Rotasi Konsumsi ; Shout At The Devil

keep-calm-and-shout-at-the-devil-9

Saya sudah melupakan kekalahan timnas Indonesia di Final AFF Cup semalam dengan mencatat sejumlah gairah dan kesenangan selama sepekan terakhir. Mulai dari antologi heavy metal paling kotor dari Amerika, rekaman klasik para veteran hardcore asal Bandung, sampai pada kumpulan cerpen absurd yang memabukkan serta bagaimana black metal mampu berdamai dengan budaya nusantara.

Motley Crue – Decade of Decadence (Elektra, 1991)
Ini layaknya laporan rutin yang padat akan rekam jejak kegilaan Nikki Sixx dkk selama sepuluh tahun, dalam rentang 1981-1991. Tentu saja semuanya merah dan bikin para orang tua makin berang. Entah bagaimana cara yang paling santun untuk menjelaskan kiprah band yang kerap dianggap titisan iblis dengan catatan kaki berbunyi “More sex, drugs, and rock n’ roll than any other band in history”. Ini hanya entertainment?!

Manic Street Preachers – This Is My Truth Tell Me Yours (Sony Music, 1998)
Album ini baru saya dapat dari Circle, salah satu record store di Malang. Oya, dalam format kaset. Track kedua, “If You Tolerate This Your Children Will Be Next”, mengingatkan supaya jangan diam saja menonton penindasan di sekitar. Sayang kegeraman itu cepat sirna dan hati kembali tenang saat berjumpa track selanjutnya, “You Stole The Sun From My Heart”. A good album, in anyway.

Samael – Eternal (Century Media, 1996)
Tidak segelap yang saya kira. Atau paling tidak, berubah dari citra Samael yang pernah saya dengarkan di album Worship Him. Ini lebih progresif, spacey, dan menabrak atmosfer. Seperti menerbangkan black metal ke galaksi lain. To the moon and stars, but not coming back.

Puppen – MK II (Soda Music, 2004)
Menarik membayangkan berapa jumlah anak muda yang memutuskan doyan musik hardcore dan kemudian membentuk band akibat menonton live show Puppen atau mendengarkan album ini. Tu..wa..ga..pat! “Atur Aku” selalu menjadi anthem yang tidak pernah gagal di moshpit – semenjak dinyanyikan Puppen di jamannya maupun ketika diusung Burgerkill saat ini.

VA – Fairytale of Megabioversity (La Munai / demajors, 2016)
Album kompilasi yang sarat warna-warni psikedelia, LSD, dan acid. Digarap dalam pengaruh racikan Tim Leary dan ocehan Jerry Garcia pada zaman di mana Stone Roses dan Kula Shaker adalah kepentingan anak muda. Saya suka liner notes di album ini. Band-nya, musiknya, lumayan.

Miles Davis – Amandla (Warner Bros, 1989)
Hey, ini Miles Davis! Peniup trumpet yang tidak pernah butuh penjelasan.

Madness On Tha Block – Irony (Senartogok remix)
Alasan utama saya memutar track ini berulang kali adalah tempelan sample lagu “Harvester of Sorrow”-nya Metallica. Sungguh sadis. Apik. Saya juga mulai menyimak karya-karya Senartogok lainnya – yang memuat banyak rima yang istimewa, berani dan selalu menentang. Hiphop at its beast.

Bakat Menggonggong – Dea Anugrah (Mojok, 2016)
Tempo hari saya menulis untuk situs Minumkopi, dan meminta buku kumpulan cerpen ini sebagai bayarannya. Buku ini saya tuntaskan dalam semalam. Brengsek. Dea Anugrah itu makannya apa bisa menulis cerita seperti ini? Atau, dia mengkonsumsi zat lain yang tidak kita ketahui? Saya membaca kegilaan dan absurditas ala Kurt Vonnegut atau Chuck Palahniuk dalam gaya penulisannya. Salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini.

Stranger Than Fiction – Nova Riyanti Yusuf (Gramedia, 2008)
Saya langsung menyamber buku ini pada rak obral 5000-an di Gramedia Malang, beberapa hari lalu. Saya suka semua tulisan Noriyu. Ringan, renyah, dan populis. Apalagi ia sering mengutip musik atau lagu di beberapa bagian. Selera musiknya memang bagus. Jangan pernah mendebat perempuan ini soal Billy Corgan atau Smashing Pumpkins. Ha!

Where Do We Go – Hernandes Saranela (Cinemarebel, 2016)
Semenjak Venom menulis lirik, “Black metal! Lay down your soul to the gods rock n’ roll…” pada tahun 1982 – lalu menebar benih ke tanah skandinavia, hingga sampai di nusantara – kultur dan genre musik ini selalu menarik untuk ditelaah. Saya berkesempatan menonton film ini dan memandu diskusinya di Malang, tempo hari. Sungguh menarik dan membuka wawasan. Saya sarankan undang dan putar film ini di wilayah anda. Mungkin memang gelap, sekaligus mencerahkan.

Star Wars ; Rogue One
Ya, mungkin film ini baru terasa ‘Star Wars’-nya ketika Darth Vader muncul dengan nafas beratnya dan lalu menyalakan lightsaber menghajar musuh-musuhnya di lorong. Adegan favorit saya sudah pasti penampakan sekian detik dari R2D2 yang hanya mengucapkan, eh membunyikan ‘bleep’ sekali bersama C-3PO yang mengomel sepanjang satu kalimat. Itu saja sudah bikin saya girang dan menyunggingkan senyum rindu pada dua droid tersebut. *A happy bleep*

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s