stockercd

The Stocker – DansApokalips
Playloud Records

Sejak track pertama, “Kenyataan Bagai Belati” mengalun, The Stocker mengemudikan musik rock dengan tabiat punk yang penuh gelora. Sekilas mengingatkan pada The Brandals atau Ramones, lengkap dengan celana ketat dan jaket kulitnya. Koor pada bagian akhir refrain, “Kenyataan bagai belati, tajam menghunus menusuk hati. Kenyataan bagai belati, terus menghunjam bertubi-tubi…” terdengar kuat sekaligus perih. Ironi.

“Dilema Simalakama” seperti meminjam secawan post-punk dan new wave milik The Upstairs yang paling anarkis, plus gaya bernyanyi ala FSTVLST yang penuh wibawa. Pada lagu ini mereka menyatakan lelah berbicara soal norma dan dogma yang berlaku di masyarakat. Satu-satunya lagu berlirik bahasa Inggris, “Afraid” tidak banyak menyimpan kejutan. Kecuali pengaruh The Strokes yang kental dan grammar sederhana, yang menurut saya mereka musti kembali menulis dalam bahasa Indonesia saja.

Sampul depan sebuah album musik yang memancarkan gambar siluet personilnya selalu menyimpan sisi misterius dan rasa penasaran yang menarik. Sayang eksekusi sleeve cover-nya kurang apik. Lay out-nya tampak asal-asalan atau mungkin dikejar deadline percetakan. Lantas, bukankah ukuran font yang terlalu besar itu justru menghabiskan ruang? Terus terang, desain artistik sampul DansApokalips agak mengurangi nilai estetika dan potensi album itu untuk bisa menari lebih jauh.

The Stocker mengadopsi punk rock yang ngeyel plus riff-riff heavy metal pada salah satu nomor terbaiknya, “Hidup Dalam Terror Waktu”. Ada kejutan porsi musik yang agak psikedelik pada bagian akhir lagu ini. Mereka juga menuliskan punchline yang menarik seperti “Persetan para peramal garis telapak…” pada barisan lirik yang terus menggerutu tentang kegelisahan hidup.

Trio asal Jakarta itu lantas memacu protes lewat “Menunggu Mati” yang berisi penolakan dan ketidaksepahaman dengan korporasi – yang kerap bersekongkol dengan aparat dan birokrat. Tembang ini juga menyimpan potensi koor yang seru untuk di moshpit, serta memiliki ending yang memukul.

“Bangsat Permanen” memaki dengan keras ketika bendera partai politik mulai berkibar, para voluntir (yang berbayar maupun sukarela) direkrut, serta mobilisasi massa demi kepentingan meraup simpati dan suara. Sungguh jeli, sebuah isu yang menarik untuk diangkat.

The Stocker mengemas enam lagu tadi dalam produksi sound yang cukup aman, meski sebetulnya mereka bisa lebih menggebrak lagi. Kadangkala, sound drum terdengar terlalu menonjol di depan, sementara sektor gitar yang dimainkan secara apik justru kerap ketinggalan di belakang. Itu masalah tehnis yang musti diselesaikan ke depan, pada karya mereka selanjutnya.

Setiap lagu seperti dikemas dalam formula yang baku. Kadang terdengar nyaris sama atau mungkin monoton. Itu bukan masalah yang besar bagi kuping yang tetap memaklumi Ramones, Motorhead, atau band-band punk rock tradisional. Namun kemiskinan hook dan manuver musikal tentu bisa berdampak pada kebosanan. Sampai sini, beruntung masih kadang terselamatkan oleh beat-beat akrobatik yang dimainkan oleh porsi bass dan gitar di beberapa lagu.

The Stocker telah mengaduk musik rock, garage dan punk dalam komposisi mars yang resah dan sarat amarah. Sebagai debutan, DansApokalips setidaknya dapat menjadi opsi baru dalam kumpulan mars menuju maut – dengan atau tanpa tarian akhir jaman.

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs musik Supermusic.ID

http://supermusic.id/superbuzz/the-stocker–dansapokalips–playloud-records