13 Album Metal Indonesia Terbaik 2018

Sepanjang tahun 2018 kemarin, saya pikir progres musik metal di Indonesia cukup menarik dan menyenangkan. Itu kalau patokan (atau selera) kita memang sama. Aneka band metal dengan segala mazhab dan subgenre-nya terus menyajikan karya bermutu – dalam hal ini adalah album penuh. Sebagian bahkan berhasil mematok standar karya yang jauh lebih baik – sebagian malah cukup tinggi dan sulit dikejar – dalam hal tehnis produksi musik, konsep serta tema (lirik) yang kuat, hingga visual yang makin artistik. Cara band-band itu memikirkan konten karyanya sudah mencapai level yang lebih serius.

Sebagian nama juga tetap aktual dan relevan dalam merespon kejadian di sekitar. Baca saja lyric sheet-nya dan cari eksplanasinya. Tentu, itu perihal kondisi bangsa dan dunia yang masih jauh dari kata “baik-baik saja”. Mereka (terpaksa) masih membahas soal kuasa yang tiran, konfilk sosial dan politik, hoaks, fundamentalis agama, sampai distopia.

Memang seperti itulah metal seharusnya bekerja.

Saya sendiri baru sadar kalau bukan tempatnya untuk mengamati karya scene metal dari algoritma Spotify atau feed Instagram. Itu hanya (sekadar) tools dan strategi marketing saja. Sebab, tidak semua karya yang bagus lahir dan tumbuh di sana. Budaya metal memang memiliki peradabannya sendiri – di lapak-lapak kaset dan CD, di venue gigs yang sarat distorsi, atau di tengah lautan massa berkaos hitam pada sebuah festival metal.

Untungnya label rekaman seperti Lawless, Restinghell, Rimauman, atau Hitam Kelam masih rajin memproduksi album-album cadas yang menarik. Kadang saya juga menemukan banyak karya baru yang menantang dari Bandcamp. Mereka biasanya agak di luar radar. Ke depannya, saya berjanji akan lebih rajin ‘jalan-jalan’ ke sana.

Well, saya selalu menumpuk sejumlah CD di bulan terakhir dan menunggu hingga hari pamungkas untuk menulis daftar akhir tahun seperti ini. Pekerjaan ini saya lakukan rutin setiap akhir tahun, sejak satu dekade belakangan. Memang upaya yang berat dan melelahkan ketika memutar kembali satu-persatu CD atau ‘menguping’ beberapa album dari Spotify atau Bandcamp. Tapi saya akui ini menyenangkan.

Kali ini, setelah mendengarkan puluhan album, akhirnya saya pastikan ada 20 kandidat rekaman metal yang menarik. Itu lalu saya peras lagi jadi 15, lantas mentok di 13 judul album. Stop. Saya tidak tidak bisa lagi mengurangi kuota ini. Tidak rela mencoret satu baris pun dari 13 album ini.

Sialan, saya terhenti di angka sial. Terima saja ya.

Tapi saya kudu bilang kalau album milik Santikarisma, Hellhound, Disposed, Detention atau Kief itu patut untuk disimak. Lalu ada dua album kompilasi yang juga saya sukai di tahun 2018 dan memang tidak harus masuk list ini. Pertama, Indonesian Tribute To Nasum rilisan Playloud Records. Kemudian kaset Tribute Black Sabbath (3Way Split) dari Maraton Mikrofon. Saya suka cara mereka menghormati band idolanya.

Sayangnya kemarin saya tidak punya waktu untuk mendengarkan album Khawagaka milik ZOO. Bagaimana mungkin, album itu dirilis resmi ke publik tepat saat saya sedang bersiap-siap berpesta merayakan malam pergantian tahun. Tapi saya sudah yakin kalau itu album yang bagus dan layak disimak.

Pssst, saya baru memutar Khawagaka dalam kondisi kepala pening sehabis pesta malam tahun baru kemarin. Jadi, jangan ragukan kualitas album yang sanggup menyembuhkan hangover!

Oya, ini sebuah pengakuan. Saya nyaris memasukkan album Swagton Nirojim milik Krowbar ke dalam (kandidat) list ini. Gegabah?! Uhm, bisa saya jelaskan…

Oke, mungkin itu akibat obsesi saya yang berlebihan terhadap kadar ‘kecadasan’ Krowbar yang menampilkan sampul corpse-paint, mencuri logo dari Kreator, atau menempel sampling lagu Black Sabbath di sekujur “Saga Malam Sabbath”. Tapi ini mungkin tidak terlalu salah juga. Sebab, Swagton Nirojim kadang terdengar lebih brutal daripada beberapa album metal lain yang ternyata biasa-biasa saja dan “tak lebih jelas daripada lautan metalheads dadah di depan Man Jasad!”

Kawan-kawan saya yang notabene metalhead juga mengaku lagi doyan mendengarkan album Demi Masa-nya Morgue Vanguard X Doyz. Itu rasanya seperti mengoleksi kaset Nailbomb, Public Enemy, dan Slayer dalam satu rak. Semangatnya sama, kata mereka soal album yang mengutip nama Forgotten, Deddy Stanzah, Rotor, dan “Pluit Phobia” di liriknya tersebut. Iya, anda tidak harus bisa breakdance untuk menikmati album sebagus itu. Cukup “angkat kepal di angkasa!”

Setahun kemarin, saya yakin ada satu-dua album metal lain yang memukau namun luput dari tangkapan kuping saya. Kalau memang ada, tolong kabari dan yakinkan saya – meski minim kemungkinannya untuk merevisi list ini.

Akhirul kalam, berikut daftar 13 Album Metal Indonesia Terbaik 2018 pilihan saya yang disusun berdasarkan abjad. Hanya ada eksplanasi album yang singkat dan to-the-point saja. Toh tentunya anda mungkin sudah paham serta bisa cari ulasan komplitnya di sana-sini. Atau, anda musti dengarkan album-album ini dan tuangkan opini sendiri.

Yuk, sikat!

1. AK//47 – Loncati Pagar Berduri

Bagi saya, tampaknya AK//47 menggambarkan distopia yang mungkin lebih akurat daripada album terakhir Megadeth. Menggarap tema dan lirik di negerinya Trump bisa jadi ikut memberi dampak bagi Garna Raditya dkk ketika melihat banyak pola ‘kedunguan’ yang serupa dengan yang terjadi di tanah air. AK//47 melanjutkan tradisi grindcore yang singkat dan padat dalam usungan isu dan penulisan lirik yang paling baik di genrenya. Loncati Pagar Berduri memang nekat dan berani, juga beresiko mengakibatkan luka dan lecet-lecet. Tapi itulah hidup yang lebih layak untuk dijalani, dengan gagah berani. Grind on.

2. Belantara – Communion

Ada berapa banyak band so-called stoner rock, heavy rock atau sludge metal di sekitar kita yang ternyata musiknya gitu-gitu saja?! Sekedar ‘merampok’ aneka formula riff Black Sabbath dan High On Fire lantas berlagak mau jadi (the next) Seringai atau Komunal? Iya, memang banyak. Sampai kita bosan dan tidak bisa membedakannya lagi satu sama lain. Mereka datang terlambat dan tidak punya formula (baru) yang cerdik. Sori. Namun Communion mungkin adalah pengecualian. Belantara mampu meracik musik atas nama para pionir di atas, ditambah dengan gairah Mastodon dan keluwesan Baroness. Mereka bahkan nekat bertualang masuk hutan – alih-alih terjebak di tengah padang rumput selatan Amerika. Semoga anda paham apa yang saya maksud.

3. Burgerkill – Adamantine

Jika mencermati sekujur materi rekaman ini, Adamantine seperti merevisi dan mengembangkan apa yang pernah mereka lakukan di album Venomous (2011). Ebenz dkk berupaya memolesnya dengan lebih kaya, kuat dan solid. Album seperti ini memang tidak akan cukup jika hanya didengarkan sekali atau dua kali putaran. Butuh waktu dan kesiapan. Jika Adamantine dibilang sebagai wujud baru dari musikalitas Burgerkill hari ini, itu mungkin benar. Sang gitaris Ebenz pernah bilang kalau Adamantine itu sebenarnya merangkum segala sisi musikal dari empat album mereka sebelumnya. Sebuah konklusi dari aransemen musik dan tema yang pernah diusung Burgerkill selama ini. Penjelajahan musikal Burgerkill ternyata sudah cukup jauh, bahkan mulai menerobos sekat-sekat yang ada. Adamantine membuktikan kalau Burgerkill jadi lebih tangguh dan solid di segala sisi.

4. BVRTAN – Gagak Pancakhrisna

Dalam kadar prodvksi yang lebih serivs, BVRTAN tetap mengvsvng keagvngan black metal kepada masyarakat di bvmi. Atmosfer yang biasanya dingin dan tinggal di hvtan yang gelap mereka tandv ke lvar menvjv dvsvn terdekat, lalu didvdvkkan di balai desa bersama para pemvka masyarakat. Sambil memelototi foto pemimpin negara dan teks Pancasila di tembok, BVRTAN merongrong kvasa negara hingga kecvrangan para tengkvlak beras. Hasilnya, black metal dengan swasembada isv yang paling dibvtvhkan rakyat kecil. Itu saja svdah menjadi horor yang paling mengerikan bagi kvping pengvasa, dari level kepala desa hingga presiden. Vgh.

5. Cloudburst – Cloudburst

Ketika kita justru lebih sibuk memperdebatkan siapa yang lebih ‘punk’ antara punk dan dangdut koplo, album ini justru diputar kencang oleh situs majalah metal kesohor Decibel dan tetap tidak punya nilai berita di meja redaksi media domestik. Album self-titled ini lebih kelam dari materi Cloudburst sebelumnya. Seperti meminjam kepekatan akrobatik Converge dan Trap Them dalam satu cawan. Musik hardcore dan metal ternyata bisa dipacu lebih gelap daripada jaringan listrik yang padam di Bulaksumur. Sampai sini mungkin cah-cah Jogja cuma ingin berkata, “Joged? joged’o dewe!”

6. Hands Upon Salvation – Heresy

Menyimak Heresy ibarat membaca kumpulan tragedi kemanusiaan yang dikupas Hands Upon Salvation. Pada album ini, unit hardcore/metal asal Yogya itu bicara soal revolusi sosial, aksi massa, teori konspirasi, isu rasisme, konflik agama, hingga kunjungan alien ke bumi. Secara musikal, Heresy menyimpan banyak tenaga dan kesigapan yang optimal. Produksinya juga bagus, dari kemasan hingga eksekusi sound-nya. Sedari dulu, Hands Upon Salvation memang dikenal suka mengusung tema lagu dan lirik yang ‘besar’. Tampak jelas kalau mereka doyan mengamati isu dan fenomena global. Juga yang terpenting, mereka gemar membaca dan banyak belajar dari sejarah. Itu tentu modal yang baik untuk mengkritisi sebuah isu – dan bisa dituangkan dalam bentuk lagu. Rujukan dan referensinya lumayan menarik. Pendengar bisa belajar banyak dari sana. Mulai dari peristiwa Euromaidan Revolution, Tsuyama Massacre, konspirasi politik dan bisnis CIA, Black Bloc, perang Puputan Bayu, hingga mitos kedatangan alien ke bumi.

7. Humiliation – Karnaval Genosida

Unit ini berisi anak-anak muda yang memasok musik death metal dalam kadar pengerjaan yang serius. Proses rekamannya sudah cukup canggih. Proses mixing dan mastering-nya saja diserahkan pada Mark Lewis (produser Chimaira, Trivium, TBDM). Hasilnya, sekumpulan track yang kokoh – komplit dengan kebrutalan dan groovy yang nyaman di telinga. Keputusan yang cerdik untuk mengajak Ucok Homicide serta mengkover satu lagu Forgotten. Humilition bisa jadi calon monster baru yang sanggup melibas nama-nama status quo yang terlalu nyaman, gendut dan malas berinovasi. Opsi yang tepat jika kita bosan dengan nama yang itu-itu saja.

8. Kekal – Deeper Underground

Setiap kali Kekal merilis album mungkin rasanya seperti didatangi keluarga yang mudik atau liburan ke kampung halaman. Membawa oleh-oleh yang menarik sembari memamerkan pencapaiannya terakhir. Sang mastermind Jeff masih tinggal di Kanada dan tetap mengerjakan semuanya dari sana. Deeper Underground membawa musik Kekal lebih dalam dan jauh – hingga sekat genre menjadi tidak penting lagi. Rock dan metal dalam takaran yang paling ngebut dan progresif bisa muncul tanpa tertebak. Sejak tahun 1998 saya mengenal Kekal dan hingga sekarang masih selalu kagum akan pola kerjanya.

9. Leftyfish – Hello Kittie’s Spank

Rilisan paling ribut dan komikal di tahun lalu jatuh pada Hello Kittie’s Spank. Halim Budiono dkk mengguyur kuping saya dengan seember musik yang mengambil referensi dari Melt Banana, Boris, Cephalic Carnage, dan segala proyek Mike Patton. Basah sekaligus seksi. Kadar humornya juga tinggi. Album tanpa instrumen bass ini membungkus 17 lagu dengan topik ringan yang beragam – mulai soal ponsel, ikan, nyamuk, pohon, hingga layang-layang. Memang terkesan remeh dan main-main. Namun Leftyfish bisa menikmatinya dengan gembira dan bermartabat.

10. Mooner – O.M

Mooner menunjukkan kalau musik rock yang berbasis gitar masih esensial dan patut dirayakan. Album ini dibangun dengan riff dan melodi gitar yang penuh suka cita. Mungkin Jimmy Page hingga Jack White bakal tersenyum bahagia kalau mendengarkan album ini. Musik rock/metal bisa berkelindan padu dengan irama serta narasi melayu kuno yang ajaib. Album yang dirilis di penghujung tahun 2018 ini menyelamatkan stagnansi rock lokal yang terlalu hingar-bingar nihil makna atau terlalu lamban saat menganut sekte Sabbathian. Itu yang akhirnya bikin O.M menjadi salah satu album rock yang paling arif dan eksotik di tahun 2018 kemarin.

11. Senyawa – Sujud

Senyawa layak disebut sebagai keajaiban yang datang dari musik nusantara. Meski kerap diacuhkan di negeri sendiri, namun mereka hampir selalu menoreh emas di tanah bangsa lain. Sujud tampaknya membawa Rully Shabara dan Wukir Suryadi menjadi lebih padu dan organik. Lebih nge-band, gampangnya. Rock eksperimental diusung dalam bentuknya yang paling purba dan membumi – komplit dengan derau doom dan desis drone di sana-sini. Rapalnya bak mantra yang menginjak bumi – dengan hentakan kaki yang cukup keras. Membawa isu lingkungan, tanah, dan agraria pada formatnya yang paling tribal dan pekak. Sujud tempo hari banyak diulas oleh media asing dan mendapat kredit positif. Sudah sepatutnya kita ikut bersujud di hadapan album yang ajaib dan menawan ini.

12. Seringai – Seperti Api

Arian13 dkk cukup mengamalkan formula musik mereka biasanya dengan progres lirik yang makin politis dan relevan. Bonus terbaiknya adalah kumpulan hook dan lick gitar yang efektif dari Ricky Siahaan – yang mungkin lahir akibat kegilaannya pada Anthrax dan Motley Crue di masa bocah. Tambahkan kebijakan yang tumbuh dari pengalaman kolektif dan petuah lirikus idola mereka, hingga ‘penculikan’ yang brilian atas Danilla. Album yang terkesan badung sekaligus dewasa ini akhirnya berhasil membakar percik semangat untuk segala umur. Tak peduli di usia 15 maupun 35 tahun, inilah soundtrack paling tepat untuk hidup anda! Ada dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan Seperti Api, yaitu ‘bara’ dan ‘gairah’. Mendengarkan album ini memang seperti melihat api bekerja.

13. Vallendusk – Fortress of Primal Grace

Band ini mungkin takdirnya serupa Kekal atau Senyawa. Maksudnya lebih banyak mendapat atensi dari kalangan (media) asing. Termasuk jarang (diundang) manggung juga di negeri sendiri. Padahal, faktanya, Vallendusk tidak pernah bikin album yang biasa-biasa saja. Selalu apik dan mempesona. Jika anda doyan black metal dalam balutan yang folk dan atmosferik, maka Fortress of Primal Grace adalah sebuah keharusan. Produksinya bagus sekali, bahkan band-band Skandinavia boleh iri dan cemburu. Komposisi musiknya sangat melodius dengan eksekusi harmoni yang kuat. Seperti menggambarkan lanskap rimba dan pegunungan yang indah sekaligus mistikal. Tenang dan alami. Layaknya semesta khas black metal yang merobos kabut di pekatnya malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s