WP_20160717_003

Sebab Minggu adalah hari yang tepat untuk menata kembali rak CD dan kaset…

Hari Minggu (17/07) kemarin, sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk menata ulang rak CD dan kaset. Belakangan ini memang agak berantakan dan campur aduk karena frekuensi memutar album musik yang cukup intens, disambung kemalasan untuk mengembalikan CD dan kaset ke tempat semula.

Menata rak koleksi rekaman memang selalu menyenangkan, sekalipun cukup merepotkan kalau jumlahnya ratusan keping. Apalagi saya bersikeras menatanya urut berdasarkan abjad, in alphabetical order. Itu sih sebenarnya metode yang masih biasa dan relatif mudah. Seorang music snob gila sejarah yang digambarkan dalam film High Fidelity malah berniat menata koleksi rekaman musiknya in chronogical order, atau berdasarkan tahun rilisnya. Damn, itu tentu lebih memusingkan.

Dari proses menata ulang rak koleksi CD dan kaset barusan, saya jadi sadar bahwa; Pertama, saya butuh rak yang baru, ini sudah tidak cukup lagi. Kedua, saya jadi sadar juga kalau ternyata setahun belakangan ini bujet #jajanrock saya lebih banyak dihabiskan untuk melengkapi diskografi album dari beberapa nama musisi dan band tertentu.

Ini menarik. Ternyata saya baru menikmati secara serius musik mereka, dan baru sadar kalau bagus sekali serta wajib dikoleksi semua albumnya. Sebenarnya sudah kenal lama dan pernah mendengar lagu hits atau album pentingnya saja. Yah, cukup terlambat juga sebenarnya.

Alhasil, setelah terpincut dengan satu musisi atau album yang bagus, maka rilisan mereka lainnya pun saya kejar dan buru di berbagai lapak dan kesempatan. Perburuan yang santai sih sebenarnya. Sedapatnya saja, itu pun musti dengan harga yang fair dan masuk akal.

Lagipula, album-album mereka tampaknya tidak terlalu sulit untuk dicari dan tidak termasuk kategori langka. Artinya, saya tidak perlu beli versi impor atau lewat eBay, misalnya. Sebagian besar album mereka bahkan pernah dirilis di Indonesia. Ini yang cukup melegakan serta memudahkan. Saya cukup bersabar dan rajin mengintip koleksi lapak di darat maupun di udara. Kalau kebetulan nemu, harganya cocok, ya dibeli. Sesederhana itu.

Beruntung sekarang kayaknya sudah tidak terlalu banyak lagi album rekaman mereka yang perlu saya buru – berdasarkan informasi dari situs Discogs dan Wikipedia. Berikut nama-nama musisi/band yang menjadi penting di mata saya, beserta satu albumnya yang rajin diputar belakangan ini…

Chrisye
Album yang terakhir dibeli ; Percik Pesona (1979)
Sejauh ini, saya hanya fokus membeli album-album lawas Chrisye saja, apalagi yang ada relasi dengan Jockie Suryoprayogo. Itu pun ternyata sudah panjang sekali daftarnya. Sungguh, musisi Indonesia yang hebat.

Counting Crows
Album terakhir yang dibeli ; Saturday Nights & Sunday Mornings (2008)
Saya kenal band ini dari dulu, tapi semenjak membaca semua lirik Adam Duritz dan mencermati cara ia bernyanyi atau bernarasi, saya memutuskan untuk membeli semua album mereka. Ya, Amerika terasa dekat sekali kalau saya memutar musik dan menyimak lirik band ini.

David Bowie
Album terakhir yang dibeli ; Never Let Me Down (1987)
Ada kesedihan yang hebat saat saya mulai mengkoleksi album-album David Bowie dan tiba-tiba pada suatu hari mendapat kabar bahwa ia meninggal dunia. Bahkan itu terjadi di kala saya belum sempat membeli album terakhirnya, Blackstar.

Duran-Duran
Album yang terakhir dibeli ; Duran- Duran / Wedding Album (1993)
Berhubung untuk mengkoleksi Depeche Mode atau New Order itu masih terlalu merepotkan, maka saya mendengarkan Duran-Duran saja. Lagipula, I can dance to it.

Faith No More
Album yang terakhir dibeli ; Album of The Year (1997)
Hampir dua puluh tahun mengenal band ini, dan baru saja saya berhasil melengkapi semua diskografinya. Ya, akhirnya…

Fariz RM
Album terakhir yang dibeli ; Panggung Perak (1981)
Mengkoleksi diskografi Fariz RM adalah sebuah pertaruhan yang besar. Selain terlalu banyak, sebagian juga agak susah untuk dicari. Kalau saya punya satu keping saja versi vinyl-nya, oh alangkah bahagianya.

Manic Street Preachers
Album yang terakhir dibeli ; Lifeblood (2004)
Menjadi wajar jika saya kemudian cenderung ikut mendukung kesebelasan Wales di ajang Euro 2016 kemarin. Apalagi, band ini juga suka sepakbola dan membuat lagu khusus yang bagus untuk timnas negaranya.

Midnight Oil
Album terakhir yang dibeli ; Flat Chat (2006)
Saya baru kenal band politis asal Australia ini sekitar tiga bulan belakangan gara-gara sampul album Redneck Wonderland yang cukup mengintimidasi. Albumnya memang banyak berkeliaran di toko musik atau lapak-lapak di sekitar. Biasanya dijual murah juga, mungkin karena stoknya berlebih dan tidak banyak yang doyan band ini.

REM
Album terakhir yang dibeli ; Live At The Olympia (2009)
Deretan album REM memang selalu menggiurkan. CD yang terakhir saya beli ini dipajang pada sebuah rak di salah satu kios di Blok M Square, Jakarta. Tidak butuh waktu lama, tawar-menawar harga pas tancap gas.

Rush
Album terakhir yang dibeli ; Hold Your Fire (1987)
Saya mendapat kaset Hold Your Fire dari sebuah kios di Jatinegara (Jakarta) dengan harga yang cukup moderat. Saat ini sedang memburu album-album mereka yang ‘kebingungan’ di era Geddy Lee keranjingan synthesizer dan new wave.