Rotasi Konsumsi ; Where Are We Now?

david_bowie_where_are_we_now

source ; vevo doc

“The records were better than the news. Happy 2017.”
kata Henry Rollins, eks pedagang es krim.

Sejak pertengahan bulan Desember 2016, saya mulai mengkonsumsi berbagai (konten) artikel list akhir tahun dari sejumlah media. Ya, soal daftar lagu atau album musik yang jadi favorit atau dianggap terbaik sepanjang tahun 2016 kemarin. Di luar musik, sesekali saya juga mengintip list buku dan film sejenis.

List yang menarik bagi saya ada di Rolling Stone, Vice Indonesia, dan Noisey. Daftar pilihan media lain kurang lebih sama. Aktifitas menyimak list semacam itu cukup menyenangkan, dan sekaligus bikin geram. Sebab, mengingatkan saya yang melewatkan banyak karya bagus setahun kemarin.

Dan sesuai tradisi, saya juga masih rutin menulis list akhir tahun. Kali ini ada dua artikel. Pertama, list lagu lokal Malang yang esensial di situs The Display. Kedua, daftar album metal Indonesia terbaik di situs Warning Magz. Sila dibaca jikalau sempat. Kabari saya kalau ada yang kelewat.

Hei, selamat tahun baru 2017. Gimana? Masih sehat?! Awal tahun selalu banyak diliputi doa, harapan dan resolusi. Saya selalu merujuk pada lagu “Fitter Happier” (Radiohead) kalau ditanya soal resolusi. Apa yang diucapkan Thom Yorke di track itu sudah cukup jelas dan konkrit. Baik dan sederhana. Tidak berlebihan.

“Musik metal sampai kapan pun akan tetap menarik…” jawab saya ketika ditanya jurnalis Tirto.ID soal prediksi musik di tahun 2017. Tentu saja saya tidak sabar menunggu album barunya Seringai, Forgotten, Extreme Decay, dan Burgerkill. Pasti seru. Semoga.

Saya baru dikirimi CD Kelakar album The Colonel dari labelnya, Hitam Kelam Records. Konon CD ini dirilis resmi tiga hari sebelum tahun baru 2017. The Colonel merupakan hiburan paling sinting dan menyenangkan di awal tahun. Cocok buat penggemar Naked City, Exit 13, Mr.Bungle, Fantomas, dan semua proyek usil Mike Patton. Absurd dan komikal.

Saya juga mendapat materi A Tribute To Motorhead, proyek kompilasi yang diproduksi secara kolektif oleh orang-orang yang menamakan dirinya Palembang Motörheadbangers. “Sebagai usaha mengubah duka yang mendalam menjadi apresiasi penghormatan kepada Lemmy Kilmister dan Motorhead,” kata mereka. Proyek gotong-royong ini dikerjakan oleh lima band lokal Palembang; Krank, Inferno, Shekill, Trendy Reject, dan Discoshit yang masing-masing menggubah ulang dua lagu Motorhead. Dua sampel musiknya bisa didengar via Soundcloud Rimauman Music. Sambil tetap mengisap rokok dan menggenggam gelas wiski, Lemmy pasti tersenyum bangga di sana.

Bonita & The Husband baru rilis album baru, bertajuk Rumah. Semua materinya cukup hangat dan intim layaknya suasana rumah yang bahagia. Sebagian nuansanya juga bisa terasa dingin dan berkabut, seperti Bromo. Sejak awal saya suka band ini, dan Rumah jadi salah satu CD yang sering diputar di kamar.

Ada satu band lokal Malang yang sangat saya tunggu rilisannya. Semoga bisa terbit tahun ini. Sudah waktunya sih. Nama mereka sudah tidak asing dan sering seliweran di berbagai pertunjukan musik. Sementara ini, menyimak video singel Wake Up Iris “Rain’s Tale” mungkin agak menghibur dan memberikan harapan.

Much tampil kocak dalam video musik “Uneven” yang digarap dalam format karaoke khas pinggiran dan layak diputar dalam bis malam antar-kota. Brengsek benar idenya.

Eh, anda sudah menyimak materi anyar Nine Inch Nails yang berjudul Not The Actual Events? Ini cukup mengobati kerinduan saya akan polah musikal Trent Reznor yang (kembali) keras, kasar dan gelap. EP ini sontak jadi favorit.

Saya akui agak terlambat mengenal Pagi Tadi. Setelah mendengarkan sealbum penuh Kembara, saya baru sadar kalau mereka memang bagus sekali. Elok serta memikat. Saya rasa cocok bagi penyuka alunan folk yang simpel dan bersahaja macam Leo Kristi, Franki Sahilatua, Ebiet G Ade, Silampukau atau AriReda. Kalau mereka mau bekerja keras, band ini bisa berkembang lebih jauh lagi. Saya yakin.

Tempo hari ketika ada bazaar buku di Taman Krida Suhat (Malang), saya menemukan No One Here Get Out Alive (Jerry Hopkins dan Danny Sugerman). Buku yang dibandrol diskon 20% itu tampak murah dan sulit dibiarkan begitu saja. Buku biografi Jim Morrisson (The Doors) itu akhirnya saya bawa pulang. Meski saya bukan penikmat karya (musik maupun puisi) Jim Morrisson, tapi musti diakui kalau buku ini memang bagus. Konon dikerjakan dengan sangat serius serta memakan waktu yang lama. Hasilnya adalah kisah yang sangat runut, detil dan dramatis. Seperti ini buku biografi (musisi) itu seharusnya.

Semalam, saya baru menyelesaikan buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Sejak awal, saya sudah geleng-geleng kepala membaca gaya narasinya yang kuat. Mengguncang psikologi. Dari Margio yang menyimpan harimau di dalam dirinya, sampai kehidupan keluarganya yang mengenaskan. Klimaksnya berada tepat di kalimat terakhir. Sadis.

Oya. Tahun ini saya kayaknya bakal menambah banyak rekaman musik, dalam berbagai format. Maklum selera telinga makin melebar – saya mulai membeli kaset jazz dan hard rock lawas. Lagipula, saya juga butuh itu untuk bahan belajar dan referensi menulis. Eh, omong-omong soal koleksi rekaman musik, saya baru membaca esai Henry Rollins di sebuah situs internet kemarin. Apik banget. Judulnya saja “Will I Be Able to Finish Listening to All My Records Before I Die?” Eits, jangan ragukan jumlah koleksi musik di rak pria yang dulunya pedagang es krim itu. “Records are insurance against the existential grind of life and its myriad disappointments,” alasannya. Saya memang rutin membaca setiap kolomnya di LA Weekly. Coba juga deh, pandangannya soal musik, politik atau sosial selalu saja menarik.

Loh, ini kenapa saya jadi terus-menerus memutar lagu “Where Are We Now?”-nya David Bowie?! Mungkin karena sentimentalia tahun baru atau bingung dengan kekonyolan yang makin banyak di-share di sosial media. Oke, anda sekarang jadi tahu dari mana judul artikel ini berasal.

Eh serius, ini sudah masuk tahun 2017?
Hajar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s