filastinesalarymen2
the salarymen – dok. filastine

Dikasih tajuk “The Salarymen” dan menggambarkan tema pemberontakan karyawan dari dalam kantor.

Setelah merilis “The Miner” dan “The Cleaner”, Filastine kembali merilis karya audio-visual terbarunya yang bertajuk “The Salarymen” sebagai episode ketiga dari proyek serial Abandon. Singel “The Salarymen” resmi dirilis mulai tanggal 10 Oktober 2016 melalui akun resmi Filastine di kanal Facebook, Soundcloud, dan YouTube-nya.

Filastine merupakan duo audio-visual yang terdiri dari composer/director Grey Filastine (Amerika Serikat) dan vocalist/designer Nova Ruth (Indonesia) yang berbasis di Barcelona, Spanyol. Komposisi musik Filastine selalu memadukan irama elektronik yang kontemporer dengan bebunyian yang organik lewat berbagai instrumen perkusi dan akustik. Mereka mengibaratkan musiknya sebagai bunyi bass and drum dari masa depan.

Dalam video-nya, “The Salarymen” menggambarkan suasana pagi di sebuah kantor startup pada awal era digital, sekitar tahun 1996. Di antara dinding kantor yang penuh dengan kalimat motivasi, tekanan tenggat waktu serta iming-iming kesuksesan, para karyawan bekerja dengan wajah frustasi dan menjadi budak bagi atasannya di ruang kubikal yang sempit.

“Layar komputer tabung itu memancarkan efek dan gambar yang menghipnotis para pekerja. Itu kemudian yang memicu kejang dan perlawanan dari dalam tubuh mereka,” kata Grey menjelaskan makna visual dari video “The Salarymen”. “Setelah bosan berkutat dengan mesin, ketiga karyawan itu mulai mencari sesuatu yang alami dan mengeluarkan naluri hewani yang ada di dalam diri mereka.”

Pada setengah durasi terakhir video tersebut, ketiga karyawan itu kemudian diperlihatkan mulai bertindak liar tak terkendali dan merusak semua properti kantor di sekeliling mereka. “The Salarymen” memang sengaja mengusung isu ‘pemberontakan’ karyawan di dalam kantor. Ketika tehnologi komputer muncul dan berkembang, serta mulai mendominasi setiap sendi kehidupan kita.

Dalam proses produksi video “The Salarymen”, Filastine menggaet tiga penari butoh dari kolektif P.A.N asal Seattle (Amerika Serikat) – yaitu Alan Sutherland, DK Pan dan Douglas Ridings. Butoh merupakan seni tari dan performing-art yang lahir di Jepang, kemudian berkembang ke seluruh dunia termasuk di Amerika Serikat.

“Kami telah memiliki sejarah yang cukup panjang dalam berkolaborasi bersama P.A.N. Beberapa komposisi musik Filastine di awal-awal dulu juga kerap dijadikan soundtrack dalam berbagai pertunjukan mereka,” ungkap Grey kemudian. “Cerita di video ini memang sengaja dibikin untuk mereka dengan cara-cara atavistik dan mentah.”

Setiap adegan dalam video tersebut juga ditata sesuai dengan setting kantor modern pada umumnya. Filastine sengaja memajang beberapa komputer usang, mesin fotokopi, kertas memo tempel (post-it notes), serta beragam poster motivasi demi membangun ruang yang sempurna bagi kekosongan spiritual di benak setiap karyawan kantor.

Musik “The Salarymen” sendiri didominasi oleh bunyi-bunyian elektronik yang kuno dan tekstur lo-fi dari perangkat synthesizer klasik. “Kami menggunakan peralatan musik yang sama seperti yang dimainkan Kraftwerk dalam lagu-lagu cinta teutonik mereka tentang robot,” jelas Grey memaparkan konsep musiknya. “Lalu kami membelokkan beberapa nada untuk mendapatkan efek yang sebaliknya. Di situ juga ada bunyi synths yang diselaraskan dengan dengung mekanis, serta nada perkusi dari bunyi klik mouse komputer dan tombol qwerty.

Abandon merupakan serial video musik yang mengambil satu tema utama yaitu tarian pembebasan dari kelas pekerja atau buruh yang tertindas (dances of liberation from degrading work). Setiap video nantinya akan menggambarkan tarian katarsis yang unik, yang direkam dari beberapa lokasi, sebagai metafora dan simbol protes atas kehidupan profesi yang kerap menihilkan rasa kemanusiaan.

Proyek serial Abandon ibarat kolaborasi seni musik, video, dan film dokumenter yang mengeksplorasi bagaimana manusia rela menjual waktunya di bumi. Di setiap serinya, menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik – mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol.

Berikut informasi soal jadwal perilisan, tema, dan lokasi penggarapan proyek video serial Abandon di tahun 2016;

29/03 ; The Miner (Jawa & Borneo, Indonesia)
26/05 ; The Cleaner (Lisbon, Portugal)
10/10 ; The Salarymen (Seattle, Amerika Serikat)
21/12 ; The Chatarreros (Barcelona, Spanyol)

Keempat singel yang terangkum dalam serial Abandon di atas, ditambah dengan sejumlah komposisi anyar lainnya, bakal menjadi materi album keempat Filastine yang rencananya dirilis pada tahun 2017 nanti.

Filastine telah merilis tiga album penuh yaitu Burn It (2006), Dirty Bomb (2009), dan Loot (2012). Diskografi musik mereka juga merangkum beberapa EP dan vinyl yang dirilis oleh sejumlah label rekaman internasional, serta beberapa proyek kompilasi atau mixtape yang konseptual.

Hingga saat ini, Filastine telah menjalani sejumlah show yang intens di berbagai belahan dunia dalam berbagai jenis dan skala pertunjukan. Sepanjang tahun tahun 2016, Filastine telah mencanangkan tur panjang untuk keliling Eropa, Asia, hingga Amerika Serikat. Bulan depan, Filastine bakal datang ke Indonesia dan melakoni sebuah pertunjukan spesial dalam ajang Indonesian Dance Festival di Jakarta, 5 November 2016.