ED4 - dok. Extreme Decay
dok. extreme decay

Setiap kali berada di backstage Extreme Decay, saya kerap melihat pemandangan yang sama; vokalis humble yang berjalan ke sana ke mari menyapa kawan-kawannya, drummer bertubuh gempal yang sibuk mengutak-atik asesoris drum, pria pendiam yang jongkok di pojok sambil memeluk stang bass-nya, serta gitaris bertubuh mungil yang suka menebar senyum kepada siapa saja.

Sementara para roadies dan kenalan dekat mereka biasanya lebih cair. Berbincang. Bercanda. Saling berbagi cerita, tawa, dan juga botol minuman. Seperti itu biasanya suasana backstage Extreme Decay, beberapa menit sebelum mereka tampil sesuai rundown.

Di atas panggung kemudian, Extreme Decay selalu bermain efisien dan efektif. Singkat dan padat. Tidak banyak omong dan hanya komunikasi seperlunya dengan penonton. Menggeber belasan lagu dalam durasi kurang dari 30 menit. Itu saja sudah penuh dengan peluh keringat dan histeria. Hanya ada satu kata untuk live show mereka; Intens.

Salah satu pencapaian terbesar dan luar biasa dari sebuah band, menurut saya, adalah ketika karya lagunya – secara sadar dan sukarela – dibawakan ulang oleh musisi lain. Terlebih jika direkam dan dirilis dalam bentuk album tribut. Mendapatkan apresiasi semacam itu nilainya mungkin lebih ‘menghangatkan hati’ daripada (sekedar) menjual ribuan kopi album, menjadi headliner dalam satu malam, atau meraih award dari sebuah ajang penghargaan musik.

Bicara soal album tribut, saya pikir itu bukan sekedar proyek main-main atau wacana omong kosong. Di situ ada kasus band yang dianggap cukup menginspirasi, dan kumpulan musisi atau fans yang mengaku jujur bahwa mereka terinspirasi. Selebihnya adalah misteri. Bisa jadi karena ada relasi yang cukup baik, partisipasi aktif, atau mungkin rasa segan dan penghormatan. You named it.

Tapi satu hal yang pasti, tidak semua band itu lalu pantas untuk mendapatkan ‘tribut’ – baik dalam bentuk rilisan album maupun momen pertunjukan. Keputusan untuk itu tidak selalu dihitung dari berapa usia band tersebut, jumlah diskografi, panggung musik atau trofi yang telah dihasilkan.

Memang tidak ada rumus pastinya kapan suatu band itu sudah layak di-‘tribut’-kan. Tapi bagi sebagian besar pihak dan fans, dengan pemahaman yang cukup tinggi dan sadar, sudah tahu kapan saat yang tepat untuk ‘mengalungkan’ tribut kepada sebuah band atau sekelompok musisi yang mereka anggap pantas.

Alhasil, hanya sedikit band di ranah musik independen Indonesia yang sudah pantas mendapatkan hal tersebut. Jumlahnya makin sedikit lagi jika menyasar pada band-band underground-metal yang biasa memainkan genre musik yang ekstrim.

Dan band yang akan saya ceritakan ini mungkin termasuk salah satu yang pantas di antara jumlah yang sedikit itu…

ED1 - Dok Playloud Recs
dok. playloud records

Enam belas tahun lalu, di kota Malang, beberapa anak muda berusia awal 20-an dan masih baru duduk di bangku kuliah memutuskan untuk bikin band beraliran musik ekstrim yang paling simpel dan lugas. Entah motifnya apa. Sebelumnya mereka sudah khatam mendengarkan segala jenis musik rock dan metal. Singkat cerita mereka tiba-tiba jatuh cinta pada genre musik seperti yang dimainkan oleh Napalm Death, Amebix, Repulsion, Terrorizer dan Brutal Truth.

Itu terjadi pada awal tahun 1998, ketika masyarakat, aktivis dan mahasiswa mulai jengah dengan pemerintahan yang represif. Tahun itu memang dikenal penuh dengan konflik dan darah di hampir seluruh pelosok negeri ini. Demonstrasi ada di mana-mana. Mahasiswa turun ke jalan. Aparat merespon dengan galak. Beberapa tokoh aktivis diculik dan diamankan. Kerusuhan masal pun terjadi. Hingga akhirnya rakyat berhasil menduduki gedung parlemen, menggulingkan rezim Soeharto dan menuntut adanya reformasi. The rest is history, and also mystery…

Di jaman itu, musisi seperti Iwan Fals, Swami atau Slank memang sudah menyuarakan protes dan kritik sosial. Namun semua itu masih terdengar terlalu ‘lembut’ dan ‘merdu’ bagi sebagian telinga anak muda. Mungkin juga liriknya dianggap terlalu ‘santun’ untuk mereka yang tinggal di dalam kamar kost yang remang dan biasa membaca narasi-narasi singkat sarat amarah dari album Scum, Damaged, Horrified, atau World Downfall.

Anak-anak muda itu menganggap protes dan kritik akan kondisi sosial-politik harusnya disampaikan melalui bahasa yang lebih tegas dan lugas, dengan iringan musik yang lebih keras. Straight dan to-the-point. Kalau memang perlu mencaci-maki dan langsung tunjuk hidung penguasa yang tiran. Kabarnya musik keras seperti crust-punk, hardcore dan grindcore yang bisa menjalankan ‘tugas’ tersebut.

Para personil Extreme Decay mungkin sedang merasakan hal itu juga. Sebagai mahasiswa semester awal yang ngekos di daerah sekitar kampus, tentunya pemandangan demo dan protes adalah santapan mereka sehari-hari. Meski tidak terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa, mereka tetap butuh media untuk meluapkan ekspresi dan amarahnya terhadap sistem-sistem yang tiran.

Banyak pemuda memilih demo turun ke jalan dan melawan pemerintah yang represif, sebagian lagi memilih untuk menulis lagu yang paling keras dan lirik yang bisa menampar penguasa. Kebetulan, para personil Extreme Decay memilih yang kedua.

ED5 - dok. Extreme Decay
Extreme Decay live at Jogja / dok. ExDx

Sejak berdiri di awal tahun 1998, Extreme Decay langsung tancap gas tampil di berbagai gigs bawahtanah dan giat merekam materi musiknya. Kebetulan vokalis Afril adalah frontman yang dibekali wawasan luas soal musik ekstrim dan scene underground. Sosok yang ikut membidani kelahiran Mindblast fanzine ini memiliki relasi luas dan gairah korespondensi yang tinggi. Otomatis dalam waktu yang tidak seberapa lama, nama Extreme Decay sudah terdengar di mana-mana.

Imbasnya, tawaran manggung kerap hinggap ke tangan Extreme Decay. Komunitas scene underground Surabaya, Jogja, Solo, Bandung, Jakarta, hingga Bali pernah mengundang Afril dkk untuk show di kotanya. Tercatat, Extreme Decay sudah menjajal panggung besar One Blood Fest, Bandung Berisik, Rebel Fest, Obscene Extreme, Jogja Brebeg, hingga Rock In Solo – tampil bersama band-band cadas dari dalam dan luar negeri.

“Extreme Decay itu temannya banyak. Tersebar di mana-mana. Trus musiknya juga luwes. Makanya sering dapet job manggung di banyak acara. Mereka memang mudah diterima di gigs komunitas metal, punk, maupun hardcore,” ujar seorang kawan yang kebetulan dekat dengan semua personil Extreme Decay.

Sejak terbentuk, Extreme Decay sudah mengalami beberapa kali bongkar formasi. Line-up klasiknya mungkin adalah Afril [vokal], Yuda [bass], Eko [drum], dan Ravi [gitar] – yang kemudian hijrah ke Pekanbaru dan digantikan oleh gitaris Saheri [Perish/Anorma].

ED - foto by hendisgorge
Extreme Decay live at Houtenhand Mlg / Foto oleh Hendisgorge

Menurut Albert Mudrian dalam bukunya yang berjudul Choosing Death; The Improbable History of Death Metal and Grindcore, frasa ‘grindcore’ itu pertama kali diucapkan oleh drummer Napalm Death, Mick Harris. Dalam sebuah sesi wawancara, Mick Harris bertutur, “Grindcore came from ‘grind’, which was the only word I could use to describe Swans after buying their first record in ’84. Then with this new hardcore movement that started to really blossom in ’85, I thought ‘grind’ really fit because of the speed so I started to call it grindcore.”

Musik grindcore dianggap berhasil mengawinkan kekejian thrash/death metal, pola anarkis yang dibawa crusty-punk serta agresifitas ala hardcore – lalu dimainkan dalam tempo yang paling cepat serta bising. Semacam anak haram dari perselingkuhan lini-lini musik Crass, Celtic Frost, Swans, Venom, hingga Black Flag.

“Secara garis besar, kami memainkan musik grindcore!” ungkap Afril singkat saat saya wawancarai, tahun 2010 silam. “Masih di wilayah crust/hardcore/punk. Hanya saja sekarang mencoba lebih ‘berdasi’. Tambahan distorsi adalah kosmetik dari emosi kami,” sambung Yuda mengacu pada album terakhir Extreme Decay.

Semua lirik yang ditulis oleh Afril bercerita soal perang, bencana, tragedi, lingkungan, kritik sosial, dan juga politik. Baris-baris liriknya selalu tertulis singkat dan lugas. Segala imej visual dan desain artwork Extreme Decay pun tak jauh dari tema-tema itu. Kebanyakan berdesain senjata, peluru, tank, tentara, atau alat penghancur lainnya.

“Sekedar gambaran kecil akan kehancuran yang terjadi akibat ulah manusia,” ujar Afril soal konsep lirik-liriknya. “Sesimpel ini, kami tidak akan mentolerir lagi bila ternyata masih ada nama ‘manusia’ dalam daftar penyokong resmi penghancuran dunia,” imbuh Yuda yang pernah mengelola situs musik Apokalip.com dan ensiklopedia band cadas nusantara, Megavoid.

xxxxx

“Wah, ini band yang diskografinya susah untuk diingat. Rilisannya banyak banget!’ ucap Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs / Morfem, sambil tertawa saat kami bertemu pada acara Rebel Fest, di GOR Bulungan Jakarta, tahun 2008 silam. Kebetulan Extreme Decay juga mau naik panggung, malam itu.

Ucapan Jimi tadi memang ada benarnya. Hanya butuh waktu dua tahun pertama bagi Extreme Decay untuk merilis tiga album studio dan dua demo rehearsal melalui berbagai label rekaman di Indonesia maupun luar negeri. Belum lagi partisipasi Afril dkk dalam sejumlah proyek album split dan kompilasi internasional.

Extreme Decay juga bukan band jago kandang. Selain terekspos secara nasional, mereka juga kerap terlibat dalam beberapa proyek internasional yang cukup bergengsi. Seingat saya, mereka pernah berbagi pita dengan Agathocles (Belgia), Demisor (S’pore), Parkinson (M’sia), serta sempat mengisi album tribut untuk Terrorizer, Disrupt, dan Regurgitate. Selebihnya? Bahkan personil Extreme Decay kesulitan menghapal apa saja rilisan mereka yang lain saking banyaknya. Ha!

Kalau anda masih menyimpan atau menemukan album pertama Extreme Decay, Bastard (1998), yang masih berformat kaset itu rasanya mungkin seperti memegang Scum-nya Napalm Death atau World Downfall-nya Terrorizer. Ya, ‘sedalam’ itu momennya. Layaknya semua album pertama dari sebuah band underground; itu memang bukan rilisan terbaik, tapi statusnya tetap menjadi klasik.

Extreme Decay sempat mendapatkan ekspose yang lebih besar saat merilis Sampah Dunia Ketiga (ESP, 2002), album yang disebut-sebut paling berbahaya dan a-must-have oleh sebagian besar penyuka musik grindcore di negeri ini.

Album terakhir Extreme Decay adalah Holocaust Resistance yang dirilis oleh Armstretch Records pada tahun 2010. Dalam album tersebut, konsep musiknya makin kaya ragam dan penuh variasi. Seperti mengikuti progresi musik grindcore era mutakhir yang biasa diusung oleh Pig Destroyer, Rotten Sound, The Locust, dan Nasum.

xxxxx

Sebenarnya gerak band ini juga cukup menarik perhatian saya. Hingga saat ini, Extreme Decay masih tampak seperti band dengan pola kerja yang simpel, tradisional dan jauh dari hiruk-pikuk viral marketing. Band ini tidak begitu update di Facebook, bahkan tidak punya akun resmi di Twitter!

Sebagai band yang lahir di era pra internet dan sosial media, Afril dkk seperti membiarkan label rekaman, fans dan kawan-kawan mereka sendiri untuk mempromosikan segala aktifitas Extreme Decay. Beberapa tahun silam, mereka memang sempat aktif di laman MySpace dan banyak mendapat rekanan dari sana. Saat ini, Extreme Decay seperti tidak banyak tinggal di dunia maya.

Afril dkk juga menjalankan roda aktifitas band-nya tanpa manajemen yang terlalu formil dan birokratis. Urusan booking show pun bisa langsung kontak personilnya. Saya malah curiga, band ini mungkin tidak punya technical rider yang baku. Segala bentuk kerjasama bisnis dipegang dan dikontrol langsung oleh Afril dkk. Sederhana, luwes dan membumi. Konon, kata kawan saya, pola manajemen Napalm Death juga masih begitu.

Entah itu tadi bisa disebut sebagai kelebihan atau kekurangan bagi band sebesar Extreme Decay. Mungkin tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Toh hingga sekarang mereka baik-baik saja dan masih tetap berkarya.

ED2 - Dok Playloud Recs
dok Playloud Records

Pada saat CD Tribute To Extreme Decay ada di tangan anda, Afril dkk pasti sedang tersenyum. Album tribut yang anda pegang ini berisi sekumpulan lagu karya Extreme Decay yang telah digubah ulang oleh sejumlah band lokal yang bagus dan berbahaya. Katakanlah ada nama Rajasinga, Deadly Weapon, Bersimbah Darah, Tyranny, dan masih banyak lagi.

Konon Revan (Rajasinga) dan Thorik (Tyranny) yang pertama kali menggagas proyek album tribut ini. Kemudian ditangani Playloud Records untuk realisasinya. Salut untuk ide mereka dan semua pihak yang terlibat dalam produksi rilisan ini.

Perlu diketahui, sebenarnya ini adalah album tribut yang kedua untuk Extreme Decay. Sebelumnya juga telah dirilis A Tribute To Extreme Decay dalam format kaset melalui label Nowhere To Grind. Di situ ada 12 lagu dari band-band seperti Otnamus, Extreme Hate, MRxGRIND, Proletar, Hellcore, hingga Tersanjung13.

Dua versi album tribut dalam rentang waktu yang relatif singkat adalah statemen sahih soal pengakuan eksistensi Extreme Decay. Mereka yang terlibat juga dengan penuh sadar diri menyatakan bahwa itu bukan bermaksud untuk mengidolakan atau memuja Extreme Decay secara berlebihan. Melainkan hanya menghargai karya dari band sekaligus teman baik yang telah memberi inspirasi dalam hal bermusik, bergerak dan berjejaring. Sekaligus untuk bersenang-senang, pastinya.

Susah untuk tidak angkat topi atas segala sepak-terjang, karya dan pencapaian Extreme Decay selama ini. Daftar panggung, kota, dan diskografi mereka sudah lebih dari cukup untuk bisa diapresiasi. Ditambah dengan movement mereka menyebarkan virus musik grindcore hingga lintas negara dan lintas generasi. Mungkin itu yang namanya dedikasi dan konsistensi dalam bermusik.

Jadi bukan hal yang aneh dan berlebihan jika ada kabar bahwa banyak anak muda yang memutuskan untuk menyukai musik grindcore dan membentuk band setelah mendengarkan album atau menonton konser Extreme Decay. Setidaknya sudah ada sejumlah band yang mengakui hal tersebut, dan mereka dengan bangga memakai kaos Extreme Decay saat manggung.

wp_ss_20160516_0001
dok. Playloud Records

Secara pribadi dan sebagai teman, saya juga bangga bisa mengenal Afril dkk. Saya sendiri sudah agak lupa kapan terakhir nonton show mereka. Mereka memang agak jarang tampil live belakangan ini. Karena faktor kesibukan kerja dan keluarga, tampaknya Extreme Decay sekarang sudah menetapkan ‘kebijakan’ yang lebih selektif dalam memilih panggungnya.

Jika anda ada waktu, cobalah sesekali menonton konser Extreme Decay. Ingat, itu konser band grindcore, terlambat 20 menit saja anda tidak akan mendapat apa-apa.

Ya, sesingkat itu memang yang namanya momen perjalanan hidup. Tapi yang namanya legacy, bakal terus panjang dan akan tetap diingat untuk selamanya…

Malang, November 2014

xsamackx

 

*Ini adalah naskah liner notes versi komplit untuk album “Tribute To Extreme Decay” yang dirilis oleh Playloud Records, sejak 24 Mei 2016 lalu. Naskah ini saya tulis pada akhir tahun 2014 – sebelum Extreme Decay melakoni tur Asia Tenggara dan masih dalam formasi empat orang. Saat ini anggota Extreme Decay bertambah satu orang, yaitu Rully (eks Otnamus) pada posisi gitar/vokal. CD “Tribute To Extreme Decay” bisa diperoleh infonya melalui situs http://www.playloudistro.com/  

*Tulisan ini juga dimuat pada situs Jakartabeat, 06 Juni 2016. http://www.jakartabeat.net/kolom/konten/memungut-serpihan-serpihan-kecil-dari-putaran-mesin-gerinda?lang=id