garna_raditya_1
Garna Raditya – Foto oleh Scott Russel

Semarang sering luput dari radar youth culture yang terjadi di seputaran Indonesia. Padahal, di dalamnya juga terjadi pergolakan dan semangat yang sama dari anak-anak mudanya. Garna Raditya adalah salah satu sosok penting yang menghidupkan scene Semarang melalui aktivitasnya sebagai gitaris di dua band legendaris Semarang, AK//47 dan OK Karaoke. Whiteboard Journal berbicara dengan Garna yang kini tinggal di Amerika mengenai albumnya, serta pentingnya perkembangan literasi.


Dari mana kalian mendapatkan kalimat Verba Volant Scripta Manent yang jadi titel album AK//47?
Dari sebuah literatur soal keuskupan. Ada banyak istilah Latin kuno di situ. Kalimat itu diambil dari pepatah latin kuno yang diucapkan Caius Titus pada masa kekaisaran Romawi. Tertera bahwa segala apapun yang tertulis dan terarsip secara baik akan berguna nantinya di kemudian hari. Lalu kami comot dan urai untuk dikorelasikan dalam kehidupan modern.

Mengapa tema literasi menjadi penting untuk diangkat dalam album tersebut?
Tema ini akan relevan dari masa ke masa. Sebab (literasi) dapat memetakan peradaban pemikiran maupun habitus dalam segala perkara yang nantinya bisa kita pelajari kelak. Jangan sampai, sejarah hanya milik penguasa saja. Nanti akan terjadi seperti Orde Baru terhadap peristiwa 1965, bahkan manipulasi sejarah kita sendiri. Apalagi di masa sekarang ini, akses informasi yang kian berjubel, seolah semuanya mudah dan dapat mematahkan semangat untuk mengarsipkan.

Apa saja yang menjadi inspirasi kalian ketika menggarap album itu?
Secara musikal, kami terinspirasi dari album-album crust/hardcore punk seperti Driller Killer, Totalitar, dan Warcollapse yang lalu dilebur dengan grindcore yang urakan. Dalam tema dan lirik salah satunya juga terinspirasi dari buku Bilangan Fu-nya Ayu Utami. Cara berpikir spiritualismenya terhadap zaman menuntun kami melihat hal-hal kecil pada kehidupan sehari-hari.

Anda memiliki latar belakang jurnalis dan wartawan juga sebelumnya. Seberapa besar hal itu mempengaruhi anda dalam memilih tema, serta menulis musik dan lirik?
Cukup mempengaruhi. Saya dengan Kesit (eks vokalis AK//47) dulunya partner diskusi dan menulis. Menulis itu salah satu cara untuk menyebarkan ide-ide tanpa harus memaksakan kehendak. Bagi yang membacanya, tersuguhi ruang demokrasi yang nantinya apakah relevan atau tidak. Setidaknya, ada upaya untuk merekam situasi sekarang dan berguna untuk masa depan. Latar belakang sebagai jurnalis hanyalah sekadar profesi yang bisa dilakukan oleh siapapun. Soal tema, kita sama-sama tahu, tema musik grindcore pasti tidak jauh dari perang dan sejenisnya. Kami ingin menghindari stigma tersebut di album ini. Sepertinya akan menarik jika memilih tema yang dapat menggugah untuk melakukan perubahan daripada bicara permasalahan melulu.

Lirik “Kata-kata adalah senjata, berbahaya ketika berpena…” pada lagu “Verba Volant Scripta Manent” itu merujuk pada budaya baca-tulis?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, apa yang kita dapat dari laku baca-tulis itu dapat menajamkan segala indera. Agar suatu saat kelak kita menjadi salah satu yang bertahan di bumi – yang tanahnya akan tergantikan dengan beton.

Lagu “Punguti Aksara” sepertinya memiliki isu yang serupa ya?
Betul, masih pada tubuh tema yang sama, laku menulis. Saya ibaratkan memungutinya di manapun kita berada. Banyak yang tercecer. Apalagi sekarang dengan berjubelnya informasi membuat kita lengah, karena semuanya mudah. Lebih jauh lagi, itu juga merupakan metafora untuk mengobservasi. Dengan berbagai informasi yang didapat, kita dapat menciptakan tulisan yang berimbang.

Apa yang ingin anda sampaikan pada setiap baris lirik lagu “Merawat Ingatan” yang tampaknya dekat dengan isu HAM dan politik?
Barangkali tidak hanya orang-orang yang hilang maupun yang dibunuh itu saja yang dianggap subversif di negeri ini. Bahkan sekarang sebagian dari kita masih takut dengan adanya ideologi. Buruknya lagi, takut dengan buku hanya karena ada simbol tertentu. Peran penguasa terdahulu masih menggerogoti nalar kita sejak kecil. Sehingga sekarang mencapai tahap di mana masyarakat tertentulah yang mulai mengontrol. Seolah hidup ini hanya mengkhawatirkan situasi seperti itu terus menerus. Padahal masih banyak yang harus kita lakukan. Kita ingin merawat ingatan terhadap tragedi yang terjadi, agar nantinya tidak terulang kembali. Dengan ingatan yang diteruskan kepada ingatan yang lain, penyadaran akan senantiasa abadi.

Ada alasan khusus kenapa kalian memilih “Ignorant Middle Class” sebagai singel pertama?
Lagu itu kami putuskan sebagai singel pertama untuk videoklip. Pada video itu secara metaforik menghadirkan sosok penuh plastik yang kami definisikan kaum kelas menengah – di mana juga kami adalah salah satunya. Mereka adalah apa yang ia kenakan dan mengagumi simbol-simbol sebagai representasi diri. Mereka berhenti menghasilkan sesuatu dari dirinya, karena lebih memilih hidup aman dan nyaman dari atasannya. Bagi mereka, hidupnya baik-baik saja. Mereka memiliki ciri pola konsumsi yang tinggi dan pemikiran yang individualis. Namun akan berang ketika simbol dan hak dirinya diserang. Pun itu hanya dalam bentuk umpatan, tidak pada tindakan. Sehingga mereka berhenti memberdayakan dirinya sebagai makhluk sosial.

Lagu “Pembangkangan Tidak Disiarkan Televisi” menambah daftar lagu yang mengutuk televisi. Sebegitu parahkah media massa, dalam hal ini televisi, yang ada di negeri kita?
Televisi adalah salah satu media massa yang mencakup audio dan visual. Di sana disuguhi banyak informasi, namun kita tidak bisa memilih ketika sudah terjebak untuk menonton. Lagu ini sebenarnya tidak hanya soal kritik terhadap perusahaan media pada umumnya, tetapi termasuk yang ada di internet. Karena banyak yang menganggap bahwa yang tertayang adalah kebenaran saat ini. Padahal fakta tidaklah cukup dari pena wartawan, meja redaksi, maupun keterangan dari pihak berwajib. Dulu ketika saya bekerja di media massa juga pernah mengalami tekanan bagaimana membuat berita sebombastis mungkin agar mendapatkan perhatian pembaca dan pemasukan iklan. Di situlah relevansi pada lagu ini. Itu juga sebuah ajakan untuk berhenti menjadi penonton. Cukuplah untuk bertepuk tangan, mari lemparlah sesuatu untuk melawan. Jika media dimiliki oleh pemodal, tentu mereka memiliki kepentingannya. Bagaimana jika kita menciptakan media sendiri atau kamu adalah media itu sendiri?! Seperti kata Jello Biafra, “Don’t hate the media, become the media.”

Siapa sebenarnya yang anda maksud “You” pada judul lagu “So You Call Yourself a Revolutionary”?
Kami pernah berada dalam situasi menghadapi seorang patron di dunia aktivisme dan skena musik. Ia dianggap yang paling benar, sebab dialah yang menguasai retorika. Kemudian tak satupun yang berani menentang opininya, sehingga apa yang diucapkannya selalu menjadi referensi kebenaran. Seolah-olah kritisisme, bahkan di kalangan teman, dianggap sesuatu yang mengganggu hubungan komunikasi. Pada akhirnya yang muncul hanyalah politik perasaan. Semakin menumpul dan tidak pernah terjadi diskusi. Yang ada hanyalah ketakutan untuk menyanggah.

Ada kalimat “Semarang Meranggas” pada bagian akhir lirik “Meranggas”. Apa itu maksudnya?
Kami pernah merasa bahwa hidup di Semarang hanyalah dipenuhi beton dan ignoransi. Bahkan sering dilewatkan untuk sesuatu hal. Karena memang dianggap tidak ada yang menarik di sana. Tidak seprogresif ketika Sarekat Islam dan gerakan kiri yang dulu membuncah di Semarang. Kami berusaha untuk menyudahi perasaan itu dengan berhenti meratap. Lagu ini sebagai anthem untuk mereka yang masih tegar dan mempertahankan identitas kotanya. Seperti kata Austin Kleon, kini letak geografis bukanlah sebuah masalah. Build your own world.

Di album itu, kalian juga melontarkan semangat pembangkangan sekaligus impian-impian utopis – yang relatif cukup idealis dan ‘mewah’ bagi anak muda. Apa yang anda harapkan dari mereka yang mendengarkan atau membaca lirik-lirik seperti itu?
Sekarang kita sedang berusaha untuk berebut generasi. Lantas, generasi apakah yang kita idamkan untuk hari ini dan esok? Jika mereka yang kita cemooh bisa merebut generasi sekarang, maka kita pun bisa merebut mereka dengan berbagai ide-ide bahkan yang utopia sekalipun. Karena setidaknya nanti, sebagai utopian, kitalah yang bisa bertahan saat dunia sedang hancur lebur.

Selepas merilis album dan tur, anda tiba-tiba berangkat ke Amerika Serikat dan tinggal di sana. Apa yang terjadi sebenarnya?
Merilis album dan tur sudah kami rancang jauh-jauh hari, sebelum saya menetap di Amerika Serikat (AS). Beruntung, jadwalnya tepat waktu. Sehingga saya tenang bisa menyelesaikan semua yang telah direncanakan. Sebab saat itu saya juga sudah mulai mendaftar visa yang prosesnya memakan waktu satu tahun lebih. Sekarang saya sekolah di AS, sambil berkebun, berkumpul dengan istri seorang WNA dan tinggal untuk waktu yang lama. Saya sudah mendapatkan green card dan California ID. Teman-teman pikir saya pindah kewarganegaraan, hahaha. Tidak, saya hanya melanjutkan hidup yang baru saja dimulai. Melanjutkan karir dan menuai pengalaman yang tidak pernah saya dapat di Indonesia.

Lalu apa saja kegiatan yang anda lakukan di sana?
Saya tinggal di negara bagian California, tepatnya di Oakland yang berada di Bay Area. Banyak hal yang terjadi di sini, mulai dari seni hingga musik. Saya sekarang justru lebih banyak mengerjakan ilustrasi, desain, fotografi dan video untuk membeli beras. Tentunya saya tidak bisa diam kalau soal musik. Saya masih mencari kesempatan untuk mendapatkan personil yang tepat dan mulai bermusik lagi. Saya juga membuat vlog soal ‘keudikan’ saya selama tinggal di AS. Bisa dicek di youtube channel saya yang bertajuk VLOGar.

Anda masih rutin menonton gigs dan ‘jajan rock’ juga di sana?
Masih. Apalagi tempat tinggal saya dekat dengan beberapa tempat yang menjadi tujuan banyak band yang sedang tur. Seperti misalnya Oakland Metro, 924 Gilman Street di Berkeley, dan tempat-tempat lain yang kerap saya datangi dengan mengendarai sepeda. Apalagi band yang main juga menjual merchandise dan rilisan yang hanya dijual saat mereka pentas. Beberapa tentu saya sikat untuk dikoleksi. Hasrat ‘jajan rock’ juga cukup terpenuhi, sebab masih tersedia di sekitaran tempat tinggal. Apalagi kalau ada clearance sale, saya sikat untuk koleksi atau saya jual di Indonesia. Kebetulan saya juga mengelola records store di Semarang, Vitus Records, yang menjual koleksi yang saya dapatkan di AS dengan harga terjangkau.

Menurut pengalaman anda di sana, apa yang biasanya dikatakan oleh orang Amerika Serikat begitu tahu kalau anda berasal dari Indonesia?
Mereka hanya tahu Indonesia sebagai destinasi wisata dan eksotisme. Itu saja. Meskipun masih ada rasisme. Tapi di negara bagian California sudah banyak orang dari berbagai negara dan ras. Mereka sudah hidup berbaur tanpa mempermasalahkan latar belakang. Mereka sudah terbiasa hidup dengan insan lintas negara – mulai yang berasal dari Timur Tengah, Asia Tenggara hingga Afrika. Agaknya Indonesia yang justru belum siap akan perbedaan ini dan masih banyak diselimuti stigma.

Kondisi politik di AS tampaknya sedang memanas jelang pemilihan presiden. Menurut beberapa kalangan dan media, Donald Trump agak sentimen terhadap ras dan agama tertentu. Benar seperti itu kondisinya di sana?
Saya rasa, peradaban pemikiran soal SARA di sini sudah cukup kokoh jika menghadapi pandangan politiknya Trump. Ia di sini hanyalah sebagai olok-olokan dan banyak menginspirasi orang untuk membuat meme dan dipakai sebagai bahan viral. Tidak semuanya menarik, ada yang justru membuatnya semakin populer. Belakangan ini, terdapat instalasi seni berupa patung Trump telanjang bertajuk The Emperor Has No Balls yang dibikin oleh kolektif anarkis, Indicline. Patungnya tersebar di San Francisco, Los Angeles, Cleveland, Seattle, dan New York. Patung itu hanya bertahan beberapa saat saja sebelum kemudian disingkirkan oleh pihak keamanan. Foto-fotonya pun tersebar secara masif oleh penduduk setempat maupun turis. Apapun yang dia lakukan, akan tetap populis. Karena kita juga merindukan hiburan-hiburan semacam itu. Tak begitu jauh jika ada yang asshole di negeri kita, pasti cepat populer. Hanya saja, apakah kita menyadarinya, kita sendiri juga berperan dalam mempopulerkan mereka itu.

Kalau anda amati, seperti apa budaya literasi di Amerika Serikat sana, terutama di kalangan anak mudanya?
Semoga saya salah, di Indonesia banyak anak muda yang belum menyelesaikan satu buku novel saat mereka SMA. Itu juga terjadi juga pada saya. Di Amerika, membaca buku fiksi maupun non-fiksi sudah dilakukan sejak dini. Mungkin ini memang bukan parameter untuk menilai, tapi setiap kali saya berkunjung ke rumah teman atau keluarga, mereka selalu memiliki rak perpustakaan pribadi. Entah itu sekedar pajangan atau memang dibaca. Kesan pertama adalah ada upaya untuk membuka akses membaca terlebih dahulu.

Dalam dunia literasi, seberapa jauh ketinggalan kita dibandingkan Amerika Serikat, misalnya?
Soal ketertinggalan ini dipengaruhi dengan infrastruktur dan budaya. Kita tidak bisa menyalahkan bangsa kita yang tertinggal, Sebab generasi orang tua kita juga salah satu korban, dan tidak mengupayakan kepada kita untuk melakukan perubahan.

Sekarang sedang banyak kegiatan writers festival di Indonesia, seperti yang dilaksanakan di Ubud, Makasar, dan daerah-daerah lainnya. Bagaimana fenomena ini menurut anda?
Perayaan-perayaan seperti itu menunjukkan bahwa gerakan literasi juga termasuk sebagai penanda zaman. Melalui festival dalam berbagai ukuran skala, ada upaya untuk memperbarui arsip maupun penulis baru. Misalnya, tema apa saja yang kerap dipakai para penulis. Jika disimak, banyak karya-karya fiksi seputar peristiwa 1965 yang menjadi langganan. Saat ini juga masih dipenuhi dengan tema-tema kekerasan ketika Suharto berkuasa, misteri, alam gaib, rumah tangga, cinta, seks. Kalau saya lebih merindukan tema fabel atau fiksi ilmiah.

Sempat ada riset yang mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia itu cukup rendah, sementara daya beli atau belanja bukunya justru tinggi. Ada komentar soal ini?
Saya tidak mengerti soal ini, belum mendengar penjelasan yang lebih komprehensif. Terlebih lagi soal membeli atau minat membaca. Riset-riset seperti itu juga biasanya dilakukan untuk menaksir pasar dan kapital dalam bisnis penerbitan. Saya lebih tertarik bagaimana seseorang mau berkarya dengan menulis. Kemudian diterbitkan dengan cara mereka sendiri. Kalau tidak ada penerbit yang tertarik, bisa dirilis secara independen. Atau dalam konteks media alternatif, format zine pun juga tersedia.

Di scene punk/hardcore memang ada budaya zine. Namun setelah lahir internet dan memasuki era digital rasa-rasanya nasib (printed) zine juga agak meredup.
Semangat untuk menulis dan menyebarkan ide bagi saya itu yang paling krusial. Perkara formatnya akan mengikuti jamannya sendiri. Tidak jadi soal jika berformat digital, itu hanya strategi saja untuk efisiensi dan merebut jarak. Kemasan fisik adalah kenikmatan tersendiri. Begitu juga para zinemaker yang kemudian memilih format digital. Saya mulai membuat zine pada tahun 2001 juga bermula dari cetak. Rasanya dengan keterbatasan alat, membuat kita berupaya memaksimalkan apa yang ada. Begitu juga dengan kondisi saat ini, di era internet, maksimalkan saja apa yang ada. Ada keyakinan lain bahwa jika suatu saat kelak kerajaan internet kolaps, orang-orang yang menyimpan arsip dalam format fisiklah yang bisa melanjutkan peradaban.

Lalu bagaimana anda melihat maraknya kembali aktifitas Zine Fest di berbagai daerah. Apa yang bisa diharapkan dari event-event semacam ini?
Setelah melihat reportase dari Bandung Zine Fest, rasanya sangat inspiratif bagi siapapun. Selain menambah katalog arsip zine di nusantara, Saya yakin, akan semakin banyak yang percaya diri untuk menulis entah itu isu personal maupun global. Dengan adanya kemandirian menerbitkan media, kita semakin tahu bahwa pola komunikasi maupun penyebaran informasi bisa diciptakan tanpa harus tergantung dengan media besar. Ketika saya dulu membuat zine Air Api, juga menuai banyak jejaring pertemanan dan mengasah kemampuan menulis.

Dalam sebuah lagu, lirik adalah senjata, kata Arian13 kalau tidak salah. Sepakat?
Tidak semua lirik menjadi senjata bagi band. Ada yang hanya sekadar untuk bereksperimen dengan kata-kata, sehingga muncul ambigu dan membuat kita berhenti untuk mendiskusikannya. Bagi kami, lirik menjadi ruang untuk merebut generasi dan pemikiran. Jika lirik adalah senjata, maka itu adalah penyebaran gagasan untuk merubah sesuatu dan membidik dengan tepat guna. Silahkan bereksperimen dengan kata-kata, entah nanti menjadi senjata atau tidak. Sebab melalui musik kita sudah mempunyai medium untuk menawarkan gagasan. Jangan disia-siakan.

Lalu seperti apa lirik yang bagus itu menurut anda?
Lirik yang bagus menurut saya saat ini adalah sesuatu yang satir dan merekam apa yang terjadi di sekitar. Atau juga mengambil tema yang jarang dibahas. Bahkan lirik sederhana dengan kata yang mudah dimengerti itu bagi saya juga bagus. Bisa juga menulis lirik itu melihat dari sudut pandang lain. Contohnya, dalam konteks penebangan pohon dalam rangka pembebasan lahan untuk membangun hotel, berimajinasilah menjadi pohon yang sedang ditebang. Urai penderitaan si pohon, apa yang ia rasakan atau bayangkan jika si pohon ini melawan balik. Dari situlah akan muncul imaji-imaji yang tak terduga. Saya kadang gagal paham dengan band yang liriknya ambigu. Misalnya, “Pragmatis Resureksi Sadis” atau “Sintetis Bumi Iblis”. Seperti asal mengambil terminologi dari kamus yang jarang dipakai sehari-hari. Asal rimanya sama. Beda soal jika band itu seperti Primitive Chimpanzee atau Sungsang Lebam Telak yang memang absurd. Atau lirik dagelan ala The Secret Prostitutes. Saya masih bisa menikmati lirik band-band tersebut. Tapi apapun itu, silahkan membuat lirik yang kamu senangi.

Siapa saja penulis lirik yang jadi favorit anda?
Joni Mitchell, seorang penyanyi folk dengan musik dan lirik yang bisa mengurai imaji yang tak terduga. Misal dalam lagunya “A Case of You”, yang salah satu penggalannya “I’m a lonely painter, i live in a box of paint…” Kemudian Greg Graffin (Bad Religion), dalam lagu “You’ve Got a Chance” dengan penggalannya “I’m tired of all this shakesphearean missinformation…” Lalu juga Fat Mike (NOFX). Kalau di ranah lokal saya suka lirik-lirik dari Tetangga Pak Gesang dan Homicide.

Ada lagu-lagu atau album musik yang berbicara soal tema literasi yang bisa anda rekomendasikan pada pembaca?
Ini menarik. Beberapa di antaranya;
Emily Haines & The Soft Skeleton – “Reading in Bed”. Ia salah satu personil dari Broken Social Scene. Emily seolah ingin mengatakan bahwa petualangan yang liar juga bisa didapatkan saat membaca buku di ranjang.
Scholastic Deth – “Killed By School” (album). Ini salah satu band thrashcore yang hampir semua lagunya tentang literatur dan nerd. Dimotori oleh Max Ward, drummer Spazz dan beberapa band power violence lainnya. Di Scholastic Deth justru dia yang menjadi vokalis. Kini ia menjadi asisten profesor dalam studi sejarah di Middlebury College.
Efek Rumah Kaca – “Jangan Bakar Buku”. Lagu ini akan senantiasa menjadi anthem untuk menendang kepala para kaum fundamentalis yang reaksioner terhadap buku.
Library Voices – “Reluctants Readers Make Reluctants Lovers”. Band indiepop asal Kanada yang dalam liriknya ini akan ditemui nama-nama populer dalam dunia literasi seperti Ernest Hemingway, James Joyce, atau Richard Yates.

Apa saja buku-buku yang terakhir anda beli atau baca belakangan ini…
Kebetulan saya mendapatkan akses gratis dari istri di perpustakaan University of California, Berkeley. Di situ saya bisa membaca literatur Indonesia yang sebegitu banyaknya, seperti;
Nagabumi oleh Seno Gumira Ajidarma. Saat saya kecil pernah belajar pencak silat dan bercita-cita jadi pendekar. Buku yang cukup tebal, namun tidak mengurangi rasa penasaran terhadap kiprah pendekar tanpa nama dan mencakup sejarah era kerajaan Majapahit.
Babi Ngepet oleh Abdullah Harahap. Saya juga masih mencari novel-novel horor beliau lainnya. Di masanya, ia dianggap murahan karena bercerita tentang horor yang dibalut dengan erotisme.
Matahariah oleh Marco Kartodikromo. Novel yang ditulis berdasarkan kehidupan penari erotis bernama Mata Hari yang terjun dalam dunia spionase Belanda.
We Owe You Nothing: Punk Planet The Collected Interviews. Ini merupakan kumpulan wawancara 400 halaman dari Punk Planet Magazine. Ada Steve Albini, G7 Welcoming Committee, Los Crudos hingga Noam Chomsky. Wawancara di dalamnya sangat mendalam.

Siapa saja penulis favorit yang dikagumi dan ikut mengubah diri anda?
Seno Gumira Ajidarma, Truman Capote, Andina Dwifatma, Abdullah Harahap, dan Triyanto Triwikromo.

Sampai hari ini, anda masih percaya kalau musik, termasuk lirik, bakal bisa mengubah dunia?
Masih. Karena itu terjadi pada saya, barangkali juga pada kalian semua. Dari sana kita mendapatkan wawasan dan kepuasan. Dari lagu atau album sebuah band tertentu, kita bisa menikmati video dalam klipnya, menikmati grafis dari sampulnya, menikmati teks dari liriknya. Saat sudah melebur di dalamnya, ada energi tarik-menarik yang memunculkan perasaan, “Saya ingin membuat seperti ini!”. Dari situlah yang menggerakkan kita untuk berkarya. Itu yang kita sebut bahwa karya bagus selalu memiliki dampak sosial dan membuat perubahan dalam diri serta lingkungan, sekecil apapun.

Anda juga percaya kalau buku atau budaya literasi (baca-tulis) itu juga mampu mengubah dunia?
Itu salah satu alasan kenapa kami memberi tajuk album AK//47 itu Verba Volant Scripta Manent. Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi…

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Whiteboard Journal, 19/10/2016.

http://www.whiteboardjournal.com/interview/31044/mengabadikan-zaman-bersama-garna-raditya/