Rotasi Konsumsi ; Charade You Are…

saxophone_sunset_by_elliums-d5eez8q

Sepekan bersama kegaduhan soal presiden yang naik tahta di negeri adikuasa, potongan jazz di film populer, serta biopik penyair yang akan memburumu seperti kutukan. 

“The resistance begins today,” ujar Roger Waters dalam konsernya di Meksiko saat merespon hari inaugurasi Donald Trump yang resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, kemarin (20/01). Ini menarik sekaligus menakutkan bagi warga dunia. Tapi saya tetap antusias dan seru saja melihat musisi atau band barat yang belakangan tampak marah, kesal, sekaligus bergairah dalam merespon sosok presiden AS yang rasis tersebut. Banyak sekali program musik protes yang bermunculan – lagu, album, kompilasi, atau playlist. Salah satunya yang seru juga diberitakan oleh situs Pitchfork. Well, kita lihat saja apa yang bakal terjadi nanti. Anger can be power.

Tempo hari, kawan saya merekomendasikan Dave Matthews Band (DMB) begitu tahu saya suka musik macam Counting Crows, Hootie and The Blowfish, atau REM. Saya belum begitu kenal band itu. Kebetulan kemarin saya lihat ada satu album DMB di lapaknya Cak Tono Boldi. Judul albumnya Before These Crowded Streets (1998). Ya sudah, saya ambil saja dan bawa pulang buat perkenalan. Baru saya setel sekali, tidak buruk juga. Lumayan meski sepertinya itu bukan album terbaik mereka. I will dig ’em more deeper, let’s see what happen next.

Oya, saya akhirnya sempat menonton film La La land di bioskop, beberapa hari lalu. Sebagai penonton yang telat, film itu lumayan apik dan cukup menghibur. Alur ceritanya sih biasa, tapi setting-nya menarik juga. Kerennya lagi, banyak sekali potongan sejarah musik jazz di film itu. Cukup valid dan akurat. Itu bagian yang paling saya nikmati. Sebastian (Ryan Gosling) selaku penggemar jazz yang puritan dan sok tahu tampil cukup snob di situ. Oke, Mia (Emma Stone) juga cute sekali. A funny, romantic, fusion and jazzy movie to watch.

Sepulang nonton film di atas itu tadi saya akhirnya nekat mengunduh kompilasi The Smithsonian Collection of Classic Jazz (1973) sebesar hampir 1 GB. Menurut hasil penelusuran, album boxset yang aslinya terbagi dalam lima keping piringan hitam ini merupakan koleksi 86 lagu jazz klasik terbaik yang pernah ada sejak era ragtime sampai free jazz. Semacam kitab suci atau ensiklopedia yang cukup mewakili setiap era musik jazz. Menarik untuk diputar sembari menulis di tengah malam. Ya, seperti yang sedang saya lakukan sekarang saat mengetik tulisan ini.

Tempo hari saya mendapatkan kiriman paket presskit dari Arian13 / Lawless Records. Isinya tiga keping CD. Salah satunya Dedikasi (Petaka), album terakhirnya (alm) Rully Annash. Musiknya punk/hc yang singkat dan lugas. Cocok untuk dinikmati secara live dalam venue yang pengap dan sempit. Penuh gairah dan kesenangan dalam prosesnya – meski kemudian terpaksa dirilis dalam suasana duka. Dua album lainnya adalah Titik Nol (Piston) dan Condolence (Hurt’Em) yang sedang saya ulas lebih rinci dan panjang. Nanti saya kabarkan artikelnya.

Stok lokal lainnya adalah kaset Babirusa album Hymne Puja Belantara EP dan kaset split Desecrate AD / Babirusa yang saya dapat dari Fajar (Tarung Records). Babirusa merupakan unit thrash/crossover asal Malang yang berpotensi dan menarik aksi live-nya. Komposisi musiknya bagus, dan kudunya mereka bisa merekamnya dalam mutu sound yang lebih apik lagi.

Baru saja saya menemukan kabar bahwa Takethislife berencana untuk merilis mini album lagi. Satu singelnya sudah bisa dinikmati via situs Bandcamp mereka. Ini salah satu band lokal favorit saya. Mereka memainkan chaotic/math yang cukup onar dan penuh perhitungan. Patut ditunggu EP-nya nanti.

Sejak 19 Januari 2016 kemarin, mulai diputar film biopik tentang Wiji Thukul yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata di berbagai jaringan bioskop. Kabar buruknya, tidak tayang di Malang. Sialan. Kabar serunya, banyak sekali perdebatan tentang film ini di media sosial. Ada pro-kontra soal penggambaran sosok Wiji Thukul, ideologi kiri, penyebaran distribusi dan akses menonton, sampai soal tato kecil di kulit kaki salah satu pemerannya. Well, saya percaya akan selalu ada banyak cara serta media untuk mengenal sosok Wiji Thukul secara kokoh. Setiap orang berhak mencarinya di mana saja. Saya saja baru bisa menemukan Wiji Thukul di lagu Sajak Suara-nya Homicide. Herry Sutresna sudah mengenangnya dengan apik dan penuh getir. Sementara, Andre Baharamin mungkin sedang menatap purnama di atas langit yang merah dan bercerita soal negeri yang mendiamkan tentara memangsa warganya.

Susah ya memahami orang kiri?!…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s