megadethdystopiacover

Dystopia memang sangat dinanti-nanti oleh penggemar berat Megadeth, karena Dave Mustaine sempat menjanjikan kalau musiknya bakal lebih keras dan galak. Sebenarnya janji dan ambisi seperti ini sudah biasa ia katakan di setiap jelang album anyar Megadeth, dalam satu dekade terakhir. Hasilnya terbilang gagal total, dan banyak fans yang kecewa.

Sejak Endgame (2009) yang tangung, TH1RT3EN (2011) yang ‘alay’, atau Super Collider (2012) yang berantakan, semuanya memang tidak berhasil memuaskan pendengar. Sekarang, Dystopia bakal jadi pertaruhan, yang mungkin terakhir, bagi Dave Mustaine untuk membuktikan segala mulut besarnya.

Beberapa hari sebelum rilis album, Megadeth sudah melepas video singel “Threat Is Real” melalui kanal YouTube. Klipnya berbentuk animasi dengan visual yang cukup gore, penuh darah di mana-mana. Musiknya cukup menantang, dengan melibatkan unsur melodi ala Timur Tengah.

Pada track yang lain, “Death From Within” memiliki pacuan lead guitar yang apik dan meledak-ledak. Kehadiran gitaris baru Kiko Loureiro tampaknya menambah gedor album ini. Sang virtuoso gitar asal Brasil ini mampu menjalankan tugas dan mengambil porsi penting di sebelah riff Dave Mustaine.

“Bullet To The Brain” mengandalkan tempo dan harmoni lagu yang dinamik. Lagu ini bahkan cukup sing-alongable, dan punya potensi koor masal jika dimainkan dalam konser. Lagi-lagi, terdengar unsur musik Timur Tengah di beberapa bagian. Mungkin Dave Mustaine ingin menunjukkan lanskap tentang kondisi politik dan tragedi yang terjadi di wilayah itu. Yaman? Suriah? ISIS?

Jika dicermati dengan seksama, hampir semua lirik yang dibikin Dave Mustaine selalu menyimpan sisi intelektual dan cukup politis. Ia bisa menulis lirik tentang konspirasi, kejatuhan peradaban barat, atau pemerintah dan kelompok yang tiran dengan begitu tajam. Sebagai penulis lirik thrash metal dan pembaca rubrik berita politik internasional yang giat, ia bahkan sudah memenuhi syarat untuk maju sebagai kandidat presiden USA dan menantang debat terbuka dengan Donald Trump.

“Post American World” mungkin diambil dari buku karangan Fareed Zakaria yang berjudul sama. Jika benar, berarti Amerika Serikat sedang terancam. Ada petikan senar gitar yang cukup menarik pada lagu ini, meski tidak serta-merta jatuh menjadi lagu balada. Pada ”Melt The Ice Away”, Megadeth seperti sedang memainkan komposisi rock klasik ala Deep Purple. Tua dan bersahaja.

Pengakuan Dave Mustaine bahwa ia sangat menggemari musik klasik bisa dikonfirmasi langsung pada “Poisonous Shadow”, yang diawali dengan komposisi gitar klasik serta sapuan piano dan string di akhir lagu. Jika belum puas, masih ada “Conquer Or Die” yang menempatkan intro gitar klasik yang menawan, disambut dengan instrumentalia panjang yang megah.

Megadeth pun bermain cepat dan efektif pada “Look Who’s Talking?” yang sarat omelan dan racauan vokal Dave Mustaine. Juga pada “Lying In State” yang sudah ngebut sedari awal. Ibarat memandu parade headbanging dan pogo yang masif, dua nomor tadi berpotensi jadi hits di moshpit.

Di setiap bagian Dystopia memang bertebaran riff-riff thrashy yang klasik, plus solo gitar yang apik di sana-sini. Puji tuhan, Dave Mustaine menemukan Kiko Louriero dari belantara Brasil. Ini tentu bikin girang fans-nya. Mereka bisa memutar album ini berulang kali, sambil naik ke atas ranjang melakukan drama air-guitar dengan mata terpejam dan kepala menengadah ke atap. Epik.

Mungkin benar, sejak dulu kekuatan Megadeth itu – dibanding kompatriot band thrash metal lainnya – adalah pada komposisi dan harmoni. Keras dan cepat, sekaligus melodius dan terdengar nyaman di telinga. Itu yang sempat lama hilang di album-album terakhirnya. Sekarang akhirnya muncul lagi, dalam balutan sound yang lebih modern.

Meski harus diakui juga kalau ada beberapa bagian komposisi musik yang agak nanggung dan terdengar serupa di beberapa lagu. Namun itu masih aman, selama kita tetap terhibur dan menyunggingkan senyum kerinduan pada Megadeth.

Satu kredit positif yang ikut ‘mengembalikan’ Dystopia ke jalur yang semestinya adalah kehadiran sang drummer tamu, Chris Adler (Lamb of God). Pengaruh pria kekar berjenggot itu tentu besar. Gaya drumming-nya cukup kuat sekaligus membawa nuansa modern pada musik Megadeth kali ini.

Bersama Chris Adler yang dipadukan dengan bassist gaek David Ellefson, Megadeth ibarat sudah menemukan kiper dan lini pertahanan yang ideal – di mana Dave Mustaine jadi lebih fokus menyerang dengan aksi penetrasi gitarnya ke segala sektor bersama Kiko Loureiro.

Mendengarkan Dystopia seperti diajak kembali mendengarkan era kejayaan Peace Sells atau Rust In Peace, meski belum sesempurna album-album tersebut. Jika motif Dave Mustaine memang ingin kembali ke masa mudanya, maka hal yang sama pernah dilakukan Metallica pada Death Magnetic. Sejauh ini, keduanya cukup berhasil.

Jika melirik pada sirkuit Big 4, mendengarkan Dystopia justru lebih menarik dibandingkan album barunya Anthrax, For All Kings. Mungkin karena kita sudah lama tidak mendengarkan Megadeth sebaik ini, sementara Anthrax ya begitulah. Tahun lalu, Slayer sudah lebih dulu melepas Repentless, album yang wajar dan normal layaknya…Slayer. Tinggal menunggu album baru Metallica, entah tahun ini atau tahun depan.

Namun di atas segalanya, saat ini Dystopia telah berhasil mencuri perhatian. Dave Mustaine sudah bisa tersenyum (sinis), dan memang pantas bersikap arogan.

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Supermusic.