B4T2eYRCcAAIjdj
Sang Mahaguru Silat

“Selama ini kita banyak diam. Terlalu lama diam,” ucap seorang pria yang bersila di antara kerumunan manusia yang duduk melingkar. Pria berambut gondrong itu lalu meneruskan kalimatnya. Beliau menyampaikan beberapa hal seputar peranan seni, komunikasi, dan aktivisme. Semua kepala tampak diam dan serius menyimak pemaparan pria berambut perak tersebut, dalam suatu forum diskusi di teras sebuah rumah besar.

Sekitar dua puluh menit sebelumnya…

Saya menemui kawan saya, Deki Bedebah, yang tampak berbincang dengan seorang pria di tengah ruangan Omah Munir, Batu Malang. Mereka berdua tampak akrab, mengobrol santai di tengah ruangan yang dikelilingi berbagai poster dan memorabilia (alm) Munir Said Thalib.

Deki memang pernah cerita kepada saya kalau ia kenal cukup akrab dengan pria itu, apalagi dengan anaknya. Menurut Deki, beliau sudah seperti teman baik, sekaligus guru baginya. Mungkin karena mereka (pernah) sama-sama menggeluti dunia fotografi, jadi cukup related.

Saya sempat ragu-ragu dan terhenti di pintu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan utama Omah Munir. Begitu Deki melihat saya berjalan mendekat, ia langsung mengatakan ke pria itu sambil tangannya menunjuk kepada saya, “Eh mas, kenalin ini temen saya…”

Saya sodorkan tangan sambil menyebutkan nama dengan penuh rasa hormat. Pria itu menyambut hangat. Kami bersalaman. Saya tidak ingat apakah beliau juga sempat menyebutkan namanya. Itu pun sebenarnya sudah tidak penting lagi. Toh saya sudah cukup tahu dan mengenal nama beliau, beserta karya-karyanya.

Terus terang, saya tiba-tiba merasa canggung selama beberapa detik.
Terdiam. Grogi. Speechless.

Ya, selalu ada momen senyap ketika kita berjumpa langsung dengan sosok idola, bukan?!

Bagaimana tidak gugup?! Di hadapan saya sekarang ada orang yang selama ini saya anggap sebagai panutan. Sosok yang sempat saya sebut sebagai ‘mahaguru silat’ pada tulisan saya sebelumnya. Eh, saya tidak membicarakan tentang Guru Yosen atau Sinto Gendeng.

Pria yang saya maksud di sini adalah Seno Gumira Ajidarma (SGA), seorang penulis kawakan yang lebih suka disebut sebagai pengarang atau wartawan, daripada dijuluki sastrawan.

“Ngngng, saya suka sama tulisannya sampeyan loh, Mas. Sejak baca di majalah Jakarta Jakarta,” ucap saya, memberanikan buka obrolan dengan penuh basa-basi.

“Ooh…” jawab SGA pelan dan nyaris tak terdengar, sambil tersenyum ramah.

Kami lalu berbincang, atau tepatnya, saya yang lebih banyak bertanya. Mulai dari basa-basi bertanya kapan datang? Sudah berapa kali ke Malang? Serta berbagai pertanyaan ringan sejenisnya.

“Lagi nulis apa sekarang, Mas?”

“Itu masih rutin nulis di Jawa Pos,” jawabnya sambil terkekeh, sembari menyebutkan kolom-kolom lainnya yang tersebar di sejumlah media, seperti Kompas dan Koran Tempo. “Ya masih lah kalo nulis. Gak mungkin berhenti.”

Setelah saya yang basa-basi dan Deki yang seringkali menimpali, mulailah beliau yang mendominasi percakapan. SGA bercerita banyak hal tentang aktifitasnya belakangan ini. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba beliau antusias bercerita soal perjalanannya mengamati candi-candi di seputar Jawa. Beliau mengaku gemar mengunjungi candi-candi yang belum terlalu banyak diekspos.

“Ya, kalau maen ke Borobudur atau Prambanan buat apa juga? Mending ke candi yang masih baru ditemukan. Yang model reruntuhan gitu. Yang lumutan. Itu lebih asik,” katanya sambil tertawa lepas.

IMG-20141209-WA0005
Ki-Ka ; Saya, SGA, (patung kepala) Munir, dan Deki

Hari itu, tanggal 08 Desember 2014, SGA sedang memakai kaos jenis polo berwarna hitam. Cukup matching dengan balutan celana jins berwarna gelap dan sepatu boot yang terpasang di kakinya. Kacamatanya hanya dikalungkan liar di lehernya, dengan tali berwarna merah.

Perawakan tubuhnya termasuk atletis. Cukup gempal dan tinggi untuk ukuran postur orang Indonesia. Rambutnya yang gondrong beruban dengan warna keperakan itu sudah cukup memberikan gambaran betapa berpengalaman dan independennya pola pikir beliau.

Siang itu, sosok SGA terlihat tampak santai sekali. Begitu humble dan juga ramah. Saya perhatikan beliau suka memasukkan tangan ke dalam saku celana. Sungguh jauh dari kesan tipikal penulis yang selalu serius dan kaku.

Bahkan dengan style dan penampilan seperti itu – yang khas ala seniman – sah-sah saja jika SGA juga terlihat bagaikan personil band rock lawas dengan riwayat tur nasional, atau pendaki gunung yang sudah menjejakkan kaki di puncak-puncak tertinggi seantero nusantara. Sebagai mahaguru silat? Ah, itu cukup hanya cerita di novelnya saja.

Di sela-sela obrolan kami, SGA sempat menunjukkan handphone-nya yang amat sederhana, sejenis Nokia jadul. Sembari mengaku kalau beliau termasuk orang yang agak gagap dengan tehnologi saat ini, apalagi soal media sosial.

Setelah mengobrol sekian lama, akhirnya saya beranikan diri bertanya dengan sangat sopan dan lirih penuh harap.

“Anu Mas… Permisi, saya boleh minta tanda tangan?” ucap saya sembari mengeluarkan spidol hitam dan dua buah buku dari dalam tas ransel.

Saya memang sengaja membawa buku karangan SGA yang berjudul Iblis Tidak Pernah Mati dan Trilogi Insiden (Saksi Mata – Jazz, Parfum & Insiden – Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara), untuk alasan yang tidak perlu saya jelaskan lagi.

“Oh, boleh…” jawabnya sambil tersenyum.

Mula-mula saya sodorkan satu buku dulu. Beliau terima sambil bertanya bagaimana ejaan nama saya. Saya jawab; s-a-m-a-c-k. Beliau tuliskan di bagian dalam sampul dan langsung ditandatangani sambil berdiri di tempat.

“Maaf ya, tulisannya jelek,” ucapnya sambil memandangi tanda tangannya sendiri.

“Ah gak papa, Mas. Yang penting kan tulisan di dalemnya,” jawab saya sambil meringis.

Oke, satu buku Iblis telah selesai dilegalisir. Saya sodorkan satu buku lagi, Trilogi Insiden, sambil mengatakan, “Eh saya paling suka sama Jazz, Parfum & Insiden nih, Mas.”

“Oya? Yang suka musik biasanya suka bagian itu…” katanya sambil terkekeh. Sepertinya beliau masih ingat ketika Deki mengenalkan saya tadi sebagai temannya yang suka menulis soal musik. Saya tersenyum, agak malu.

“Kadang yang suka musik baca bagian Jazz-nya, yang suka sosial baca bagian Insiden-nya,” tambahnya kemudian. Saya cuma mengangguk-angguk pelan, tanda setuju dan sok tahu.

“Iya sih, mungkin gara-gara itu juga. Tapi sampeyan memang suka musik kan? Kalau saya baca di sini suka musik jazz kayaknya…” tanya saya agak lancang.

Saya ingat sekali beliau banyak mengupas sejarah musik jazz di bagian buku itu. Komplit dengan cuplikan kisah para musisinya – mulai dari Wynton Marsalis, Miles Davis, Duke Ellington, Louis Armstrong, John Coltrane, dan banyak lagi. Itu memang bagian favorit saya.

“Ya emang suka sih. Gak cuma jazz aja sebenernya, semua musik juga suka kok,” pungkasnya singkat sambil menandatangani buku saya, masih dengan gaya yang sama.

Sebenarnya saya berharap kami bisa mengobrol banyak soal musik. Ah, tapi itu nanti saja. Suatu saat nanti, kalau berjumpa kembali. Semoga.

Kami kemudian meneruskan obrolan kecil nan ringan. Kali ini saya banyak diam dan hanya mendengarkan. Deki dan SGA yang lebih banyak berbincang. Entah mengobrol soal apa saya sendiri sudah lupa. Maklum, saat itu perasaan saya sudah cukup puas karena bertemu dengan penulis idola, mengobrol intim dan mendapatkan tanda tangannya.

Ketika suasana senyap dan tidak ada bahan omongan, kami sekedar mengecek ponsel masing-masing, atau melihat-lihat sekeliling. Saya iseng memandangi seluruh sudut ruangan di mana kami bertiga berdiri…

Brengsek.

Saya baru sadar kalau saat itu baru saja mengobrol langsung bersama SGA di antara kumpulan memorabilia (alm) Munir. Ini bukan spot yang biasa. Ini lokasi yang istimewa.

Bayangkan berada di antara dua sosok yang kita tahu telah ‘menulis’ cerita dengan semangat perlawanan – lewat profesi dan caranya masing-masing. Dan keduanya juga dikenal suka menolak untuk dibungkam.

Entah kenapa, bagi saya, momen hari ini terasa cukup magis. Sureal.

Terima kasih Mas Seno. Matur suwun Cak Munir.

IMG-20141209-WA0004
…yeah, akhirnya!

*Naskah ini sebenarnya sudah ditulis lama, sejak akhir tahun 2014, dan baru dipublikasikan sekarang. Terhitung lama? Iya. Maklum, file-nya sempat hilang / nyelip ke folder sebelah, dan baru ketemu beberapa hari yang lalu. Prekuel tulisan ini bisa dibaca di sini. Sekuel selanjutnya kemungkinan bakal ada dan akan saya muat kemudian. Oya, trims Sam Deki Bedebah atas momen istimewa di hari itu.