Kesasar Ke Jalur Musik Indie Jawa Timur

east-java-island

Duh Gusti, aku kesasar ke jalur indie
Terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci
Musisi, Gusti, musisi…
Bukan jadi penjaga distro kayak gini…

(Silampukau, “Doa 1”)

Jawa Timur merupakan provinsi yang paling luas dibandingkan enam provinsi lainnya di Pulau Jawa. Wilayahnya terbentang seluas 47.922 km² – yang terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Jumlah penduduknya 42.030.633 jiwa (sensus 2015) yang mayoritas merupakan suku Jawa dan menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.

Nama “Jawa” yang melekat pada “Jawa Timur” sekilas menumbuhkan kesan bahwa sifat budaya masyarakatnya pasti monokultur. Tapi, ternyata tidak. Jawa Timur kalau ditelisik lebih dalam sebenarnya sangatlah plural.

Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004) mengatakan, wilayah Jawa Timur itu terbagi ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan. Tlatah kebudayaan besar ada empat: Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep). Tlatah inilah yang membedakan karakteristik masyarakat di Jawa Timur berdasarkan wilayahnya.

Pembagian tlatah di atas bukan untuk membeda-bedakan masyarakat Jawa Timur, melainkan justru menunjukkan masyarakat Jawa Timur yang unik dan kaya akan budaya serta kearifan lokal.

Di sebelah timur Mataraman adalah tlatah Arek yang menjadi wilayah kebudayaan yang cukup dikenal dengan ciri khas Jawa Timur-nya. Masyarakat Arek dikenal punya semangat juang yang tinggi, terbuka, egaliter, dan mudah beradaptasi. Surabaya dan Malang menjadi pusat kebudayaan Arek. Kedua kota besar ini menjadi pusat kebudayaan Arek karena kondisi sosial masyarakatnya yang begitu komplek dan heterogen, bisa dikatakan menjadi pusat bidang pendidikan, ekonomi, dan parawisata di Jawa Timur.

Setelah industrialisasi masuk, wilayah ini menjadi menarik bagi pendatang. Menjadikannya sebagai salah satu melting pot atau kuali peleburan kebudayaan di Jawa Timur. Pendatang dari berbagai kelompok etnis ada di sini untuk mencari ”gula” ekonomi yang tumbuh pesat. Meski luas wilayahnya hanya 17 persen dari keseluruhan luas Jatim, separuh (49%) aktivitas ekonomi Jawa Timur ada di kawasan ini.

Itu juga yang bikin segala “urusan” soal Jawa Timur seakan-akan hanya dibebankan kepada dua kota saja: Surabaya dan Malang. Padahal sebenarnya anggapan itu tidak tepat. Kota-kota dan daerah lain di Jawa Timur juga memiliki karakter dan peran yang signifikan dalam berbagai hal.

Termasuk juga dalam hal perkembangan kancah musik di Jawa Timur. Silakan kencangkan sabuk pengaman anda…

Menengok Daulat Seni dan Musik Rock di Jawa Timur

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, serta umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional masih dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang.

“Di Indonesia, ada dua kota yang punya reputasi sebagai kota rock: Surabaya dan Malang. Dua-duanya di Jawa Timur,” begitu tulis Nuran Wibisono dalam salah satu artikelnya di situs Tirto.id. “Surabaya dikenal melahirkan band seperti AKA, Grass Rock, Power Metal, Boomerang, hingga Padi. Sedangkan Malang punya Bentoel Band dengan gitaris muda bernama Ian Antono, Abadi Soesman, hingga Sylvia Saartje.”

“Namun, julukan kota rock bukan sekadar karena di kota itu banyak band, melainkan karena musik rock memang tumbuh bersama denyut kota itu. Ia mengiringi kehidupan warga kotanya…” imbuh penulis musik yang menggemari genre hair/glam metal itu.

Apa yang dikatakan Nuran Wibisono memang ada benarnya. Jika kita menyelami sejarah perkembangan musik populer di negeri ini, memang ada masanya ketika Jawa Timur sangat produktif “mengekspor” bibit-bibit musisi ke blantika musik nasional. Selain nama-nama yang sudah disebutkan di atas, masih ada Dara Puspita, Slamet Abdul Sjukur, SAS, Gombloh, Elpamas, Dewa19, Anang Hermansyah, Kris Dayanti, Yuni Shara, Syaharani, dan banyak lagi.

Reputasi Jawa Timur sebagai zona rock dan heavy metal sempat melambung pada paruh akhir ‘80-an hingga awal ‘90-an. Itu mungkin masa keemasan musik keras yang sangat mendominasi selera kuping anak-anak muda di zamannya. Mereka mengkonsumsi album-album band barat yang melimpah di toko kaset. Bahkan, kaset-kaset bajakan (bootleg) juga konon kabarnya banyak yang diproduksi di wilayah Jawa Timur.

Salah satu nama yang paling bertanggungjawab atas memanasnya musik rock di Jawa Timur adalah Log Zhelebour. Dia adalah promotor konser musik dan pendiri label rekaman Logiss Records – yang pernah mengangkat kiprah God Bless, Power Metal, Mel Shandy, Grass Rock, hingga Boomerang. Log Zhelebour juga yang rajin menggelar serial festival rock di Surabaya, Malang, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Pada senjakala ‘90-an hingga memasuki era 2000-an, anak-anak muda di Jawa Timur dijangkiti fenomena baru berupa geliat musik underground dan indie yang lebih banyak berkarya di jalur independen. Itu tepat di masa-masa tumbuh-kembangnya scene underground atau komunitas indie di berbagai daerah, komplit dengan band-band beraneka genre musik. Mereka mulai mengenal etos Do-It-Yourself (DIY) yang jadi budaya dan pola kerja komunitas bawahtanah dalam berkarya secara mandiri.

Pada era itu, Jawa Timur memiliki band-band seperti Slowdeath, Jangan Asem, Rotten Corpse, No Man’s Land, Blueqhutuk, Dry, Fear Inside, Wafat, Vox, Friday, Extreme Decay, Begundal Lowokwaru, The Morning After, dan masih banyak lagi.

Selebihnya adalah catatan sejarah, hingga memasuki era digital di masa kini…

Gelombang Musik Hari Ini

Mari langsung melompat jauh menuju hari ini, di tahun 2018. Selamat datang di era digital yang sudah mengikis wilayah geografis, arus informasi, serta batas-batas kesempatan bagi anak muda untuk bertindak kreatif dan terus berkarya.

Seperti di daerah lain, progres musik di Jawa Timur juga mengalami kemajuan yang cukup pesat dan signifikan. Sederhananya begini, sekarang sudah sangat sulit untuk menghitung ada berapa banyak band dan musisi, album rekaman, label independen, klub musik, atau konser dan gigs yang tersebar di segala penjuru Jawa Timur – dari Ngawi sampai ke Banyuwangi.

Mari berjalan-jalan ke pelosok Jawa Timur untuk menemui nama-nama paten yang sedang melakoni aktifitas bermusiknya dengan penuh gairah di hari-hari yang cerah ini…

Membicarakan kota Surabaya dan musiknya belakangan ini tidak akan lepas dari nama Silampukau. Albumnya yang bertajuk Dosa, Kota & Kenangan sukses bikin penggemar musik se-Indonesia menoleh kembali ke kota pahlawan. Silampukau memang terbilang berhasil membangun narasi-narasi puitik yang cermat akan peradaban kotanya.

Imbasnya, itu seperti ikut memantik gairah yang menggelora pada rekan-rekan sejawatnya sekota. Seperti misalnya Hi Mom!, Costwolds, Mooikite, Taman Nada, Dandelions, Dopest Dope, Timeless, atau Rasvan Aoki. Pada sektor musik yang lebih berdistorsi, pasang telinga anda pada Fraud, Devadata, Crucial Conflict, BVAS, Wolf Feet, GAS, Jagal, MMIH, atau Morganostic. Mereka selalu siap menaikkan tensi teriknya hawa Surabaya.

Selain itu, tetap kasih atensi pada nama-nama seperti Nonanoskins, Pig Face Joe, Give Me Mona, Heavy Monster, Indonesian Rice, The Flins Tone, Plester X, The Last Suga, Egon Spengler, Humi Dumi, Baragula, The Skabanton, sampai Blingsatan. Nama mereka masih suka nampang di poster-poster gigs lokal Surabaya.

Sedari dulu, kota Sidoarjo seakan seperti sidekick-nya Surabaya. Maklum, jaraknya relatif dekat. Apalagi banyak Arek Sidoarjo yang menempuh studi atau bekerja di Surabaya. Anak-anak muda yang bertetangga di dua kota itu pun nyaris melebur jadi satu.

Tapi kalau bicara band, Sidoarjo sekarang punya jagoan baru yakni Black Rawk Dog yang mengusung musik ala celtic punk dan terkenal jitu beraksi di atas panggung. Selain itu, ada nama Drown yang baru merilis album dan layak diantisipasi. Nama Julian Sadam mungkin belum banyak yang tahu, tapi sungguh patut diamati ke depannya.

Kota Pandaan pernah melahirkan Elpamas dengan musik rock-nya yang liat. Saat ini, titisannya seperti menyelimuti gerak musikal yang ditawarkan Strider dan Berbisa. Dua band asal Pandaan ini memainkan musik heavy rock yang memadukan grunge dan stoner. Nama mereka lumayan harum hingga menerjang panggung-panggung di kota Malang.

Hari ini, kancah musik di kota Malang menyerahkan takdirnya pada nama-nama seperti Iksan Skuter, Christabel Annora, Atlesta, Beeswax, Wake Up Iris!, Neurosesick, Hand of Hope, Children of Terror, Sal Priadi, Remissa, Pronks, hingga Coldiac. Barisan lama seperti SATCF, Brigade 07, Tropical Forest, atau Tani Maju memang masih melaju. Tapi regenerasi memang kudu jalan terus, menambah variasi bagi playlist atau panggung di sekitar.

Di kota Blitar, anda musti melihat sepak terjang Hadd, Think Twice, atau Banana Steady Beat. Mereka termasuk kelompok yang aktif bergerak – merekam karya musik dan manggung di sana-sini. Tetangganya, kota Tulungagung, menyimpan amunisi yang tidak bisa diremehkan seperti Grace atau Wanderlust. Trenggalek juga punya Blastmind, unit paling keras dari kota itu.

Kota Kediri tak pernah lelah melahirkan bibit musik cadas yang berkualitas. Sebelumnya sudah ada Killharmonic dan Demented Heart. Sekarang, potensi itu menjadi milik Berandalan, Speedy Gonzales, atau Seized. Bergeser ke Ponorogo, anda musti simak unit heavy rock paling menjanjikan dari kota reog, namanya Howlerness.

Kota-kota lain seperti Madiun, Nganjuk, Jombang, hingga Jember atau Banyuwangi tentu memiliki band dan musisi yang berpotensial di sana. Hanya saja, memang jarang dilirik atau mungkin sepak terjang karyanya yang belum sampai ke tangan kita. Sebab, kalau diamati dari geliat komunitas atau gelaran pentas musiknya di sana, ternyata relatif seru dan meriah.

Gerak Budaya dan Komunitas Anak Muda

Hari ini, bermusik tanpa berjejaring di ranah komunitas niscaya akan menemui rute yang terjal. Memang bisa dilalui namun terasa berat. Terlalu beresiko dan dapat menimbulkan “lecet-lecet” yang tak perlu.

Begini saja. Sedari dulu, selera musik kebanyakan terbentuk dari lingkungan sekolah atau kampus, tempat tinggal atau kampung, dan juga tongkrongan sehari-hari. Semua berawal dari lingkungan terdekatlah, intinya.

Masyarakat Jawa Timur yang konon katanya egaliter dan blak-blakan itu juga dikenal memiliki budaya nongkrong – atau cangkruk kalau dalam bahasa Jawa – yang akut dan militan. Sepertinya kondisi yang mengharuskan seperti itu – mulai dari akses kota yang lancar, spot tongkrongan yang melimpah, hingga kebutuhan untuk berkumpul dan bersosialisasi dengan sesama.

Keguyuban itulah yang mungkin terbawa sampai kepada segala aktifitas komunitas anak mudanya. Apapun itu jenisnya, termasuk yang terjadi di komunitas musik.

Hampir setiap hari, dengan mudah kita bisa menemui sekumpulan anak muda yang nongkrong di segala sudut kotanya. Entah itu cuma sekedar ngopi, ngobrol, atau berdiskusi. Ide-ide untuk berkumpul dan berserikat untuk melahirkan suatu karya kerap lahir dari situ. Paling gampang bisa kita tebak dari gagasan bikin album kompilasi atau gigs kolektif, misalnya. Sebab, jarang sekali dua ide itu tadi lahir dari motif bisnis atau komersil.

Jancuk!” adalah frasa yang paling populer di Jawa Timur. Baik itu sekedar celoteh, seruan kegirangan, maupun umpatan – tergantung suasananya. Masyarakat Jawa Timur cenderung berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa – yang terdengar agak kasar dan apa adanya dibandingkan dengan versi Jawa Tengah.

Anak muda di Jawa Timur juga mengadopsi gaya komunikasi yang kasar dan blak-blakan seperti itu. Itu yang otomatis banyak diterapkan dalam komunitas atau proses kreatif bermusik.

Menilik pada sejarahnya, Jawa Timur memang memiliki kesenian khas seperti Ludruk yang biasanya menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata dan seringkali dibumbui dengan humor serta kritik sosial. Versi modern dari ludruk mungkin bisa kita lihat pada Srimulat yang pernah tayang di televisi nasional.

Entah ini kebetulan atau tidak, kecenderungan untuk berbahasa Jawa Timuran itu alhasil ikut melanda pada sektor budaya dan musik populer. Sejak dulu, tercatat banyak kelompok musik yang pede menulis lirik dalam bahasa Jawa Timuran – mulai dari arus musik pop/rock (Jangan Asem, Bluekhutuq), rima-rima hiphop (Saga, Nganchuk Crew), hingga dendang orkes underground (Kuch Kuch Hota Hai, Tani Maju).

Kearifan tradisi dan budaya lokal juga ikut diangkat oleh band-band di Jawa Timur. Aktifitas ini banyak dilakoni oleh band-band beraliran Javanese Black Metal – dalam imej, dandanan, komposisi musik, tema, hingga liriknya. Sebut saja misalnya Santhet (Malang), Sacrifice (Sidoarjo), Diabolical (Gresik), Dry (Surabaya), Immortal Rites (Kediri), Sengkala Geni (Surabaya), Rajam (Sumenep), dan banyak lagi.

Pengamatan yang jeli soal proses akulturasi budaya itu tadi pernah dibahas lebih dalam pada film dokumenter Where Do We Go karya Hernandes Saranela (Cinemarebel). Itu film yang penting, sangat direkomendasikan untuk ditonton kalau anda punya minat akan kultur (black) metal dan budaya Jawa.

Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah fakta bahwa Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah perguruan tinggi negeri terbanyak di Indonesia. Kampus-kampus itu tersebar mulai dari Surabaya, Malang, Jember, Banyuwangi, Madiun, bahkan Madura. Terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu, kita pasti sudah tahu.

Ini otomatis menjadikan Jawa Timur sebagai jujugan atau tujuan untuk menempuh studi jenjang perguruan tinggi. Terutama bagi anak-anak muda dari kawasan Indonesia Timur – mulai Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Mereka datang menjemput mimpi sekaligus coba “menginjak” tanah Jawa di bagian paling timur.

Efeknya, tentu saja demografi anak muda usia produktif yang melimpah di Jawa Timur. Kampus-kampus juga menjadi melting pot yang ideal untuk membangun peradaban seni musik. Banyak cerita band-band yang lahir dan terbentuk di kampus. Sedari dulu kampus juga jadi teritori yang paling rajin dalam menggela pertunjukan musik, dari sekelas gigs sederhana sampai pensi yang mewah.

Bahkan belakangan, banyak juga mahasiswa pendatang dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Yogya. Mereka seperti membawa selera dan iklim bermusik yang sudah sehat serta mapan dari daerahnya. Budaya urban yang lebih modern dan populer banyak dibawa atau dipengaruhi oleh mereka. Seperti ikut menghidupi scene musik independen, serta budaya party yang identik dengan musik elektronik atau DJ Set.

Pasar Sedang Diciptakan

Scene musik tak akan berkembang jika tidak diikuti dengan sektor industri yang sehat. Hal ini juga perlu dikelola supaya seluruh lini pelakunya bisa tetap hidup. Saat band atau musisi makin produktif membuat karya, itu kudu ada yang mengelola, mengemas dan memasarkannya ke publik luas. Sampai di sini peran label rekaman, toko rekaman, dan lapak distributor semakin vital posisinya.

Jawa Timur sekarang sudah memiliki ekosistem bisnis musik yang lumayan baik, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena itu muncul dari membludaknya frekuensi karya rilisan dan merchandise. Diikuti dengan gairah dan daya beli bertagar #jajanrock yang tampaknya makin tinggi.

Setiap tahun setidaknya ada momen Recod Store Day dan Cassette Store Day yang rutin digelar di Surabaya, Malang, atau Sidoarjo. Belum lagi ajang bazaar dan lapak musik yang insidentil di mana-mana, hingga transaksi tanpa henti di media sosial.

Di Surabaya, para label rekaman dan lapak independen bernaung di bawah komunitas Sub Record yang rajin bikin acara bazaar atau record fair. Di kota ini, stok rekaman musik cukup melimpah di Cempaka Music Store, Radioactive-Force, C2O, Blackwood, atau Ore Store. Di sanalah spot yang seru untuk berburu rekaman dari piringan hitam, CD, sampai kaset.

Dari Surabaya juga muncul nama Dark Path. Mereka rajin merilis ulang berbagai rekaman dan merchandise hasil lisensi dari band/label asing. Produknya cukup diminati oleh para fans musik di Indonesia, terutama di komunitas metal. Sebab, katalognya sejauh ini berisi album-album metal yang klasik dan legendaris – dengan kualitas baik dan harga terjangkau untuk pasar lokal. A good thing.

Di Malang juga hampir sama, di sana ada ‘paguyuban’ yang bernama Malang Record Label. Mereka rutin menggelar lapak di berbagai momen dan acara. Label-label rekaman yang patut dipantau adalah Gerpfast Kolektiv, Haum Entertainment, Barongsai Records, Atim Music Store, Tarung Records, dan masih banyak lagi.

Kediri justru memiliki label rekaman rekaman yang sadis dan layak diperhitungkan dalam skala nasional. Restinghell tampaknya fokus pada rilisan musik punk/hardcore yang bernuansa gelap. Produk mereka antara lain album milik Grace, AK//47, Ancient, Gerram, Total Jerks, hingga Bisinggama.

Sementara di Blitar ada Greedy Dust, yang berperan besar dalam menyebarkan produk-produk musik terbaik di daerahnya. Mereka menjadi label rekaman sekaligus punya store dengan katalog musik yang menarik.

Bicara soal industri musik lokal di Jawa Timur, mungkin juga bisa belajar dari Banyuwangi. Di kota itu, musik daerah Banyuwangian ternyata cukup hidup dan tumbuh dengan besar di masyarakat pesisir setempat. Di sana industri rekaman lokalnya tumbuh berkembang. Imbasnya juga pada pertunjukan musik atau panggung-panggung lokal di wilayah Pantura. Para musisi dan artisnya konon bisa hidup dengan layak dari penghasilan lokalnya saja. Sudah banyak media nasional yang membahas soal fenomena ini.

Di Panggung Mereka Masih Jaya

Panggung pertunjukan adalah medan tempur yang paling seru bagi kancah musik jenis apapun. Banyak kota atau daerah yang justru lebih hidup karena geliat konser musiknya – sekalipun mereka tidak banyak melahirkan musisi. Mungkin takdirnya seperti itu.

Saat ini, seperti menjadi era di mana anak-anak muda lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya di coffee shop, bar, dan public space. Alhasil tempat-tempat itu bisa disulap menjadi venue pertunjukan musik. Biasanya untuk event-event yang lebih intim dan tidak terlalu besar seperti sesi musik folk, pop, elektronik, atau noise. Kebetulan trend genre musik belakangan juga mengarah ke jenis-jenis seperti itu. Klop.

Itu juga fenomena yang terjadi di berbagai pelosok Jawa Timur. Pentas-pentas musik di Surabaya masih sering berbunyi di C20 dan Skale, misalnya. Di sana juga ada kolektif Rumahgemahripah yang suka bikin serial gigs bertajuk Boja Krama.

Di Sidoarjo, gigs musik saat ini dihidupkan oleh nama-nama seperti Omah Kayu Pecantingan dan Kampung Seni Pondok Mutiara. Selain itu juga sering digelar studio gigs di lingkaran squat HCS Family.

Panggung-panggung musik di kota Malang juga masih hingar-bingar. Itu jika kita tetap melirik pada venue dan klub musik seperti God Bless Cafe, Senaputra, Houtenhand, Legipait, Semeru Art Gallery, dan berbagai spot alternatif lainnya.

Teman-teman Blitar di lingkaran Greedy Dust juga kerap bikin konser atau gigs cadas di sana. Begitu juga dengan komunitas Kampak Squad di kota Trenggalek. Kota-kota lain juga tidak pernah kapok menggelar pertunjukan musik dengan memanfaatkan lingkaran berbasis komunitas dan venue-venue alternatif yang ada di sekitar mereka.

Untuk panggung dan festival musik yang lebih besar, Jawa Timur juga tidak pernah kekurangan gairah. Contohnya saja Folk Music Festival yang sudah rutin digelar setiap tahun – dari Surabaya, geser ke Malang, lalu di Batu. Line up-nya pun selalu menjadi medan magnet bagi pencinta folk seantero negeri.

Untuk tensi musik yang lebih keras, ada festival metal/hardcore bertajuk Brotherground di Surabaya. Di Malang ada metalfest bertitel Gerbang Berkarat. Belum lagi festival-festival cadas skala medium yang kerap digelar di area indoor maupun outdoor.

Probolinggo masih adem dengan ritual tahunannya, yaitu Jazz Gunung di kawasan wisata Gunung Bromo. Itu saja sudah menarik banyak devisa dari kehadiran penonton dan wisatawan domestik maupun mancanegara selama tiga hari pertunjukan.

Kota Banyuwangi bahkan belakangan mencanangkan sebagai kota festival. Pihak pemerintah kotanya tampak sangat mendukung aneka jenis pertunjukan musik di sana. Misalkan saja Ijen Summer Jazz atau Banyuwangi Metal Gerilya yang digelar rutin setiap tahun dalam skala besar.

Di luar segala jenis pertunjukan musik dengan branding korrporat atau sponsor perusahaan rokok, geliat konser di Jawa Timur masih relatif berjalan dengan seru dan meriah. Semua itu digerakkan oleh basis-basis komunitas musik di kotanya. Mereka juga berjejaring dengan harmonis, sehingga kerjasama atau tur bisa saja dilakoni dengan mudah di provinsi ini.

Tarung Records pernah menulis panduan tur band di berbagai kota di Jawa Timur melalui blog-nya. Itu informasi yang menarik untuk disimak dan dibagi – sebab memuat daftar kontak penyelenggara, venue, serta keseruan lain di masing-masing kota. Band apapun yang ingin merangkai tur di Jawa Timur sudah terfasilitasi cukup baik ddalam panduan itu.

Coba saja cek: https://tarungrecords.wordpress.com/2018/01/23/panduan-rute-tur-band-ke-jawa-timur/

Terekam dan Terarsipkan

Sektor lain yang juga signifikan dalam mengembangkan kancah musik di Jawa Timur adalah peran media massa. Mereka adalah corong informasi dan komunikasi bagi khalayak luas. Hingga hari ini, media musik di Jawa Timur masih cukup vital posisinya – baik format cetak maupun online, atau media elektronik semacam stasiun radio dan televisi lokal.

Dari lingkup yang paling sederhana saja. Pertumbuhan zine dan newsletter masih kerap terbit meski dalam frekuensi yang tidak tentu. Gairahnya pun kerap terekam dalam berbagai momen semacam zine fest yang masih berlangsung di Surabaya, Malang, Sidoarjo, atau kota-kota lain.

Scene musik independen di Surabaya banyak didokumentasikan oleh situs Ronascent dan juga arsip-arsip menarik di situs Ayorek. Di Malang, peran seperti itu dilakoni oleh situs The Display, iHeartgigs, GeMusik, Srawung Media, Koalisi Nada, dan banyak lagi. Belum lagi blog-blog amatir yang dikelola oleh para pelaku skena di lingkungannya masing-masing.

Di era media digital saat ini, peran internet dan media sosial sudah jelas sanggup mengabarkan aktifitas musik di manapun dengan cepat dan tepat.

Bahkan media massa yang besar dan tradisional macam Jawa Pos, Surya, atau surat kabar lokal masih saja memuat berita-berita musik dari sekitarnya. Jawa Pos bahkan punya rubrik khusus Zetizen yang menyasar pasar pembaca generasi Z dan kaum milenial. Di situ informasi budaya populer seperti musik, film atau fesyen memiliki ruang yang cukup.

Stasiun radio dan televisi lokal di hampir semua kota di Jawa Timur sepertinya juga memiliki program musiknya sendiri-sendiri. Meskipun efeknya belum seberapa ke kalangan anak muda. Justru yang lebih efektif dan meriah adalah menjamurnya radio online bikinan anak-anak muda yang lebih tepat sasaran, dengan selera musik dan playlist yang lebih menakjubkan.

Jika media bertugas untuk mengabarkan informasi, peran lain yang juga esensial adalah soal pengarsipan dan dokumentasi musik. Jejak-jejak digital berupa arsip foto dan video sudah mulai dikumpulkan dengan baik oleh para dokumenter yang banyak berdomisili di Surabaya dan Malang.

Sementara arsip-arsip musik lain juga penting untuk disimpan dan dirawat demi edukasi sejarah. Beruntung di Malang ada Museum Musik Indonesia dan Museum Musik Dunia. Peran dua lembaga itu cukup vital dalam hal pengarsipan karya musik di Indonesia khususnya.

Arek-arek Suroboyo juga menggagas situs Ayorek.org yang kerap melakukan urban research di seputar Surabaya. Mereka memiliki banyak arsip data dan dokumen seputar musik dan karya kreatif anak muda. Di Malang dulu juga sempat ada Megavoid.net yang berformat situs ensiklopedia band cadas dan katalog karya rekamannya. Sayang kemudian berhenti di tengah jalan.

Selanjutnya, Mau Ke Mana?

Jika diamati dari seluruh sektor di atas tadi, sepertinya Jawa Timur sudah memiliki infrastruktur yang cukup untuk memajukan peradaban dan ekosistem musiknya. Terlebih di kancah musik independen dengan beragam pola komunitas dan variasi musiknya. Apalagi sudah disokong oleh perangkat tehnologi di era digital dan bonus demografi anak muda yang cukup melimpah.

Band dan musisi di Jawa Timur hanya butuh memperluas wilayah bermainnya hingga ke skala nasional, bahkan internasional. Tidak perlu juga hijrah atau pindah meniti karir bermusik di ibukota, misalnya. Itu metode usang yang tidak sesuai semangat zaman dan kudu bisa ditinggalkan.

Beberapa nama memang sudah cukup harum dan mewangi reputasinya sampai diundang tampil dalam festival musik di Jakarta, Bandung, atau Yogya. Sebut saja seperti Silampukau, Fraud, Iksan Skuter, atau SATCF. Sekarang, giliran potensi-potensi baru yang harus mulai berani menyeberang ke sana.

Peran komunitas musik di squat-nya masing-masing juga masih dominan. Mereka terus bergerak dengan memanfaatkan segala kesempatan dan menyiasati aneka keterbatasan. Mereka masih mampu menghidupi atmosfir musik di daerahnya – dengan berkumpul, berserikat, menjalin jejaring, bikin album kompilasi, atau mengagas event musik dalam bentuk apapun.

Kalau ditanya sejauh mana peran pemerintah daerahnya masing-masing, itu sulit untuk dijawab. Faktanya, masih ada saja prosedur birokasi yang berbelit-belit dan tidak pro (kreatifitas) anak muda. Terkait soal perijinan acara konser, reklame, dan penggunaan fasilitas umum, misalnya.

Setiap daerah di Jawa Timur juga punya Dinas Kebudayaan serta Dewan Kesenian – yang sayangnya lebih fokus pada seni tradisi dan pariwisata daripada memikirkan seni dan budaya populer seperti halnya musik yang banyak dikonsumsi kawula muda saat ini. Hal-hal itu yang mungkin kudu dijembatani dan diakomodir oleh elemen Bekraf di daerah.

Kalau mau jujur, peran korporat justru masih lebih mending. Perusahaan swasta seperti industri rokok atau telekomunikasi masih kerap terlibat dalam aktifitas anak muda di Jawa Timur. Meskipun kepentingannya masih lebih condong kepada eksploitasi bisnis dan branding produk dengan target komersil.

Sejauh ini, geliat musik (independen) di Jawa Timur tampak baik-baik saja. Tetap panas, bergairah, dan penuh kesenangan. Untuk membangun peradaban ekosistem dan industri musik yang lebih ideal lagi di provinsi ini?! Jalannya masih panjang, tapi sudah mulai bisa terpetakan.

Tanpa keterlibatan elemen pemerintah daerah dan korporat pun faktanya geliat musik di Jawa Timur masih tetap bergerak. Terus tumbuh dan berkembang dibangun oleh komunitasnya sendiri. Itu mungkin sudah jadi pembawaan karakter masyarakat Jawa Timur yang agak keras kepala, bondho nekat, loyal, dan lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri.

Semangat itu mungkin, disadari atau tidak, selaras dengan semboyan resmi provinsi Jawa Timur itu sendiri: Jer Basuki Mawa Béya, yang artinya, “Keberhasilan membutuhkan suatu pengorbanan”.

Paling tidak, harapan bagi kancah musik Jawa Timur untuk terus berkembang itu juga selalu ada dan tidak pernah padam. Persis seperti yang disuarakan Silampukau dalam lirik “Doa 1”:

Dan inilah nyanyianku
Semoga usahaku lancar, berkembang, bercuan
Perlahan aku bisa mewujudkan
Ziarah ke tanah suci, tanah impian

Dan Inilah nyanyianku
Semoga terkenal, terpandang, dan banyak uang…

 

*Naskah ini semacam Jawa Timur scene report, yang diminta Ivan Makhsara untuk keperluan acara Archipelago Festival 2018 kemarin. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s