ini di sebuah lapak online. Langsung saya ketik “Hold!” di kolom komentar. Awalnya saya tidak begitu paham ini kaset apa sih? Trus, isinya kira-kira lagu apa ya? Hanya saja, logo klub favorit saya di sampul depan itu sudah cukup jadi alasan yang kuat untuk memiliki kaset tersebut. Apalagi saya memang berniat mengumpulkan album-album musik yang erat kaitannya dengan sepakbola.

Continue reading

Metafora Komposisi Imajinar

PEKAUM

Sebuah pengantar untuk sesi diskusi Peka Kelas Keliling (PKK) “Music & Artworks” di Kafe Pustaka UM, 06 April 2017.

Dalam sebuah artikelnya, Rolling Stone Indonesia pernah menegaskan bahwa ada bobot yang menyeruak dalam sampul album musik yang digarap oleh para perancang grafis atau ilustrator. Bobot tersebut bahkan dianggap setara dengan perkembangan dan trend musik yang merebak pada era-era tertentu.

Continue reading

Kami Nongkrong, Maka Kami Ada…

hang1

Dari sebuah warung kopi, muncul sebuah studi observasi dan riset sosiologis yang ugal-ugalan soal fenomena tongkrongan anak skena musik sepanjang tiga jaman, tiga generasi, tiga dekade terakhir…

Tempo hari, saya sempat mengobrol panjang-lebar dengan seorang kawan soal trend dan fenomena tongkrongan anak skena, eh anak komunitas musik, atau mmmh… [berpikir]. Obrolan tidak penting sembari ngopi itu ternyata berlangsung seru, panjang dan lama – dalam durasi satu gelas kopi yang tidak terlalu manis dan berbatang-batang rokok kretek.

Continue reading

Semua Ini Mulai Menyebalkan, Bukan?!

fuk

Sore itu kabut tipis mulai turun di atas punggungan sebuah bukit. Disertai embun yang tipis-tipis menampar wajah. Saya terus berjalan sambil memanggul ransel di punggung dan menenteng tas berisi tenda dome di tangan kanan. Melewati gerbang bambu yang berdesain artsy, memasuki sebuah tenda besar, lalu melintasi beberapa meja kayu yang ditata zig-zag. Ada banyak kesibukan di sana. Saya menyapa sejumlah kawan yang kebetulan berpapasan. Hai kawan, sehat?!…

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka dengan penampakan panggung musik di ujung sana. Kabut tipis masih memenuhi udara dan sedikit menggangggu pandangan. Hawa dingin mulai menerpa kulit. Pepohonan rindang, rerumputan hijau dan panorama pegunungan tersebar di sekelilingnya. Adem. Sejuk. Saat itu pula, sayup-sayup terdengar lagu “Hoppipolla”-nya Sigur Ros di telinga. Syahdu.

Sebentar, apakah saya sedang berada di dataran tinggi Islandia?!…

Continue reading