Melihat Api Bekerja

Boxset Seperti Api – Dok. Hai Online.

Ulasan album terbaru Seringai, komplit dengan identifikasi titik-titik api yang agak sulit dipadamkan.

Sepotong intro mengalun dengan gagah berani. Judulnya “Hidejokasuru” (Sampai sekarang saya tidak tahu apa artinya kata itu!). Belakangan, itu juga intro yang suka diputar di setiap panggung Seringai belakangan. Tepat ketika satu-persatu personelnya naik panggung dan menempati posisinya masing-masing. Asap mulai membumbung. Amplifier menyalak.

Nyala obor pertama disulut oleh “Selamanya”. Tembang yang menegaskan kenapa empat pria yang sudah tidak muda lagi itu masih ada di sini. Ini soal gairah dan passion – dalam bermusik atau menjalani hobi dan pekerjaan apapun. Bait pertamanya adalah sebuah kesaksian: “Dimulai dari bersenang / Bertahan puluh tahun kemudian / Banyak yang akan kami kenang / Kerja keras di segala medan…”

Saya tersenyum saat membaca kalimat lirik “Mungkin moral positif kami / Bukan dari yang sok suci / Tapi lirik bijak musisi / Ajarkan hidup mandiri…” Itu seperti menjelaskan dari mana Arian13 dkk banyak mendapatkan kelas “motivasi diri”. Mentornya kemungkinan besar adalah Lemmy, James Hetfield, Lou Koller, Henry Rollins, atau Trison Roxx. Bukan dari Fiersa Besari, Felix Siauw atau bahkan Mark Ranson.

Personel Seringai dan orang-orang seangkatannya sepertinya lebih banyak belajar dari kaset-kaset yang mereka putar sambil membaca serius lyric sheet-nya. Pengakuan ini cukup esensial bagi para metalhead yang pernah mengalami hal serupa.

Dengan vokal menggeram, Arian13 juga meneriakkan “Renjana!” – kata “baru” yang berpotensi jadi frase favorit di kalangan anak muda. (Eh tapi terlambat, kata itu sudah dijadikan nama putri kedua drummer Edy Khemod. Selamat, bung!).

“Adrenalin Merusuh” digeber kencang dengan serentetan lick gitar yang catchy. Ricky seperti kerasukan riff gitar ala Anthrax dan Motley Crue di sini. Arian13 pernah bilang kalau lagu ini seperti itinerary Seringai di kala tur pada setiap akhir pekan. Lirik seperti ini akan menemui “ruh”-nya kalau anda suka menonton konser Seringai atau doyan mengamati perilaku mereka di vlog-nya. Selama tidak mengganggu tidur Iko Uwais, tampaknya mereka akan baik-baik saja.

Pada panggung Seringai yang saya tonton tempo hari, mereka bilang kalau lagu “Persetan” cocok jelang tahun politis di 2019. Momen di mana kita pelu mawas diri dan lebih skeptis. “Cek dulu rekam jejak para calonnya,” pesan Arian13, ketika itu. Seperti judulnya yang lugas, “Persetan” merupakan a fuck-off song dengan dua jari tengah di udara. Tanpa kompromi.

Konon, “Enamlima” menyimpan memori yang cukup personal bagi Arian13. Lagu ini digeber cukup keras dan kuat. Agak mengingatkan pada komposisi klasik warisan lagu “Taring”. Komplit dengan koor yang cantik dan speech yang berkobar-kobar: “Sejarah ditulis oleh mereka yang menang / Tapi direkam oleh mereka yang merasakan…”

“Disinformasi” sudah beberapa kali dibawakan live – dengan judul sementara “Tifatul” – jauh sebelum album ini dirilis. Isunya justru lebih relevan di zaman sekarang – ketika fenomena hoaks dan informasi palsu semakin masif terjadi di masyarakat. Ditambah dengan kemalasan verifikasi dan praktek click-bait yang dianggap lumrah oleh insan media pengejar traffic tinggi. Sepertinya latar belakang personel Seringai di bidang jurnalisme bikin mereka lebih jeli membaca keadaan.

Mencermati lirik pada “Seteru Membinasa” justru mengingatkan saya pada twitwar dan perang komentar yang tidak penting di media sosial. Tiba-tiba terlintas nama-nama seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung, Ratna Sarumpaet, hingga Karni Ilyas dengan persekutuan ILC-nya. Pesannya sudah jelas: Terkadang diam itu memang lebih baik dan bermakna. So shut up, dude!

Tembang “AJ” – untuk Akhir Jaman?! – seperti mengangkat tema perseteruan antara manusia melawan mesin. Human versus robot. Sebuah potret peradaban tehnologi modern yang akan terus menggelitik sisi kemanusiaan kita. Saya jadi ingat, topik-topik seperti ini banyak diangkat oleh band-band metal macam Voivod, Nocturnus, atau Fear Factory.

Sejak pertama kali menyimak album Lingkaran Waktu-nya Danilla, saya sudah membayangkan bagaimana kalau perempuan itu tergabung dalam band shoegaze atau bersenandung di lagu yang lebih doomy. Penasaran. Sebab vokalnya memang bagus, gloomy, dan sangat haunting sekali di situ.

Tadinya saya pikir itu mustahil terjadi…

Eh, ternyata Seringai lebih jeli. Mereka melanjutkan tradisi bikin satu lagu yang doomy dan langsung mengajak Danilla di dalamnya. Lahir kemudian “Ishtarkult” – setelah sebelumnya pernah ada “Marijuanaut” – yang bertempo lamban dengan vokal mengawang dan dentum riff yang berat. Ada banyak kabut dan asap di sekujur lagu itu. Ditimpali dengan solo gitar yang mempesona di akhir lagu. Perfek.

“Sekarang atau Nanti” adalah tipikal anti-fascist song yang akan telak mendarat di wajah. Segala prasyarat lagu protes ada di situ: kencang, cepat, tegas, to-the-point, memukul, dan mematikan. Sesimpel itu saja. Tampaknya Arian13 dkk sudah cukup sebal dan memendam banyak amarah di sini.

Orang bijak pernah berkata, “Hanya keledai yang jatuh dua kali ke lubang yang sama.” Mereka yang suka salah tapi terus ngotot kerap disebut bebal. Biasanya mereka penuh drama dan suka playing victim. Lantas hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh saja setiap hari. Untuk para pribadi yang rapuh seperti itu, Seringai menciptakan “Bebal” – dengan bonus lick gitar yang catchy di sana-sini.

Seringai masih menyimpan amarah yang setiap waktu bisa disemburkan secara fun dan tanpa bertele-tele lagi. Contohnya ada pada lagu “Omong Kosong”. Ini semacam punk/hc anthem yang dibungkus narasi dan monolog penuh keluh serta janji. Menampar telak janji para juru kampanye jelang politik kotak suara, sumpah setia para kekasih, bahkan menggugat resolusi tahun baru anda sendiri. Memang tidak ada yang lebih melegakan selain meneriakkan kalimat “Omong Kosong!” dengan lantang tepat di telinga mereka. Dan Seringai tampaknya menikmati hal itu.

Seperti Api tetaplah rock seperti takdirnya Seringai selama ini. Bak api yang terus menyala dan berkobar-kobar. Secara musikal, setiap lini sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Dengan pas dan sesuai porsinya.

Vokal Arian13 terdengar lebih bernyanyi di sini. Sammy dan Khemod semakin disiplin menjaga tempo di setiap lagu Seringai. Sesekali mereka ikut mengambil porsi untuk maju ke depan dan memamerkan skill individunya.

Ricky boleh disebut sebagai most valuable player di album ini. Aneka lick serta riff gitarnya hampir selalu terdengar efektif. Singkat dan pas. Tanpa harus terkesan njelimet dan bertele-tele. Dia mampu menciptakan hook yang catchy dan langsung menempel di telinga. Lick-lick gitar yang “riang gembira” itu sepertinya lahir dari referensi musik heavy metal sejak zaman dia masih bocah ketika pertama kali diracuni Motley Crue sampai Anthrax.

Formula bermusik Seringai tampaknya masih tetap dipertahankan. Menulis musik yang seseru mungkin di studio – dengan paradigma yang cocok untuk dimainkan di atas panggung. Kadang, sembari mencoba beberapa kemungkinan. Hasilnya jelas, sekumpulan lagu yang bisa memancing gelombang headbang, air guitar, hingga air drumming – tak peduli itu anda sedang berada di kamar, di bar, atau di moshpit.

Sementara yang lebih penting dari Seperti Api ini adalah isu dan temanya yang selalu relevan. Album seperti ini sanggup memberi konteks yang tepat di zaman sekarang (atau nanti). Seperti biasa, Seringai masih cerdik dalam merekam fenomena yang terjadi di masyarakat.

Album ini terasa makin “politis” dan sarat amarah – tanpa mengurangi kadar bersenang-senang mereka. Anger can be power, and also fun too. Menyenangkan melihat orang-orang yang sudah tidak muda lagi ini masih bisa marah dan tetap bercanda. Terus terang tidak banyak kelompok musik yang seperti itu.

Sekarang atau nanti, album ini tetap penting. Seperti Api adalah soal bara, gairah dan amarah dalam kadar rock yang pas. Saya tidak punya keluhan, ini sepaket album musik yang bagus dan memang layak dikobarkan. Memang, akan selalu ada titik-titik api yang tidak perlu dipadamkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s