Foto Dok. Sajama Cut
Foto Dok. Sajama Cut

Band indie rock asal Jakarta, Sajama Cut, belum lama merilis album yang bertajuk Hobgoblin melalui label Elevation Records. Sudah ada beberapa ulasan dan kritik untuk album tersebut. Pada umumnya, mereka bilang Hobgoblin adalah album yang baik-baik saja, bahkan nyaris istimewa. Dalam artian, memang album itu banyak ditunggu dan ternyata disukai – bahkan oleh mereka yang (mengaku) sebenarnya tidak seberapa paham konsep musik, lirik maupun tema yang sedang diusung oleh Sajama Cut.

Saya hanya sempat mendengarkan beberapa sampel lagu saja ketika memberanikan diri untuk menulis testimoni pendek bagi album Hobgoblin di musim pra-rilisnya; “Marcel Thee & co. tidak pernah jera membuat komposisi musik yang indah dan di luar nalar band-band sejenis. Kompleks dan misterius, namun tetap nyaman di telinga. Pada bagian yang paling sederhana pun masih terdengar epik dan punya nilai seni.”

Ya, mungkin itu hanya dugaan yang agak tergesa-gesa dan diliputi positive thinking belaka. Maklum, dua album mereka sebelumnya, The Osaka Journals (2005) dan Manimal (2010), sudah memberikan standar yang cukup tinggi serta kepercayaan yang kuat bagi saya untuk tidak (pernah) meragukan lagi kualitas bermusik Sajama Cut.

Setelah berkali-kali menyimak seluruh materi Hobgoblin, ekspektasi saya cukup terpuaskan. Saya tidak menyesal telah menulis komentar seperti yang saya bilang tadi di atas. Oke, itu album yang bagus, yang memang sekaligus agak susah untuk dijelaskan.

“Mendengarkan Sajama Cut adalah sebuah ketidakmungkinan,” tulis Khus Indra dalam ulasannya di situs Posmodmagz. “Ketidakmungkinan untuk menebak alunan musik dan distorsi nada mereka. Ketidakmungkinan untuk melahap seluruh arti-arti dan lirik puitis mereka.”

Dia juga mengatakan kalau Hobgoblin merupakan keniscayaan untuk dinikmati dan dirasakan. Dengan menyitir kalimat populer dari Jackson Pollock (The painting has a life of its own), Khus Indra meyakini bahwa Hobgobin juga memiliki kehidupannya sendiri. Hobgoblin has a life of its own.

Memang, album yang baik, setidaknya bagi saya, adalah album yang bisa memberikan berbagai kejutan dan meninggalkan banyak misteri yang menyangkut di kepala. Menggugah pertanyaan dan rasa penasaran. Secara tehnis, itu adalah album yang musti dputar kembali dari awal ketika track terakhir sudah usai – atau justru dibiarkan selesai, lalu memilih diam dalam hening serta merasakan memori-memori musikal yang mengendap di dalam pikiran. Hobgoblin rasanya punya potensi seperti itu.

Supaya tidak terlalu menduga-duga, saya memutuskan berbincang saja dengan frontman Sajama Cut, Marcel Thee, untuk mendapatkan informasi yang lebih detil lagi soal album Hobgoblin. Ya, siapa lagi yang pantas untuk mengungkapkan itu semua selain sang empunya karya?!

Pria yang juga bekerja sebagai jurnalis di media berbahasa Inggris ini akhirnya mengungkapkan banyak hal yang bisa membuka ‘kotak pandora’ album tersebut. Marcel Thee bertutur tentang rasa cemasnya dalam menjalani kehidupan dewasa, proses produksi album, hingga apa saja yang mempengaruhi benaknya saat menggarap Hobgoblin.

Setelah menerima jawaban langsung dari Marcel Thee, saya mendapatkan perspektif baru dan berbeda dalam mendengarkan Hobgoblin. Teka-teki soal album itu dan rasa penasaran saya sudah mulai sedikit terjawab. Sisanya, mungkin memang perlu direlakan agar tetap menjadi misteri dan ketidakmungkinan seperti layaknya kehidupan.

Sudah sekitar sebulan Hobgoblin beredar di pasaran. Sejauh ini bagaimana tanggapannya atas album tersebut?
Tanggapannya sangat positif, baik secara kritikal dan dari penjualan.
Sebenarnya apa makna dari kata Hobgoblin, dan dari mana anda mendapatkan judul tersebut?
Album ini tentang rasa cemas mengenai kehidupan ‘dewasa’ di mana semakin banyak kenegatifan yang hadir. Mahluk hobgoblin dari folklore sendiri cukup mewakili perasaan tersebut.
Mengacu pada pengakuan anda di situs Whiteboardjournal, materi dasar Hobgoblin hanya dibikin selama tiga hari pada tahun 2011 silam. Saya penasaran, seperti apa tiga hari yang anda jalani saat itu?
Sederhana saja sebenarnya. Saya hanya mulai menulis lagu dari pukul 11 malam hingga subuh. Sehari tiga lagu dengan synth milik kibordis kita dahulu. Setelah 3-4 hari, satu album itu pun selesai draft dasarnya. Tujuannya adalah mengejar spontanitas – terbalik dengan Manimal yang sangat rapih dikerjakannya.
Ketika menulis musik dasar Hobgoblin, konon anda menanggalkan gitar dan mencoba menggunakan perangkat keyboard. Kenapa?
Karena saya bosan dengan musik yang saya tulis di gitar – setidaknya untuk sekarang. Saya tertarik untuk menggunakan instrumen yang tidak saya kuasai.
Itu mengingatkan saya pada Trent Reznor saat bikin Fragile, atau Billy Corgan saat bikin Adore. Memang selalu ada perspektif baru ketika berganti instrumen ya?
Ya, selalu ada. Setiap instrumen dan bunyi memberikan perspektif baru; sentuhan baru.
Anda juga sempat bilang, “Now, everything about the music still feels like complete truths – a very real reflection of where I was – and maybe still I am – 4 years ago.” Memangnya seperti apa diri anda saat menulis Hobgoblin, empat tahun yang lalu?
Saya baru mulai menjadi ayah; jadi ada banyak kebahagian yang ekstrim, namun juga kecemasan akan dunia yang ekstrim. Memiliki anak adalah suatu hal yang sangat egois – dan rasa 100% tanggungjawab untuk menyerahkan diri saya seluruhnya kepada anak saya adalah elemen besar di Hobgoblin.
Jadi seberapa besar kehidupan berkeluarga dan memiliki anak berpengaruh pada penulisan musik dan lirik di album ini?
Sangat besar. Anak saya adalah titik utama hidup saya, jadi tidak mungkin tidak mempengaruhi baik secara sadar ataupun tidak.
Tampaknya sosok ayah anda juga cukup berpengaruh dalam hidup dan bermusik, termasuk pada penulisan Hobgoblin. Apa saja yang anda pelajari dari beliau?
Hmm, tidak secara langsung, namun iya selalu memberikan kepercayaan diri dan dukungan untuk: 1. Lakukan apa yang membuat kita bahagia, 2. Apapun yang kamu lakukan, saya dukung seratus persen, 3. Jadilah orang yang berintegritas selalu, tanpa terkecuali.
Apa latar belakang anda yang berdarah Tionghoa juga ikut membawa pengaruh pada penulisan lirik di Hobgoblin? Apa ada hubungannya dengan isu-isu rasial, dalam hal ini Tionghoa, yang masih sering dibawa-bawa dan kerap menjadi ‘problem’ di negeri ini?
Saya menghindari opini politis ataupun sosial agar tetap waras. Pilihan saya sejak lama adalah untuk melihat Indonesia sebagai dagelan terlucu yang pernah ada. Bahwa saya keturunan Cina, saya rasa pengaruhnya lebih ke etika kerja Sajama Cut yang cukup brutal.
Saya sempat baca katanya anda belajar soal filsafat dan budaya China, serta konfusianisme. Apa yang dikatakan Tang Junyl dalam bukunya yang anda baca itu?
Saya hanya senang setiap kali bertemu masukan spiritualisme yang berdasarkan rasionalisme dan kebaikan. Tang Junyl banyak memfokuskan diri pada penghormatan kepada orangtua – begitu juga tentunya, Confucius. Meskipun saya hanya menghormati orang sesuai perbuatannya – bukan status, tapi hal itu tetap saya hargai dalam konteks ‘saling memberi’ antar manusia.
Saya terkesan dengan video lirik “Bloodsport”. Apakah lagu itu memang mengambil gagasan dari film laga yang berjudul sama?
Sedikit, namun lebih ke sisi humoris. Lagu itu adalah tentang agama – satu lagi konsep dagelan yang selalu menghibur saya. Semacam tributasi untuk ‘orang beragama yang liberal’ – oxymoron yang super kocak.
Apa itu adalah lagu tentang pertarungan, antara siapa?
Antara si buta dan si buta.
Saya suka lagu “Curtains For Euro”. Musiknya menarik, meski lembut tapi terdengar megah. liriknya pun unik. Lagu tentang apa itu sebenarnya?
Lagu itu adalah fantasi – atau kalau saya mau positif, pengharapan. Mengenai menangnya rasionalitas, kebajikan, empati, dan idealisme.
Dari mana anda menemukan irama dan rima yang ‘kekanakan’ di lagu itu?
Itu lagu pertama yang saya tulis di Hobgoblin, jadi mungkin karena itu terdengar ‘spontan’?
Saya menemukan kalimat yang cerah pada baris lirik “And you could be a winner, oh you could be the one”. Siapa ‘you’ yang anda maksud dalam kalimat tersebut?
Orang-orang waras, baik, dan berkultur.
Lagu “Dinner Companion” diakhiri dengan solo gitar yang berisik sejak menit 03:20. Siapa yang menemukan solo gitar yang maut itu?
Dion Panlima Reza, tentunya. Yang sentuhan gitarnya sudah menjadi salah satu kekuatan maut Sajama Cut sekarang.
Menurut Raka Ibrahim dalam ulasannya di situs Disorder Zine, “Beheadings” adalah salah satu lagu paling menarik yang pernah dirilis oleh Sajama Cut, sekaligus momen terbaik di album Hobgoblin. Tapi dia sayangkan lagu itu usai kurang dari dua menit…
Lagu itu adalah sebuah ode untuk David Gilmour via The Dead C. Tidak perlu panjang. Justru rasa ingin lebih adalah rasa yang terbaik.
Raka Ibrahim juga memuji “Recollecting Instances” sebagai lagu terbaik di album Hobgoblin. Itu salah satu track yang paling panjang durasinya, hampir tujuh menit. Musically, lagu itu memang menunjukkan bakat-bakat instrumentalis yang komplit. Kalau anda masih ingat, bagaimana lagu itu dibikin?
Dari vokal, lagu itu menoleh sedikit ke The Cure, setidaknya di otak saya, dan meskipun saya tidak suka The Cure. Intronya digubah oleh Will Long dari Celer, salah satu musisi ambient paling dihormati, dan seorang rekan korespondensi yang baik. Lagu itu juga salah satu yang paling emosional yang saya buat di album ini.
Siapakah ‘mereka’ yang anda sebut-sebut dalam bait, “They are always a part of me, They are always a part of thee…” di lagu tersebut?
Orangtua, anak, dan istri saya.
Anda banyak menggunakan bebunyian yang sonikal dan ambience di Hobgoblin. Bahkan ada tiga lagu instrumental di album ini, yang terpaksa mengingatkan saya pada proyek solo anda, mulai Roman Catholic Skulls sampai Strange Mountain. Apakah itu efek dari kegiatan bermusik anda di unit-unit tersebut?
Mungkin sedikit, tapi dari Apologia pun saya selalu berusaha menghindari album yang konvensional, di mana hanya berbentuk deretan beberapa lagu. Mood setting juga penting bagi saya, agar album terasa menjadi sebuah perjalanan. Manimal adalah anomali dalam kasus ini, karena kami hanya ingin membuat album yang padat.
Dalam ulasannya, Arman Dhani bilang kalau lirik-lirik yang anda tulis butuh dibaca berulang untuk kemudian bisa dimaknai. Sebegitu rumitkah untuk memahami lirik-lirik anda?
Menurut saya sendiri tidak, tentunya. Seperti nasihat klise itu: penulis yang baik membuat yang sulit terlihat mudah. Semoga jika lirik saya tidak dapat dimengerti secara harfiah namun dapat dirasakan secara emosional. Lirik saya selalu 100% telanjang dan nyata.
Saya jadi penasaran, siapa saja penulis lirik favorit anda?
Hmm, tidak ada. Mungkin Robert Pollard?…
Atau sebaiknya, bisa sebutkan lima lagu dengan lirik terbaik menurut anda?
Terlalu sulit, tapi saya suka semua lirik di In Utero dan Newness Ends.
Eh, tapi saya baru saja baca di situs Deathrockstar, sepertinya buku yang lebih berpengaruh bagi anda dalam penulisan Hobgoblin, daripada musik. Kalau begitu, siapa saja penulis favorit anda?
Lagi-lagi terlalu sulit. Tapi omong-omong Deathrockstar; saya sangat menyukai komik buatan Eric circa-1994 yang judulnya Kapten Petir.
Oya, tempo hari Taufiq Rahman (Elevation Records) sempat mengingatkan saya kalau Hobgoblin itu kudu didengarkan secara runut, sejak track pertama sampai track terakhir, supaya lebih dapat flow-nya, katanya. Terus terang, cara itu seperti mendengarkan Dark Side of The Moon, bagi saya. Musti begitukah?
Yep, 100%. Album ini berbentuk perjalanan, dari membuka pintu, diam di ruangan, hingga keluar ketika subuh tiba. Jauh dari sebuah album yang singkat secara presentasi.
Sementara, Arman Dhani juga sempat memberi tips; Seperti setiap puisi, barangkali musik dan lirik Sajama Cut tidak harus dipahami dengan kening berkerut, namun cukup dinikmati dengan mata terpejam. Kalau menurut anda sendiri, bagaimana idealnya cara menikmati Sajama Cut?
Untuk Hobgoblin saya rasa Sabtu pagi adalah waktu terbaik – Ketika matahari baru mulai muncul, dengan secangkir teh di tangan dan antusiasme akan hari yang dihadapi.
Mungkin sulit untuk menempatkan pada genre apa Sajama Cut mesti diletakkan. Karena label akan mereduksi segala kerja-kerja estetik kalian dalam membuat musik, menurut Arman Dhani. Anda juga pernah mengatakan kalau bahwa Sajama Cut bukanlah band yang pernah dapat dirangkum dengan satu kalimat atau satu jenis genre musik ketika bilang, “Kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosankan dan tidak organik…” Pada akhirnya, mungkin sudah tidak penting lagi pelabelan (genre) musik bagi kalian ya?
Tidak pernah penting. Dari tahun 1999 ketika kami membuat band ini, saya selalu menginginkan kebebasan untuk berkreasi kemana saja dengan musik ini.
Senada dengan yang ditulis Raka Ibrahim, Hobgoblin mungkin adalah album Sajama Cut yang paling lengkap dan paling dewasa sejauh ini. Anda dan semua personil lainnya juga merasakan hal yang sama seperti itu?
Sangat. Namun pada saat yang sama, saya tidak yakin kami pernah membuat album yang terdengar terlalu ‘remaja’ atau ‘muda’. Refleksi diri kami selalu cukup dewasa, sesuai konteks umur kami pada waktu pembuatan masing-masing album.
Well, mari kita permudah saja; Bagaimana deskripsi yang paling sederhana tentang album Hobgoblin jika harus dibandingkan dengan Manimal atau The Osaka Journals, misalnya?
Progres yang alami.

*Artikel ini sebelumnya dimuat di situs Jakartabeat.

*