wp_20161009_002
khilaf/bahagia

Kumpulan album musik hasil dari menuruti hawa nafsu duniawi dan kebendaaan tepat pada perayaan Cassette Store Day 2016 kemarin.

Sabtu, 08 Oktober 2016. Kebetulan, saya seperti sudah ‘merayakan’ momen Cassette Store Day (CSD) sejak dini saat kurir JNE datang ke rumah dan membawa paket kecil di siang harinya. Isinya sekeping kaset yang paling saya tunggu…

01. Sonic Torment – Haatzaai Artikelen
Kaset ini merupakan edisi reissue dari ZimZum Entertainment (Jakarta), komplit dengan buklet, lirik dan eksplanasi. Haatzaai Artikelen pertama kali dirilis 21 tahun silam, dan sejak itu selalu menjadi favorit saya. Boleh dibilang, Sonic Torment adalah band crossover pertama di negeri ini.

Di luar rumah tampak hujan. Tidak begitu deras. Tapi bukan gerimis juga. Jelang sore hari, saya bersiap menuju lokasi perhelatan Cassette Store Day 2016. Seperti biasa, di situ bakal ada label rekaman, distributor dan music store (baik yang offline maupun online), kolektor kaset, bahkan ‘bapak-bapak’ yang bisa berjualan kaset (bekas) di lapak loak pun turut berpartisipasi menggelar stok dan dagangannya. Oya, konon ada beberapa album rilisan lokal yang juga dirilis khusus dalam bentuk kaset dan dilepas spesial pada hari itu.

CSD masih rutin diselenggarakan tiap tahun dan tetap diinisiasi oleh ‘paguyuban’ record label di Malang. Yang agak unik dan baru dalam perayaan momen CSD di Malang tahun ini kayaknya ada dua hal;

Pertama, setiap booth/lapak hanya menyediakan dan menjual rekaman fisik dalam format kaset/tape saja – jadi kayaknya tidak akan ada stok CD atau piringan hitam di hari itu.
Kedua, gerombolan record label di Malang merilis sebuah kompilasi khusus yang berisi masing-masing satu track dari roster/band-nya label tersebut. Konon kaset kompilasi itu juga diimbuhi dengan stiker, buklet dan katalog yang berisi informasi tentang label-label rekaman di Malang.

Karena selera kuping yang agak lebar serta keterbatasan bujet #jajanrock, sedari awal sebelum berangkat saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk hanya akan memburu dan membeli rilisan kaset lokal (yang jarang ditemui) dan album-album bergenre metal saja. Bukan apa-apa, kalau dituruti semua godaan dan hawa nafsu ini tidak akan sehat bagi dompet. Kudu ada skala prioritas. We’ll see, apakah saya berhasil?…

wp_20161008_002
welcome to malang’s cassette store day 2016

Singkat kata, tiba-tiba saya sudah tiba di lokasi sekitar jam empat sore. Langsung masuk ke teras dalam sebuah warung kopi dan angkringan. Tampak sejumlah lapak sudah berjajar dan memamerkan stoknya di atas meja.

Pertama, saya menuju lapaknya Koko Giman. Berbincang, bercanda dan selalu diselingi dengan debat yang tidak penting. Di situ saya mengambil dua ‘harta karun’.

02. Fudge Tunnel – Creep Diets
Jika ini adalah band grunge kenapa mereka berada di label rekaman yang terkenal karena metal-nya, Earache Records? Pertanyaan itu masih jadi misteri bagi saya, sampai sekarang.

03. Balcony – Terkarbonasi
Tidak ada salahnya untuk menemani album Instant Justice yang sudah ada di rumah. Eh, kurang satu album lagi – itu yang terbaik dan paling saya cari.

Bergeser ke kanan sedikit, saya sudah di depan meja Tarung Records. Saya sudah tahu apa yang musti saya ambil dari lapak ini.

04. Toreh – Refleksi Jejaden
Dua hal yang bikin saya antusias akan band ini; Pertama, industrial-rock for fans of Nine Inch Nails, Ministry, Koil, and Kubik? Kedua, serius ini band dari Cirebon?

05. Candlemass – From The 13th Sun
Kaset ini nyempil di pojok. Band ini saya kenal sebagai pemuja Black Sabbath yang paling taat. Apalagi albumnya yang ini.

Dari seberang sana, Udin (Nadapita) memanggil saya sambil mengacungkan satu kaset stoknya Difusi Music Store dari kejauhan. Dia sangat tahu selera saya dan paham ada sebuah album lokal yang saya cari sejak lama.

06. Kubik – Velvet Words and Lies
Akhirnya, setelah beberapa kali kalah ‘berebut’ album ini di beberapa kesempatan.

07. Balcony – Metafora_Komposisi_Imajinar
Akhirnya juga, album terbaik Balcony menurut saya. Hardcore yang tidak begitu ‘hardcore’.

Stok dagangan Difusi Music Store adalah milik kolektor rekaman yang insyaf, Rusli Hatta. Barangnya memang brengsek semua. Dia membawa empat box besar berisi kaset-kaset kategori ‘bahaya’. Saya putuskan menyerah dan beranjak kabur dari lapak itu.

Saya lalu menuju meja FTP Inc untuk mengambil rilisan spesial di hari itu.

08. Malang Cassette Store Day – Compilation Tape
Saya langsung beli dua biji. Satunya buat barter dengan kawan di Jogja yang juga sedang merilis kompilasi sejenis. A fair trade, isn’t it?!

Bergeser ke meja Reka Records di sebelahnya, saya langsung ditodong Hilman untuk memasang earphone di kedua telinga. Kemudian dia memutarkan kaset dari perangkat walkman-nya, sambil bertanya menantang, “Ayo tebak, lague sopo iki?…”

Butuh beberapa detik sampai intro dan petikan gitar mulai mengalun. Saya langsung menjawab cepat nama band lokal Malang yang ada di pikiran saya saat itu. Saya yakin banget, sound gitarnya sangat saya kenal.

“Hehe, iyo bener…” kata Hilman sambil tertawa meringis dan menyerahkan sekeping kaset ke tangan saya. Saya cuma bisa melongo heran dan menjawab, “Loh, opo iki?…”

09. Crimson Diary – Sebuah Pengantar (demo 3 lagu baru)
Hilman lalu menjelaskan bahwa kaset ini memang dibagikan gratis bagi mereka yang bisa menebak nama band yang musiknya diperdengarkan melalui walkman pada hari itu. Wah, metode yang keren. Eh tapi maaf, tebakan ini terlalu mudah bagi saya. Ha!

10. OM – Pilgrimage
Dari rak Reka, saya juga mengambil album ini. Sebab, saya kadang butuh musik cadas bertempo lambat dan kontemplatif untuk dinikmati tengah malam.

Saya lalu kembali ke lapaknya Koko Giman, di sebelahnya sudah ada Atim Stadion yang baru menggelar dagangannya. Dari dalam tasnya, Atim menyerahkan satu kaset yang sudah saya pesan sejak beberapa hari sebelumnya.

11. Bangkai – For W.H.A.T
Debut album rilisan 1997 dari band cadas paling tua di kota ini. Mereka sudah menggerinda sejak 1992, dan belum berhenti sampai hari ini.

wp_20161008_003
koko giman & atim stadion

Menyeberang ke meja Andika Terserahati, saya dipertemukan dengan dua album yang menarik.

12. Detention – Youth Detention Program For Reckless Teenagers
Ryan Pelor dkk bikin ulah lagi. Kali ini bergaya rusuh ala Dead Kennedy’s dan ia bisa memaki bak Jello Biafra.

13. Nick Cave and The Bad Seed – No More Shall We Part
Album ini agak berbahaya jika diputar sendirian pas tengah malam. Pokoknya jangan.

Malam itu, saya jumpa penggiat label rekaman lawas, Ook dari Confuse Records, dan mendapatkan satu kaset rilisan barunya sebagai ‘jatah preman’.

14. No Man’s Land – Grow Away From The Society
Mmmmh, soal album ini baca saja tulisan saya pada bagian lain di blog ini. Itu naskah press release resminya.

15. Strider – Demo CD
Ini juga dikasih Ook. Sebuah CD amatir bersampul wajah Ozzy Osbourne yang mengenalkan satu lagu karya Strider yang stoney, plus satu lagu kover milik Black Sabbath.

Hari itu, Konon ada sejumlah rilisan spesial dari Jakarta yang hanya bisa didapatkan di meja Haum Entertainment mulai jam tujuh malam. Karena stoknya cuma sedikit, maka kudu mengantri. Tampak di situ ada Andika (Terserahati) yang sudah meninggalkan lapaknya dan mengantri paling depan pas di depan meja Haum Entertainment. Saya mendekat ke antrian meninggalkan Koko Giman yang selalu sibuk dengan jajan dan makanannya. Saya berada di antrian kedua tepat di belakang Andika dan akhirnya sama-sama mendapatkan kaset yang (katanya) paling diburu sehari itu.

16. Sigmun – Crimson Eyes
Ketika pemuda yang ikut mengantri di belakang saya mau membeli album ini juga, langsung dijawab oleh empunya lapak, “Maaf, sudah habis, Mas!…” Malam itu, saya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Ya, sampai hari ini Koko Giman masih mengomel karena tidak kebagian.

Sudah ah, urusan belanja sudah cukup. Malam itu saya juga musti ke Godbless Cafe untuk menonton konser musik cadas dan bertemu beberapa kawan lama di sana. Dalam perjalanan menuju parkiran motor, saya mengambil pesanan saya sekeping plat di lapaknya Piching.

17. Bill Haley and The Comets – Rock Around The Clock 12″
Decca Records, 1955. Canada press. VG Condition. Cheap. A good deal.

Sampai di acara MLG Extreme Party di Godbless Cafe, saya masih sempat menonton aksi No Man’s Land yang penuh tenaga, Bangkai yang menggerinda dengan pola lama, Antiphaty yang mabok parah dan (anehnya) justru keren parah, serta Rajasinga yang membara sekaligus membius.

Di pelataran venue, saya juga tak kuasa menahan nafsu untuk membeli dua rilisan lokal yang sedang saya buru juga.

18. Rajasinga – III
Ternyata CD versi regular (jewel case) tidak mereka bawa tur, jadi masih kebagian versi deluxe-nya yang berbonus poster dan postcard.

19. Hellcrust – Kalamaut
Album cadas yang berapi-api dan cocok bagi penggemar Dead Squad, Forgotten, sampai Homicide.

Akhirnya, hari itu saya pulang dengan membawa banyak rekaman musik di dalam tas. Khilaf dan (semoga) bahagia. Oke, saatnya sekarang kembali bekerja lebih keras dan mulai menabung lagi.

Oya, tentu saja belakangan ini playlist musik saya tidak jauh-jauh dari daftar album di atas tadi. Mungkin bertahan sampai beberapa hari ke depan. Duduk bersila di hadapan stereo set sambil menyiapkan tisu, cotton bud, dan cairan alkohol 70%. Memutar kaset tetap menyenangkan, meski agak merepotkan.

Buying some records is still cheers me up.

csd4
mmmh, oke santai bos…

*Tiga tahun lalu saya pernah menulis agak panjang soal CSD. Sepertinya masih relevan sampai saat ini. Semoga. Sila baca saja melalui tautan berikut;

https://sesikopipait.wordpress.com/2013/09/06/memutar-kembali-pita-kaset/

*Foto-foto seputar perayaan CSD di Malang juga bisa dicek album Facebook-nya Reka Records.