rock6

Ada sebuah relasi yang sulit dijelaskan antara musisi dengan ilmu pengetahuan. Seperti misalnya, ada apa antara kecepatan musik punk dengan fisika? Kemegahan psikedelik rock dengan matematika? Atau tempo musik elektronik dengan ilmu genetika?

Susah khan menjelaskannya?!…

Tapi jangan salah, ada sejumlah musisi pop/rock yang cukup sukses di bidang akademik dan berhasil mendapatkan status terpelajar – dengan gelar kehormatan yang mungkin tidak tertera pada kartu nama dan kredit sampul album-album rekaman mereka.

Stigma bahwa musisi itu biasanya tidak bersahabat dengan bangku pendidikan itu seakan bisa runtuh dengan sendirinya. Berikut ini ada sepuluh musisi dengan kadar keilmuan yang sudah terakreditasi secara akademis.

1. Brian May
Brian May, seperti yang kita semua tahu, adalah gitaris grup band Queen. Ia bahkan tercatat sebagai salah satu gitaris terbaik sepanjang masa. Pria ini memiliki gelar Ph.D di bidang astrofisika. Brian May sempat mengenyam studi fisika dan matematika di Imperial College London, dan dalam proses mengejar gelar Ph.D saat ia sedang di puncak ketenaran bersama Queen. Tahun 2007, ia berhasil menyelesaikan disertasinya. Bayangkan, orang yang menciptakan lagu rock kelas arena stadium “We Will Rock You” ini adalah orang yang sama yang menulis karya tulis berjudul A Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud.

2. Greg Graffin
Pria ini adalah vokalis utama dan penulis lagu di unit punk legendaris, Bad Religion. Suara agak merdunya bisa didengar lewat sejumlah hits, seperti “Sorrow,” “Infected,” “21st Century Digital Boy,” and “Los Angeles Is Burning.” Greg Graffin menyelesaikan bangku studi antropologi dan geologi di UCLA. Setelah itu menyabet gelar Ph.D dalam bidang zoologi dari Cornell University, lewat disertasi yang berjudul Monism, Atheism and the Naturalist Worldview: Perspectives from Evolutionary Biology. Di tahun 2010, ia menulis buku Anarchy Revolution di waktu yang bersamaan dengan Bad Religion merilis album The Dissent of Man. Bocah punk tua ini juga sempat mengajar Life Science 1 dan Earth & Space Sciences 116 (Paleontology) di UCLA, serta jadi dosen tamu untuk mata kuliah evolusi di Cornell University.

3. Milo Aukerman
Kancah musik punk di California seperti terus memproduksi ilmuwan. Ada satu anak punk lagi bernama Milo Aukerman dari grup band The Descendents. Album pertamanya dikasih judul Milo Goes to College karena saat itu Milo Aukerman sedang giat-giatnya mengambil kuliah biologi. Saat ini, ia sudah mendapat gelar doktor di bidang Biochemistry dari Universitas Wisconsin dan Madison, USA. Pria ini memutuskan untuk membagi waktu antara main band dan studi dalam kadar yang seimbang. Bahkan The Descendents bisa disebut sebagai satu-satunya band punk yang memutuskan vakum untuk sementara karena alasan studi akademik.

4. Brian Cox
Sekarang, pria ini sepertinya lebih dikenal sebagai ilmuwan daripada seorang musisi. Ia memandu sejumlah program sains di stasiun televisi BBC. Brian Cox adalah seorang fisikawan, yang mendapat gelar profesor dari University of Manchester dan bekerja di Large Hadron Collider. Sebelum terlibat dalam aktifitas sains itu semua, ia adalah pemain keyboard di unit pop, D:Ream, yang menelurkan sejumlah hits di Inggris, seperti misalnya “Things Can Only Get Better” yang cukup populer di masanya.

5. Dan Snaith
Pria ini lebih dikenal dengan nama panggung Caribou, yang memainkan electronic dan psychedelic pop dance music. Ia memegang gelar Ph.D dalam bidang matematika dari Imperial College London. Tesisnya mengambil topik Overconvergent Siegel Modular Symbols. Tentang relevansi antara musik dan matematika, ia pernah mengatakan dalam wawancaranya bersama The Guardian, “To me, that misses the point of maths and it misses the point of music. Pure mathematics at research level is not about sums; it flowers into this whole creative subject. If there’s any real similarity between maths and music, it’s that with both, you’re fumbling around and using your intuition to try to fit things together.”

6. Tom Scholz
Sebelum membentuk grup band Boston, Tom Scholz memang seorang tehnisi mekanik yang handal atau engineer. Ia mendapatkan gelar master di bidang Mechanical Engineering dari Massachusetts Institute of Technology. Pria ini pernah menjabat sebagai Senior Product Design Engineer di Polaroid saat merekam demo pertama bersama Boston. Kecintaan Tom Scholz pada musik dan mekanik ia aplikasikan lewat karya penemuannya, yaitu Rockman Guitar Amplifier.

7. Mira Aroyo
Perempuan kelahiran Bulgaria ini bernyanyi dan memainkan synthesizer bersama unit elektronik asal Inggris, Ladytron. Mira Aroyo merupakan seorang geneticist yang mendapatkan gelar Ph.D dari Oxford University dan telah banyak melakukan riset genetika di berbagai daerah.

8. Diane de Kerckhove
Diane Nalini de Kerckhov mendapatkan gelar Ph.D dalam studi Materials Science dari Oxford University, pada tahun 1999. Sebagai Dr. de Kerckhove, wanita ini menjabat Assistant Professor of Physics di University of Guelph. Di kehidupan yang lain, sebagai Diane Nalini, ia merupakan penyanyi jazz profesional. “Most musicians I know have a strong grasp of mathematics,” katanya. “They have to. Keeping the beat, counting out divisions of beats, thinking about harmony. Music theory is almost dauntingly mathematical.”

9. Art Garfunkel
Separuh bagian dari unit pop legendaris Simon and Garfunkel ini dikenal sebagai math geek. Tidak lama setelah lulus kuliah di bidang Art History, ia langsung mengejar gelar master di bidang matematika. Tidak berhenti di situ saja. Saat karir musik Simon and Garfunkel’s mencapai puncaknya, ia masih sempat mengejar gelar doktoral untuk bidang Mathematics Education di Columbia University’s Teacher’s College. Sungguh, pria ini memiliki ambisi yang besar, baik dalam industri musik pop maupun matematika.

10. Dexter Holland
Pria eksentrik yang melantunkan “Pretty Fly (For a White Guy)” bersama The Offspring ini ternyata otaknya jauh lebih serius dan encer daripada lagu-lagunya. Dexter Holland adalah kandidat Ph.D di bidang Molecular Biology pada University of Southern California. Di kampus itu pula ia mendapatkan gelar sarjana dan masternya. Ia sempat melupakan studi biologi demi fokus pada karir musiknya bersama The Offspring. Pikirkan hal itu saat anda memutar lagunya yang berjudul “Why Don’t You Get a Job.”

 

*Artikel ini sebelumnya dimuat pada situs Supermusic.