Metafora Komposisi Imajinar

PEKAUM

Sebuah pengantar untuk sesi diskusi Peka Kelas Keliling (PKK) “Music & Artworks” di Kafe Pustaka UM, 06 April 2017.

Dalam sebuah artikelnya, Rolling Stone Indonesia pernah menegaskan bahwa ada bobot yang menyeruak dalam sampul album musik yang digarap oleh para perancang grafis atau ilustrator. Bobot tersebut bahkan dianggap setara dengan perkembangan dan trend musik yang merebak pada era-era tertentu.

Jika menilik pada sejarahnya, Memang sampul album musik awalnya bukan ditujukan sebagai ‘pemanis’ karya rekaman, melainkan mengusung fungsi yang lebih fungsional. Sampul album musik pertama kali muncul pada awal abad 20 dalam bentuk polos untuk format piringan hitam dan hanya sebagai pelindung dari debu, kotoran, dan goresan. Sampul polos tersebut cuma memuat informasi dasar sebuah album rekaman – seperti nama musisi/band, judul album, daftar lagu dan durasi, nama musisi atau anggota band, serta kredit bagi yang terlibat dalam proses rekaman.

Kemudian pada pertengahan abad ke-20, gambar sampul album mulai menampilkan foto-foto musisi, judul album, dan visualisasi menarik lainnya. Saat itu, orang-orang yang bergerak di industri musik mulai sadar kalau sampul album bukan hanya pelindung, namun bisa juga sebagai penyampai visi dan identitas yang dikehendaki musisi maupun label rekaman. Sisi artistik pun mulai ditonjolkan.

Dalam perkembangannya, rancangan sampul album mampu berjalan seiring dengan pencapaian pada kancah seni atau industri musik itu sendiri. Perkembangan visual dan gaya seni (rupa) tersebut bisa ditelisik dari karya-karya para ilustrator dan perancang grafis yang berpengaruh di masanya.

Sebut saja, mulai dari Alex Steinweiss yang memelopori kemasan dan standarisasi sampul album (piringan hitam) sejak akhir era ’30-an. Kemudian di era ’50-an muncul sosok seperti Reid Miles dan David Stone Martin. Di era ’60-an ada Carl Schenkel dan Rick Griffin. Lalu di era ’70-an ada nama-nama tersohor mulai dari Andy Warhol, Roger Dean, hingga Hipgnosis. Di era ’80-an ada Peter Saville, juga Pushead. Di era ’90-an ada David James, Carlos Segura, Stanley Donwood, dan Robert Fisher.

Perkembangan industri musik ternyata juga berpengaruh pada penciptaan desain sampul album. Setiap periode, desain sampul album mengalami perubahan dan adaptasi, tergantung dari gaya hidup dan perkembangan industri musik pada saat itu.

Menurut (alm) Denny Sakrie dalam artikelnya, Karya Grafis dalam Industri Musik, pada 1950-an hampir semua album musik di luar negeri menampilkan sampul fotografi. Lalu pada 1960-an hingga awal 1970-an, gerakan hippie dan genre musik rock psikedelik mempengaruhi penciptaan sampul album.

Denny Sakrie juga menjelaskan, di era 1970-an gaya sampul album mulai menampilkan lukisan surealis, seperti karya Salvador Dali misalnya. Tidak lama, gerakan punk rock juga hadir di tengah kegelisahan anak muda. Akibatnya, gaya desain pun ikut terpengaruh. Sampul-sampul album menjadi anti-desain dan kerap mengadaptasi motif surat kaleng.

Di Indonesia sendiri, industri musik mulai menggeliat di paruh era ’50-an dengan adanya label rekaman seperti Irama dan Lokananta. Proses penciptaan karya seni sampul album pun mulai muncul, meski belum dikerjakan secara serius.

Pada era ’50-an hingga 60-an muncul beberapa nama yang merancang desain grafis album-album Indonesia dalam format piringan hitam, seperti Imam Kartolo, Pandji Kamal, Handiyanto, Sjamsuddin, Jan Mintaraga, Djoko Prass, Sugandhi, dsb. Di era ’70-an, ada sederetan nama seperti Markus Sudjoko, Gauri Nasution, Tara Sutrisno, Firman Ichsan, Samsudin Hardjakusuma, A Kusuma Murad Handoyo, AD Pirous, Ayik Soegeng, Didik Christ dan Lesin.

Memasuki era ’80-an ada sosok seperti Cahyono Abdi hingga Boedi Soesatyo, Di era ’90-an muncul nama Dik Doank, Jay Subiakto, sampai Dimas Djayadiningrat. Lalu di era 2000-an ada Tepan Kobain, Tandun, Mayumi Haryoto, Dedidude, Jimi Multhazam, Henry Foundation, Ucok Homicide, David Tarigan, Arian13, Tremor, Ken Terror, Farid Stevi, Sari WSATCC, Wok The Rock, Ryoichie, Republik of Rock, Turi Ismanto dan masih banyak lagi.

Hari ini, ketika perkembangan tehnologi desain grafis semakin melangit, bertambah banyak pula karya-karya visual yang muncul baik di lingkup industri musik maupun di kancah musik independen. Karya-karya visual tersebut sudah tidak lagi terbatas pada ruang sampul album musik saja – melainkan sudah merambah pada desain atau ilustrasi untuk singel, poster, flyers, merchandise, bahkan bisa diadopsi dalam format multimedia (video) yang penyebarannya banyak disokong oleh jaringan internet.

Selain itu, ruang kolaborasi juga semakin terbuka, serta bisa melibatkan banyak seniman dan penggiat lintas disiplin – mulai dari musisi, ilustrator, desainer, fotografer, videografer, dsb.

Ini momen untuk mengingat kembali bahwa setiap karya grafis atau ilustrasi tadi bukan lagi sekedar pembungkus karya rekaman musik belaka. Lebih dari itu, mereka adalah interpretasi dari konten. Mereka juga merupakan penanda yang sahih soal karya musik maupun gagasan musisinya. Kedua produk seni tersebut bisa saling mengisi dan melengkapi.

Sebagaimana karya musik, desain grafis dan ilustasi yang terlibat juga musti mampu menunjukkan semangat zaman.

 

Malang, 06 April 2017
Samack

 

* Judul tulisan ini diambil dari titel album Balcony, rilisan Harder Records (2003).
* Dirangkum dari berbagai sumber. Sila cek rujukan dan referensi berikut;
https://www.whiteboardjournal.com/column/26059/music-and-its-artworks/  
http://humanhuman.com/articles/the-importance-of-album-artwork  
http://www.rollingstone.co.id/article/read/2012/04/02/1882720/1101/99-sampul-album-indonesia-terbaik  
https://qubicle.id/story/kisah-sebuah-sampul-album-musik  
http://magazine.art21.org/2010/12/07/music-and-art/#.WOSZVIoW3qw
http://www.stylist.co.uk/life/indie-rock-meets-art

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s