Nostromo_Self_Destruct

Ini hanya soal apa saja yang saya konsumsi selama satu-dua pekan belakangan. Mulai dari singel Metallica yang (masih) kurang memuaskan, buku hip-hop yang penuh nyali, debut band hardcore dari kampung sebelah, hingga ketulusan hati saya untuk memutar Monokrom.

Hardwired – Metallica
Band kesukaan saya ini kemarin cukup jumawa memamerkan lagu barunya. Tapi sayang, saya kurang suka. Entah kenapa, ini masih jauh di bawah ekspektasi saya. Ekseskusi sound di album terakhirnya, Death Magnetic, saya rasa masih lebih aman. Yang ini? Eeerrrgh. Ayolah Papa Hetz, sekelas Metallica kudunya bisa lebih dari sekedar ini – atau tidak perlu terlalu seambisius ini juga.

Pariah – Warmouth
Hardcore punk dalam format yang paling gelap dan sarat amarah. Hitam, keras, tegas, kelam. Beringas!

Lullabies For Insomnian – Pronks
Sekumpulan mahasiswa berambut panjang yang memutuskan untuk malas kuliah dan memainkan musik rock saja. Ini proposal skripsi mereka. B+.

Dekadensi Dunia – Hand of Hope
Ini jagoan baru dari kampung halaman saya. Hardcore ketemu metal tepat di persimpangan yang padat tanpa polisi pengatur lalu lintas. Uniknya malah tidak macet atau tabrakan, justru saling salip.

Hugger Mugger – Chewing Sparkle
Indie rock patah-patah dengan vokal sengau dan manuver musik yang sulit ketebak. Post-everything-you-can-named-it.

The Shape of Punk To Come – Refused
Tiga hari terakhir ini, The Shape of Punk To Come selalu ada di playlist saya. Mengalun sejak sore sampai larut malam. Saya jadi sering mendengarkan album ini lagi dan tetap terpesona dengan semua sisi yang diusung Dennis Lyxzen dkk. Itu gara-gara dipicu oleh buku brengsek yang sedang saya baca di bawah ini…

Setelah Boombox Usai Menyalak – Herry Sutresna
Ya, buku ini yang memicu saya untuk mendengarkan kembali Refused. Juga sempat memutarkan lagi album lama Beastie Boys, Balcony, dan GY!BE. Mirip seperti yang diutarakan oleh penulis dalam pengantar bukunya ini, di halaman 8, “Bagi saya, menulis tentang rapper favorit, album punk yang menggugah, obituari para pelopor atau perjalanan menemukanband-band ajaib seperti Godspeed You! Black Emperor itu hampir persis seperti pengalaman mendengarkan musik itu sendiri…” Ya, saya sangat sepakat, bung. Kalian kudu punya buku ini. Kalau kehabisan, segera curi dari rak buku kawanmu!

Simulakra Sepakbola – Zen RS
Orang ini bisa menulis topik sepakbola dari momen Piala Dunia sampai Liga Antar Kampung dengan sama baiknya. Cermat, jitu dan seindah konsep Tiki-Taka.

50367844_3ac965e2-a829-4668-9a61-ab8332f98a13

Monokrom – Tulus
Oke, silahkan tertawa sinis, atau menghujat kuping saya. Sejujurnya, ini pertama kalinya saya mendengarkan Tulus secara satu album penuh – dan saya putar berkali-kali. Alasannya cukup sederhana sih. Begini, selaku ‘pemasok’ tiga album Tulus di Malang (via @demajors_mlg) selama ini, saya cuma heran dan penasaran betapa hebohnya respon masyarakat terhadap musisi ini. Sebagus apa sih musiknya? Alhasil, saya nekat membuka segel CD Monokrom dalam kesunyian. Iya sih, ternyata gak buruk juga. Kayaknya lebih bagus daripada dua album sebelumnya. Setidaknya ini bisa jadi sebuah ‘product knowledge’ bagi saya. Eh tapi, siapa lagi yang butuh penjelasan tentang (musik) Tulus? Mbak-mbak berhijab yang hampir tiap hari datang dan membeli Monokrom dengan wajah berseri itu? Saya pikir tidak. Saya saja yang terlambat.

Fantasy Premier League
Ha! Iya, Liga Inggris baru dimulai. Setelah gagal cita-cita sejak bocah untuk jadi pemain bola, mending sekarang saya bermimpi jadi manajer klub saja. Mari berfantasi, semusim penuh hingga tahun depan.

fantasy-football-meme

Salam Olahraga, dan tiga jari di udara!…