crp8iztukaaldvq
Rolling Stone Indonesia, September 2016

Dengan iklim yang relatif sejuk, anak muda Malang bersenang-senang dengan caranya sendiri.

Sebagai salah satu daerah yang memiliki scene musik yang cukup disegani sejak lama, kota Malang tidak pernah kehilangan talenta-talenta baru khususnya di ranah musik independen. Kota ini bahkan dianggap menyimpan aura rock n’ roll yang kuat, menurut sejumlah kalangan.

Dari kota ini memang pernah melahirkan dan membesarkan nama-nama musisi/band yang cukup disegani karya, pencapaian dan legacy-nya. Seperti misalnya Rotten Corpse, No Man’s Land, Antiphaty, Extreme Decay, Screaming Factor, Begundal Lowokwaru, The Morning After, SATCF, atau Tani maju yang bergerak pada komunitas bawahtanah dan musik independen. Juga ada nama Flanella atau Putih yang sempat mengadu nasib pada label rekaman besar dan memainkan musik pop arus utama, kalau mau dicatat.

Hari ini, denyut musik di kota Malang sangat jauh berbeda dibanding, katakanlah, dua puluh tahun lalu. Seperti juga yang terjadi di kota-kota lain, bahkan di bagian bumi mana pun. Internet telah menyempitkan kendala, keluhan, dan batasan geografis. Itu makin memudahkan musisi dan band untuk memasarkan karyanya lebih jauh. Bahkan juga sanggup membentuk komunitas dan industrinya secara mandiri.

Belakangan ini, muncul nama-nama musisi/band anyar yang patut diantisipasi karya dan sepak terjangnya. Seperti misalnya Atlesta, Crimson Diary, Christabel Annora, Fallen To Pieces, Hand of Hope, Folkapolka, Remissa, Pronks, Inheritors, Wake Up Iris!, Coldiac, Rottenomicon, Karat, Hellhound, Oneding, Jenar, dan masih banyak lagi.

Jika tempo doeloe, kota Malang pernah mengekspor nama-nama seperti Ian Antono, Abadi Soesman, Sylvia Saartje, atau Totok Tewel untuk hijrah ke ibukota dan menggeluti blantika musik nasional, saat ini mungkin gilliran Nova Ruth (Filastine) dan Wukir Suryadi (Senyawa) yang rajin keliling tur ke berbagai negara bersama proyek musiknya.

Boleh dibilang, denyut pergerakan komunitas musik di kota Malang tumbuh dan berkembang dari (tempat) tongkrongan. Arek Malang bahkan bisa disebut memliki budaya nongkrong yang kuat dan akut. Terkadang, ide dan gagasan berkarya atau berkolaborasi banyak yang lahir dari situ.

Jika dulu komunitas musik biasa terbentuk di studio musik, distro, dan clothing store, belakangan ini justru banyak ‘diletupkan’ pada sudut-sudut coffee shop dan bar – yang kerapkali bisa menyulap dirinya menjadi klub musik, public house atau bahkan semacam galeri seni.

Salah satu nama yang layak disebut dalam hal ini antara lain Houtenhand, sebuah bar yang kerap jadi klub musik saking seringnya gigs yang ada di sana. “Houtenhand itu CBGB-nya Malang!” celetuk banyak mulut yang notabene belum pernah berkunjung ke New York. Spot menarik yang sering jadi venue pertunjukan musik maupun event seni lainnya adalah Legipait, Kalampoki, Semeru Art Gallery, Rumah Opa, atau Godbless Cafe.

Di Malang, juga masih kerap digelar pertunjukan musik yang berformat studio gigs yang sempit, intim dan terbatas. Dengan kondisi geografis yang cukup menunjang, nyaris tidak ada kesulitan yang berarti untuk menggelar event musik di alam terbuka dan lokasinya tak jauh dari pusat kota.

Nama-nama label rekaman yang rajin merilis produk lokal seperti Barongsai Records, Gerpfast Kolektif, Haum Entertainment. FTP Inc., dan lain-lain. Mereka semua tergabung dalam semacam ‘paguyuban’ yang menamakan dirinya Malang Record Label. Mereka pula yang aktif merayakan momen Record Store Day atau Cassette Store Day, setiap tahunnya.

Konon, kualitas dan selera musik di sebuah kota bisa dilihat dari record store yang ada di kota tersebut. Gairah berburu musik dan jajan rock di kota Malang bisa dilampiaskan dengan mengunjungi sejumlah tempat seperti Reka Records, Toko Houtenhand, Circle Records, atau pada sebagian rak distro yang masih sudi memajang rekaman lokal. Selain itu, juga ada sejumlah lapak di daerah Comboran, Boldi, atau Velodrome khususnya bagi kolektor musik yang ingin berburu kaset atau piringan hitam bekas.

Scene musik di kota Malang juga digerakkan oleh komunitas berdasarkan genre-nya masing-masing. Sejauh ini ada Malang Sub Pop, Malang Sub Noise, Malang City Hardcore, Malang Pop Punk, Malang Hiphop Community, Malang Jazz Forum, Arek Reggae Malang, atau Malang Blues Community. Belum lagi komunitas yang terbentuk atas loyalitas mereka terhadap instrumen musiknya, seperti misalnya komunitas gitar, bass, atau bahkan drum. Itu ada semua di kota kecil ini.

Beruntung kota Malang juga memiliki Museum Musik Indonesia yang mengumpulkan dan menyimpan sekitar belasan ribu artefak musik anak bangsa – mulai dari piringan hitam, kaset, CD, hingga majalah dan literatur.

Peran media selaku corong yang lantang mempromosikan aneka ragam kegiatan di ranah musik independen kota ini banyak bergantung pada situs/blog seperti Koalisi Nada, iHeartgigs, LYT Media, Portal Musik Malang, serta program No Major Label di radio Elfara FM. Ditambah juga dengan edisi-edisi terbatas sejumlah fanzine dan newsletter yang terbit dalam frekuensi tak tentu.

Scene musik lokal yang dijalankan secara mandiri oleh (komunitas) anak-anak muda ini terbukti bisa terus hidup dan berkembang. Menuangkan ide dan berkarya di sebuah kota kecil yang santai dengan iklim yang relatif masih sejuk mungkin merupakan hal yang mewah bagi mereka. Meski sesekali mulai ada sejumlah kemacetan dan semrawutnya lalu lintas di beberapa titik yang kerap dikeluhkan melalui postingan di media sosial.

Pada akhirnya anak-anak muda bisa tumbuh dan bergerak secara organik serta dinamis. Dalam lingkungan pertemanan yang dekat dan nyaris saling kenal satu sama lain. Tanpa campur tangan dari pemerintah setempat, sehingga bikin mereka cenderung memilih sikap apolitis dan tak peduli. Juga jauh dari hingar-bingar industri musik – yang tampaknya akan selalu terpusat di Jakarta.

Saking santai dan cairnya, pergerakan scene musik di kota ini tampak seperti dijalankan dengan semaunya, seenaknya. “Malang itu memang scene musik sing sak enake dewe,” komentar seorang teman dari Bandung menanggapi potret scene musik yang keras kepala. Mungkin memiliki semacam ‘fuck-you attitude’, seperti yang pernah diungkapkan oleh orang-orang yang pernah berkunjung atau menikmati keseruan scene musik di kota Malang.

Kalau anak sini bilang, “Ini untuk menjaga kewarasan, dan tetap bersenang-senang.”

*****

NOTABLE ACTS

BEESWAX
Nama Beeswax sendiri, menurut Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), dicomot secara asal setelah ia menemukan kata tersebut terselip dalam halaman buku biografi Kurt Cobain yang baru dibaca. Sejak awal, Beeswax hanya direncanakan sebagai proyek personal atau solo dari seorang Bagas Yudhiswa semata. Hingga kemudian ia mengajak teman-teman dekatnya untuk ikut terlibat bersama dalam format band yang utuh.

Berbarengan dengan itu datang pinangan dari sebuah label rekaman lokal, Haum Entertainment, yang mendorong mereka untuk merilis karya rekaman, yang lalu melahirkan debut EP bertajuk First Step (2014). Setahun kemudian, Bagas Yudhiswa dkk merilis album penuh bertajuk Growing Up Late melalui Barongsai Records.

Belakangan ini, Beeswax makin melaju dan sanggup mencuri minat para penggemar musik indie rock tanah air, khususnya bagi mereka yang menyukai irama rock alternatif dengan aroma 90’s Midwest Emo yang kental. Beewax kerap disebut-sebut sebagai jawaban yang tegas atas kerinduan kuping muda-mudi paruh baya terhadap apa yang pernah dirasakan melalui band-band seperti Mock Orange, Braid, The Promise Ring, Texas Is The Reasons, hingga American Football.

Kuartet yang sekarang beranggotakan Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Raveizal Ario Sayoga (gitar/vokal), Putra Vibrananda (bass/vokal) dan R. Yanuar Ade (drum) itu baru saja pulang dari mini tur mereka di Jakarta. Mereka juga sempat tampil dalam festival musik We The Fest 2016, beberapa pekan kemarin.

IKSAN SKUTER
Jika yang ada di hadapan kita sepanjang musim terakhir ini adalah alunan musik folk yang lembut, bening, dan semerbak harum mewangi, maka Iksan Skuter menawarkan ‘sisi gelap’-nya sekarang. Hanya berbekal gitar akustik yang tidak terlalu mewah dan kalimat-kalimat sederhana yang tajam, Iksan Skuter sudah bisa menggugat negara, institusi, industri, bahkan kawan-kawannya sendiri.

Penyanyi, gitaris sekaligus penulis lagu yang mengawali karirnya lewat singel “Partai Anjing” dalam album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus (2013), langsung tancap gas menelurkan berbagai karya musik dalam deretan diskografinya – yang melimpah banyak dan seakan tidak bisa dihentikan.

Musisi yang ‘insyaf’ kembali ke jalur independen setelah sebelumnya pernah tergabung dalam Putih, sebuah band pop-mainstream di bawah kendali major label, sangat paham seluk-beluk industri musik. “Sedikit-banyak, saya jadi tahu seperti apa rasanya jadi orang baru di ibukota yang bermimpi untuk jadi musisi terkenal. Bangun subuh, manggung di program televisi pagi, promo media dan radio di sana-sini, sampai pulang lagi tengah malam…”

Melalui karya-karya solonya, lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang ini serius melakoni profesi bermusik dan kancah aktivisme melalui berbagai panggung. Menyuarakan isu-isu aktual mulai dari politik, sosial, lingkungan hidup, tata kota, agraria, tambang, hingga hak anak-anak seperti menjadi kewajiban bagi pria yang suka mengenakan topi baret ini.

“Minum kopi bisa membahayakan negara, sementara minum alkohol hanya sekedar membahayakan lingkungan sekitar,” celetuk pria yang juga mengelola kedai kopi Warung Srawung serta sering menggagas upaya seni dan aktivisme di kota Malang. Baginya, revolusi bukan tidak mungkin bisa dimulai dari warung kopi – bersama gitar bolong, bahasa lirik yang sederhana serta suara yang parau.

INTENNA
Nama band ini mulai muncul sekitar lima tahun lalu lewat singel “Little Miss Sunshine” yang termaktub dalam kompilasi Koalisi Nada. Kehadiran mereka seperti sebuah anomali jika merujuk pada riwayat scene musik kota Malang yang saat itu masih didominasi oleh irama-irama yang keras – seperti punk, hardcore, dan metal.

Seiring waktu, Intenna mulai rajin tampil dalam gigs-gigs kecil di kotanya dan mengikuti berbagai kompilasi seperti Burn The Line (2014) atau Revolution (2015) garapan Ear To Ear Records (UK) dan Gerpfast Kolektif (Indonesia). Di sela-sela itu, Intenna juga sempat berbagi pita dengan band grunge asal Malang, Guttersnipe, dalam proyek split-tape yang dirilis For The Records, pada tahun 2013.

Karena alasan kedekatan personal dan pertemanan, Intenna lalu bekerja sama dengan Andi Alo dari Barongsai Records untuk merilis debut albumnya. Karya rekaman bertajuk Helter Skelter itu kemudian dirilis secara luas mulai akhir tahun 2015 kemarin. Album yang memuat sepuluh lagu itu berisi cerita-cerita yang sebagian besar terinspirasi dari kejadian nyata – mulai dari kisah pelecehan seksual, kegelisahan anak-anak korban perceraian, hingga pada krisis urban atau masalah perkotaan.

Menurut pengakuan mereka, pemilihan judul album Helter Skelter bisa berarti ganda. Ada yang mengartikannya sebagai disorder atau confusion, lalu ada pula yang merelasikannya dengan sebuah permainan di taman hiburan. “Pemaknaan titel tersebut sangat cocok untuk Intenna, karena proses bermusik kami selama lima tahun ini sudah menghadapi banyak hal dan kami seperti diuji untuk bisa melalui semua itu…”

Dalam penggarapan Helter Skelter, Intenna saat itu adalah Ni Nyoman Nanda Putri Lestari A.K.A Oming (vokal), Dwianto Prastowo (gitar), Ovan Zainuddin (gitar), Pugud Haidi Agusdilla (bass), Hendra Alfaroq Suhaimi (drum). Sekarang, Oming hijrah ke Jakarta dan menyerahkan tugas vokal kepada Ovan Zainuddin.

Konon, mendengarkan musik Intenna seperti menemukan pengaruh Slowdive, Swirlies dan rooster awal Creation Records dengan modulasi yang fuzzy serta efek delay yang meruang. Itu yang memungkinkan irama shoegaze bisa disilangkan dengan slowcore, dreampop, lo-fi, hingga space-rock. Bahkan segala hal terbaik yang paling kita harapkan dari pengalaman mendengarkan sebuah lagu shoegaze yang bagus ada pada lagu-lagu Intenna yang hazy, dreamy, dan spacey.

Oya, sangat disarankan untuk menonton show Intenna demi sensasi wall of noise yang langsung menerpa keras pada raga dan jiwa. Penonton sudah diperingatkan.

MEGATRUH
Jika anda mengadukan kata ‘Megatruh’ pada kolom mesin pencari di internet, yang anda temukan adalah istilah bahasa Jawa yaitu salah satu tembang macapat yang menggambarkan tentang kondisi manusia di saat sakaratul maut. Kata megatruh sendiri dipercaya berasal dari kata megat/pegat (berpisah) dan ruh, yang berarti berpisahnya antara jiwa dan raga.

Nilai-nilai lokal dan sarat mistik itu digambarkan dengan apik oleh sebuah unit musik asal kota Malang lewat tema lagu dan aksi panggungnya sejak terbentuk tahun 2013 silam. Megatruh yang terdiri dari Kidung (vokal), Nanda Gupar (bass), Bagas (gitar), Ken Baruna (gitar) serta Dicky (drum) ini disebut-sebut sebagai salah satu aksi live band lokal terpanas yang layak ditonton konsernya.

Live set-nya adalah gambaran dari guncangan jiwa dan kegilaan yang diusung dalam bebunyian yang berisik dalam kostum unik, aroma dupa, serta taburan bunga kuburan di hampir setiap sudut venue.

Musically, Megatruh memainkan noise rock berbalut post punk dengan lantunan vokal yang lebih menyerupai spoken word. Lirik-liriknya bahkan terdengar cukup sastrawi, seperti merujuk pada suatu kitab kuno tertentu.

Hingga saat ini, Megatruh telah melepas dua singel berjudul “Wahana Bumi Megatruh” dan “Annelies”, serta Karnaval Nokturnal EP dan singel bertajuk “Lokakarya Luka” yang dirilis pada momen Record Store Day 2016 kemarin.

MUCH
Pada dasarnya, Much adalah duo indie rock dari sepasang kekasih, Aulia Anggia dan Dandy Gilang. Pada saat live session atau rekaman, Much bisa beranak-pinak dengan tambahan personil seperti Vino (bass), Risang (gitar) serta Pandu (drum).

Much mengusung musik indie rock yang sarat dengan aroma emo dan pop-punk 90-an seperti yang biasa kita dengar dari Rainer Maria atau Discount, ditambah kerenyahan ala Lemuria serta syahdunya Alvvays dalam satu cawan.

Mendengarkan Much ibarat menikmati soundtrack yang pas untuk mengiringi segala kisah asmara yang berjalan rumit dan menegangkan bak rollercoaster. Tema liriknya seperti berkutat pada keluh-kesah para muda-mudi atas kehidupan cinta, kegalauan hidup, serta krisis identitas di usia muda. Bisa terdengar manis, sekaligus pahit. Bahkan asam.

Sejauh ini, Much telah merilis EP bertajuk Closest Things I Can Relate To melalui label rekaman Haum Entertainment pada tahun 2015 yang lalu. Sejumlah singel dan pengalaman manggung ke berbagai kota juga telah mereka lakoni. Sepertinya karya rekaman Much bakal siap sebentar lagi.

*****

*Artikel ini sebelumnya dimuat dalam rubrik khusus Scene N’ Heard pada majalah Rolling Stone Indonesia, edisi September 2016. Potongannya bisa anda intip juga melalui situs RSI berikut; 

http://rollingstone.co.id/article/read/2016/09/02/140509316/1101/scene-n-heard-medan-jakarta-surabaya-malang-bali