Ingus - foto dok.Ingus

Tersebutlah sebuah gang kecil di kawasan Oro-Oro Dowo, kota Malang. Gang itu berada di tengah kawasan pemukiman padat penduduk, yang jembatannya berjasa menjadi jalan pintas atau short-cut yang menghubungkan antara daerah Celaket, Samaan, dan Lembang dengan daerah Oro-Oro Dowo. Jembatan gantung berkonstruksi besi itu, kira-kira, hanya memiliki lebar dua meter dan panjang dua puluh meter. Tepat di bawah jembatan itu, mengalir sungai Brantas yang dengan angkuhnya membelah kota Malang menjadi dua daratan.

Peran jembatan gantung itu cukup penting. Karena tanpa keberadaan jembatan tersebut, warga musti memutar lebih jauh lagi agar sampai di tujuan. Itu adalah satu-satunya opsi terbaik untuk menyingkat waktu dan energi. Otomatis, ruas gang yang sempit itu menjadi jalur yang sibuk bagi pejalan kaki, sepeda, dan motor. Tentu menambah suasana yang berisik bagi warga setempat.

Kawasan tersebut berada di Oro-Oro Dowo Gang IX (Jalan Brigjen Slamet Riyadi), atau yang lebih akrab disebut Gang Songo oleh warga sekitar atau orang-orang yang nyaris setiap hari lewat sana. Kebetulan saya dulu juga pernah tinggal tidak jauh dari situ, tidak sampai tiga ratus meter, jadi saya termasuk orang yang cukup sering melintasi gang tersebut.

Band yang akan saya ceritakan ini, bisa dikatakan, lahir dan tumbuh di kawasan tersebut. Ingus adalah Iwan, Firman, Agus, dan Sofie. Kebetulan mereka tinggal sekampung, di kawasan Gang Songo situ. Keempatnya rata-rata masih berusia belasan tahun dan masih berstatus pelajar SMA ketika membentuk Ingus, dua puluh tahun silam.

Sebentar, seperti apa rasanya menggeluti hobi bermusik di kota Malang, 20 tahun yang lalu?! Musik keras tentu masih terdengar ekstrim di telinga awam, meski festival musik rock skala lokal kerap digelar. Mau main band selalu ditolak oleh studio musik atau pertunjukan yang memasang peringatan keras ‘No Trash, No Punk, No Underground’. Sedih.

Oke, heavy metal memang mewabah, dan bagi kami itu selalu identik dengan pentagram. Sementara punk adalah tentang spike dan rambut mohawk dengan lem kayu. Hardcore cenderung luwes dan bisa ditafsirkan lebih bebas – meskipun masih ada yang bertanya-tanya kenapa Ian MacKaye suka membubuhkan tanda silang di punggung tangannya?!

Dalam seminggu, kami yang masih berstatus pelajar paling banter hanya bisa beli 1-2 kaset hasil menabung dari uang saku harian. Sisanya pasti hasil merekam atau pinjam dari teman. Mengenal nama band-band baru lewat kolom thanks-list di sampul kaset. Juga kerap beli rilisan hanya karena artwork sampulnya yang terlihat keren, dan seram.

Dengan skill bahasa Inggris yang pas-pasan, penggemar punk/hardcore mulai bergantian baca fotokopian majalah Maximum Rock N’ Roll dan Punk Planet – meski hanya akrab dengan nama Green Day, NOFX, atau Rancid. Semua anak muda di era itu juga suka membaca Hai, menonton MTV dan mulai kenal Nirvana dari sana. Selebihnya, kami masih naif dan bodoh dalam menafsirkan ideologi dan genre musik apapun, tanpa referensi yang mumpuni seperti sekarang.

Konon, selera musik yang sama itu awal mulanya dibentuk oleh lingkungan terdekat. Kalau bukan pengaruh dari dalam keluarga, pasti akibat pergaulan di kampung sendiri. Faktanya, Iwan dan Firman adalah dua saudara kandung alias kakak-beradik. Sementara Agus dan Sofie adalah kawan setongkrongan di Gang Songo. Mereka berempat adalah kawan nongkrong dengan selera yang sama dan suka berbagi wawasan musik, selain doyan minum alkohol murahan di ujung gang, setiap akhir pekan.

Pada zaman itu, scene bermusik di kota Malang memang banyak dibentuk oleh kampung-kampung atau squat yang jadi basis para anak band dan penggemar musik yang fanatik. Salah satunya juga berkumpul di Gang Songo, kampung kecil dengan populasi anak muda yang doyan segala jenis musik keras – mulai rock, metal, punk, hingga hardcore. Dalam perkampungan yang padat kita mudah untuk memahami hal itu lewat suara musik yang mengalun dari speaker di dalam kamar atau stiker-stiker yang tertempel pada pintu/jendela rumah mereka.

Seperti juga Iwan dkk yang mengaktualisasikan dirinya di Gang Songo. Mereka berempat akhirnya menemukan chemistry pada musik-musik yang dimainkan Black Flag, Minor Threat, Bad Brains, Sex Pistols, atau Ramones. Meskipun di kamarnya masing-masing, saya yakin mereka juga tetap memutar Iron Maiden, Motley Crue, Slayer, Sonic Youth, ataupun Nirvana. Tipikal anak muda yang selalu mencari dan penasaran dengan musik-musik (keras) yang baru.

“Old fashioned 95’s hardcore punk band. Positive outlook. Sleep tired like regular worker. Eat three times in the same menu. But we can make a fast music,” begitu profil singkat Ingus yang mereka tulis. Sangat valid dan akurat. Sulit untuk dibantah.

Sejak terbentuk tahun 1995, Ingus sudah cukup menarik perhatian arek-arek Malang. Iwan dkk memainkan musik yang agak berbeda dengan band lokal kebanyakan – yang saat itu masih didominasi pengusung musik metal dan punk. Memang semua itu sama kerasnya, tapi ada beda rasa yang cukup kentara.

Sejujurnya saya sudah lupa seperti apa live-nya Ingus di panggung-panggung kecil jaman dahulu. Namun kalau lihat arsip foto-foto lawasnya yang tidak banyak itu; Ada moshing di beberapa titik, crowd yang rapat dan antusias, serta kalau tidak salah Agus pernah tampil nyaris telanjang di atas panggung. Jangan pernah berharap aksi terakhir yang vulgar itu bisa terjadi lagi saat ini.

Ingus tumbuh bersama No Man’s Land, The Babies, Bangkai, dan band-band lawas seangkatannya. Selama setahun penuh, sembari manggung di gigs-gigs kecil, Ingus terus menulis serta merampungkan lagu-lagu ciptaan mereka. Setelah terkumpul materi yang lebih dari cukup, apa lagi yang kudu dilakukan sebuah band selain rekaman?!…

Entah apa pula yang ada di benak seorang metalhead kawakan, Budi Sarzo, sampai berani (atau iseng-iseng) bikin label rekaman bernama Nose Records demi merilis album milik Ingus. Saya duga itu akibat faktor pertemanan yang sudah terjalin lama dan erat di antara mereka. Selain musik Ingus yang memang cukup menarik perhatiannya.

“Cuma menghabiskan uang enam puluh ribu rupiah untuk proses rekaman album Ingus waktu itu,” ungkap Iwan. Harga yang cukup wajar untuk di jamannya – dengan metode live recording di studio musik yang sederhana. Pada bulan Agustus 1996, album Hard Life akhirnya resmi dirilis dan dipasarkan terbatas dalam lingkup komunitas underground saat itu.

Seperti titelnya, Hard Life, mungkin bisa jadi penanda kehidupan keras yang pernah dialami oleh anak-anak muda di jaman itu. Mereka yang hidup di zaman Orde Baru dengan tingkat represi yang tinggi dari pemerintah, aparat, sekolah, atau para orang tua. Ditambah kesumpekan tinggal di daerah yang padat dan bising. Saya rasa itu pasti ada pengaruhnya kepada musik dan lirik yang dibikin Iwan dkk.

Band ini memang akhirnya berumur singkat. Iwan dan Firman lalu bikin Stolen Visions, Agus membentuk Primitive Chimpanzee. Selebihnya adalah sejarah, cerita dan nostalgia.

Hanya dengan satu album dan beberapa gigs saja, Ingus lalu berhenti. Karir Ingus mungkin sudah ditakdirkan sependek ruas jembatan gantung Gang Songo, yang tetap penting untuk dilewati dan berjasa mengantarkan Iwan dkk menuju ke babak yang berikutnya.

Harus diakui, Ingus ikut meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi penafsiran musik punk/hardcore di kotanya. Sebab pada dasarnya, Hard Life memandu kita untuk membuka kembali halaman pertama kitab histori pergerakan musik punk/hardcore di kota Malang. To know our root, learn something, and keep on running.

Sampai hari ini pun saya masih sering lewat Gang Songo, dan aura itu masih terasa…

Malang, Mei 2015

*Tulisan ini awalnya adalah naskah liner notes untuk proyek rilis ulang album Ingus “Hardlife” oleh label Fukyu Records. Album berformat kaset ini telah beredar tepat pada momen perayaan Cassette Store Day 2015 di Malang. Semua profit dari penjualan album ini akan disumbangkan kepada Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK). Konon kabarnya Ingus sekarang aktif kembali dalam formasi baru, serta sedang menyiapkan materi terbarunya. 

*Tulisan ini juga dimuat pada situs Jakartabeat.