Bias Sinar Yang Membentuk Lanskap dan Menerobos Gelap

Pure-Wrath-Ascetic-Eventide-2017

Pengalaman singkat mendengarkan Pure Wrath di album Ascetic Eventide.

Pertama kali mendapat CD Pure Wrath yang bertajuk Ascetic Eventide, saya langsung menghela nafas panjang. Kepala mendadak berat. Saya terpaksa meringis. Lalu geleng-gelang kepala.

Bukan apa-apa. Dari logo band-nya yang berakar-akar lebat dan sulit dibaca itu saya sudah membayangkan bakal dihantam oleh musik brutal death metal yang keras dan berat. Serta biasanya terdengar monoton. Saya geletakkan saja CD itu di atas player. Menyerah. Belum berani memutarnya. Tidak cukup nyali.

Beberapa hari kemudian, saya nekat membuka kotak CD rilisan Hitam Kelam Records tersebut. Perlahan memasukkan kepingan cakramnya ke dalam player. Berharap keadaan baik-baik saja. Kemudian…

Jreeeeng…
Oh, ya ampun.
Aduh, indahnya.
Oke, brengsek!

Uhm, ternyata prediksi saya salah besar. Pure Wrath justru memainkan musik yang cantik. Terdengar melodius dan penuh harmoni. Membekap black metal ke dalam nuansa atmosferik yang kelam, sekaligus alamiah. Lanskap pegunungan, hutan yang lebat, hingga padang savana mulai terbayang.

Sebentar, saya perjelas, itu bukan seperti penorama alam yang biasa di-posting pada akun Instagram teman anda. Indah dan cantik itu relatif, bukan?!

Dari catatan kreditnya, saya baru tahu kalau Pure Wrath adalah sebuah one man project. Januaryo Hardy menjadi solois yang memainkan semua perangkat instrumennya. Pria ini sebelumnya pernah membangun pondassi death metal bersama Perverted Dexterity, yang sempat merilis album Primitive Scene of Inhumanity (2014).

Pada Pure Wrath, saya mendengar pengaruh komposisi Alcest, Deafhaven, sampai Emperor di beberapa lini lagunya. Ya, hanya band-band itu yang terlintas di kepala saya. Mungkin banyak pengusung NWOBM yang serupa, tapi saya tidak ingat lagi.

“Mountain Calls” diselipi isian keyboard yang apik dalam tema lanskap alam yang dingin dan mencemaskan. Track seperti ini sebaiknya dinikmati di kala fajar atau senja – ketika langit masih abu-abu, tidak terlalu terang namun juga tidak terlalu gelap pekat.

“In Cold World” juga diperkuat denting piano yang ditumpangi deru drum dan gitar dalam tempo yang tidak terlalu cepat. Cenderung pelan, dan menikam. Sedangkan “Pathetic Fantasies” sontak mengingatkan saya pada komposisi yang biasa disajikan oleh Deafheaven. Dalam versi yang lebih kencang, tentunya.

Track ke-enam, “Between Water and Minds” justru kental corak oldschool-nya. Oke, coba bayangkan Emperor atau Moonspell saja. Liriknya bengis, dan cenderung nihilis. Layaknya apa yang biasa dilontarkan oleh khalayak metal di Skandinavia sana.

Ascetic Eventide memang kelam. Tapi album ini seperti memiliki banyak pancaran sinar yang menerobos kegelapan dari sela-sela dahan dan ranting tanpa daun. Paling tidak, itu sudah memberi warna dan sedikit pencerahan bagi black metal di lingkup nusantara. Ibarat terang yang dijanjikan, tapi hanya diberikan sedikit. Alhasil, hanya menambah rasa curiga dan penasaran.

Sebab, tanpa adanya (sedikit) cahaya, bagaimana kita tahu kalau itu gelap?…

 

*Album ini bisa didapatkan melalui Hitam Kelam Records. Konon, versi piringan hitamnya juga dirilis oleh label rekaman asal Meksiko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s