16769476586_9556787c6e

Hammersonic Festival
Lapangan D Senayan, Jakarta – Indonesia.
08 Maret 2015.

Lagu pengiring Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) berbunyi dari tumpukan speaker, sekumpulan pria berkostum hitam dan bertopeng seram naik ke atas panggung, lalu menyapa penonton dengan celoteh humornya yang tajam. Itu pas bagian intro pembuka dari penampilan Mesin Tempur. Band ‘anonymous’ yang tidak perlu saya sebutkan siapa saja personilnya itu tampil menghibur lewat komposisi musik grindcore/crossover berlirik Sunda-Indonesia. Menyalak dengan penuh parodi, plus gaya panggung yang konyol. Sinting. Absurd. Kegilaan yang maksimal.

Tontonan seperti itu jelas menghibur dan bikin rileks penonton yang berjam-jam sebelumnya telah digempur oleh musik keras dari dua panggung secara bergantian. Sejak siang, sudah tampil sejumlah band cadas seperti Moses Bandwitch, Warkvlt, Fraud, Inlander, Demented Heart, Prosatanica, Nectura, Thrashline, hingga Beside. Amplifier sudah memanas sedari tadi. Peluh keringat para penonton di barisan depan pun mulai menetes. Cuaca mendung dan sedikit hujan yang membasahi venue seakan tidak cukup untuk mendinginkan adrenalin puluhan ribu metalhead yang berpesta hari itu.

Straight Out muncul kemudian di atas Sonic Stage. Mengusung lagu-lagu berirama metalcore dari diskografi terakhir mereka. Biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Penonton lalu bergeser ke samping kanan, mendekati Hammer Stage di mana sang monster death metal kebanggaan kota Jogja, Death Vomit, akan segera tampil. Sofyan Hadi dkk bermain intens, tanpa banyak basa-basi dan seperti mengejar durasi waktu. Mereka menyuguhkan nomor-nomor sakti dari album Forging A Legacy, sampai lagu kover “Criminally Insane”-nya Slayer dan nomor pamungkas “Anthem of Hate”. So fast and furious.

Sesudah itu, bocah-bocah tua nakal berlari bergabung bersama Roxx di panggung sebelahnya. Mereka merayakan nostalgia musik rock/metal klasik di bawah asuhan vokalis kharismatik Trison dan celetukan bandel dari gitaris Jaya. Hits legendaris macam “5 cm” dan “Rock Bergema” direspon hangat oleh sebagian penonton yang, kalau kata kawan di sebelah saya, sudah kelihatan dari umurnya. Sungguh menyenangkan ada momen ‘oldschool’ seperti ini.

Dari kota Madrid, diterbangkan sekelompok pria gondrong bernama Avulsed. Mereka adalah band lawas yang sudah cukup dikenal dan diminati oleh fans death metal di Indonesia. Dave Rotten dkk tampil apik dan mampu berkomunikasi dengan baik. Sejumlah nomor dari album Stabwound Orgasm (1999) hingga Ritual Zombi (2013) digelontorkan tanpa ampun ke telinga penonton. Headbanging dan kepalan tangan di udara tidak terelakkan lagi.

Jika ada sesi musik thrash metal, itu tandanya waktu untuk bersenang-senang. Warbringer bermain penuh semangat, dengan riff-riff thrashing yang mampu menggerakkan kepala. Moshpit menjadi seru. Circlepit makin memanas. John Kevill dkk tampaknya lebih banyak membawakan materi dari album terakhir, IV; Empires Collapse, malam itu.

Agak berbeda dengan Deathstars di panggung sebelah. Tampaknya tidak banyak penonton yang mengikuti musik mereka. Selain beda corak, mungkin genre musik industrial-goth rock terlalu ‘ringan’ untuk disuguhkan pada jam-jam prime-time seperti saat itu. Musiknya sebenarnya tidak buruk. Sedikit mengingatkan pada Rammstein, Marilyn Manson, bahkan Koil. Andreas Bergh dkk tampak begitu kelam dengan kostum serba hitam dan masker putih di wajah.

Mungkin rundown seperti itu adalah bagian dari strategi penyelenggara yang sedang memainkan mood penonton. Sebab ada Ignite, satu-satunya menu oldschool hardcore yang tampil kemudian. Para HC kids yang fanatik mulai merangsek dan menguasai bibir panggung. Ikut bernyanyi bersama Zoli Teglas dkk. Sebagian mengaku hanya menunggu Ignite memainkan lagu kover “Sunday Bloody Sunday”-nya U2, yang sayangnya ternyata tidak ada dalam setlist. Untungnya, Ignite bermain enerjik, penuh tenaga dan sanggup mengangkat mood penonton.

Salah satu band yang ditunggu-tunggu, Vader, terpaksa mengalami sedikit masalah pada sound-nya sejak sesi persiapan atau soundcheck. Itu bikin mood penonton kembali turun dan agak sulit terangkat. Di sisa waktu mereka, Peter dan komplotannya menyuguhkan nomor-nomor dengan gaya terlalu datar. Cukup rapi, tapi tidak banyak menimbulkan gejolak kecuali bagi die-hard fans yang setia di barisan depan.

Banyak yang terkejut dengan aksi Unearth malam itu. Sejak menit awal, produksi sound-nya terdengar paling gahar dan jauh lebih baik daripada band-band sebelumnya. Vokalis Trevor Phipps yang berkaos Crowbar benar-benar menguasai panggung dan bisa membina crowd dengan apik. Salah satu gitarisnya yang memakai kaos Nirvana juga cukup sukses mencuri perhatian kami saat itu.

Memang, pengusung musik metalcore lebih sering ditakdirkan menjadi band panggung yang baik – dalam ukuran kualitas sound, penampilan dan komunikasi. Masih ada beberapa band lagi setelah Unearth, tapi saya sudah terlanjur menyebut mereka sebagai salah satu bintang dalam pertunjukan kali ini.

Mengundang The Faceless adalah sebuah perjudian besar yang dilakukan penyelenggara. Saya tahu maksudnya mungkin untuk variasi musik, biar tidak monoton. Hasilnya kemarin, tidak banyak penonton yang bisa, atau mau, memahami kompleksitas musik Michael Keene dkk. Saya pribadi doyan musik prog-tech metal kelas berat macam yang dimainkan oleh The Faceless. Setlist mereka hanya empat lagu berdurasi panjang dengan intro yang epik dan solo gitar di sana-sini. Tercium aroma musik ala Opeth, Cynic, atau Tesseract pada beberapa bagian komposisi lagu mereka.

Di tengah set, tidak sedikit fans metal yang merasa agak diombang-ambingkan oleh transisi distorsi dan akustik yang dibawakan oleh band asal California ini. Sebagian menyerah, memilih duduk memegang kepala sambil beristirahat atau mungkin mengeluh dalam hati, “Kapan siksaan musik seperti ini akan berakhir?!”

Momen ‘oldschool’ hadir kembali lewat penampilan Terrorizer. Pengusung musik grindcore kugiran ini memainkan setlist dari album klasik World Downfall. Sebuah nostalgia yang indah bagi mereka yang pernah tumbuh dan dibesarkan oleh lagu-lagu seperti “After World Obliteration”, “Fear of Napalm”, “Corporation Pull-In” atau “Dead Shall Rise”. Hanya Pete Sandoval (drum) selaku personil asli di formasi terakhir ini, selebihnya ada dua nama yang tidak main-main, yaitu gitaris Lee Harisson (Eks Monstrosity / Atheist / Malevolent Creation) dan bassis/vokalis Sam Molina (Eks Monstrosity). Terrorizer tidak kehilangan tajinya meski mereka sudah berada di usia senja. Meski tua, mereka tetap intens dan berbahaya.

Tidak salah keputusan saya untuk berjalan merapat ke Hammer Stage, malam itu. Sungguh di luar prediksi banyak orang, ternyata Mayhem mampu tampil memukau mata dan telinga. Bahkan ini terlalu bagus untuk ukuran band black metal tradisional – yang sempat saya anggap buruk performanya ketika nonton rekaman live-nya di YouTube. Saya salah kira, kebanyakan kawan juga salah prediksi.

Attila Csihar tampil dengan jas terbuka, kalung salib terbalik yang gede, dan corpse-paint berwarna merah darah. Ditambah lagi dengan kebiasaanya menenteng-nenteng kepala tengkorak dan mengibaskan tali gantungan. Terlihat begitu bengis, dingin dan menakutkan. Corak vokal Attila Csihar juga istimewa, dia sanggup bernyanyi dengan pitch yang berubah-ubah dan di luar nalar sehat. Seram dan bikin merinding. Penonton pasti makin bergidik tatkala layar video di belakang kerap menayangkan foto-foto Euronymous dan Dead, dua personil awal Mayhem yang tewas secara tragis.

Tempo musik sedingin itu pun sukses dikawal oleh betotan bass Necrobutcher dan Hellhammer yang tersembunyi di balik set drum. Mayhem memainkan “Deathcrush”, “Chainsaw Guts Fuck”, hingga “Freezing Moon” yang terdengar lebih apik daripada aslinya. Setidaknya begitu yang ditangkap oleh kuping saya, dan sebagian kawan di sana. Jadi tidak salah jika banyak yang bilang Mayhem adalah highlight terbaik dari Hammersonic tahun ini. Absolute the trve, pure fucking armageddon!

Lamb of God seperti biasanya. Memang masih layak ditaruh sebagai headliner penutup pertunjukan. Randy Blythe dkk selalu mampu mengajak crowd untuk benyanyi maupun beraksi liar di moshpit. Bagian terbaiknya adalah gempuran groove khas southern-rock yang menyihir telinga dan sulit untuk diacuhkan. Setlist-nya pun cukup adil. Seperti “Laid To Rest”, “Walk With Me In Hell”, “Now You’ve Got Something To Die For”, hingga “Redneck”. Semua tampak terpuaskan. Menempatkan Lamb of God di akhir pertunjukan memang tidak pernah salah demi sebuah klimaks festival metal yang bakal dikenang oleh puluhan ribu kepala.

Hammersonic just smashed thousands faces, and they’ve got something to die for.

 

*Liputan ini sebelumnya dimuat pada situs The Metal Rebel, dalam versi bahasa Indonesia dan English. Cek juga galeri foto Hammersonic 2015 eksklusif jepretan Hendisgorge di sini.