fmf3
foto dok. FMF2016

Hari itu, 14 Mei 2016, matahari bersinar cukup cerah di Lembah Dieng, Malang. Saya sampai di sana sekitar jam sebelas siang. Masih cukup sepi. Hanya ada beberapa anak muda berseragam plus berkalung id card yang sibuk mondar-mandir. Saya bisa pastikan mereka adalah para panitia penyelenggara dan barisan voluntir dari Folk Music Festival 2016, hajatan besar yang sejak beberapa pekan sebelumnya sudah sangat diantisipasi oleh para penggemar musik, folk dan piknik.

Penonton butuh berjalan kaki sekitar satu kilometer dari pintu masuk menuju ke pusat area pertunjukan FMF 2016. Setelah menyisiri ruas jalan di tepi danau, kita akan bertemu dengan deretan banner yang menginformasikan area map dan rundown. Di tengah perjalanan, kita juga disambut oleh photo booth dengan logo besar FMF 2016. Kemudian menyeberangi jembatan beton hingga masuk ke arena teater berbentuk setengah lingkaran dengan tribun yang lebar dan panggung permanen ukuran sedang di bawahnya. Di situ pusat kegiatan FMF 2016 bakal dilangsungkan.

Pada sudut area yang lain, sejumlah anak muda tampak sigap menata banner, tenda, meja, kursi dan segala pelengkapan pada booth dagangan yang berjajar melingkari sisi kolam renang. Di situ merupakan area stand yang menjajakan makanan, minuman, asesoris, bahkan aneka rekaman musik dalam format CD, kaset dan vinyl.

“Hey, aku dateng mulai jam enam pagi loh!” sambut kawan saya, Indie Triana, sembari memamerkan booth-nya yang sudah tertata rapi. Perempuan mungil itu baru membuka usaha kedai kopi bareng sobat-sobatnya di Malang. Namanya Wonten Coffee. Saya mengenal Indie Triana sebagai penggemar berat kopi, yang mungkin sekarang sudah taraf ahli. Suaminya adalah Arek Malang, kawan baik saya juga, yang saat ini berprofesi sebagai sound engineer Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, sampai Payung Teduh.

“Di sini aja dulu. Ngopi…” ajak Indie Triana. Kalimat seperti itu memang saya tunggu dan tidak mungkin bisa saya bantah. Berhubung sudah ngopi di rumah, saya mencoba cold brew rilisan Wonten Coffee. Kopi pekat yang dingin sepertinya pas untuk cuaca siang yang agak panas. Harganya cukup murah, cuma lima belas ribu rupiah. Rasanya tidak kalah dengan cold brew lain yang biasa kita temui pada coffee shop berbahasa asing.

Saya duduk santai pada sebuah pondok kayu di tepi danau buatan yang difungsikan sebagai kolam pemancingan. Menyeruput cold brew, menyulut rokok, dan memandangi lanskap alam di sekeliling venue. Menarik juga lokasinya, pikir saya. Lembah ini begitu agung dikelilingi oleh bukit dan pepohonan, serta danau buatan di bawahnya. Cool.

“Kudunya ada perahu karet ya biar penonton gak usah muter dan bisa langsung nyebrang ke mari,” kata seorang kawan sembari tertawa. “Iya, bener juga. Atau meluncur pake flying fox juga bisa!” sahut saya sambil menunjuk pada lintasan flying fox yang sudah tidak terpakai. Lintasan kawat baja atau wire yang menghubungkan dua sisi danau itu kelihatan sudah sangat kendor dan berkarat. Sayang sekali, fasilitas seperti itu tidak terawat.

Terus terang ini baru pertama kalinya saya datang ke Lembah Dieng untuk menonton pertunjukan musik. Sebelumnya, lokasi ini cukup dikenal oleh para fotografer lokal sebagai spot pemotretan. “Iya, aku dulu sering motret model di sini,” jawab kawan saya tadi. “Nonton konser musik ya baru sekarang ini…”

Penyelenggara sengaja memajang kalimat Lunch at Lake Side pada rundown resmi mereka. Awalnya saya bingung, apa itu maksudnya. Aktifitas baru kah? Setelah menemukan meja panjang dengan deretan menu makanan tradisional di salah satu sudut area, barulah saya paham. Ternyata cukup sederhana, hanya sesi makan siang di tepi danau bagi para musisi penampil sekaligus ajang meet and greet dengan penggemar. Ha!

Saya melihat Ari Reda sedang menyantap makan siang di sana. Tidak lama, rombongan Teman Sebangku juga turut bergabung dan makan bareng di dalam tenda. Sejumlah anak muda mendekat dan berfoto bersama. Tampak akrab dan intim.

Selepas tengah hari, para penonton mulai berdatangan. Muda-mudi dengan busana kasual menenteng totebag dan tidak sedikit juga yang memanggul ransel. Yang disebut terakhir itu tampaknya mereka yang datang dari luar kota Malang. Itu makin terdengar jelas dari bahasa dan kalimat yang mereka ucapkan. Logat Jawa (dari yang paling kasar sampai yang paling halus!), Jakarta, Sunda, Melayu, bahkan dialek Bali dan Bugis bergantian melintas di telinga.

Sekitar pukul dua siang, molor sekitar sejam dari rundown yang semestinya, Wake Up Iris! mulai tampil membuka panggung FMF 2016. Duo yang terdiri dari Bie Paksi dan Vania itu menyuguhkan dialog musikal yang baik dalam komposisinya. Mereka cukup fasih mengalunkan irama pop-folk yang berbalut musik bluegrass hingga celtic. Unit ini memang belum merilis sesuatu dalam bentuk fisik, tapi jam terbang dan pencapaiannya sudah cukup lumayan di kotanya.

Saya memilih diam saat mereka mengkover “Society”-nya Eddie Vedder. Lagu yang menjadi soundtrack film Into The Wild itu memang cukup pas dengan suasana dataran tinggi dan pepohonon hijau yang terhampar di sekeliling venue. Tembang itu sekaligus terdengar getir ketika bait liriknya seperti merayakan keterasingan personal sekaligus mengutuk keserakahan manusia, “I think I need to find a bigger place / Cause when you have more than you think, you need more space… / Society, you’re a crazy breed / I hope you’re not lonely without me…”

Panggung musik dilanjutkan kemudian oleh Teman Sebangku. Unit musik asal Bandung itu belum lama menggelar tur keliling kota, termasuk mampir ke Malang. Bahkan semalam sebelum pentas, saya sempat bertemu mereka di salah satu bar di pusat kota Malang. “Mau menjenguk Doni (pemilik bar Houtenhand), katanya dia abis jatuh dari motor ya?” ucap vokalis Sarita yang tampak selalu riang itu. Tampaknya Teman Sebangku bakal sering ke Malang, mengingat mereka sudah punya banyak kenalan dan kolega di kota ini.

Selepas itu, ada Littlelute memainkan irama folk yang riang dan kekanakan. Tidak banyak yang saya ketahui soal band ini. Tapi dari penampilannya siang itu, mereka tampak bersahaja sekaligus menghibur. Enak ditonton.

Hari itu, pada tenda besar dekat jembatan beton juga berlangsung aneka workshop. Saya melihat Lintang Kertoamiprodjoe tampak sibuk menyiapkan peralatan untuk workshop kolase-nya. Pada sesi yang lain, juga dihelat macrame wall hanging workshop yang dipandu oleh tiga perempuan manis.

Di sudut atas area tribun, sebagian penonton sudah mengerubungi official merchandise booth. Ada aneka jenis merchandise edisi spesial dari FMF 2016 – mulai dari kaos, totebag, notebook, payung, hingga sarung bantal. Tak lupa, juga dipajang berbagai rilisan musik dari para musisi/band yang tampil hari itu.

Dari atas panggung, Ari Reda melagukan sejumlah puisi menjadi alunan musik yang indah. Bermodal harmoni vokal yang manis dan denting gitar yang lirih, Ari Reda sanggup memantik segala pertanyaan akan bagaimana kita semestinya menjalani hidup.

Sore itu, Ari Malibu dan Reda Gaudiamo tak ubahnya seperti ‘orang tua’ yang baik bagi penonton kalangan usia muda yang duduk rapi di hadapan mereka. Duo musikus yang humble dan ramah itu mengenalkan keindahan kata-kata serta nasehat yang baik buah kebijakan berpikir Sapardi Djoko Pramono, Toto Sudarto Bachtiar, hingga Gunawan Mohammad.

Silampukau mungkin penampil yang terdengar paling tradisional di antara lainnya. Kharis dan Eki masih lugas mengungkap kehidupan urban dari koleksi debut album Dosa, Kota, & Kenangan yang fenomenal itu. Sederet tembang mulai dari “Bola Raya”, “Lagu Rantau”, “Doa 1”, hingga “Sang Juragan” meluncur pas dan keras, meski tanpa arak beras.

Udara terasa semakin sejuk. Hawa dingin mulai menembus kulit. Panorama senja terasa cukup syahdu ketika ikut mengubah warna langit. Matahari tentunya sudah tertutup bukit di sebelah barat. Sore itu menjadi pekat dan teduh sekali.

Selepas matahari terbenam dan jeda maghrib, dari kejauhan tampak antrian panjang di depan pintu masuk. “Rame sekali ya. Antrian penontonnya luar biasa,” ujar seorang kawan yang baru datang ke lokasi. “Kemaren pas presale aja tiketnya udah laku 2500 lembar. Bakal penuh ini kayaknya.”

Benar juga prediksi kawan tadi. Tidak lama kemudian kami mendengar bahwa tiket FMF 2016 sudah habis. Konon masih banyak penonton yang tidak kebagian tiket masuk dan terpaksa pulang sambil gigit jari. Dalam perhitungan asal-asalan saja kami bisa menduga malam itu tidak kurang dari 5000 kepala yang menghadiri festival ini.

wsatcc1
foto oleh clara dilasanti / iheartgigs

White Shoes and The Couple Company (WSATCC) mengawali keriaan pada sesi malam. Penampilan band ini memang selalu menarik untuk ditonton. Semua personilnya enerjik serta penuh semangat. Sang vokalis, Sari Saartje, sampai turun dari panggung dan mengajak penggemarnya ikut bernyanyi bersama.

“Wes kebhek. Gak iso nontok. Ndek kene ae wes, santai-santai…” kata kawan yang rupanya habis dari area panggung dan tidak menemukan seat yang ideal. Dia lalu bergabung dengan kerumunan di pondok kayu di pinggir kolam renang. Mereka berbincang, bercanda, dan berbagi aneka jenis minuman. Mmmh…

Sebagian kawan di situ terlibat perdebatan serius soal line-up FMF 2016. Ada yang bilang itu masih kurang folk, menurut mereka. Secara musikal maupun ideologis, alasannya. Juga terlalu lembut dan wangi, menurut analisa salah satu dari mereka. Ah, ada-ada saja. Haha.

Dari area panggung, terdengar komposisi musik milik Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) mulai melantun. Suara akordeonnya cukup menggoda telinga. Saya menengok sebentar aksi mereka dari kejauhan. Aris Setyawan dkk tampil cukup rapi serta menghibur. Band yang ‘gagal-bubar’ ini tetap menebar suasana karnaval dan taman bermain yang penuh warna seperti yang pernah saya dengar dari albumnya.

“Anakku tidak bisa masuk venue, belum cukup umur. Sekarang di depan sana sama istri, hehe…” ucap seorang pria muda seraya tersenyum miris. Tampaknya si bapak muda juga menyadari kalau itu imbas dari regulasi ketat yang diterapkan oleh pihak brand perusahaan rokok selaku sponsor festival ini. “Kayaknya saya gak bisa lama-lama. Cuma mau beli CD dan nonton Ista (Christabel Annora), abis gitu pulang…”

Bermain di kandang sendiri, Christabel Annora memang menjadi salah satu penampil yang cukup ditunggu malam itu. Namanya tentu sudah tidak asing bagi anak-anak muda di kota Malang. Apalagi, perempuan manis berambut sebahu itu baru melepas singel gratis melalui situs Rolling Stone Indonesia, dua hari sebelumnya.

“Maap, belum dateng stoknya. Coba nanti malam jam 7-an balik lagi ya…” begitu jawab penjaga lapak Demajors Malang berkali-kali pada mereka yang sedari siang sudah menanyakan stok CD album Christabel Annora. Debut yang bertajuk Talking Days memang akan dirilis perdana dalam jumlah terbatas pada hari itu.

Andi Alo dari Barongsai Records akhirnya datang sambil menenteng totebag besar. Ia menjadi salah satu orang yang paling ditunggu hari itu, khususnya bagi para penggemar Christabel Annora. “Sori baru beres ngurusin packaging, trus langsung ke sini…” kata Andi Alo sambil terkekeh. Pria gondrong itu lalu mengeluarkan setumpuk CD Talking Days dari totebag-nya, “Nih, cuma ada 50 kopi, harganya lima puluh ribu…”

christabel3
foto oleh clara dilasanti / iheartgigs

Christabel Annora sendiri tampil cukup memukau di atas panggung. Sejumlah karya musiknya mulai dari “60 km/h”, “New Kind of Lame”, hingga “Sunshine Talks” dilantunkan dengan baik dan mendapat respon cukup hangat dari penonton.

“Ada lagu kover spesial untuk nanti. Itu pertama kalinya aku bawakan di panggung loh,” kata Christabel Annora kepada saya, beberapa hari sebelum pentas. Malam itu, misteri itu terjawab. Ia ternyata mengkover lagu “Paranoid Android”-nya Radiohead – dengan teramat bagus dan saya kira itu merupakan highlight penampilannya pada FMF 2016.

Selepas penampilannya itu, 50 keping CD Talking Days makin laris dan akhirnya sold-out tanpa sisa. Sesuai prediksi, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi sang penjaga lapak, Adani, untuk berkali-kali mengatakan, “Maap, CD-nya Mbak Ista sudah habis. Tunggu akhir bulan ya, entar dirilis lagi kok…”

liyanafizi1
foto oleh clara dilasanti / iheartgigs

Giliran Liyana Fizi kemudian yang mengambil alih stage. Indie darling asal negeri jiran Malaysia ini cukup mencuri hati. Selain parasnya yang memang manis, musiknya pun cukup legit di telinga. Saya tidak seberapa hafal lagu-lagunya. Tapi saya kira setlist-nya diambil dari album Between The Lines, yang CD-nya baru saya beli sore tadi di salah satu booth.

Saya kemudian berkeliling ke setiap sudut venue. Bertemu dengan kawan-kawan baru dan lama – baik yang tinggal di Malang maupun yang datang dari luar kota. Slentingan terdengar keluhan soal fasilitas toilet yang jumlahnya terbatas dan kurang bersih. Sebagian juga berharap ada fasilitas tempat ibadah yang layak dan tidak terlalu jauh dari area panggung. Tidak ada keluhan soal sampah, seingat saya. Tempat sampah memang tersedia cukup banyak dan tampaknya kesadaran penonton juga sudah mulai membaik.

Hari gini, keluhan-keluhan soal tehnis produksi dan fasilitas pada setiap perhelatan festival musik besar memang kerap terlintas. Kalau tidak terdengar langsung di area venue, biasanya terbaca dari unggahan penonton dan komentar orang-orang di media sosial.

Set panggung FMF 2016 sebenarnya sudah cukup baik. Tanpa barikade yang berlebihan, nyaris tanpa jarak. Para penampil dan penonton pun bisa berinteraksi dengan mudah. Itu yang bikin atmosfir festival ini terasa intim dan akrab.

Sayangnya, penempatan sound system di panggung agak kurang sempurna. “Kudunya dipasang screen besar di kanan-kiri panggung, supaya orang yang di belakang dan samping juga bisa menonton jelas,” saran kawan saya yang biasa bergelut di bidang produksi pertunjukan musik.

Saya bergegas menuju sumber suara voice over yang menyebut nama Tigapagi. Terus terang, hanya Tigapagi yang set konsernya saya tonton dengan lebih serius. Komplit mulai lagu awal sampai akhir. Saya memang belum pernah menonton live mereka, ini pengalaman pertama. Semenjak merilis album Roekmana’s Repertoire yang luar biasa bagus itu, saya terus berharap suatu saat bisa menyimak show-nya.

tigapagi1
foto oleh clara dilasanti / iheartgigs

Ketika Tigapagi memulai set dengan “Sembojan; Sebuah Entitas Pendek”, hujan mendadak turun dari langit. Panitia langsung sigap membagikan jas hujan kepada penonton. Untung hanya gerimis belaka. Penonton tetap tidak beranjak. Tampaknya mereka malas untuk pindah dan mencari tempat teduh, apalagi kalau sudah dapat spot yang strategis untuk menonton.

Pertunjukan seperti ini terlalu sayang kalau ditinggalkan hanya karena guyuran hujan gerimis. Saya justru curiga hujan yang turun malam itu memang disengaja untuk menambah daya magis sebuah festival folk. Semacam perjanjian rahasia antara penyelenggara dengan semesta. Bukankah, seperti yang biasa kita tulis di status media sosial, bahwa rintik hujan juga termasuk prasyarat yang sempurna untuk mendengarkan musik folk?!…

Malam itu, Danilla termasuk yang paling ditunggu aksinya. Konon itu show-nya yang pertama di kota Malang. Sejumlah nomor seperti “Ada Di Sana”, “Buaian”, hingga “Berdistraksi” meluncur mulus dengan pesona yang kuat di hadapan crowd.

Danilla ternyata juga cukup ramah dan kocak di saat off-stage. Usai manggung, di tengah guyuran hujan, Ia masih sempat mampir ke booth Demajors Malang untuk sekedar berbincang, foto-foto, dan menandatangani CD-CD milik penggemarnya.

Di saat Daniila sibuk melayani penggemarnya, Mocca sudah berada di atas panggung. Unit pop/swing asal kota Bandung itu menyuguhkan nomor-nomor yang sudah tidak asing lagi di kuping penonton. Sing-along terdengar mengudara. Saat memainkan nomor “I Remember”, Arina dkk mengundang Liyana Fizi untuk ikut tampil bersama mereka.

Pada baris akhir rundown, terdapat nama Float. Memang cukup ideal menaruh Meng dkk sebagai penampil akhir. Selain fans-nya yang terkenal fanatik, Float juga representasi yang tepat bagi kesyahduan irama folk dan nuansa piknik yang kerap mereka gelar sendiri.

float1
foto oleh clara dilasanti / iheartgigs

Benar juga, setiap nomor yang dilantunkan Meng dkk direspon habis-habisan oleh ribuan penonton sekalipun dalam kondisi hujan. Seperti yang diduga, koor masal tercipta ketika Float membawakan lagu “Sementara”. Band ini bahkan tidak perlu bernyanyi lagi, karena semua bagian liriknya sudah dinyanyikan lantang oleh hampir 5000 bibir yang masih setia di arena.

Jika belakangan ini format festival musik bernuansa piknik sedang digemari oleh muda-mudi, mungkin ada benarnya. Seperti yang dikemas oleh penyelenggara FMF 2016 ketika menyuguhkan line-up menarik pada hamparan lembah dengan panorama alam di sekelilingnya.

Semesta yang mendukung juga tergambar di venue sejak matahari bersinar cerah di siang hari, sore yang teduh, pergantian warna langit di kala senja, hingga gerimis yang syahdu pada malam harinya. Untuk penyajian terbaik, tambahkan segelas kopi yang enak dan bermutu – atau minuman hangat apa saja.

Well, dengan segala kondisi dan prasyarat tadi, kurang ‘folk’ apa lagi festival ini?…

Seperti itu yang tiba-tiba terlintas di kepala saya ketika berjalan kaki keluar area venue dan kembali menyusuri tepian danau yang mulai sepi lagi. Saya menoleh ke belakang ke arah panggung yang sudah tidak tampak lagi, tepat ketika Float sedang menyanyikan lagu terakhirnya, “Pulang”.

“Dan lalu… / Rasa itu tak mungkin lagi kini / Tersimpan di hati / Bawa aku pulang, rindu! / Bersamamu…”

 

*Artikel ini merupakan tulisan pertama saya untuk situs MinumKopi. Trims untuk Nuran Wibisono & redaksi MinumKopi atas kesempatannya. Matur suwun juga untuk Gaharu Jabal, Clara Dilasanti & iheartgigs atas pinjeman fotonya.