sundayplaylist-website

Saya baru usai menonton laga Crystal Palace vs Liverpool di televisi saat mengetik kumpulan paragraf ini. Melanjutkan trend menang di bawah asuhan Klopp, Liverpool menghantam Palace lewat rentetan gol dari Emre Can, Lovren, Matip, dan Firminho. Lawannya hanya bisa membalas dua gol saja oleh McArthur. Skor akhir 4-2. The Kop pun gembira.

Speedkill – “Dan Biarkan Menghitam”
Tembang thrash yang berapi-api ini termuat di album kedua Speedkill, Buas. Morgue Vanguard merapal lirik penuh bacot soal “hidup di ujung tanduk dan komando Abigar / pada moshpit, filsafat harus terbakar / berkeringat, pada jurnal, harus tercatat / kami yang menyembah Vol.4 dengan keramat.” Vokalis Unbound menyalak kering di bagian chorus, sebelum ditimpa vokal growling Daniel Dead Squad yang menyeramkan. Saya selalu suka dengan lagu yang membakar dan penuh amarah seperti ini. On heavy rotation.

 

Monohero – “Escalating Wonderlust”
Saya baru pertama kali menonton performance Monohero di UM, semalam. Mereka mengklaim sebagai unit audio-visual yang memainkan musik ambient/psychedelic plus tata cahaya dan warna-warni yang seru di kala show. Kalau sudah begitu, tentu saja Monohero musti dinikmati secara live, pikir saya. Sangat direkomendasikan bagi semua penggemar Brian Eno sampai Pink Floyd, Sigur Ros hingga Tame Impala, Mew bahkan Tool. Mereka opsi yang lebih membius daripada Matajiwa, menurut saya. They’re soon-to-be my new fave local acts. So beautiful.

 

Puscifer – “The Arsonist”
Saya yakin tidak bakal ada musisi yang berani ‘menampar’ sosok calon gubernur DKI secara kreatif layaknya yang dilakukan Puscifer terhadap Donald Trump di video ini. Sometimes you grab the Puscifer. Sometimes the Puscifer grabs you.

 

Inheritors – “No Rest For The Wicked”
Anak-anak muda ini belum jera untuk memainkan irama thrash metal di era seorang bocah ngerap saja bisa jadi berita internasional. Singel anyar Inheritors ini sarat akan riff yang tajam dan solo gitar di sela-sela deru musik mereka yang ngebut. Agak mengingatkan saya pada Exodus, Death Angel, dan Municipal Waste.

 

Nick Hornby – 31 Songs
Membaca tuntas buku ini seperti sedang berada di dalam ruangan penuh vinyl edisi first-pressed bersama pria botak yang mendongeng soal seberapa apik dan pentingnya lagu-lagu pop/rock dari era Bob Dylan sampai Nelly Furtado. Siapa yang mau keluar dari situ? Saya sih tidak. Setiap tuturnya bikin saya nyaman dan betah. Memang ada beberapa buku yang bikin saya tidak bisa berhenti membaca dan menolak berpisah ketika mencapai halaman terakhirnya. Buku ini salah satunya.

Selamat berhari Minggu.