wp_20161019_003

“So many books, so little time.” – Frank Zappa.

“Good books, good foods!” begitu ucap Arisman dengan wajah sok yakin menatap saya. Seakan-akan ia sedang memaparkan tema utama perjalanan kami pagi itu. Kedua tangan pria bertubuh tambun itu tetap memegang kemudi mobil Avanza yang dipacu dalam kecepatan rata-rata. Saya hanya melirik geli mendengar kalimatnya barusan yang seolah-olah hidup pada hari itu hanya soal buku dan makanan, baginya.

Saya duduk tenang di samping pria berdarah Tionghoa tersebut sambil menyimak sampul CD album After The Eulogy-nya Boysetsfire yang sedang diputar saat itu. Tiga buah CD lainnya sudah siap di atas dashboard – Mastodon, Hellcrust, dan Ghaust – yang bakal jadi teman setia kami selama perjalanan Malang – Surabaya PP.

Pagi itu, 19 Oktober 2016, kami berdua menuju kota Surabaya demi mengunjungi bazaar buku yang diklaim terbesar di dunia, Big Bad Wolf, bertempat di JX International. Sejatinya, Big Bad Wolf (BBW) kali ini berlangsung tanggal 20 – 31 Oktober 2016. Sebelas hari penuh dan tidak pernah tidur bak serigala pemburu. Total memakan waktu 278 jam non-stop, menurut durasi yang diumumkan pihak penyelenggara.

Kalau pun kami beserta ribuan kepala lainnya bisa datang sehari sebelum jadwal resminya itu karena akses VIP Member yang diberikan penyelenggara khusus kepada mereka yang telah melakukan registrasi melalui situs resmi BBW. Tawaran yang menarik, di kala stok buku masih hangat dan komplit. Konon hari itu juga ada tambahan diskon untuk beberapa item tertentu.

Menurut historinya, BBW digelar pertama kali di Malaysia, pada tahun 2009. Tujuh tahun kemudian mulai menyerang pasar konsumen buku di Indonesia dengan mengusung sekitar dua juta buku impor yang didiskon hingga 80%. Penggemar buku di Jakarta sudah pernah merasakan hebohnya BBW pada bulan Mei 2016, yang bertempat di ICE BSD.

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mendapat kabar dari seorang kawan melalui media sosial bahwa BBW bakal digelar di Surabaya. Ia bahkan mengirimkan poster dan tautan situsnya demi meyakinkan saya. Sialan, benar juga. Tentu saja saya langsung panik.

Bagaimana tidak panik?! Sebelumnya saya sudah cukup iri dan dengki saat beberapa orang memamerkan hasil belanja buku dari momen BBW Jakarta. Saya makin panas saat membaca tulisan Nuran Wibisono di blog pribadinya yang mengisahkan pertemuannya dengan Ace Frehley, Jimmy Page, Def Leppard, sampai Pink Floyd – dalam bentuk teks dan foto tentunya.

Setelah memacu mobil lebih kencang di jalur tol akibat pengaruh deru musik di album Kalamaut milik Hellcrust, kami berdua akhirnya sampai di lokasi sekitar jam sembilan pagi. Ternyata di sana masih berlangsung opening ceremony di pelatarannya. Tampak para undangan berbaju resmi serta segerombolan pelajar berseragam duduk pada deretan kursi lipat yang telah disediakan.

Pagi itu, tampak banyak calon pengunjung BBW yang mulai berdatangan. Sebagian bahkan membawa koper dan mulai mendekat ke arah pintu masuk dengan wajah tak sabar. Mereka kelihatan gusar dan mulai ditenangkan oleh sejumlah panitia serta sekuriti yang bertugas.

“Sebentar ya. Habis ini bisa masuk semua kok, nunggu seremoni ini selesai dulu…” jelas seorang panitia berwajah India dengan logat Melayu yang medhok. “Tadi pagi-pagi sekali juga sudah ada yang masuk duluan. Mereka sekarang masih di dalam…”

Sekitar jam sepuluh, seremoni itu usai. Pengunjung mulai merapat ke arah pintu masuk dan membentuk antrian yang cukup padat. Saat pintu utama dibuka, antrian pengunjung perlahan bergerak maju sambil menyambar trolley plastik berwarna merah yang tersedia. Dan begitu kami sampai di dalam ruangan…

Whoa, ini surga!

wp_20161024_003

Tampak di depan kami adalah pemandangan puluhan meja besar yang penuh berisi tumpukan buku tersebar indah di dalam hall seluas lapangan bola. Brengsek. Ini apa lagi kalau bukan surga?!

Kalau pun bukan, ini adalah kesempatan terbaik untuk menciptakan surga kita sendiri jika menyitir kalimat dari Jorge Luis Borges, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library.”

Saya sudah berjalan menyeret trolley melewati deretan rak menuju ke tengah-tengah hall. Saat menoleh ke belakang, tampak Arisman susah payah bergerak mendekati saya sambil menenteng dua trolley. Ya, dua buah trolley sekaligus. Dasar serakah!

Kami berdua sangat tahu musti menuju ke rak mana terlebih dahulu. Begitu ketemu rak musik, wajah kami sontak sumringah dan sekaligus shock. Dari sampul buku-buku yang tergelar saja sudah terbaca beberapa nama yang tidak asing dan kerap kami ‘sembah’ – seperti Pink Floyd, The Beatles, Bob Dylan, Bruce Springsteen, Queen, Led Zeppelin, David Bowie, Iggy Pop, U2, Metallica, Kurt Cobain, Daft Punk, dan masih banyak lagi. Sinting!

bbw4

“Gendeng!” seru Arisman sambil geleng-geleng kepala dengan mata berbinar. Perlahan saya mulai mencomot satu-persatu buku yang kelihatan menarik. Membuka halaman demi halamannya dengan cermat. Membaca catatan singkat dan testimoni di sampul belakang. Lalu bergumam dalam hati, “Hah, ini beneran? Harganya segini?”

Di lorong rak musik, tiba-tiba saya bertemu dengan Tomi Wibisono, editor Warning Magazine dan penulis buku Question Everything!. Di dalam trolley-nya tampak sudah penuh dengan tumpukan buku kategori musik sampai sastra. Kami langsung saling menyapa dan berbincang santai.

“Iya, dari Jogja langsung ke sini. Baru nyampe tadi pagi…” katanya dengan wajah sumringah namun tampak menyimpan lelah. “Barusan juga janjian sama Kharis [personil Silampukau]. Rencananya ntar malem kita mau nginep di C2O…”

Kami lalu berbagi informasi soal buku-buku yang terhampar di hadapan mata. Tomi sempat mengambil beberapa buku tentang Metallica dan bertanya mana yang paling menarik. “Nah, yang ini!” jawab saya spontan sambil menuding buku Enter Night karangan Mick Wall, jurnalis musik kesohor dari majalah Kerrang!. Kebetulan saya sudah membaca buku itu dan Mick Wall memang salah satu penulis musik terbaik di jagad rock n’ roll.

“Gila, yang kemarin buku musiknya gak sebanyak ini loh,” kata Tomi yang juga sempat hadir pada gelaran BBW di Jakarta. Saya makin antusias mendengarkan ceritanya. “Banyak stok yang baru sih ini kayaknya…”

Tomi lalu merekomendasikan saya untuk membeli paket boxset berisi lima buku biografi musisi rock/pop legendaris dari era 60-an yang dibandrol dengan harga yang tidak masuk akal. Anda pasti tidak percaya. Jadi sebaiknya saya rahasiakan saja nominalnya.

“Buku Punk itu kemarin juga gak ada di Jakarta,” kata Tomi sambil menunjuk buku Punk ; The Brutal Truth karangan Hugh Fielder yang berukuran besar tertumpuk rapi di meja sebelah. Buku itu mengupas kisah para musisi punk gelombang pertama – dari New York sampai London – yang melibatkan Ramones, Television, CBGB, Sex Pistols, The Clash, hingga Blondie.

“Gak ngambil buku itu?” saran Tomi sambil menuding buku berjudul 27. Dari angka tersebut sudah bisa ditebak kalau buku itu soal klub sakral beranggotakan arwah para musisi hebat yang meninggal tragis di usia 27 tahun; Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morrison, Kurt Cobain, sampai Amy Winehouse. Dengan mengucap basmalah, saya amankan buku karya Howard Sounes itu ke dalam trolley.

“Wah, aku udah over-budget nih kayaknya. Bentar ya, aku cari tempat sepi dulu mau itung-itungan…” ucap Tomi sambil terkekeh melirik trolley-nya. Ia lalu pamit undur diri demi kalkulasi belanja yang lebih bijak.

wp_20161024_035

Saya masih melanjutkan perburuan di rak musik. Sebagaimana tips dari kawan yang sudah berpengalaman belanja di BBW; saya ambil saja semua buku yang saya suka dan menarik, proses seleksi buku dan hitung totalnya belakangan saja. Semoga nanti masih sesuai dengan bujet awal yang sudah saya siapkan.

“Hey, aku nanti ke sana sore pulang kerja. Jam 6-an,” begitu pesan singkat yang saya terima dari Christabel Annora melalui layanan WhatsApp. Pianis sekaligus penulis lagu yang akrab dipanggil Ista itu mengaku sedang berada di kantor dan masih ada kelas mengajar musik bagi anak-anak.

Saya iseng memotret buku Fleetwood Mac ; The Definitive History karangan Mike Evans dan langsung mengirimkan fotonya kepada Ista. Saya tahu kalau itu musisi kesukaannya, dan mudah ditebak bagaimana responnya sebentar lagi.

“Waaa, belikno sek. Nanti kuganti. Kuatir keabisan…”

Dalam hati saya berharap tiba-tiba menemukan buku karangannya Lester Bangs, Robert Christgau, Chuck Klosterman atau Albert Mudrian di rak musik. Atau setidaknya ada beberapa buku saku serial 33 1/3 terbitan Continuum / Bloomsbury Publishing yang doyan mengulas satu album musik secara tuntas. Tapi ternyata semua nama itu tidak ada. Ok, no problem.

Saya melihat Arisman sedang sibuk berkeliling – mulai dari rak musik, kuliner, sejarah, sampai komik ditelusuri semua. Dari dalam trolley-nya sudah bertumpuk buku dengan aneka ragam tema. Bocah ini selera bacanya memang cukup luas dan buas, lintas-disiplin mencakup segala bahasan.

Setelah puas di rak musik, saya mulai berkeliling ke rak yang lain. Teringat kudu mencari buku karya penulis favorit saya, Nick Hornby. Ia adalah pria botak asal pinggiran kota London yang gemar menulis cerita ringan sembari mengutip musik dan film kesukaannya. Beberapa bukunya sudah pernah diadaptasi ke layar lebar.

Salah satu buku Nick Hornby yang berjudul 31 Songs sudah saya amankan dari rak musik. Karangannya yang lain mungkin tersebar di rak fiksi, dugaan saya. Pasti ada, karena kemarin sempat saya cek di katalog online BBW.

Benar juga, tak lama saya menemukan High Fidelity, About A Boy, Juliet Naked, sampai Funny Girl. Saya kumpulkan semua jadi satu tumpukan, mengintip isinya sejenak, dan mulai berpikir keras mana yang musti saya beli duluan. Beberapa menit kemudian, satu-persatu buku itu saya kembalikan lagi ke tempatnya semula. Hanya tersisa empat buku yang rasanya perlu saya bawa pulang terlebih dahulu; 31 Songs, High Fidelity, Stuff I’ve Been Reading, dan Fever Pitch.

bbw6

Di rak itu juga ada Diary dan Pigmy-nya Chuck Palahniuk. Pria nyentrik ini juga salah satu idola saya – semenjak menonton Fight Club dan membaca Beautiful You. Namun sadar dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, saya tidak mau mencari masalah dengan mengumpulkan buku fiksi berbahasa asing. Apalagi dengan gaya bahasanya Chuck Palahniuk yang terkenal absurd dan beringas. Nanti dulu.

Bergeser sedikit ke rak sebelahnya, pengunjung pasti terpesona oleh koleksi literatur sastra klasiknya. Buku-buku karya para begawan sastra dunia macam Mark Twain, Charles Dickens, F. Scott Fitzgerald, Ernest Hemingway, Franz Kafka, sampai Vladimir Nobokov terserak di situ dalam kemasan sampul yang menggoda. Kalau anda tidak kuat iman, sebaiknya segera kabur dari sana.

Eh tapi, banyak selentingan dari kawan-kawan yang tidak menemukan satu pun buku karangan Haruki Murakami di momen BBW kali ini. Mengherankan, mengingat beliau memiliki penggemar fanatik yang cukup banyak di negeri ini.

wp_20161024_024

Di rak biografi dan memoar ada banyak buku bagus yang mengupas kisah hidup para tokoh dunia mulai dari Mahatma Gandhi, Steve Jobs, J.D. Salinger, Nelson Mandela, Obama, sampai Bob Marley. Tapi penemuan terbaik saya di rak itu adalah sebuah buku bersampul foto seorang pria gondrong dengan make-up wajah yang menor sedang bersandar di kursi belakang mobil sambil mengacungkan ibu jari. Ya, yang saya maksud adalah No Regrets, sebuah otobiografi rock n’ roll dari Ace Frehley, personil grup band Kiss.

Buku lain yang sanggup bikin jiwa melayang adalah kitab hippies tingkat dewa karangan Tom Wolfe bertajuk The Electric Kool-Aid Acid Test. “An American classic that defined a generation…” kata Newsweek tentang buku yang menggambarkan pesona liar generasi bunga, bis warna-warni, LSD dan Grateful Dead ini. Konon gara-gara buku ini juga Tom Wolfe akhirnya dijuluki sebagai bapak dari genre New Journalism.

Pada rak olahraga saya menyimpan ekspektasi tinggi. Kebetulan saya baru mulai mengumpulkan buku-buku tentang sepakbola, terutama yang berjenis esai atau kumpulan tulisan. Saya berharap bisa menemukan bukunya Eduardo Galeano, Simon Kuper, atau Jonathan Wilson. Tapi sepertinya tidak ada. Kebanyakan yang ada hanyalah seputar ensiklopedia, biografi pemain, histori klub, serta catatan turnamen.

Di situ saya mendapati buku tentang Pele, Torres, Wenger, Mourinho, sampai Neymar. Juga ada catatan histori sepakbola di Brasil dan Inggris. Alhasil hanya kitab sejarah klub Liverpool yang paling menarik bagi saya. Bukankah fans Si Merah selalu suka sejarah?! Eh.

Hati-hati jika menuju rak komik dan novel grafis, naluri kekanakan kita bisa saja meledak seketika. Penggemar Marvel dan DC Comic pasti girang memandang semeja penuh buku tentang superhero (dan supervillain) idola mereka. Sedang saya hanya bisa meringis melihat novel grafis 300 dan Sin City-nya Frank Miller di situ. Juga hanya mampu membolak-balik setiap halaman dari buku serial The Simpsons serta komik strip-nya Calvin and Hobbes yang dikemas dalam edisi khusus.

Dan, ini penting, bagi yang suka Star Wars siap-siap saja shock dan menyerah di momen ini. Sungguh terlalu banyak buku tentang Star Wars – dalam aneka versi cerita dan segmen pembaca. May the force be with you.

Selain buku-buku impor, di BBW juga ada rak buku indonesia dari salah satu penerbit besar tanah air. Isinya kebanyakan adalah buku fiksi, perjalanan dan agama yang dibandrol murah antara 10.000 – 20.000 rupiah. Area itu tampak dipenuhi oleh para pelajar dan ABG yang haus bacaan.

bbw7

“Yok opo? Ayo wes metu sek. Luwe iki,” rayu Arisman tiba-tiba sambil menyeret trolley yang penuh dengan buku. Baiklah, akhirnya kami berdua memilih break dulu dari arena perburuan dan mulai berjalan mendekati area kasir.

Di sudut selatan hall, ada hampir 20 meja kasir yang siap melayani pembayaran di BBW kali ini. Lumayan membentuk antrian yang masal, tapi tidak terlalu panjang. Konon memang sempat diumumkan kalau metode pembayarannya hanya bisa melalui kartu debit, kartu kredit, atau e-cash milik bank tertentu saja. Namun dari pengalaman kami, tenyata juga bisa dibayar dengan tunai – dengan total maksimal seratus lima puluh ribu rupiah per-struk pembelian. Bahkan kalau malam sudah bebas mau bayar tunai nominal berapa pun juga tetap dilayani.

Jarum jam sudah melewati angka dua, saya dan Arisman memutuskan makan siang dulu di depot Sate Klopo Ondomohen di Jalan Mustajab. Menu ini sudah cukup populer dalam agenda kuliner khas Surabaya. Setelah bersantap siang, kami memilih ngopi dulu di sebuah coffee shop sembari kongkow santai menunggu sore.

“Di mana Mas? Ini lagi menuju JX sama ista…” bunyi pesan singkat dari Hendi Junindar Prasetyo yang masuk ke ponsel saya.

“Oke, nanti ketemu di sana aja. Abis gini kita berangkat,” balas saya singkat.

Hari sudah gelap saat saya dan Arisman memutuskan kembali ke JX untuk menemui dua kawan kami itu. Kali ini misi yang disampaikan Arisman cukup sederhana, “Sekarang jalan-jalan saja. Liat-liat rak lagi. Kayaknya sudah cukup belanjaan kita tadi…”

Begitu kami sampai di JX, ternyata suasananya lebih ramai dan padat dibanding tadi siang. Mungkin karena kehadiran orang-orang yang baru pulang kerja atau kuliah. Itu terlihat dari gaya dan dandanan mereka yang sebagian besar masih berbusana formil.

Kami langsung masuk dan menuju salah satu rak di tengah hall. Mencari sosok Ista dan Hendi pasti mudah, pikir kami. Dua orang itu pasti berada di sekitar rak musik. Benar juga. Dari kejauhan sudah tampak sosok mereka berdua sedang menyeret trolley-nya masing-masing.

bbw5

“Gendeng iki. Aku khilaf, hahaha!” seru Ista dengan terbahak begitu bertemu saya.

Saya melirik ke dalam isi trolley-nya. Ia banyak mengambil buku tentang piano, musik klasik, pendidikan musik, khazanah film, plus biografi band-band yang menjadi favoritnya seperti The Beatles sampai Queen.

“Ini papaku juga nitip beliin buku banyak juga lagi…” katanya sembari menunjukkan buku-buku kategori bisnis dan reliji.

Sedangkan buku-buku yang diambil Hendi kebanyakan edisi coffee table book – yang berukuran besar dengan kemasan eksklusif, sampul hard cover dan kertas lux.

“Mumpung lagi ada ya milih yang photo book aja. Yang banyak foto-fotonya, haha!” kata pria kecil berkacamata yang juga berprofesi sebagai fotografer musik itu. Bisa jadi ia makin mengasah kemampuannya setelah memelototi foto-foto kece dari setiap halaman buku tentang Bruce Springsteen, The Beatles, Bob Dylan, sampai David Bowie.

“Eh, mana Nick Hornby? Aku baru nemu satu nih…” ujar Ista tiba-tiba sambil menunjukkan buku 31 Songs. Ia memang termasuk penggemar berat Nick Hornby dan sudah mengkoleksi beberapa karya bukunya.

“Ada kok, yuk di situ…” jawab saya sembari mengajak Ista menuju ke rak fiksi.

Begitu saya tunjukkan koleksi buku Nick Hornby, matanya langsung berbinar. Tanpa berpikir lagi, ia mengambil About A Boy, kisah unik persahabatan seorang pria paruh baya dengan bocah laki-laki yang sudah di-film-kan itu.

“Eh, ada High Fidelity juga loh!”

“Mana?! Mana?!…”

Saya ambilkan buku warna merah yang filmnya banyak disukai oleh para penggemar musik dan penjaga records store yang snob. Buku High Fidelity itu langsung ia lempar ke dalam trolley sambil meringis riang.

“Oya, aku sampai punya playlist Nick Hornby loh di Spotify. Isinya adalah lagu-lagu yang ada di setiap bukunya dia…” kata Ista dengan bangga. Saya kaget sekaligus kagum mendengar pernyataannya barusan. Rupanya perempuan ini sudah menjadi cult fans-nya Nick Hornby.

Kami lalu berpencar dan keliling rak lagi. Kali ini saya mencoba lebih santai dan cermat daripada sesi siang tadi. Siapa tahu ada buku lain yang menarik. Benar juga, tanpa fanatisme dan ekspektasi yang berlebih, saya bisa menemukan beberapa buku apik yang luput dari pantauan radar tadi siang.

Saya akhirnya menambah buku Infographic Guide To Music setelah dipameri Ista. Oh, ini tho buku yang dipamerkan kawan saya, Fakhri Zakaria, melalui WhatsApp-nya tadi siang. Ternyata isinya memang bagus dan menarik.

Saya kemudian menatap ke sekeliling hall. Menyapu semua pemandangan yang ada di setiap sudut. Tampak ibu-ibu muda yang menemani anaknya memilih komik, buku cerita, buku mewarnai, sampai stok mainan dan lego.

Sebagian muda-mudi yang bertampang nerd dan berpakaian modis banyak berkeliaran di rak seni, desain grafis dan arsitektur. Bapak-bapak setengah baya dengan wajah serius memilih buku bisnis, politik, dan motivasi. Sementara di rak buku kuliner, tampak banyak wanita sedang membuka-buka halaman aneka resep dan panduan memasak dengan raut muka yang lapar.

Pemandangan seperti itu mungkin wajar dan biasa terjadi di setiap toko buku atau bursa buku. Hanya saja kali ini momennya lebih masif, padat, dan hampir semuanya memasang wajah antusias menikmati jutaan buku yang tersebar di hall raksasa ini. Tak ayal, ucapan dan celoteh yang bernada girang, gemas, sampai kesal pun kerap mampir secara tidak sengaja di telinga.

Menyenangkan melihat gairah yang besar akan buku dan bacaan seperti hari itu. Tempo hari sempat ada riset soal minat baca masyarakat kita yang rendah dipatok bareng hobi belanja buku yang justru cukup tinggi. Entah seperti apa relevansinya, namun hasil riset seperti itu masih bisa diperdebatkan.

Namun yang pasti, akses masyarakat akan buku – yang murah dan bermutu – memang kudu dibuka lebar-lebar dan tanpa batasan. Salah satunya mungkin dengan menggalakkan momen-momen bazaar dan book sale seperti ini. Banyak asumsi juga kalau problem monopoli distribusi melalui toko buku besar musti ditekan, dan mulai memberikan kesempatan luas bagi penerbitan independen serta penulis-penulis baru.

Saya jadi teringat kalimat pendiri Penguin Books, Sir Allen Lane (1902 – 1970), yang selalu ada di setiap halaman belakang buku terbitannya, “We believed in the existence in this country of a vast reading public for intelligent books at a low price and staked everything on it.”

Amanah itu yang bikin Penguin Books berkomitmen untuk selalu menerbitkan buku bermutu berformat paperback dan memasarkannya secara luas hingga dipajang di setiap toko kecil, supermarket, bahkan di kios-kios rokok. Mereka bahkan bertekad membandrol harga sebuah buku terbitannya semurah mungkin dan berjanji tidak akan melebihi harga sebungkus rokok.

“Wes ah. Wes akeh iki. Gak cukup maneh duitku. Wes melebihi bujet iki, haha!” ucap Ista sambil menyeret trolley-nya yang berat. Kami berempat – saya, Arisman, Ista, dan Hendi – lalu mulai mengkalkulasi belanjaan hari itu serta bergerak menuju kasir.

bbw10

Hari sudah hampir mencapai tengah malam, kami berempat keluar dari area JX International dengan wajah lelah, dompet tipis, dan saldo tabungan yang terkikis. Sebuah kebangkrutan yang hebat. Namun kami tentu puas meski dalam beberapa pekan ke depan kudu berhemat dan bekerja lebih keras lagi. Toh, kata seorang kawan, membaca buku sepertinya masih bisa menunda rasa lapar barang sesaat.

Mmmh, mungkin. Tapi itu rasanya tidak berlaku bagi seorang Arisman.

Hasrat berburu buku yang membabi-buta dari orang-orang di ruangan book sale tadi memang bisa menyisakan banyak kemungkinan. Tapi ada baiknya untuk menelaah tulisan Nick Hornby dalam salah satu kolomnya di The Polysyllabic Spree, “All the books we own, both read and unread, are the fullest expression of self we have at our disposal. But with each passing year, and with each whimsical purchase, our libraries become more and more able to articulate who we are, whether we read the books or not.”

 

*Artikel ini adalah versi panjang dan orisinal dari yang pernah dimuat pada situs Minumkopi.com.

Memburu Pustaka Di Kandang Serigala