Kami Nongkrong, Maka Kami Ada…

hang1

Dari sebuah warung kopi, muncul sebuah studi observasi dan riset sosiologis yang ugal-ugalan soal fenomena tongkrongan anak skena musik sepanjang tiga jaman, tiga generasi, tiga dekade terakhir…

Tempo hari, saya sempat mengobrol panjang-lebar dengan seorang kawan soal trend dan fenomena tongkrongan anak skena, eh anak komunitas musik, atau mmmh… [berpikir]. Obrolan tidak penting sembari ngopi itu ternyata berlangsung seru, panjang dan lama – dalam durasi satu gelas kopi yang tidak terlalu manis dan berbatang-batang rokok kretek.

Sampai akhirnya kami berhasil mengungkap (atau lebih tepatnya mengingat-ingat) beberapa fakta yang unik, menarik dan lucu – serta, tentunya, tidak penting juga.

Kami iseng-iseng memperbincangkan; Ternyata, kalau dipilah dalam tiga dekade terakhir, ada tiga spot tongkrongan favorit anak skena musik di jamannya masing-masing. Setidaknya itu yang terjadi di kota kami, di Malang.

“Eh, apa tiap daerah atau kota juga sama kayak gitu?…” tanya saya penasaran.
“Kayaknya di setiap kota kayak gitu juga sih. Mirip lah…” jawab kawan saya dengan yakin.
“Mmmmh, belum tentu juga sih. Mungkin saja beda. Tapi gak tau juga sih,” sergah saya enteng.
“Mereka yang aktif dalam komunitas atau skena musik di kotanya sih yang kudunya tahu…” jawabnya pelan, kemudian menyeruput kopi.

Ya, studi budaya dan perilaku nongkrong ini mungkin tidak sama dengan kota-kota lain di Indonesia. Tapi, setidaknya ini memang yang terjadi di Malang, menurut pengamatan asal kami.

Malam itu, bersama sisa kopi terakhir, kami akhirnya menyimpulkan soal spot tongkrongan favorit anak skena musik pada tiga generasi atau tiga dekade terakhir. Kira-kira seperti ini gambarannya…

ERA 1990-AN

Spot & Squat ; Studio Musik
Prime Time ; Mulai siang sekitar jam satu (waktu pulang sekolah) hingga petang. Kadang bisa sampai jam operasional studio musik berakhir, sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.
Fun Facts ; Aktifitasnya standar saja. Biasanya nongkrong bareng sambil ngopi rame-rame. Ada yang latihan band atau iseng ‘gedebukan’ di dalam studio. Topik obrolannya kebanyakan soal musik, ben-benan dan skena. Diselingi diskusi tehnis soal alat musik, efek, amplifier, sampai sound system. Kadang juga suka membahas produksi konser dan pertunjukan, hingga proses rekaman. Alhasil, anak skena di jaman ini biasanya cenderung musikal dan tehnikal. Referensinya cuma terbatas pada majalah Hai, MTV, dan fanzine-fanzine yang beredar. Nama-nama seperti Metallica, GNR, Nirvana, Pearl Jam, Radiohead, Sonic Youth, Greenday, Iwan Fals, Slank, atau Roxx menjadi cukup penting bagi mereka.
Hot Spots ; Studio Centra, Kangean, Antz, dsb.

studio3

Centra Studio, Circa 1998/1999

ERA 2000-AN

Spot & Squat ; Distro & Clothing Store
Prime Time ; Sesuai jam kerja toko, biasanya jam 10 – 21. Tapi meriahnya sih sore sampai malem. Biasanya, tengah malam diselingi dengan mampir ke warnet.
Fun Facts ; Doyan nongkrong di teras atau emperan distro yang biasanya milik kawan sendiri. Lalu pesen kopi ke warung sebelah. Sebagian besar usaha distro ini masih dimiliki atau dijaga oleh anak band – baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif bermusik. Ngobrolnya seputar bahan kaos, kain, katun atau combed 30s, desain, tehnik sablon, serta segala perkembangan fashion anak muda. Dari sini mulai lahir ide-ide tentang produksi merchandise band. Sesekali menerima proposal acara dan mensponsori gigs garapan teman-temannya. Anak-anak di jaman ini biasanya lebih sadar-busana dan fashionable dibanding generasi sebelumnya. Mereka gemar mengadopsi dandanan ala Korn, Deftones, Limb Bizkit, sampai Gwen Steffani. Pssst, jangan tanyakan apa yang mereka lakukan di warnet setiap tengah malam.
Hot Spots ; Smash, Magnetic, Rock Bandits, Inspired, Revolver, dsb.

distro2

Smash Shop, Circa 2003

ERA 2010-AN

Spot & Squat ; Coffee Shop & Bar
Prime Time ; Biasanya di jam pulang kuliah atau pulang kerja. Mulai sore sampai tengah malam, atau bahkan hingga pagi buta.
Fun Facts ; Sesuai perkembangan jaman dan tehnologi, anak skena pun ikut nongkrong di berbagai kedai kopi dan bar, dengan jaringan wifi yang kencang. Sebagian spot ibarat melting-pot dan jadi tempat ngumpulnya para pekerja seni kreatif – mulai dari musisi, seniman, ilustrator, desainer, fotografer, videografer, dan aneka profesi lainnya. Berbagai proyek kolaborasi sangat mungkin terjadi di meja-meja itu. Topik obrolannya pun jadi meluas dan random – bisa bicara tentang musik, film, desain, gadget, medsos, instagram, gigs, party, bahkan sampai soal politik dan agama. Kadang ya cukup bercanda saja sambil pesen kopi, hot soklat, green tea, atau bir yang paling murah. Kata ‘hipster’ juga ikut marak dan banyak dipakai dalam konotasi yang positif maupun negatif. Memang agak sulit mengidentifikasikan anak skena musik di jaman ini. Sama halnya dengan mengamati generasi milenial dan ada kemiripan mendasar dengan asumsi yang pernah saya baca dalam sebuah artikel menarik di situs Geotimes. Tapi yang pasti mereka melek-tehnologi dan kadang punya (terlalu) banyak ide-ide kreatif. Oya, tolong jangan masukkan Awkarin dalam bahasan ini.
Hot Spots ; Houtenhand, Srawung, Kalampoki, Halte, dsb.

bar1

Houtenhand, 2016

Begitu lah kira-kira. Well, bagaimana pun juga, ini cuma sebatas observasi ugal-ugalan dan pengamatan kasar kami saja. Bisa jadi salah, atau berbeda antara satu kota/tongkrongan dengan kota/tongkrongan yang lain. Toh ini juga cuma hasil dari obrolan ngopi, bisa jadi tidak terlalu penting. Maka, jangan percaya pada kami. Percaya saja pada Tom Waits yang pernah bilang, “We’re really the coffee-and-cigarettes generation, when you think about it.”

Catatan ; Oya, sejujurnya saya benci menyebut atau menulis kalimat ‘anak skena’. Tapi sayang, belum ada padanan kata atau kalimat yang lebih pas, akrab dan sesuai dengan jaman sekarang. Mau disebut ‘anak komunitas’, ‘scenester’, ‘arek underground’, ‘kawula muda indie’, silahkan saja. Saya yakin anda semua tahu siapa yang kami maksud. Ndak tau? Ya gak papa sih, gak penting juga. Ha!

*Esai ini sebelumnya dimuat di Suketeki fanzine, edisi #6 / November 2016.

Advertisements

2 thoughts on “Kami Nongkrong, Maka Kami Ada…

  1. Onok mas Alo!

    Kalau jaman Y2K dulu, “anak skena” itu mungkin disebut VJ Jamie “anak nongkrong” 🙂

    Aku curiga kita dr generasi yg sangat sama 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s