WP_20160520_010
houtenhand zine ; folk issue

Sedikit kontribusi kata-kata untuk Houtenhand Zine edisi Folk Issue yang sempat diterbitkan pada Folk Music Festival, 14 Mei 2016 lalu. Ceritanya, saya disuruh menulis profil singkat 8 musisi kota Malang ini. Dalam deadline yang singkat dan pengaruh wiski, beginilah jadinya…

Christabel Annora
Sudah dengar singel “Sunshine Talks” yang dilepas gratis via situs Rolling Stone Indonesia kemarin? Kalau belum, sangat disarankan untuk klik dulu ke sana. Nikmati dan baca dahulu naskah yang ada di situ. Dengan begitu, kami tidak perlu membuang waktu lagi untuk menjelaskan siapa dan bagaimana perempuan berambut sebahu ini sebenarnya. Atau justru, ketika sedang membaca tulisan ini, mungkin CD album Christabel Annora sudah ada di tangan anda. Sungguh beruntung. Kalau belum dapat, anda tahu apa yang kudu dilakukan sepulang dari festival musik folk ini. Kami sudah peringatkan.

Jenar
Pemilihan nama band ini sudah cukup mengusik dan agak mengguncang iman. Jenar? Apakah diambil dari Syekh Siti Jenar? Masih misteri. Well, unit ini memainkan musik antara alternatif rock dan post-rock dalam porsi yang nyaman. Komplit dengan delay yang menghantui dan vokal syahdu yang membahana. Aroma sembilan-puluhan juga mengakar kuat pada beberapa bagian musiknya. Bayangkan Billy Corgan dengan Jonsi dalam satu proyek tugas bersama. Memiliki mini album mereka yang bertajuk Fase tidak bakal membuat anda rugi atau menyesal. Di atas panggung pun, Jenar tetap layak untuk diperhatikan.

Iksan Skuter
Jika yang ada di hadapan anda sepanjang hari ini adalah alunan musik folk yang lembut, bening, dan wangi, maka kami tawarkan ‘sisi gelap’-nya sekarang. Hanya berbekal gitar akustik dan lirik yang tajam, Iksan Skuter bisa menggugat negara, institusi, lingkungan, bahkan kawan di sekitarnya sendiri. Mungkin bikin kuping panas dan hati geram. Telusuri sendiri karya dan diskografinya – yang melimpah banyak dan seakan tidak bisa dihentikan. Satu lagi, pria ini meyakini bahwa kopi bisa membahayakan negara (sementara alkohol hanya sekedar membahayakan lingkungan sekitar!). Ya, rasanya anda butuh kopi yang pekat untuk menyimak semua karyanya yang tidak sedikit itu. Jika Woodie Guthrie menggoreskan kalimat “This Machine Kills Fascists” pada bodi gitarnya, maka Iksan Skuter cukup butuh satu kata saja, “Anjing!”

Wake Up Iris!
Duo ini mampu berdialog dengan baik dalam komposisi musiknya. Sepasang anak manusia bernama Bie Paksi dan Vania fasih mengalunkan irama folk yang simpel dan tradisional. Hanya butuh gitar, violin dan bass drum, kemudian panggung itu mutlak jadi milik mereka. Bayangkan suasana dataran tinggi yang hijau di Eropa, dan musik seperti Wake Up Iris! yang mungkin pas di telinga anda. Mereka memang belum merilis sesuatu, tapi jam terbang dan pencapaiannya sudah cukup lumayan. Tampaknya tidak perlu waktu yang lama lagi untuk menyimak karya mereka. Dan anda kudu siap untuk itu.

WP_20160520_007
isi zine pada halaman yang ke-sekian.

Oneding
Jangan sembarangan memberikan gitar bolong pada pria yang gemar memakai kaos oblong dan jins robek selutut. Hasilnya mungkin bisa di luar dugaan. Suara vokalnya ternyata bagus dan cukup menyihir. Kaget? Tentu saja. Mengingat latar belakangnya di grup band Andjoeran Pengoeasa dan Snickers and The Chicken Fighter. Pemilik usaha ramuan jamu dan rempah-rempah ini sudah memliki stok lagu yang renyah, arif, dan bijaksana. Kami belum pernah mendengar lirik kata “Jancok” bisa selembut itu sebelumnya, bahkan bisa menjadi koor masal yang menyenangkan. Cuk!

Tani Maju
Ada hubungan darah yang susah diurai pada musik folk dengan irama orkes. Keduanya bisa tampil sederhana dan tradisional. Namun kekonyolan yang paling hakiki hanya milik Tani Maju. Raja Pensi di era awal 2000-an ini lahir dari sudut sebuah kampus dengan cita-cita mulia menjadi pahlawan tanpa tanda jasa (baca; guru). Hasilnya, sebagian memang jadi pengajar, sisanya lagi malah khilaf jadi seniman. Ya, sungguh ajaib dunia pendidikan tinggi dan skena musik indie di negeri kita ini. Kawan kami, Otong Shaman, mengaku sebagai fans berat mereka dan sudah ditasbihkan sebagai Jogeder (nama resmi fans Tani maju) dalam barisan ring satu. Tani Maju adalah artis top daerah dengan visi musik berdikari yang ditunjang dandanan ala Flaming Lips versi lokal dan lirik yang jauh lebih kocak daripada stand-up comedian yang mondar-mandir di televisi. Ya, kami serius soal ini.

Crimson Diary
Konon Crimson Diary saat ini sedang menuntaskan penggarapan album keduanya. Ada sejumlah orang di band ini yang tidak perlu diragukan lagi pengalamannya bermusik di skena lokal. Sebelumnya, mereka sudah pernah merilis album bertajuk Senja melalui label lokal, Barongsai Records. Bem Walesa dkk mampu melebur The Cure, Smashing Pumpkins, dan Placebo dalam takaran yang pas. Cukup dan tidak berlebihan. Aksi panggungnya pun cukup menarik untuk disimak. Sound yang meruang, efek gitar yang dominan, dan gebukan drum yang penuh tenaga itu mengunci perhatian crowd hingga di akhir set-nya. Kemudian mereka turun panggung, menyeka keringat, dan bisa menyapa anda dengan kalimat yang sangat ramah, “Ada alkohol?!…”

Ajer
Sebenarnya agak sulit untuk mendeskripsikan band ini. Drummernya gondrong, menyukai Kreator dan Liverpool. Sang gitaris, eh pemain banjo-nya, suka tampil kalem dan lebih sibuk bikin video/film. Vokalis utamanya adalah pria yang mengelola bar sempit dan memimpikan Koil untuk manggung di situ. Sebenarnya ada personil mereka lainnya, tapi kadang muncul dan kadang kabur entah di mana. Oke, Arek Malang yang baik pasti tahu kalau Ajer adalah band yang menulis lagu “Penahitam” yang cukup fenomenal itu. Mereka juga pernah merekam satu video musik di hutan Malabar sebelum rame-rame ada konflik di sana. Sekedar bocoran, belakangan mereka aktif posting foto-foto sedang rekaman. Entah itu benar atau rekayasa. Ditunggu saja, tapi jangan terlampau berharap banyak. Toh band ini mungkin kecil kontribusinya bagi kemajuan blantika industri musik nasional. Ha!

*Dapatkan Houtenhand Zine ; Folk Issue dengan cara bertanya melalui akun twitter @houtenhand. Itu pun kalau masih ada stoknya atau mereka mau membalas twit anda.

WP_20160520_014
#DibuangSayang ; Selamat Ulang Tahun Doni Houtenhand! \m/