Kelakar – The Colonel

kelakar-thecolonel

Kelakar – The Colonel
Hitam Kelam Records (2016)

Sejak track pertama, “Ephesus; The Deprivation of Sacra Symbotism”, unit ini sudah bikin ulah. Memacu musik keras yang menggerinda lalu tiba-tiba meliuk pada komposisi yang jazzy, bossanova dan swing. Formula seperti ini langsung mengingatkan saya pada Exit 13, band sinting lainnya dari Amerika Serikat.

Mari menuju pada “Smyrna; Spasmodic Persecution” yang diawali dengan bunyi trumpet, dan kemudian berlarian liar ke irama punk – komplit dengan koor vokal yang agresif. Sinting. Saya shock ketika mendapati musik grindcore ternyata bisa dipacu menjadi unik dalam lagu “Pergamos; Enchanted Murmur of The Nocturnal Necrolatry”. Sekilas itu seperti ada bebunyian 8bit dan asupan organ yang jenaka di sela-sela lagunya.

Keusilan Kelakar makin berlanjut pada “Laodicea; Crepitating Skeletal Effigy” yang berisi obrolan dan humor lokal yang cukup menyungging senyum. Seperti ada cuplikan atau potongan dialog film juga di sana.

Oke, kita mulai bisa menangkap maksud avant-garde dan experimental rock/metal yang diusung Kelakar. Mereka ingin mengaduk aneka rupa genre musik dan pola bebunyian. Katakanlah Naked City, Mr.Bungle, Fantomas, Frank Zappa, atau segala proyek musikal dari Mike Patton atau John Zorn sebagai rujukan yang paling mewakili.

Tema liriknya pun ditekan menjadi lebih absurd, konyol dan boleh ditafsirkan secara bebas. Oke, mungkin membaca kalimat “An Epoch of Proliferating Peptonized Ectoplasm” atau “The Amorphous Pathogenetic Blistering Mammon” itu memang agak mengingatkan kita pada judul lagu-lagu band medical gore/grind seperti Carcass, General Surgery, atau Haemorrage. Tapi percayalah, Kelakar tidak seserius itu.

Kelakar, seperti namanya, memiliki rasa humor yang sangat tinggi. Namun jangan salah, The Colonel digarap cukup serius dan matang. Tidak lalu asal-asalan. Itu tampak jelas sejak dari kemasan, artwork, sampai produksi musik mereka. Itu yang bikin karya mereka tidak murahan. Tipikal humor yang cerdas.

Formula musiknya memang tidak terduga. Mereka bisa memulai lagu dari irama yang cepat menggerinda – lalu masuk ke sirkuit rock dan punk, atau bahkan memberi porsi besar bagi jazz, bossanova, dan swing. Kadang kemudian ada sesi solo piano, trumpet atau contra bass – itu kalau tidak tiba-tiba muncul koor vokal yang cukup anthemik. Ya, memang susah ditebak. Selalu penuh kejutan di setiap lini musiknya.

Unit ini memang layaknya sirkus, yang penuh atraksi dan akrobat di sana-sini. Menegangkan tapi cukup menghibur. Juga meriah seperti karnaval, sekaligus badung layaknya tingkah si badut berhidung merah.

The Colonel adalah hiburan terbaik untuk mengawali tahun 2017 yang konon kabarnya bakal panas dan sengit. Mereka menawarkan sajian musik yang langka dan penuh warna. Bersama sifat agak kekanakan dan naluri tinggi untuk bermain-main. Bersenang-senang tanpa menurut pada pakem tertentu. Absurd dan juga komikal. Kelakar seperti sedang menggarisbawahi bahwa sebenarnya tidak ada musik yang rumit. Yang ada hanyalah kuping yang lelah, atau terlalu tua?!…

 

*Resensi ini sebelumnya dimuat pada situs Warning Magz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s