cn_mymbxgaaw3za

Di antara keriuhan soal Ahok dan siapa lagi yang bakal maju di Pilkada DKI, drama persidangan kasus kopi sianida, Awkarin hingga Aa’ Gatot, sampai kontroversi tarif parkir motor di kota Malang, beruntung saya masih bisa mengkonsumsi beberapa menu yang menarik, bergizi serta menyenangkan.

Setidaknya untuk menjaga saya tetap waras, hingga hari ini. Sebab hidup terlalu singkat untuk mengkonsumsi yang buruk. We’re not gonna die, today.

Remissa – Manifesto Mimpi

Semalam saya nonton show Remissa di Houtenhand, secara penuh. Mereka cukup berenerji sekaligus rusuh dalam satu paket. Musik rock yang meminjam tabiat grunge dan kearifan Seattle Sound – tanpa harus terjebak pada Nirvana atau Pearl Jam. Tapi memang ada jejak aroma Soundgarden, Melvins bahkan Pissed Jeans di beberapa titik. Tidak masalah, saya suka musik yang digeber sekeras itu. Isu yang diangkat dalam liriknya sepertinya cukup menarik. Tampaknya saya bakal lebih sering memutar album mereka ini.

 

Boysetsfire – After The Eulogy

Dulu, After The Eulogy adalah album yang saya beli karena isu dan lirik-liriknya yang politis dan tajam. Terpukau karena hampir setiap kalimatnya membakar, ditambah kutipan dan liner notes di sleeve cover-nya yang juga menggugah. Jauh lebih menarik daripada buku Dasar-Dasar Ilmu Politik karangan Miriam Budiardjo yang saya baca di bangku kuliah. Kalau kata kawan saya, Manan, Boysetsfire = Thrice + Kesadaran Politik.

 

Dialita – Dunia Milik Kita

Sebuah proyek paduan suara dari keluarga penyintas korban peristiwa 1965 yang pernah mendekam kamp kerja paksa. Musiknya ikut digubah oleh Frau, Cholil Mahmud, Sisir Tanah, dan sederet musisi muda lainnya. Album yang sarat sejarah kelam plus buklet apik berisi aneka resep pangan liar. Selamat memasak harapan.

 

Neurosis – Fires Within Fires

Ya, kalau sudah menemukan album anyar Neurosis, band yang memainkan musik sejenis menjadi tidak penting lagi. Nuff said.

 

Ghaust – Burning All The Gold

Saya memesan paket CD dan kaos album ini ke Uri Putra. Sebuah hikayat terakhir dari Ghaust, selanjutnya mereka memutuskan beristirahat dengan tenang bersama arwah drummer-nya. Ups, tanpa sadar juga, ternyata saya memiliki tiga kaos Ghaust beragam desain di lemari. Penyesalan saya cuma satu; belum pernah sekalipun menonton live show mereka. Ck. #RIPGhaust

 

Warrant – Cherry Pie

Menggali kembali harta karun heavy metal dari rak koleksi paling bawah dan berdebu. Jadi sering memutar album ini lagi. Glam rock yang manis layaknya kue pie dan topping buah ceri di atasnya.

 

David Bowie – Tonight

Baru saja menemukan kaset ini dan menambah stok diskografi Bowie. “Believing the strangest thing,” kata beliau. “Loving the alien.” Ya, seperti tulisan pada desain kaos yang beredar di internet kemarin, i still miss David Bowie.

bowie4

 

Steely Dan – Alive In America

Saya kaget menemukan kaset rilisan Indonesia ini di sebuah lapak. Saya jadi curiga, mungkin album-album Steely Dan yang lain juga pernah dirilis di sini. Belum pernah nemu lagi sih. Just let me know if you found them around. Sejak menyimak serius album Aja, saya mulai menyukai Steely Dan dengan kecermatan eksekusi jazz yang belum pernah saya dengarkan sebelumnya.

 

Boosdoener – Patriotis

Gara-gara membahas (oke, mem-bully dikit. Maap) kenekatan Awkarin di video klip Young Lex terbaru (sorry, no link needed!), saya akhirnya kenal pada unit hiphop lokal melalui tweet seorang kolega. Boosdoener ini memang apik, into Wu-Tang Clan, kata seorang kawan dari Jogja. Lantas saya semakin ngeh dan sadar kalau iklim hiphop di Malang ternyata lagi ramai saat ini, kata sejumlah teman. A good thing.

 

British Black Metal: The Extreme Underground

Tempo hari, tiba-tiba menemukan video dokumenter ini pas tengah malam. Sontak, melupakan semua pekerjaan dan rela mengabdikan jiwa saya pada iblis-iblis black metal di daratan Britania, selama hampir 40 menit. Dengan jari tangan yang reflek membentuk simbol devil horn.