Banyak Jalan Menuju Wacken

Foto dok. Wacken.com

Perjalanan band-band metal Indonesia yang telah sampai di panggung Wacken Open Air.

Di zaman masih bocah usia belasan tahun, saya pernah menonton video kompilasi Live in Wacken 1998. Saya sudah lama lupa meminjam dari mana/siapa kaset video berformat VHS itu. Tapi yang saya ingat di situ ada penampilan Lacuna Coil, Anvil, sampai Gorgoroth. Sisanya band-band rock/metal berwajah bule yang hanya saya kenal sebagian namanya dari kaset dan majalah musik impor.

Setelah menonton video itu, ada pemahaman baru di benak saya: Ternyata ada ya festival musik besar yang semua penampilnya adalah band-band rock/metal kelas dunia. Lantas baru tahu kalau band ekstrim itu juga bisa tampil di panggung besar nan megah yang ditonton oleh puluhan (atau ratusan?!) ribu orang. Saya pikir itu hanya bisa terjadi di Woodstock atau Lollapalooza dengan line up sekaliber Rolling Stones atau U2 saja.

Selanjutnya saya lebih sering tahu Wacken Open Air (W:O:A) sebagai salah satu festival musik cadas yang paling populer di dunia. Bagaimana tidak, poster W:O:A dengan deretan line up band-band favorit menawan hati sering saya lihat di beberapa majalah musik seperti Kerrang, Terrorizer, atau Metal Hammer. Poster yang sama juga kerap muncul pada halaman katalog rekaman yang biasa kawan saya dapatkan dari Nuclear Blast atau EMP.

Dari situ saya paham kalau W:O:A itu memang hajatan tahunan yang sarat distorsi dengan kultur metal yang kuat. Ini bak “lebaran”-nya para penggemar musik keras. Setiap tahunnya, ratusan ribu metalhead hadir ke festival yang berlokasi di sebuah desa kecil bernama Wacken di Schlesweig-Holstein, Jerman. W:O:A pertama kali digelar pada tahun 1990, dan selalu dihelat setiap awal bulan Agustus. Informasi ini pun baru saya tahu dari internet, di awal era 2000-an.

Saya lalu curiga kalau bermain di W:O:A itu menjadi mimpi basah setiap band rock/metal di planet ini. Apalagi saya sering mendapati banyak album rekaman live dari panggung W:O:A. Sepertinya semua band yang tampil di sana selalu terobsesi untuk merekam aksi panggungnya, dalam format audio maupun video, kemudian dirilis dalam bentuk CD/DVD kepada publik. Ada semacam “pencapaian” spesial bagi band yang pernah merilis karya dengan tajuk “Live at Wacken”. Layaknya punya stempel “naik haji” ke tanah suci.

Seiring waktu berjalan, saya makin yakin kalau W:O:A itu memang panggungnya band-band rock/metal besar kelas dunia – yang kebanyakan tentu datang dari AS dan Eropa. Semua band favorit para metalhead mulai dari Judas Priest, Iron Maiden, Metallica, Megadeth, sampai Slayer sudah pernah tampil di sana.

Dulu, membayangkan ada band Indonesia yang manggung di sana saja saya tidak berani. Ah, mustahil. Selain terlalu jauh, mana mungkin W:O:A tahu dan sadar kalau ada banyak band cadas di sebuah negara asing yang kurang terkenal di pelosok Asia Tenggara. Uhm, itu tidak mungkin terjadi. Udah deh, gak usah ngimpi…

xxxxx

“Sejak tahun 2003 saya sudah kirim email ke W:O:A, ngasih profil Burgerkill dan coba-coba nawarin diri untuk maen di sana,” ujar Ebenz (gitaris Burgerkill), dalam sebuah kesempatan. “Jangankan direspon sama mereka. Dibales email-nya aja enggak kok, haha!”

“Sampai akhirnya di tahun 2015, Burgerkill tiba-tiba dapet email dari W:O:A. Mereka mengundang kami untuk tampil di sana,” lanjut Ebenz sembari tersenyum dan raut wajah puas diliputi rasa percaya diri. Itu sekaligus menyiratkan kalau (salah satu) mimpinya akhirnya bisa menjadi kenyataan. Dia dulu pasti tidak pernah membayangkan kalau band yang dibentuk bersama teman-teman SMA-nya pada tahun 1995 itu kemudian bisa manggung di festival musik metal seagung W:O:A.

Undangan untuk manggung di WOA 2015 tidak lepas dari pencapaian Burgerkill di skala internasional pada era itu. Mereka sempat tur di Australia, serta manggung di Soundwave (2009) dan Big Day Out (2010). Puncaknya pada tahun 2013, Ebenz dkk memenangkan penghargaan Golden Gods untuk kategori Metal As Fuck dari Metal Hammer. Reputasi internasional Burgerkill mulai diakui banyak kalangan dan akhirnya menjadi band Indonesia pertama yang pernah tampil di W:O:A.

“Kami manggung dini hari sekitar pukul 02.30. Suhu saat itu dingin banget, di bawah 10 derajat celcius,” ungkap personel Burgerkill melalui video dokumenternya. Kisah komplit mereka selama di sana sempat diabadikan dalam bentuk DVD bertajuk Burgerkill: Blasting Europe – Tour Documentary & Live at Wacken 2015 yang dirilis BKTV dan demajors.

Melihat potensi musik dan kultur metal yang kuat serta antusiasme yang begitu besar dari komunitas scene cadas di sini, akhirnya W:O:A memberi kesempatan bagi Indonesia untuk menggelar W:O:A Metal Battle. Program ini digelar untuk menghadirkan perwakilan band dari seluruh dunia supaya bisa tampil di panggung W:O:A.

W:O:A Metal Battle dijalani di beberapa negara yang secara resmi bekerjasama/ditunjuk untuk menggelar kompetisi musik ekstrim di wilayahnya. Mereka kebanyakan adalah negara-negara dunia ketiga di luar radar industri musik metal dunia – yang tersebar di kawasan Amerika Selatan, Asia dan Afrika. Setiap band yang terpilih akan mewakili negaranya untuk berlaga lagi pada W:O:A Metal Battle tingkat internasional di Jerman.

Untuk Indonesia, kompetisi ini hadir dalam tajuk W:O:A Metal Battle Indonesia (WMBI) yang diinisiasi DjarumCoklatDotCom (DCDC), ATAP Promotions dan The Metal Rebel. Sejak pertama kali digelar di tahun 2017, WMBI memberi tiket otomatis bagi satu band Indonesia untuk bisa merasakan keseruan manggung di W:O:A.

Pada tahun 2017, Beside berangkat ke Wacken setelah bersaing dengan 238 band Indonesia lainnya. Kisah perjalanan mereka di sana diabadikan dalam dokumentasi DVD bertajuk Beside: A Journey To Wacken Metal Battle 2017.

Setahun kemudian, giliran Down For Life yang lolos dari sekitar 322 band kandidat WMBI 2018 lainnya. Band asal Solo itu ternyata tidak sendirian berangkat ke Jerman. Pada tahun itu juga ada Jasad yang diundang khusus untuk tampil di salah satu panggung W:O:A 2018. Kebetulan Man (vokalis Jasad) juga ditunjuk menjadi salah satu juri pada ajang W:O:A Metal Battle internasional di sana.

Pada tahun 2019, W:O:A Metal Battle akan digelar untuk yang ke-16 kalinya. Tercatat, ada 30 negara yang kembali mengirimkan duta cadasnya, termasuk Indonesia, ke desa kecil bernama Wacken. Tahun ini giliran Taring yang berangkat ke Jerman setelah memenangi ajang kompetisi WMBI, beberapa pekan lalu. Mari kita tunggu sedalam apa gigitan Taring di sana.

Invasi Indonesia ke Wacken tentu saja tidak akan berhenti sampai di sini. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, saat ini kita sudah bisa menonton aksi band-band Indonesia di panggung W:O:A. Sudah selayaknya kita ikut bangga dan angkat salam metal di udara.

Oke, bayangan saya dulu ternyata salah. Ternyata ada banyak jalan menuju Wacken…

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Pophariini dengan judul “Perjalanan Band Metal Indonesia di Panggung Wacken Open Air”, 06 Juli 2019.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s