Rotasi Konsumsi ; Spit Out The Bone

spit

Mengadili persepsi musikal melalui sodokan anthem non-nasionalis, hiphop yang waras, nada-nada jazzy di tengah malam, dan tentu saja, yang maha Metallica.

Bars of Death – Tak Ada Garuda di Dadaku (Grimloc, 2016)
Beri hormat tanpa senjata pada chorus yang berbunyi, “Di bawah ilusi merdeka sejak empat lima, Halusinasi bermantrakan ‘Garuda Di Dada’…” Sedangkan sepotong rima ampuh seperti “Persatuan Indonesia yang hanya terjadi di stadion sepakbola, Ilusi kolosal yang tak butuh lagi metafora…” bikin saya kikuk saat menonton laga Timnas PSSI di Piala AFF kemarin. Lagipula, satu lagu ini cukup untuk mengelola hasrat kita agar segera memburu kompilasi Organize! pada record store terdekat.

 

At The Drive In – Governed By Contagions (single, 2016)
Brengsek. Saya girang bukan kepalang ketika tiba-tiba unit sakral ini tiba-tiba merilis karya musik terbaru setelah absen 16 tahun. Keren banget lagunya. Sudah saya putar sekitar 20-an kali, dan tidak pernah bosan. Sounds rawkin’ to the bone and you still can dance to it. So brace yourself!

G.L.O.S.S. – Trans Day of Revenge (Total Negativity / Nervous Nelly, 2016)
Cukup jarang menemukan pengusung punk/hardcore anyar yang paten belakangan ini. Terakhir kali, saya cuma mencatat Fucked Up dan Pissed Jeans yang sanggup mencuri minat. Beruntung beberapa hari lalu saya mendapatkan Trans Day of Revenge dari daftar album terbaik 2016 milik situs Noisey. Ini baru mengancam dan berbahaya. Cerdik, to-the-point, dan maksimal. You should check ’em out, punks!

Seringai – Mengadili Persepsi (Parau, 2007)
Setiap baitnya masih sangat relevan dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini khan? Nuff said.

Public Enemy w/ Anthrax – Bring Tha Noize (Def Jam, 1991)
Seorang kolega penggemar hiphop asal Jogja merekomendasikan album Apocalypse 91… The Enemy Strikes Black (1991) yang teronggok kesepian pada sebuah postingan bertagar #jualkaset di Instagram. Langsung saya samber saja kasetnya. Hold! Di rumah sang pedagang, kaset ini ternyata setumpuk dengan album Fear of A Black Planet (1990). Sekalian saja saya bawa pulang keduanya. Menikmati rekaman hiphop yang penting seperti dua album ini adalah tindakan yang paling waras untuk meredam segala bait penuh omong kosong dari, mmmmh, siapa itu rapper tanah air yang congkak dan banyak dibicarakan (baca; dihujat) belakangan ini?…

No Man’s Land – Live & Loud (MLG Recs, 2016)
Saya memutar materi ini berkali-kali bahkan jauh sebelum albumnya dirilis ke publik demi penulisan naskah press release yang kemudian saya simpulkan bahwa, “…dalam durasi hampir 50 menit, album ini seakan mempresentasikan seberapa seru dan panasnya live show No Man’s Land selama ini.”

John McLaughlin & Mahavishnu – Adventures in Radioland (Relativity, 1987)
Saya jadi makin rajin membongkar kembali warisan koleksi kaset dan CD jazz milik mendiang paman saya. Total jumlahnya ada ratusan keping, yang mulai berdebu dan agak jamuran. Saya coba memutarnya satu-persatu. Pada tengah malam, biasanya setelah hujan, rasanya sontak hangat ketika diterpa bunyi tiupan saksofon. I just feel so jazzy and chillin’. Kabar baiknya, saya mulai bisa menikmati musik semacam ini. Setelah kelar dengan Spyrogyra, saya beralih ke album ini. Mclaughlin seperti mengomandoi proyek jazz yang sarat manuver lewat aksi gitar yang dibumbui deru synth dan elektronik. Mungkin terdengar cukup futuristik di jamannya. Paling tidak itu yang terdengar dari “Mitch Match”, salah satu track yang paling saya sukai di album ini. Oya, kebetulan ada buku berjudul Memahami dan Menikmati Jazz karangan John F. Szwed di rak. Tampaknya saya kudu mulai membaca dan belajar banyak lagi soal jenis musik ini.

The Almighty – Powertrippin’ (Polydor, 1993)
Semalam saya membawa pulang kaset ini dari rak dagangan seorang kawan. Jujur tidak begitu tahu soal band dan album ini. Tapi beruntung saya bawa ponsel dengan kuota data internet yang melimpah. Jadi, sambil berbincang saya bisa browsing tentang band/album ini dan mendapati fakta-fakta yang menarik. Band asal Skotlandia ini digawangi personil yang tumbuh dalam root musik punk, namun nekat memainkan hard rock dan heavy metal yang rusuh. Powertrippin’ bisa dikatakan karya terbaiknya dengan pencapaian paling sukses – sempat duduk di chart nomor lima. Album ini dianggap punya relasi yang dekat dengan musik grunge serta kerap dikaitkan dengan Alice In Chains dan Soundgarden. Masih saya setel sekali putaran, barusan. Cukup keras dan menyenangkan.

Metallica – Hardwired… To Self-Destruct (Blackened, 2016)
Uh, still need more details?! Oke, gini aja. Sejak pertama kali dirilis sampai dengan hari ini, Hardwired masih menjadi heavy rotation di speaker saya. Tempo hari ada seseorang yang nanya mana ulasan saya tentang album ini. Saya jawab kalau saya memang sudah bersumpah tidak akan pernah lagi me-review album Metallica. Pada dasarnya, tidak ada band yang musti bubar setelah merilis empat album, atau lebih. Here’s spit out the bone, baby.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s