fuk

Sore itu kabut tipis mulai turun di atas punggungan sebuah bukit. Disertai embun yang tipis-tipis menampar wajah. Saya terus berjalan sambil memanggul ransel di punggung dan menenteng tas berisi tenda dome di tangan kanan. Melewati gerbang bambu yang berdesain artsy, memasuki sebuah tenda besar, lalu melintasi beberapa meja kayu yang ditata zig-zag. Ada banyak kesibukan di sana. Saya menyapa sejumlah kawan yang kebetulan berpapasan. Hai kawan, sehat?!…

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka dengan penampakan panggung musik di ujung sana. Kabut tipis masih memenuhi udara dan sedikit menggangggu pandangan. Hawa dingin mulai menerpa kulit. Pepohonan rindang, rerumputan hijau dan panorama pegunungan tersebar di sekelilingnya. Adem. Sejuk. Saat itu pula, sayup-sayup terdengar lagu “Hoppipolla”-nya Sigur Ros di telinga. Syahdu.

Sebentar, apakah saya sedang berada di dataran tinggi Islandia?!…

Seperti itu momen kedatangan saya pada acara Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 24 Januari 2015 yang lalu. Terlalu sempurna, dan sulit untuk dilupakan. Saya hanya bisa berdiri diam dan menikmati lagu “Hoppipolla” hingga usai. Lalu berjalan lagi mencari lahan yang tepat untuk mendirikan tenda. Saya berencana menginap selama dua malam bersama beberapa teman baik. Kemping tipis-tipis.

Well, cerita seru serta ulasan soal kegiatan ini bisa anda telusuri lewat tulisan dan foto-foto milik teman-teman yang sudah dipublikasikan via internet. Coba googling saja, saya lagi malas sertakan tautannya. Ya, saya memahami penyesalan anda yang tidak bisa datang ke acara tersebut. So sorry about that.

Memang hidup itu tidak melulu indah seperti yang kita alami saat bersama-sama di Gunung Banyak, Paralayang Batu, kemarin. Pulang dari sana, kita toh kembali menjalani rutinitas yang menjemukan dan bergumul dengan kekacauan yang kerap bikin sebal. Lihat saja apa yang terjadi di sekeliling kita. We’re so fucked up, yeah?!…

Menurut Urban Dictionary, kata Fucked Up bisa diartikan sebagai “A level of status. Typically used in reference to being physically, mentally, morally/asthetically, performance-wise, or even theoretically damaged in some way. It, in and of itself has many gradient levels, such as ‘slightly fucked up’, or ‘extremely fucked up’, but all versions have to do with describing the level of damage. A wonderfully universal root word, to be sure.”

Sementara yang paling saya ingat, Fucked Up adalah band punk/hardcore asal Toronto Kanada yang cukup keren. Saya suka lagu-lagunya. Live-nya juga menarik. Beda dengan band punk/hardcore kebanyakan. Simak saja di YouTube kalau tidak percaya. Saya rekomendasikan semua albumnya, terutama David Comes To Life.

xxxxx

Oke, mari saya ceritakan sedikit soal kondisi kota yang biasanya nampak indah jika dilihat dari atas bukit tempat kami kemping kemarin. Sebuah kota yang sudah saya diami selama hampir seumur hidup saya hingga sekarang. Kota yang entah.

Belakangan, saya mulai sebal tinggal di kota Malang yang makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai mengeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Well, begini Bung, tentunya saya tidak mau menunggu kota Malang jadi ‘separah’ Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya untuk menyadari semua masalah itu. Minimal kudu ada yang aware kalau terdapat banyak ketidakberesan di kota ini yang perlu diatasi. Sebelum terlambat.

Di jalanan, kendaraan bermotor sudah terlalu banyak dan dikendarai dengan seenaknya sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Waspadalah dengan ibu-ibu yang mengendarai motor matic, begitu tweet kocak yang saya baca di Twitter kemarin. Zebra cross selalu ‘dimakan’ oleh roda-roda kendaraan, lampu masih kuning sudah pencet klakson berkali-kali. Hari ini, jangankan kita yang manusia, kucing saja sudah kesulitan untuk menyeberang jalan di kota ini.

Urusan rute lalu lintas saja bisa menjadi problem yang rumit dan hampir tak terpecahkan. Seperti rute di Lingkar UB; awalnya dua arah, lalu jadi satu arah, trus balik lagi jadi dua arah. Kemudian ditambah lagi polemik soal bis sekolah (Bus Halokes, kalau kata Pemkot). Sebenarnya itu ide yang bagus, jika tidak malah bikin siswa terlambat masuk kelas atau sudah dibicarakan baik-baik dengan (asosiasi) sopir angkot.

Di kota ini, jalur pedestrian juga semakin minim. Trotoar sudah banyak dikikis demi memberi ruang yang lebih lebar bagi para pengendara bermotor. Jadi siap-siap saja disenggol kendaraan saat berjalan kaki di tepi jalan atau trotoar. Atau mungkin, justru kita sendiri yang sering menyerobot hak para pejalan kaki itu?!

Belum lagi tata kota yang makin simpang-siur. Zonasinya tidak jelas. Ruko dan papan reklame di mana-mana. Pertumbuhan mini market sudah melampaui nalar belanja ibu-ibu di kompleks perumahan. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah atau so-called-heritage itu juga kadang dirobohkan, beralih fungsi jadi bangunan modern yang tidak jelas. Perda soal tata ruang, bangunan tua atau cagar budaya seperti semacam mitos di sini.

Oke, mulai ada beberapa taman dan ruang publik di tengah kota. Itu bagus asal dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tapi belakangan saya baca di surat kabar kalau taman-taman itu juga kurang terawat dan fasilitasnya mulai rusak di sana-sini. Eh, ini kota yang berjuluk “Kota Bunga” tapi justru membeli bunga plastik seharga miliaran rupiah untuk tamannya, dipajang di depan gedung balai kota lagi. Huft. Cerdas!

Saya sempat baca komentar dari seorang pakar planologi yang bilang bahwa kota Malang ini semakin tidak jelas karakter dan identitasnya. Benar juga sih. Lha wong branding-nya juga gak jelas. Jauh sekali dari angan-angan sebagai smart city, apalagi creative city. Sementara soal city branding hanya berakhir pada desain, hashtag, dan trending topic sesaat. Menuju kota yang bermartabat? Mmmh, entah mau dibawa ke mana kota ini sebenarnya…

Jumlah pelajar dan mahasiswa juga makin melimpah, memadati setiap sudut wilayah pendidikan di kota ini. Kampus-kampus hanya menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan biaya tinggi. Ada perguruan tinggi di mana rektornya bahkan tidak berani membela kebebasan akademik kampus dan independensi mahasiswanya. Mereka justru tunduk pada kekuatan yang entah, dan ikut serta mematikan daya nalar kritis anak didiknya. Salah satunya adalah “PT Brawijaya, Tbk”, istilah yang dipopulerkan oleh kawan saya yang suka ngopi dan menyanyi lagu-lagu balada, Iksan Skuter.

Di jalanan, mulai muncul ormas-ormas sayap kanan yang tidak jelas. Entah mereka dari mana datangnya. Mereka tiba-tiba saja suka ‘bermain tuhan’ dengan cara sweeping atau menolak apapun yang tidak enak di mata dan batin mereka. Akhir tahun lalu, sejumlah ormas dibantu dengan kekuatan ‘militer’ sukses membubarkan pemutaran film Senyap di beberapa titik.

Lalu juga ada acara diskusi film Samin vs Semen dan Alkinemokiye yang dibubarkan oleh Satpam atas nama petinggi kampus dengan argumen khas Orba Baru. Kampus itu sudah seperti Markas Kodam. Alasannya, muatan film tersebut dinilai tidak sesuai dengan ideologi kebangsaan dan ketuhanan? Paranoia yang tidak logis dan mengada-ada. My ass.

Disadari atau tidak, begitulah kurang lebih gambaran umum kota Malang, belakangan ini. Banyak yang gelisah dan mulai menggerutu. Keluhan itu mulai terdengar, meski pelan, di berbagai sudut-sudut kedai kopi, di ruang makan keluarga, di kantin kampus, hingga di kolom-kolom sosial media.

Ah, atau saya mungkin yang terlalu banyak mengeluh. Hanya bisa menggerutu tanpa kasih solusi. Ada baiknya saya segera menyeduh segelas kopi atau menambah sebotol bir lagi, sembari menaruh tiga lagu yang tepat di playlist; “Malang Nominor Sursum Moveor” (No Man’s Land), “Malang Yang Malang” (Iksan Skuter), atau “Puing” (Neurosesick). Tambahkan lagu-lagu berirama thrash metal agar semua ini semakin ‘fucked up’. Seperti misalnya, mmmh, Municipal Waste?!

xxxxx

Saya teringat sesi diskusi dan open mic yang terjadi di tenda besar dalam kondisi hujan deras pada hari kedua Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 25 Januari 2015 lalu. Anak-anak muda dari berbagai daerah itu bergantian menyampaikan opini, kesan dan harapannya. Mereka berbicara banyak soal cara berjejaring, berkarya, bergerak, serta pengalaman mereka mengorganisir komunitasnya. Mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, sedikit bandel dan susah diatur, tapi tulus berkarya, jarang mengeluh, serta tidak pernah mengemis pada penguasa.

Kalau sudah begini, siapa yang masih butuh negara atau pemerintah?!

Yeah, we’re gonna fucked ’em up. 

 

*Esai ini rencananya untuk sebuah kolom di Penahitam Fanzine edisi “Fucked Up” (2015), namun gagal muat karena tidak masuk kriteria redaksi. Saya bisa memahami alasannya dan memang kudu belajar (menulis) lebih banyak lagi. Oya, sketsa dasar tulisan ini juga berasal dari salah satu esai yang pernah ada di blog personal penulis.