WP_20160821_013

“Waduh, kok ndadak? Mmmmh, sek aku tak mikir dulu 10 menit…” begitu kalimat balasan yang saya kirim melalui WhatsApp saat bercakap dengan Dewi Ratna alias Nana yang tiba-tiba menawari saya untuk ikut dalam Bromo Trip sembari menonton Jazz Gunung 2016. Tawaran mendadak itu datang pada Kamis sore (18/08), dan besok pagi sudah dijadwalkan untuk berangkat bareng-bareng menuju kawasan Bromo sembari menonton gelaran Jazz Gunung yang berlangsung selama dua hari, 20 – 21 Agustus 2016. Uhm…

Namun tentu saja tidak butuh waktu lebih dari sepuluh menit bagi saya untuk segera memutuskan ikut bergabung bersama rombongan Momotrip kali ini. Sudah sejak lama saya ingin sekali menonton Jazz Gunung, setelah bertahun-tahun selalu gagal dan batal. Yeah, ok count me in.

Sebagai informasi, trip seru ini dikelola oleh Momotrip, sebuah situs pencarian paket wisata, tiket pesawat dan hotel yang terpercaya. Menurut informasi yang saya baca dari situs https://momotrip.co.id/, Momotrip selalu berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dan memberikan harga termurah untuk konsumen. Mereka juga menawarkan solusi terbaik untuk segala kebutuhan perjalanan dan liburan – mulai dari pemesanan hotel, tiket pesawat serta paket wisata dengan harga yang kompetitif.

Paket trip yang akan kami lakoni ini adalah perjalanan selama tiga hari dua malam (3H2M) dengan fasilitas yang optimal, sudah termasuk seluruh transportasi selama trip, tiket terusan Jazz Gunung, penginapan, konsumsi makan dan snack, serta One Day Trip ke kawasan Bromo. Sebuah paket yang menarik dan sulit ditolak, bukan?!

Indahnya Jazz dan Merdunya Gunung
Jumat (19/08), sekitar jam sembilan pagi saya sudah berada di meeting point Stasiun Kota Baru Malang untuk berkumpul bersama rombongan yang lain. Ternyata, siapa sangka, kawan seperjalanan saya kali ini bukan orang asing lagi. Selain sang jurnalis Kapanlagi, Dewi Ratna alias Nana, yang sudah saya kenal lama, juga ada Rizky Boncel, vlogger muda yang juga teman futsal saya. Boncel mengajak karibnya seorang fotografer handal, Yudha Adipura alias Gimbul. Ikut bergabung bersama kami juga ada Kurniawan, praktisi IT yang sengaja datang dari Jakarta. Selama trip ini, kami semua dipandu oleh Momoranger yang baik dan sabar, yaitu Mas Ari.

Sebuah minivan membawa kami semua dari kota Malang menuju kawasan Bromo. Penuh keakraban dan keceriaan selama perjalanan. Saling bercanda, foto-foto dan merekam video. Minivan meluncur mulus tanpa kendala atau kemacetan di sepanjang jalur Malang – Pasuruan – Probolinggo. Sampai di kota Probolinggo, rombongan berhenti sejenak untuk istirahat dan sholat Jumat.

Boncel mengusulkan Bakso Eddy untuk menu makan siang. Bakso Eddy memang sangat dikenal dan cukup legendaris di kawasan Probolinggo. Semua setuju dan tidak menyesal mencicipi aneka ragam bakso yang cukup menantang rasanya itu.

WP_20160819_007

Kelar makan siang, kami meneruskan perjalanan menuju Sukapura, sebuah desa atau kecamatan yang letaknya tidak jauh sebelum masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di Sukapura kami check-in penginapan dan istirahat sejenak sebelum lanjut ke venue pertunjukan Jazz Gunung.

Sore itu juga, dengan membawa perbekalan secukupnya, kami menuju lokasi perhelatan Jazz Gunung di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Suhu udara terasa cukup dingin menyapu kulit, dengan sedikit kabut tipis yang mengawang di sekeliling. Itu memaksa kami untuk segera mengenakan jaket lebih rapat. Kupluk balaklava dan kaos tangan tentu bakal lebih menghangatkan badan.

Setelah menukarkan tiket, kami berlima – Nana, Boncel, Gimbul, Kurniawan dan saya – langsung menuju pintu gerbang Jazz Gunung. Begitu masuk venue, kami cukup terkesima dengan setting panggung yang cukup menarik di bawah situ. Whoa!…

WP_20160819_018

Panggungnya sederhana dengan beberapa alat musik di sekelilingnya. Latar belakangnya adalah sederet instalasi apik dari bahan kayu dan bambu yang makin terlihat cantik saat disorot oleh lighting berbagai warna. Sudah tujuh tahun penyelenggaraan Jazz Gunung selalu diadakan di lokasi itu, dengan latar belakang keindahan panorama pegunungan Tengger.

Kami langsung duduk di area festival dan menonton aksi performer sore itu. Di area panggung sudah tampil Samba Sunda yang memainkan irama musik etnik sunda dalam komposisi yang kontemporer antara pop hingga jazz. Setelah itu ada Ian Scionti Trio, kelompok musik asal kota Sevilla (Spanyol) yang memainkan musik jazz dalam irama latin dan sedikit flamenco.

Tahun ini, Jazz Gunung mengambil tema Pesta Merdeka Di Puncak Jazz Raya. Perhelatan ini sekaligus ingin memberikan pengalaman lain dalam merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut situs resmi http://www.jazzgunung.com/, musik jazz adalah kemerdekaan berekspresi dalam bermusik, yang akan bersanding dengan tradisi budaya yang selalu disajikan dalam pagelaran Jazz Gunung.

Sebagai hajatan musik bertaraf internasional yang menampilkan berbagai komposisi jazz bernuansa etnik yang tampil di panggung terbuka beratap langit dan berlatar alam, Jazz Gunung ibarat perpaduan yang harmonis antara musik, alam, dan manusia.

WP_20160819_027

Suguhan yang menarik datang dari Ring of Fire Project. Unit musik pimpinan Djaduk Ferianto itu juga mengajak Bonita sebagai penyanyi tamu, plus Ricad Hutapea selaku peniup saksofon. Mereka mengawali set dengan lagu perjuangan “Sorak-Sorak Bergembira” yang disambut gempita suara lantang dari tribun penonton. Ring of Fire Project juga memainkan komposisi mereka sendiri yang terdengar sangat rancak dan menarik – mulai dari “Sasaji Nagari”, “Ritma Khatulistiwa”, sampai interpretasi lagu klasik “Summertime” yang dikasih judul “Semartem”.

Memasuki malam, bulan muncul dalam corak yang kekuningan dan nyaris bulat sempurna di atas langit. Jelas semakin menambah daya magis dari atmosfir pertunjukan malam itu. Cukup indah dipandang mata, apalagi dalam suasana yang intim seperti saat itu.

Pada jajaran tribun tersebar aneka ragam penonton yang tampaknya datang dari berbagai kota di Indonesia. Mulai dari anak muda, usia paruh baya, orang-orang tua, bahkan rombongan keluarga tampak hanyut semuanya dalam atmosfir Jazz Gunung kali ini.

Seperti penonton yang lain, kami berlima pun cukup menikmati suasana malam itu. Menikmati musik sambil menebar senyum ke mana-mana. Menyapa teman-teman yang kebetulan juga hadir di sana. Sesekali, tentu saja, kami mengambil gambar ke beberapa sudut venue yang selalu tampak fotogenik, atau bahkan ber-selfie bareng-bareng. Eh, wefie ya itu istilahnya?!…

Di atas panggung, sudah ada Dwiki Dharmawan yang duduk tenang memainkan pianonya. Kali itu, ia berkolaborasi dengan sejumlah musisi asal Australia dan proyek tersebut diberi nama Indonesian – Australia Jazz Connection. Mereka mengawali dengan lagu tradisional “Gambang Suling” dalam versi instrumental jazz, dan dilanjutkan dengan beberapa komposisi jazz yang cukup rumit tapi tetap istimewa.

Salah satu yang paling ditunggu-tunggu dan menjadi highlight pada hari itu adalah penampilan Ermy Kulit. Biduan jazz yang aktif sejak era 80-an itu menyanyikan sejumlah hits seperti “Pasrah”, “Tergoda”, “Kasih” hingga lagu klasik milik 2D, “Masih Ada”. Aksi tante Ermy Kulit yang santai dan humoris itu terasa epik, khususnya bagi penonton yang dulu sempat mengakrabi lagu-lagunya.

Di penghujung acara, ada komplotan ska/reggae yang didatangkan dari kota Jogja. Siapa lagi kalau bukan Shaggy Dog. Heruwa dkk melantunkan beberapa nomor seperti “Anjing Kintamani”, “Lagu Rindu”, “Damai Sejahtera”, “Jalan-Jalan”, hingga “Di Sayidan”. Suasananya sontak pecah saat itu. Sebagian penonton maju mendekati panggung dan bergerombol. Ikut berdansa dan bernyanyi bersama. Tidak salah, aksi Shaggy Dog sanggup bikin Jazz Gunung di hari pertama mencapai klimaks-nya. Seru.

Kelar pertunjukan yang hangat sekaligus dingin, tanpa menyisakan keringat, kami pun kembali ke penginapan dengan wajah puas dan hati lega. Hari pertama cukup lancar dan membahagiakan. Udara dingin di tengah malam memaksa kami untuk segera tidur dan bermimpi menyambut keseruan apa lagi yang akan terjadi esok hari…

Harmoni Musik, Alam dan Manusia
Di hari kedua, Sabtu (20/08), kami awali dengan bersantai di penginapan hingga lepas siang hari. Kami mengkondisikan fisik, peralatan, dan kamera demi kenikmatan menonton Jazz Gunung yang lebih maksimal. Saya menyeduh kopi, Nana sibuk dengan laptop-nya, sementara Boncel dan Gimbul banyak mengutak-atik file dari kamera mereka. Kawan kami dari Jakarta, Kurniawan, menghabiskan siang dengan mengunjungi air terjun Madakaripura yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap.

Sekitar jam tiga siang, kami menumpangi minivan menuju areal pertunjukan. Cuaca hari itu cenderung lebih cerah, hangat dan bersahabat. Selama perjalanan satu jam itu kami bisa memandangi panorama pegunungan, hutan, serta perkebunan yang tersebar di kanan-kiri jalan. Sampai di lokasi, kami segera menukarkan tiket dan langsung masuk ke dalam venue.

IMG-20160822-WA0021

Jazz Gunung di hari kedua tampaknya lebih ramai dan padat. Mungkin karena hari libur akhir pekan sehingga lebih banyak yang datang daripada kemarin. Deretan tribun terlihat lebih sesak dengan penonton yang beraneka ragam. Jika kemarin kami mengambil tempat di area festival sebelah kanan, maka pada hari kedua kami mencoba berada di sisi kiri demi spot pertunjukan yang berbeda.

Di atas panggung sudah tampil Nial Djuliarso Trio feat. Arief Setiadi dengan komposisi jazz-nya yang lembut. Dilanjutkan kemudian oleh Ring of Fire Project yang manggung lagi dengan repertoar yang nyaris sama dengan penampilannya di hari kemarin. Duet MC Alit dan Gundi terus saja mengocok perut penonton dengan stok banyolan lokalnya yang khas dan seakan tidak pernah ada habisnya. Mereka sungguh kocak dan sinting.

Di sela-sela pertunjukan, para penggagas Jazz Gunung – Sigit Purnomo, Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto – mengundang Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul, untuk maju ke atas panggung. Mereka berbincang santai penuh humor serta mengutarakan harapan demi kelangsungan Jazz Gunung yang lebih baik lagi ke depannya. Dalam momen itu juga disampaikan sebuah penghargaan atau award bagi legenda jazz Indonesia, (alm) Ireng Maulana, yang diterima langsung oleh anak beliau.

Shadow Puppets tampil mempesona di atas panggung mengusung lagu-lagu lawas dalam komposisi musik yang modern. Band yang telah merilis album bertajuk Indonesian Songbook itu sukses menggubah komposisi lagu karya Iskandar dan Sam Saimun sehingga terdengar lebih pop dan kekinian.

WP_20160820_015

Di penghujung acara, ada The Groove yang mengajak penonton untuk having fun bersama lagu-lagu rancaknya. Penampilan kelompok acid jazz yang digawangi Rieka Roeslan dan Reza itu cukup menghibur ribuan kepala dan bikin gelombang dansa di sepanjang tribun. Aksi mereka sekaligus menutup gelaran Jazz Gunung 2016 yang berlangsung seru dan menyenangkan.

Hari kedua ini terasa terlalu singkat, tapi kami cukup puas. Kami berlima lalu menuju ke area panggung, berkumpul bersama kawan-kawan lain, dan berfoto bersama. Memang benar, secara keseluruhan momen Jazz Gunung ini sanggup memadukan musik, alam dan manusia dengan harmonis.

IMG-20160822-WA0029

Menatap Puncak Abadi Para Dewa
Hari ketiga, Minggu (21/08), merupakan momen spesial untuk menjelajahi pesona Gunung Bromo dengan segala panorama ajaib yang ada di sekitarnya. Perjalanan kami berlima mulai sejak jam dua dini hari demi menyambut matahari terbit di puncak Gunung Pananjakan.

Dari penginapan di Sukapura, kami meluncur menumpangi jeep offroad dan melewati pos Cemoro Lawang, Lautan Pasir, Bukit Dingklik, hingga sampai di Pananjakan sekitar jam empat subuh. Di puncak Pananjakan, kami langsung mencari spot terbaik untuk merekam detik-detik sunrise. Syukurlah kami mendapatkan tempat yang cukup ideal. Di depan kami adalah panorama Lautan Pasir, Padang Savana, Batok, Bromo, dan Semeru dalam potret klasik yang paling sempurna – seperti yang sering kita lihat pada foto/gambar di kalender atau kartu pos yang berjudul “Bromo”.

WP_20160821_001

Setelah puas menikmati sunrise sembari foto-foto dan merekam video, kami kembali ke parkiran jeep. Rute berikutnya adalah turun melintasi lautan Pasir dan Gunung Batok, serta berjalan kaki menuju kawah Gunung Bromo. Selepas turun dari Kawah Bromo, kami menaiki jeep dan menyusuri Lautan Pasir, Pasir Berbisik, Padang Savana, hingga sampai di Bukit Teletubbies.

InstagramCapture_86b1ee2b-fca9-4c2a-87a2-44d0b81d272a

Aktifitas offroad di kawasan Bromo itu sekaligus menandai akhir dari trip kami yang menyenangkan. Siang itu juga, kami kembali ke penginapan, packing dan meluncur pulang ke kota Malang menumpangi minivan andalan.

Sungguh tiga hari dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan. Tidak sabar menanti bakal ada petualangan apalagi bersama Momotrip ke depannya.

So jazzy, cloudy, and happy. Yeah, we’re having fun!

IMG-20160822-WA0107

 

Thanks buat Nana, Boncel, Gimbul, dan Kurniawan selaku kolega trip yang seru. Trims juga untuk Mas Ari dan Momotrip atas kesempatan serta servis yang memuaskan. Ayo lagi!

Semua foto oleh dijepret oleh tim kami, secara acak. Oya, momen-momen menarik selama trip kemarin bisa disimak juga melalui vlog karya Boncel di sini ;