#NML20
#NML20

Saya mungkin sudah mengenal No Man’s Land sejak awal mereka terbentuk dan menampakkan diri, sekitar 20 tahun lalu. Kebetulan, personil mereka adalah kakak kelas saya di bangku SMA. Lalu kami makin akrab ketika sama-sama bergaul di lingkungan skena musik underground di kota Malang. Saya masih ingat, ketika pertama kali memegang kaset bertajuk Separatist Tendency, sebuah demo album sederhana yang berisi kumpulan lagu-lagu karya Didit dkk di awal karir musik No Man’s Land. Saya langsung terkejut sekaligus kagum, sembari mengumpat dalam hati. Jancuk!

Itu terjadi pada tahun 1994. Jaman itu, scene musik kota Malang masih didominasi oleh band-band rock dan metal, hanya sebagian kecil saja yang memainkan musik hardcore dan punk. Kebanyakan dari mereka semua juga masih belum punya lagu sendiri, apalagi sampai merekam karya mereka di studio. Tidak, belum sejauh itu. Sebagian besar hanya doyan mengkover lagu milik band/musisi bule – lalu manggung pada acara-acara musik di kampung, kampus atau sekelas parade/festival lokal. Sudah. Gitu-gitu saja.

Di tengah kondisi seperti itu, adalah suatu kejutan yang istimewa jika tiba-tiba ada band anyar yang tidak begitu dikenal, memainkan musik punk rock, punya banyak stok lagu sendiri, dan berani merekam karyanya. Itulah yang dilakukan No Man’s Land, sekumpulan anak muda usia belasan yang tanpa diduga berani masuk studio rekaman dan merilis karyanya. Kalau ingatan dan arsip saya tidak salah, Separatist Tendency merupakan demo/album band underground asal Malang yang pertama kali dipasarkan untuk publik.

Saya juga masih ingat, tak lama setelah itu langsung memburu Didit dkk untuk wawancara dan mengulas Separatist Tendency untuk media musik yang saya kelola bareng temen-temen, Mindblast fanzine. Itu juga jadi salah satu pengalaman pertama saya mewawancarai sebuah band, sebelum memutuskan untuk lebih banyak lagi menulis musik seperti sekarang.

Selanjutnya, perjalanan No Man’s Land hingga sekarang sudah bisa menjadi cerita, pengalaman dan histori yang agung. No Man’s Land kini telah berusia 20+, terus merilis karya dan menambah daftar diskografi, serta manggung di mana-mana jikalau mampu dan ada waktu. Hari ini nama dan karya mereka sudah mampu melintasi jaman, generasi, bahkan benua.

Satu yang tidak pernah berubah dari No Man’s Land sejak pertama kali saya mengenal mereka hingga sekarang adalah sikap humble-nya. Begitu ramah, bijak dan membumi dari sononya. Sungguh sulit untuk tidak menyukai atau menghormati mereka, sekalipun tidak berada pada selera atau frekuensi musik yang sama.

Saya lalu berpikir, mungkin No Man’s Land sudah menunjukkan pada kita bagaimana untuk beranjak tua dan terus berkarya tanpa batas. Selama kita mencintai musik, memang tidak ada alasan yang logis untuk berhenti atau pensiun. Didit dkk terus bernyanyi lantang soal pilihan hidup, bekerja keras, persahabatan, atau cara-cara sederhana untuk mencintai kota sendiri.

No Man’s Land sudah menjalani kehidupan seperti itu, tanpa perlu diembel-embeli sebagai karir atau profesi. Katakanlah ini soal konsistensi dan dedikasi yang penuh.

Di usianya yang tidak muda lagi, No Man’s Land masih bisa berjalan, bahkan berlari, tanpa harus melonggarkan tali sepatu boot mereka. Di situ saya merasa segan dan akan selalu menghormati band ini.

Malang Nominor, Sursum Moveor!

Maret 2015
-samack-

*Naskah di atas saya tulis sebagai bagian dari testimoni dan respon atas proyek buku biografi No Man’s Land. Informasi lebih lanjut soal buku tersebut silahkan pantau via Twitter dan Facebook.  

Post-Scriptum ; Tanggal 18 Oktober 2015 lalu, saya menjadi moderator dalam sesi diskusi buku biografi No Man’s Land. Bertempat di Houtenhand Malang, acara ini sekaligus menjadi momen rilis resmi buku tersebut. Rekaman video dari acara tersebut bisa disimak melalui tautan ini.