tmr45
Photo by Hendisgorge / The Metal Rebel

Konsentrasi massa penggemar musik cadas sedang berkumpul di ujung utara kota Jakarta sepanjang hari Minggu itu, 17 April 2016. Sedari siang hari, ribuan metalhead dengan dandanan khas yang dominan kaos hitam berdesain artwork dan logo band favorit mulai tampak memasuki area Taman Impian Jaya Ancol. Mereka datang dari berbagai pelosok demi menyaksikan hajatan besar bertajuk Hammersonic Festival 2016 yang diadakan di area Ocean Eco Park, Ancol.

Di sepanjang hari itu, ada empat panggung yang memanaskan Hammersonic ; Hammer Stage dan Sonic Stage sebagai panggung utama yang berdiri kokoh berdampingan di area festival, lalu ada Soul of Steel yang berformat indoor di dalam Econvention Hall, serta Extreme Moshpit yang berformat gigs kecil, tanpa barikade dan paling urakan tak ubahnya seperti desa Galia di tengah kepungan Romawi.

Sehari sebelumnya, 16 April, sebenarnya sudah ada aktivitas dalam rangkaian Hammersonic Festival 2016. Panggung Soul of Steel dan Extreme Moshpit sudah menyalak bersama aksi sejumlah band lokal seperti Noxa, Koil, Dead Vertical, Power Punk, Turtle Jr, Blind To See, Jasad, dan banyak lagi.

Pada hari pertama itu juga ada beragam sesi talkshow atau konferensi metal yang mengundang musisi, label, dan agen band metal kaliber internasional. Di situ pula untuk pertama kalinya digelar ajang Hammersonic Award sebagai bentuk apresiasi dari penyelenggara Revision Live terhadap para insan musik metal yang dianggap telah menginspirasi komunitas dan industri musik keras di Indonesia.

Pada hari Minggu, sekitar jam dua siang, unit grindcore asal kota Malang, Extreme Decay, sudah menyulut kebisingan di panggung Soul of Steel. Formasi Extreme Decay saat itu ibarat sebuah reuni line-up klasik. Gitaris lawas mereka, Ravi, sengaja datang dari Pekanbaru dan turut tampil bersama kolega lawasnya di atas panggung.

Tanpa basa-basi, vokalis Afril yang hari itu memakai kaos Disrupt menyuarakan lagu demi lagu secara lantang. Diapit gitaris Rully yang berkaos Phobia dan Yuda dengan flanelnya yang anggun, mereka menggeber banyak repertoir dari album Sampah Dunia Ketiga hingga Holocaust Resistance. Drummer Eko tampak kokoh menjaga beat bahkan dalam tempo terkerasnya dari sektor belakang. Set yang singkat dan intens.

Jelang sore hari, di panggung utama sudah berdiri para personil Internal Bleeding yang bermain rapat dan penuh presisi. Sonic Stage seperti berguncang keras dihantam alunan musik death metal yang penuh imej kekerasan dan bobot berat. Band kugiran asal Amerika Serikat tersebut tampil cukup meyakinkan.

Di panggung sampingnya kemudian, berdiri kokoh Hammer Stage yang membawa kejayaan musik thrash metal melalui penampilan Onslaught. Sejak awal, logo band yang dipamerkan pada layar belakang panggung itu sudah cukup mengintimidasi. Perawakan sang vokalis Sy Keeler yang tinggi kekar berambut gondrong keperakan sudah mirip seperti karakter Saruman dalam serial The Lord of The Rings. Namun pria tua itu tetap enerjik, penuh semangat dan kerap mengumbar senyum kepada crowd.

Sang gitaris Nige Rockett memberi kesan angker dengan bodi gitar hitamnya yang bertuliskan “Viva La Hate”. Tempo musik terus dijaga oleh sang bassist Jeff Williams yang berkaos sporty ala kostum American Football serta drummer botak berkacamata hitam, Mike Hourihan, yang agak mengingatkan pada sosok Mickey Knox dalam film Natural Born Killers.

Band asal Bristol (UK) itu menggeber sejumlah nomor klasik, seperti “Let There Be Death”, “Metal Forces”, “66Fuckin’6”, hingga lagu kover “Bomber” milik Motorhead untuk menghormati mendiang Lemmy Kilmister supaya tenang di surga, atau neraka, atau pada suatu tempat di antara itu.

Jangan ditanya suasana di bawah panggung sana. Di arena moshpit cukup seru dan menyenangkan. Beberapa wajah berumur dengan dandanan kaos metal dan jaket jins yang penuh emblem tampak bahagia serta bersuka ria bisa menonton langsung band idola mereka yang eksis sejak era 80-an itu. Relasi antara musik thrash metal dengan penggemarnya memang selalu menyenangkan.

Bergeser ke Sonic Stage, ada pengusung musik tech/prog death metal bernama Obscura. Menonton aksi band asal Jerman itu seperti menikmati sajian musik cadas lintas galaksi. Begitu brutal sekaligus spacey. Komposisi musiknya sangat presisi ditunjang dengan skill yang mumpuni di semua instrumen. Pada beberapa bagian ada bunyi sampling ala Nocturnus atau Cynic. Selama hampir tiga puluh menit itu juga crowd dipaksa agak tenang dan fokus untuk menyimak nomor-nomor penting dari album Cosmogenesis hingga Akroasis.

Ketika Darkest Hour tampil menghajar panggung utama, hujan mulai turun dari langit. Sebagian penonton terpaksa lari meyelamatkan diri dan mencari tempat yang teduh. Spot yang paling aman tentu saja balik ke area indoor atau merapat ke Extreme Moshpit Stage. Tepat saat itu juga, ada dedengkot musik hardcore/metal asal Jakarta, Paper Gangster, yang sedang memanaskan panggung Extreme Moshpit dalam kondisi hujan.

Sementara dari dalam Econvention Hall, berturut-turut terdengar aksi Taring dan Hellcrust yang menggeber lagu-lagunya. Konon, katanya dua band itu tampil apik di dalam sana. Puncaknya justru ketika Burgerkill manggung di indoor stage. Kebetulan hampir semua penonton sedang berteduh di dalam Econvention Hall sehingga ruangan menjadi lebih sesak dan otomatis seru.

Ebenz dkk mengusung beberapa nomor mulai “Penjara Batin” hingga “Shadow of Sorrow”. Namun highlight-nya adalah ketika mereka mengkover lagu “Air Mata Api” milik Iwan Fals yang dikemas lebih keras dan tajam. Rasanya, lagu balada belum pernah bisa sekeras dan seanggun itu sebelumnya.

Hujan tampaknya mulai reda di area festival. Banyak penonton yang berjalan kembali ke sana. Tepat saat itu Walls of Jericho sudah beraksi di atas Hammer Stage. Band ini selalu tampil memukau. Masih seperti penampilan mereka sebelumnya di Indonesia, Candace Kucsulain dkk mempertontonkan performance yang tangguh lewat stok lagu “A Trigger Full of Promises”, “American Dream”, sampai “Revival Never Goes Out of Style”.

Leave Eyes memainkan musik goth-metal yang tidak begitu menarik di telinga, setidaknya bagi saya. Terdengar agak datar dan membosankan. Suasana sedikit terselamatkan ketika Gorgoroth naik ke atas panggung. Aura panggung sontak menjadi lebih dingin dan kelam. Band black metal asal Norwegia itu menyuarakan lirik-lirik blasfemik dengan kecepatan dan kebengisan yang cukup pekat melalui setlist yang ditata mulai dari “Bergtrollets Hevn”, “Forces of Satan Storms”, hingga ditutup dengan “Kala Brahman”.

Disambung kemudian oleh Drowning Pool yang beraksi di Sonic Stage. Sayang, tipikal musik nu-metal agak susah diandalkan untuk bisa mengangkat suasana. Aksi mereka tidak buruk, namun memang tidak banyak membantu atmosfir festival musik metal yang diharapkan crowd hari itu.

Justru Asking Alexandria yang bikin festival musik ini makin layak untuk diperhatikan. Band asal Amerika Serikat itu tampak digilai oleh anak-anak muda yang baru menginjak usia 20-an. Bahkan tidak sedikit juga fans perempuan yang nekat merangsek mendekati panggung, ikut berjingkrak dan bernyanyi lantang bersama.

Performa Asking Alexandria kudu diakui cukup menghibur dan mempesona. Menonton aksi panggung mereka secara keseluruhan sudah membuktikan kalau Asking Alexandria memang sebenar-benarnya band panggung yang bagus dengan jam terbang yang tinggi. Semua sisi produksi mereka tampak begitu terkonsep dan tertata dengan baik – mulai dari penggunaan intro dan sampling musik, tata lampu yang seirama lagu, setlist yang pas, hingga blocking act yang menarik dari setiap personilnya.

Lepas dari situ, kebosanan melanda sebagian penonton saat Angra tampil terlalu lama di atas panggung. Musik power/speed metal yang mereka tawarkan sebenarnya apik. Hanya saja, band asal Brasil itu tampil di momen yang kurang tepat dan banyak menyita durasi di tengah malam yang larut. Pada beberapa lagu yang terdengar seperti rock ballad atau slow-rock membuat sejumlah penonton memilih untuk duduk di atas rumput, atau bahkan tertidur?!…

Di penghujung festival, dalam sisa durasi yang pendek, adalah mutlak milik Suffocation. Pionir death metal asal New York (USA) itu sudah tiga kali menggung di Indonesia, dan semuanya berkesan di hari penggemarnya. Kali ini Suffocation datang tanpa vokalis asli mereka, Frank Mullen, yang sudah memutuskan hanya akan aktif di sesi studio dan tidak dapat ikut tur lagi.

Untuk sesi panggung Suffocation, mikrofon di-handle penuh oleh Ricky Myers, kawan baik mereka yang sekaligus vokalis Disgorge. Corak vokalnya sebenarnya tidak mengecewakan. Cukup pas dan sesuai dengan musik Suffocation. Hanya saja, terkadang sangat aneh menonton Suffocation tanpa kehadiran Frank Mullen. Itu bisa terjadi pada fans lawas mereka yang tumbuh dan besar bersama album Breeding The Spawn atau Effigy of The Forgotten, misalnya.

Suffocation menggeber sejumlah track favorit seperti “Catatonia” dan “A Grace Descends”. Sayang, suara gitar Terrance Hobbs kerap hilang dan beberapa kali terkena gangguan. Tapi secara garis besar, aksi Suffocation cukup intens dan apik. Langit masih mendung ketika lagu terakhir “Infecting The Crypts” berkumandang dari atas panggung. Mengantarkan ribuan metalhead untuk kembali pulang ke rumah, atau ke daerah asalnya masing-masing. Ini memang terlalu singkat. Tapi seharian tadi memang cukup padat dan memukul.

Sampai jumpa lagi di Hammersonic Festival tahun depan. Tentunya di moshpit!… \m/

 

*Special thanks to Revision Live and Hammersonic Festival team ; Ravel, Krisna J Sadrach, Stephanus Adjie, Aldila Karina, and all the guys on the pit. You’ve done a great works!…

*Ulasan ini sebelumnya dimuat pada situs metal yang berbasis di Swedia, The Metal Rebel, dalam dua versi bahasa; Indonesia dan English. Cek juga stok foto jepretan Hendisgorge pada situs tersebut. 

http://themetalrebel.com/blog/hammersonic-festival-full-report/