WP_20160103_010 (1)

Singkat cerita, sepanjang tahun 2015 kemarin ada beberapa album yang menjadi favorit dan mampu bertahan sekian lama pada personal playlist saya.

Masih butuh penjelasan lagi?!…

Oke, setahun kemarin muncul sejumlah album lokal yang menarik bagi konsumsi telinga saya. Serunya lagi, banyak di antaranya yang masih berstatus debut album, dari band yang tergolong baru juga – sekalipun wajah para personilnya mungkin tidak terlalu asing dan punya riwayat musikal yang cukup dikenal.

Faktanya, rilisan musik yang bagus memang tidak melulu harus didominasi dari Jakarta, Bandung, atau Jogja. Surabaya sudah punya lakon baru, Malang juga penuh talenta yang berbahaya. Eh, bahkan tidak musti dari Jawa juga, sebab skena musik Sumatra ternyata sangat menggeliat belakangan ini.

Memang album-album milik Sigmun, Barasuara, Sajama Cut, atau Efek Rumah Kaca musti diakui telah menciptakan standar yang cukup tinggi dalam produksi karya rekaman di negeri ini. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah untuk mengejar kualitas seperti mereka.

Sementara itu, kesederhanan musik dan topik yang kuat saya rasa berhasil diwakili oleh Silampukau, Deugalih, atau Iksan Skuter. Saya suka lagu-lagunya yang to-the-point dan jeli menangkap fenomena sekitar. Lagipula, era folk yang terlalu manis dan teduh itu mungkin telah usai.

Well, untuk ranah musik metal sejujurnya agak sempit setahun kemarin. Itu mungkin karena band-band cadas garda depan – macam Burgerkill, Seringai, Dead Squad, Death Vomit, dan koleganya – sedang absen merilis album di tahun 2015. Tapi kabar baiknya, kita jadi punya opsi baru dalam merayakan kebisingan. Sila simak Inheritors atau Rottenomicon yang garang. Catat sekali lagi, Crimson Eyes itu sangat brengsek dan bukan main bagusnya.

Saya mungkin bisa ugal-ugalan jika terus mendengarkan Teriakan Bocah atau Agriculture Thrash. Anehnya, saya justru menemukan ketenangan yang hakiki dari karya unit post-rock asal jambi, Semiotika. Kecerdikan mereka menyisir musik post-rock mungkin sama cermatnya dengan Intenna yang sigap menerjemahkan irama shoegaze tanpa harus selalu menunduk dan berlarut-larut.

Sudahlah, cukup sampai di sini saja pengantarnya. Berdasarkan urutan abjad, inilah album-album Indonesia favorit saya sepanjang tahun 2015;

1. Antiphaty – Up The Punk
2. Barasuara – Taifun
3. Beeswax – Growing Up Late
4. Deugalih & Folks – Anak Sungai
5. Efek Rumah Kaca – Sinestesia
6. Garna Ra – Benua Yang Sunyi
7. Iksan Skuter – Shankara
8. Inheritors – Inheritors
9. Intenna – Helter Skelter
10. Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah
11. Matajiwa – 1
12. Megatrvh – Karnaval Nokturnal
13. Metallic Ass – Agriculture Thrash
14. Rottenomicon – R.A.P.B.N
15. Sajama Cut – Hobgoblin
16. Semiotika – Ruang
17. Sigmun – Crimson Eyes
18. Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan
19. Stars & Rabbit – Constellation
20. Takethislife – Numbers

Honorable Mentions
Ada tiga album edisi reissue yang menurut saya cukup layak untuk dicatat. Yang satu karena keseriusannya dalam berproses dan berkarya. Dua lainnya dianggap berhasil menjembatani generasi dan komunitas musiknya masing-masing.
1. Atlesta – Sensation (Deluxe Edition)
2. Ingus – Hard Life
3. Tony Scott and The Indonesian All Stars – Djanger Bali