dsc02222
Photo ; Widhi Astana / Whiteboard Journal

Tempo hari, saya diajak berbincang oleh Muhammad Hilmi untuk situs Whiteboard Journal. Seperti ini hasilnya…

Malang adalah salah satu kota yang menetapkan barometer musik lokal. Di kota ini, sejarah musik rock lokal tumbuh dan berkembang, Malang adalah salah satu tempat dimana musik underground hidup dan dihidupi, dan belakangan mencuat kembali dengan keberagaman musik yang segar dan menarik. Whiteboard Journal berbincang bersama salah satu pegiat scene sekaligus pelaku sejarah musik di kota Malang, Samack mengenai sejarah, dikotomi daerah-pusat hingga potensi yang ada di sana.

Mas Samack adalah salah satu penulis yang mengawali budaya zine DIY di scene lokal, bagaimana perkenalan pertama dengan dunia tulis menulis zine ini?
Kenalnya sih tidak sengaja dan sedikit dipaksa ya. Jadi gini, satu waktu di tahun 1996, teman-teman komunitas underground-metal di tongkrongan saya sedang giat-giatnya bikin sesuatu. Kebanyakan semua main musik dan membentuk band. Sisanya ada yang mulai sibuk merancang gigs. Yang pinter menggambar ditugasi bikin ilustrasi untuk poster gigs, logo band, atau sampul demo/album. Kalau ada teman yang punya skill menyablon, dia yang harus mau menyablon stiker, tiket gigs, sampai sampul rekaman demo/album teman-teman sendiri. Ada yang merintis label rekaman independen supaya bisa memproduksi dan memasarkan rekaman band di lingkungannya. Sisanya juga tetap ingin terlibat dan berkontribusi secara konkrit, jadi ada yang hobi mengurus perijinan acara dan venue, ada yang gemar keliling kota menempelkan pamflet pertunjukan. Tidak tahu ya, tiba-tiba saja seperti ada pembagian tugas yang alami dan sesuai kapasitas masing-masing.
Sementara saya minim skill dan tidak paham apa-apa. Main musik gak bisa sama sekali, mau urus produksi rekaman juga gak paham. Kegiatan saya saat itu cuma mengkoleksi kaset, dengerin musik, dan mengumpulkan bacaan. Tiba-tiba saya dikompori teman-teman untuk bikin fanzine. Kalau gak salah yang pertama kali mengusulkan bikin fanzine itu adalah Afril (vokalis Extreme Decay). Saya dan Afril lalu bikin redaksi kecil-kecilan mengajak beberapa teman dekat, Satu-satunya yang jadi acuan dan inspirasi kita saat itu adalah Revograms, fanzine musik bikinan Dinan (Sonic Torment) bersama tongkrongannya di Ujungberung, Bandung. Kebetulan ada teman juga yang punya majalah musik luar seperti Maximum Rock N’ Roll, Punk Planet, atau Profane Existence. Saya fotokopi dan belajar dari sana. Jadi kurang lebih kami punya bayangan bikin fanzine itu kayak apa. Singkat kata akhirnya kami bikin fanzine semacam itu di Malang, namanya Mindblast. Edisi perdananya terbit pertengahan tahun 1996. Formatnya juga sederhana, cuma A5 xeroxed dengan metode cut and paste. Kontennya juga sebatas profil band, wawancara dan ulasan-ulasan lokal saja. Di waktu yang hampir sama juga muncul fanzine musik seperti Brainwashed di Jakarta dan Megaton di Jogja. Kami semua saling kenal, jadi sering berkomunikasi dan barter fanzine satu sama lain.

Malang dulu identik dengan musik rock, hampir sama dengan Surabaya yang kemudian memunculkan beberapa musisi rock legendaris, darimana sebenarnya identitas ini muncul?
Kalau muncul pertama kali dari mana saya juga gak begitu paham. Tapi saya sering didongengin oleh orang-orang tua generasi di atas saya katanya musik rock itu sudah membudaya di Malang sejak dulu, di jaman mereka. Sepertinya itu memang selera musik yang dominan di jamannya. Saya lalu baru menemukan bukti-bukti itu dari beberapa artikel di majalah Aktuil. Kayaknya sih memang seru, terutama pada bagian pertunjukan musik rock yang katanya selalu padat, liar dan seram. Penontonnya kritis, hafal setiap lirik dan melodi lagu, trus sering ikut bernyanyi. Kalau ada band yang manggung jelek katanya pasti dilemparin. Konon itu yang jadi menakutkan bagi band luar Malang. Dari era itu muncul musisi seperti Ian Antono, Abadi Soesman, Sylvia Saartje, Micky Jaguar, sampai Totok Tewel. Mereka memang tumbuh di Malang, tapi lalu meniti karir dan melakoni industri musik di ibukota.
Kalau bicara soal musik rock di Malang atau Surabaya sepertinya memang berhutang banyak pada sosok Log Zhelebour. Beliau yang bertanggungjawab membangun iklim seperti itu dengan berbagai proyek festival musik dan album kompilasi rock melalui labelnya. Makanya sangat wajar kalau generasi saya di awal 90-an itu tumbuh bersama musik-musik dari Power Metal, Grass Rock, Kaisar, Adi Metal Rock, SAS, Andromedha, dan semua band yang pernah dibesarkan oleh Logiss Records. Agak berbeda dengan generasi yang sama di Jakarta dan Bandung yang mungkin tumbuhnya bersama Roxx, Rotor, Rudal, atau Suckerhead.

Bagaimana awal kemunculan scene underground di Malang?
Sepertinya nyaris berbarengan dan mirip kondisinya dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sejak awal 90-an marak istilah ‘underground’, saat banyak anak muda menyukai musik metal, punk dan hardcore. Awalnya pasti karena kesamaan selera musik. Mereka lalu berkumpul dan membentuk komunitasnya sendiri. Kalau di Malang, scene itu lahirnya justru dari tongkrongan teman sekampung di area tempat tinggalnya. Misalnya kampung seperti Bareng, Sukun, Selorejo, Kotalama, Celaket, atau Oro-Oro Dowo (Gang Songo) itu identik dengan anak-anak mudanya yang suka musik cadas. Lalu pengaruh itu menular ke tongkrongan mereka di sekolah-sekolah. Misalnya saya yang sekolah di SMA 7 Malang, ternyata ketemu banyak penggemar musik cadas dan anak band yang juga sekolah di situ – kayak personil No Man’s Land, Rotten Corpse, Abstain, atau Sekarat. Jadi ya kebawa pas di sekolah ngobrolnya juga seputar musik keras. Ada yang suka bawa tape player di kelas lalu muter kaset Sepultura, Kreator atau Sick Of It All pas jam istirahat. Seru aja kalau hampir semua teman di kampung atau di sekolah menyukai musik yang sama. Mereka semua bisa ketemu di acara musik atau di lapak kaset bekas. Dari situ biasanya saling kenalan trus nongkrong bareng. Saya sangat sepakat dengan Didit (No Man’s Land) yang pernah bilang kalau munculnya scene underground di Malang itu ikut menyelamatkan nasib anak muda dari hobi tawuran atau balap liar yang sempat marak juga pada jaman itu.

Apa sebenarnya yang terjadi di scene Malang era pre-internet?
Bodoh, miskin, dan naif. Haha. Ini kisah sebatas tongkrongan saya saja ya. Kami bahkan tidak tahu apa bedanya grindcore dengan death metal. Semua band yang musiknya brutal dan kencang seperti Napalm Death, Cannibal Corpse, Deicide, atau Dismember kami pukul rata saja itu grindcore. Kami juga fanatik sama simbol pentagram, tanpa tahu apa maknanya dan hanya tampak keren kalau disematkan di mana saja. Mau bukti? Saya pernah menyablon kaos Disharmonic Orchestra (band death metal asal Austria) dengan logo pentagram yang besar karena tidak tahu lagi musti dikasih gambar apa. Ketika melihat foto Ian McKaye (Minor Threat) dengan logo X di telapak tangannya, teman saya langsung menirunya sambil tetap merokok dan minum vodka murahan. Banyak sekali kekonyolan dan salah kaprah semacam itu karena kami memang tidak tahu. Maklum saat itu minim sekali rujukan dan referensi yang tepat tentang khazanah musik keras. Sumber utamanya hanya ada majalah Hai, tayangan MTV, sedikit fanzine dan katalog label rekaman, serta segelintir stasiun radio. Kami jadi kenal nama-nama band asing dari kolom thanks-list di dalam sampul album rekaman favorit. Itu yang jadi acuan kami untuk mencari dan membeli kaset di pasaran. Di rak toko kaset, kadang kami hanya bisa menduga-duga musiknya dari stiker label atau nama label rekamannya. Kalau itu rilisan Earache atau Roadrunner biasanya sesuai selera. Kadang kami juga spekulasi membeli kaset hanya karena nama band, logo tipografi, atau artwork sampulnya tampak serem dan keren. Saya ingat pernah beli kaset Extreme album Pornografitti karena saya pikir lagu-lagunya pasti se-ekstrim “Beneath The Remains” atau “Master Of Puppets” lah. Eh, ternyata hanya segombal “More Than Words”. Untung juga di era itu kami agak terselamatkan oleh budaya tape-trading dan rekaman bootleg, jadi bisa kenal band/album yang tidak ada di pasaran. Di jaman itu mutlak kudu punya teman dan relasi yang memiliki koleksi serta wawasan musik yang mumpuni. Kalau perlu mengunjungi orang-orang seperti itu di Bandung, Jakarta, Jogja, atau Surabaya.

Menurut pengalaman pribadi dan obrolan dengan beberapa teman di Malang, ada kesan bahwa musisi Malang sebenarnya cukup maju secara musikalitas, namun jadi kurang terdengar karena musisinya seperti asik sendiri dan tak acuh pada scene di luar areanya, seolah puas menjadi urban legend semata, bagaimana Mas Samack melihat mentalitas yang demikian?
Iya sih. Kenalan saya bahkan pernah mengutarakan, “Kalau urusan skill dan musikalitas, di kota ini sudah tuntas. Levelnya sudah makrifat!” Kalau soal asik sendiri, itu sih balik ke band atau musisinya lagi ya. Klise sih, tapi motif mereka main musik itu kan pasti beda-beda. Mulai dari sekedar iseng, hobi, bersenang-senang, sampai yang memang benar-benar serius supaya bisa jadi karir atau profesi. Di luar itu akan selalu ada band yang malas dan band yang rajin. Malang memang kadang seperti scene yang keras kepala dan seenaknya sendiri. Di sini naluri bersenang-senangnya mungkin lebih besar, dibanding ambisi mengejar mitos ‘fame and fortune’ yang belum terbukti sampai sekarang. Kalau dianggap kurang terdengar sampai ke luar itu masalahnya ya cuma karena band-nya yang kurang giat berpromosi, atau orang luar yang tidak mau turun mencari musik-musik yang menarik dari Malang. Tapi kalau di wilayah musik yang lebih underrated dan sarat etika do-it-yourself, kondisinya jauh lebih baik. Pantau saja aktifitas Gerpfast Kolektif, label noise yang punya link sampai Jepang dan Korea. Coba antisipasi sejak dini karyanya Wake Up Iris, Hand of Hope, Babirusa, dan Monohero. Orang Eropa saja bisa menemukan No Man’s Land atau Extreme Decay, masa orang Kemang tidak bisa?!…

Di sisi lain, Malang sering dilihat sebagai “daerah” yang jauh dari perkembangan scene yang terkadang terlalu Jakarta/Bandung sentris, bagaimana melihat dikotomi ini?
Itu juga problema. Di sana ekosistem dan industrinya sudah terbentuk cukup lama, konsisten serta stabil. Secara geografis Malang memang agak jauh dari Jakarta atau Bandung. Memang sekarang ada internet, jadi tidak ada alasan susah untuk promosi atau memasarkan musiknya. Sebagian besar media tumbuh dan berkumpul di sana, jadi porsinya pasti lebih banyak mengulas scene musik di sana sebab lebih dekat dan menguasai kondisi lokalnya seperti apa. Itu yang jadi banyak dikonsumsi oleh anak-anak muda di daerah. Itu juga yang direspon oleh media, brand/sponsor, dan promotor pertunjukan. Seolah-olah scene musik atau band di sana itu keren semuanya. Padahal ya gak gitu juga. Masih ada band metal yang dahsyat dari Kediri atau unit postrock yang bagus dari Jambi, misalnya. Mereka juga layak dapat kesempatan dan ekspos lebih. Ini khan sama saja dengan kita yang sekarang tiap hari diajak ikut mikir soal Pilgub di Jakarta. Fenomenanya memang begitu. Tapi yang paling penting itu sebenarnya terus membangun ekosistem scene dan industri musik di kota sendiri. Supaya anak-anak muda itu bisa mandiri menghidupi aktifitas dan karyanya sendiri.

Belakangan Kota Malang mulai dilihat kembali dengan band-band muda yang menyegarkan dan progresif dalam melakukan promo (mereka giat merilis album, video klip, dll), apa komentar Mas Samack terhadap semangat generasi muda ini?
Saya sering mengatakan pada band-band yang muda kalau mereka ingin tumbuh besar ya musti bekerja dua kali lebih keras daripada band-band yang ada di Jakarta atau Bandung. Ini kelihatannya tidak adil, tapi kondisinya memang begitu. Untungnya semangat dan passion itu tetap terjaga pada beberapa pelaku yang aktif dan produktif. Barusan ada kayak Iksan Skuter, Beeswax, dan Christabel Annora yang direspon positif sampai skala nasional. Memang karyanya bagus dan musiknya mungkin cocok di telinga banyak kalangan. Kata personilnya sendiri, Beeswax malah dapat respon yang lebih masif di luar daripada di kotanya sendiri. Ini menarik. Ternyata banyak potensi di kota ini yang bahkan belum disadari oleh lingkungan terdekatnya. Mungkin itu jadi tugas para pelaku, media, manajemen, dan label rekaman lokal untuk treatment selanjutnya. Sayang sekali kalau potensi seperti itu tidak dikembangkan lagi. Kudu mulai berani eksplorasi dan perbanyak jalan-jalan lagi yang lebih jauh.

Sebagai kota pelajar yang budayanya tumbuh seiring datang dan perginya pelajar di sana, bagaimana mengatur sustainability youth culture di kondisi yang semacam ini?
Iya, itu masalah yang pelik juga. Belakangan saya berpikir kalau rata-rata konsistensi anak muda dalam berkarya di Malang itu hanya bertahan sekitar 4-5 tahun saja. Semoga saja saya salah. Itu disesuaikan dengan masa studi dan kontrak tinggal mereka di sini. Setelah itu mereka bakal balik ke kampung halaman atau pindah bekerja di luar kota. Itu mungkin yang bikin scene Malang selalu berproses, berganti iklim dan tidak pernah terlihat besar sekali. Regenerasinya sangat cepat sekali. Selera dan gairah berkarya juga bisa berubah sewaktu-waktu. Kondisi di kota yang dipenuhi pelajar dan pendatang musiman memang kayak gitu ya. Jogja mungkin mengalami hal yang sama. Kalau anak-anak muda setelah lulus kuliah mulai pindah untuk mencari tantangan berkarya dan kehidupan ekonomi yang lebih baik itu memang susah untuk dibantah. Tapi paling tidak mereka sudah pernah mengalami 4-5 tahun masa muda yang indah dan penuh gejolak. Tapi yang paling bisa diupayakan ya itu tadi, membangun ekosistem dan industri lokal yang kuat. Siapa tahu itu bisa ‘menahan’ mereka supaya tetap berada di Malang dan terus memproduksi karya yang apik.

Kota Malang adalah salah satu kota besar di Indonesia, namun tampaknya ada perbedaan yang cukup nyata pada peta politiknya, ada Ahok di Jakarta, hingga Risma di Surabaya (terlepas dari kontroversi dan keputusan mereka), sedangkan di Malang seperti stuck dengan walikota jaman dahulu yang jauh dari kata progresif, bagaimana ini berdampak pada pergerakan anak-anak muda disana? Dan apa yang dilakukan oleh anak-anak di sana untuk menghadapi pemerintahan yang demikian?
Saya selalu menganggap Malang adalah scene yang apolitis. Kayaknya seperti itu dari dulu. Entah apakah ini ada hubungannya dengan sejarah kota Malang yang memang diciptakan oleh rezim kolonial sebagai kota peristirahatan yang tenang dan santai sehingga relatif jauh dari perang atau pertempuran politis. Balik ke scene musik dan anak mudanya, nyaris tidak ada irisan dan relasi apapun antara mereka dengan pemerintah setempat. Artinya, dua pihak itu sama-sama tidak peduli dan jalan sendiri-sendiri. Memang kadang komunitas anak muda itu didekati oleh pemerintah. Biasanya karena ada kepentingan, misalnya pas masa kampanye atau saat momen jadi tuan rumah konferensi tentang kota kreatif tempo hari. Tidak perlu terlalu bangga juga kalau di jalan raya melihat billboard bergambar foto Walikota Malang sedang memakai kaos Metallica, sebab itu manipulasi photoshop.
Kebijakan pemerintah lokal di sini pun tidak pro anak muda. Prioritas mereka lebih pada menangani sektor pariwisata, industri atau pendidikan. Itu kayaknya lebih aman dan menguntungkan bagi mereka daripada memikirkan anak muda yang sulit diatur dan keras kepala ini. Nada-nada protes dan kritik memang kadang muncul dari sebagian seniman atau musisi Malang. Tapi sebatas merespon kondisi saja, jarang bertahan lama. Nasib anak muda di sini masih baik-baik saja dan rasanya tidak perlu berharap banyak pada pemerintah atau pemimpin lokal. Kalau saya pribadi sih masih percaya dengan statemen Mark Barney Greenway (Napalm Death), “Never ever trust your government.”

Apa masalah utama yang dihadapi oleh anak-anak muda Kota Malang?
Saya hanya mencatat dua hal yang utama; selain soal konsistensi berkarya yang saya paparkan tadi di awal, juga tentang cara mereka mengemas karyanya sendiri. Saya bicara soal di lingkup scene musik saja ya. Oke soal musikalitas, jumlah band, label rekaman, venue, dan frekuensi pertunjukan itu sudah aman dan tuntas. Tapi masih ada pekerjaan besar pada sisi produksi musik (di sesi rekaman dan panggung), serta bagaimana mengelola media, promosi, packaging, merchandise, dan fanbase. Kalau hal-hal itu sudah mulai dikerjakan dengan serius, saya yakin scene musik di sini bisa menghidupi pelaku dan komunitasnya secara mandiri. Beberapa nama tampaknya sudah menemukan konsep dan strategi soal itu, seperti misalnya Begundal Lowokwaru, Iksan Skuter, Atlesta, atau Inheritors. Tapi sisanya yang lain masih belum terlihat atau mungkin sedang menuju ke sana.

Secara audience, bagaimana pengamatan Mas Samack terhadap cara konsumsi publik Malang terhadap rilisan hingga gigs lokal?
Kemarin pas momen CSD saya sempat mengobrol dengan pengelola label rekaman di sini, tampaknya baik-baik saja meski tidak begitu besar juga. Tingkat konsumsi dan daya belinya memang belum bisa dikatakan besar. Dengan demografi anak muda yang cukup besar di kota ini sebenarnya ada masalah yang kudu dipecahkan jika masih kesulitan untuk menjual satu album rekaman band lokal sebanyak 100-200 kopi. Kebetulan saya juga mengelola distribusi rekaman fisik jadi bisa menyadari hal itu. Anak muda sekarang memang lebih selektif dalam membeli rilisan, karena mereka sudah punya opsi menikmati musik secara digital. Bujet jajan rock agak terbatas karena musti dibagi dengan kebutuhan pulsa, ngopi, nongkrong di kafe dan bar, dan biaya-biaya pergaulan lainnya.
Sementara kalau soal konser musik nasibnya lebih baik. Bahkan terlalu membabi-buta belakangan ini. Hampir tiap akhir pekan selalu ada pertunjukan musik. Mulai dari skala gigs sampai festival, dari yang berbayar sampai gratisan. Akhir pekan lalu sampai lebih dari lima acara musik digelar berbarengan di hari yang sama. Saya sampai bingung mau nonton yang mana, akhirnya tetap di rumah saja nonton Liga Inggris. Konon katanya ramai semua. Gigs di kala weekdays pun tidak masalah, masih rutin ada saja dan cukup meriah juga. Ini artinya sudah tidak relevan lagi di Malang untuk mengeluh soal minimnya acara musik, opsi venue, atau birokrasi perijinan.

Bagaimana dengan budaya zine di Malang sekarang ini?
Beberapa bulan lalu sempat ada Malang Zine Fair. Saya kebetulan hadir ke sana dan melihat banyak fanzine lokal beraneka isu dan tema. Ada yang membahas musik, seni, fotografi, ilustrasi, kolase, sampai kerajinan segala. Kalau zine musik memang masih sering beredar secara terbatas di gigs-gigs tertentu. Sekarang ada terbitan zine kayak Lett, Sangkan Paran, Suketeki, dan beberapa nama lagi. Nah kalau bicara zine, saya paling kagum sama Penahitam. Itu boleh disebut zine yang paling besar dan kuat di Indonesia. Penahitam lahir dari Malang lalu berhasil membentuk komunitas dan jaringan di banyak kota sampai ke luar negeri. Metode pengelolaan dan pergerakannya yang independen patut dicontoh. Menurut saya, mereka keren dan hebat sekali.

Apa tempat yang direkomendasikan bagi mereka yang ingin datang ke Malang?
Waduh, apa ya? Yang paling sering saya kunjungi dan berkaitan dengan aktifitas musik saja ya. Kayaknya wisata rock & roll kayak gitu belum masuk di Lonely Planet. Pagi sampai siang coba telusuri daerah pasar loak di Comboran, Boldi atau Velodrome Sawojajar untuk berburu kaset dan piringan hitam bekas. Lalu kunjungi Reka Records dan MLG store kalau mau cari rekaman musik atau merchandise band. Coba tengok Museum Musik Indonesia kalau ingin sekedar melihat-lihat koleksi arsip rekaman musik lawas. Malamnya anda bisa mampir ke Legipait, Kalampoki, Warung Srawung, Godbless Cafe, Rumah Opa, atau Houtenhand sembari berharap ada gigs atau bertemu penggiat di sana. Oya, jangan kaget kalau di Houtenhand pas tengah malam mendadak memutar sealbum penuh OM atau Mogwai, lalu anda tiba-tiba ditawari segelas wiski.

Apa proyek mendatang dari Mas Samack?
Belum ada rencana yang spesial sih. Paling hanya melanjutkan rutinitas sehari-hari seperti sekarang; tetap rutin menulis musik, menjalankan publisitas pakai nama Solidrock, dan mengelola distribusi rekaman musik di @demajors_mlg. Saya masih mencoba mengumpulkan arsip-arsip dan rilisan lokal Malang di era 90-an. Butuh waktu dan energi lebih supaya bisa komplit. Saat ini saya memang lagi banyak belajar soal pengarsipan musik. Entah dilihat saja bisa jadi apa nanti ke depannya.

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Whiteboard Journal.

https://www.whiteboardjournal.com/interview/31246/retrospektif-musik-bersama-samack/