Burgerkill - BK.Doc
Burgerkill 2015 – BK.Doc

Bulan Mei 2015 yang lalu, band metal terbesar di Indonesia, Burgerkill, tepat mencapai usianya yang ke-20 tahun. Itu tentu bukan usia yang singkat bagi sebuah band yang lahir dari sudut distrik perkampungan yang padat dan kawasan industri yang sibuk di bagian timur kota Bandung, serta ngotot memainkan musik yang sangat mereka sukai – dari hardcore sampai metal, dan kombinasi segala musik keras di antaranya.

Seperti yang sering dibilang orang-orang, perjalanan karir Burgerkill memang telah memeras darah, keringat dan air mata hingga tetes terakhir. Tonton video dokumenter mereka, We Will Bleed, untuk kisah detilnya. Itu semua terjadi kalau pun bukan akibat takdir dan kebetulan, pasti karena kerja keras dan mimpi yang selalu mereka perjuangkan sampai hari ini.

Saya mewawancarai gitaris Ebenz untuk menangkap kesan tentang fase awal terbentuknya Burgerkill, momen-momen bersejarah dan pencapaian yang telah diraih, serta bagaimana karir bermusik yang sudah digeluti selama 20 tahun itu akhirnya mampu merubah hidupnya…

Pertama, selamat ulang tahun yang ke-20. Seperti apa kalian merayakannya di tahun ini?
Thanks. Gak terasa sudah 20 tahun main band. Artinya sudah setengah hidup saya dihabiskan bersama Burgerkill. Meski berat menjalaninya tapi saya bahagia dan bangga bisa melewati dua dekade bersama band yang kami besarkan dengan penuh loyalitas dan kerja keras. Di dua puluh tahun ini kami gak bikin perayaan khusus, hanya sekedar kumpul-kumpul aja dan berdoa bersama teman-teman yang pernah terlibat di Burgerkill dari tahun 1995 sampai sekarang. Rencananya setelah lebaran kami akan menggelar Begundal Camp Fest di daerah Bandung. Nantinya itu juga bakal jadi ajang ngumpul bareng teman-teman Begundal setiap tahunnya.

Tidak terbayang ya kalau band ini bisa mencapai usia 20 tahun?
Ya, sama sekali gak. Saya rasa siapapun yang tahu atau kenal Burgerkill sejak awal tidak akan menyangka band ini masih tetap aktif dan produktif sampai hari ini. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan bisa bersama teman-teman di Burgerkill sampai hari ini. Dulu kami hanya berpikir untuk sekedar main musik dan bersenang-senang aja. Gak terasa memang bisa main band sampai selama ini. Rasanya pengen muda terus, hehe. Selama 20 tahun kami hanya berusaha memberikan yang terbaik dalam bentuk pergerakan dan karya. Gak ada ekspektasi tinggi akan karir bermusik, semuanya kami jalani dengan senang hati.

Band ini anda bentuk bersama (alm) Ivan Scumbag, Kimung dan Toto pada tahun 1995 silam. Apa yang bikin kalian membentuk Burgerkill saat itu?
Waktu itu kebetulan saya, Ivan dan Kimung satu sekolah di SMA 1 Ujungberung. Kami sering bertemu di ruangan Bimbingan Siswa karena kami termasuk siswa-siswa yang lumayan brengsek, hehe. Nah, dari situlah kami mulai akrab sampe akhirnya timbul ide untuk bikin band hardcore dan memilih nama Burgerkill sebagai identitas band kami. Dimulai dari sebuah slot di panggung peringatan 17 Agustus-an di Ujungberung sampai akhirnya bisa menginjak panggung Internasional adalah sebuah perjalanan yang luar biasa bagi Burgerkill.

Seperti apa kondisi dan iklim scene musik underground pada jaman itu?
Awal tahun 90-an di kota Bandung, khususnya di Ujungberung, hampir semua band bergenre death metal dan grindcore. Saat itu Burgerkill adalah satu-satunya band hardcore di sana. Meski awalnya agak sulit untuk berbaur, tapi untungnya teman-teman di Ujungberung cukup open-minded dalam urusan selera musik. Dulu setiap hari kami selalu kumpul di Palapa Studio sambil bertukar info dan mendengarkan kaset-kaset hasil merekam dari teman-teman di komunitas. Informasi tentang musik yang kami dapat saat itu juga sangat terbatas. Jadi bergaul dengan komunitas adalah syarat mutlak supaya kita punya banyak teman dan referensi, karena internet belum ada saat itu.

Masih ingat momen-momen pas Burgerkill baru terbentuk di Ujungberung?
Banyak hal menarik yang saya ingat saat awal-awal Burgerkill latihan di Ujungberung, waktu kami masih membawakan lagu-lagu kover dari Sick of It All, Rykers, Youth of Today, Gorilla Biscuits, dan lain-lain. Mulai dari bayar latihan patungan malah terkadang ngutang, sampe rekaman demo pertama Burgerkill juga kami kerjakan di Palapa Studio. Biasanya sore setelah latihan kami selalu ngumpul di depan studio sambil ngeceng dan godain cewek-cewek yang lewat, hehe.

Kemudian menjajaki panggung di GOR Saparua?
Ya, GOR Saparua itu tempat keramat bagi band-band Bandung. Rasanya belum sah jadi band Bandung kalo belum ngerasain manggung di sana. Burgerkill sendiri baru tahun 1996 mulai manggung di sana, kalo gak salah di event Hullabaloo II. Ada satu momen yang saya ingat, saat itu lagu “Sakit Jiwa” sudah mulai dikenal di komunitas. Hampir setiap kali kami memainkan lagu itu penonton selalu berusaha naik ke atas panggung sekedar untuk ikut bernyanyi bersama. Sampai pernah waktu Burgerkill manggung di acara Bandung Berisik III, ada satu orang anak berdandan punk yang bugil tanpa busana naik ke atas panggung dan langsung memeluk Ivan dari belakang. Karena kaget dan panik, Ivan langsung ngelempar anak itu ke kerumunan penonton.

Di awal keputusan untuk main band dulu, apakah sempat ditentang oleh orang tua dan keluarga?
Awalnya orang tua tidak terlalu ambil pusing karena menganggap keputusan saya main musik sebatas hobi aja. Tapi setelah mereka sadar ini jalan yang saya pilih, mereka mulai khawatir dengan masa depan saya. Mengingat tidak seorangpun di keluarga besar saya yang memilih hidup dari musik. Tentunya itu jadi tantangan dan tanggung jawab besar buat saya pribadi. Pada dasarnya keluarga tidak yakin kalau dengan memainkan musik seperti Burgerkill saya akan bisa survive. Sulit memang tapi saya bangga akhirnya bisa membuktikannya.

Lalu bagaimana tanggapan mereka setelah melihat pencapaian Burgerkill saat ini?
Ya alhamdulillah akhirnya mereka mengizinkan saya untuk tetap serius bermusik. Perlahan saya coba membuktikan kesungguhan saya bisa hidup sebagai musisi kepada mereka lewat pencapaian dan prestasi yang diraih Burgerkill. Sambil mengolah bisnis kreatif lain yang saya geluti juga. Memang hasilnya tidak spektakuler secara nominal, tapi banyak hal yang saya raih dan tidak bisa dibeli oleh uang berapa pun itu.

Di tengah perjalanan, apakah pernah terbersit niat untuk membubarkan Burgerkill dan pensiun dari musik?
Pernah sekali terlintas untuk ngebubarin band ini. Saat itu rasanya terlalu sulit berpikir jernih untuk cari jalan keluar. Kepergian (alm) Ivan Scumbag sangat memukul mental saya dan teman-teman di Burgerkill. Kami bener-bener kehilangan seorang sahabat dan frontman terbaik yang pernah kami kenal. Tapi berkat support keluarga, fans dan teman-teman di komunitas, akhirnya kami sepakat untuk lanjut dan mencari vokalis baru untuk Burgerkill.

Pernah terbayang gak jika, misalnya, Burgerkill ternyata usianya singkat lalu menyerah atau bubar di tengah jalan kemarin, kira-kira bakal seperti apa hidup kalian?
Iya juga sih. Pasti ceritanya bakal lain kalo tenyata band ini berumur singkat. Mungkin sekarang saya cuma seorang metalhead yang bekerja sebagai desainer lepas yang hobi menghabiskan sebagian uangnya untuk membeli barang-barang musik dan nonton konser, haha. Life is good dude…

Kapan akhirnya kalian memutuskan kalau band ini penting dan bisa jadi profesi utama bagi kalian semua?
Semenjak kami semua berkeluarga dan punya anak. Semuanya berubah dan musik menjadi pilihan profesi utama kami untuk hidup. Dengan kemajuan zaman dan teknologi, siapapun bisa melakukan apa saja dengan musiknya dan itu jadi sangat menarik buat kami untuk terus diolah. Sekarang bisnis industri kreatif di kota Bandung sudah cukup menjanjikan. Saat ini teman-teman di Burgerkill juga sudah mulai merintis bisnis kreatifnya masing-masing di luar band.

Selama 20 tahun ini, menurut anda, apa titik tertinggi yang pernah dicapai Burgerkill?
Mmmmh, ini pertanyaan yang lumayan sulit dijawab. Buat saya setiap pencapaian baru Burgerkill selalu jadi momen spesial buat kami. Semuanya mengalir natural aja karena selalu ada hal baru yang mengejutkan dari band ini. Tapi untuk titik tertinggi di ajang penghargaan musik, tentunya kemenangan kami di ajang Metal Hammer’s Golden Gods Awards 2013 lalu bisa jadi momen yang sangat penting dalam sejarah karir bermusik Burgerkill.

Kalau titik terendah yang sempat kalian alami?
Pastinya saat kami ditinggalkan (alm) Ivan Scumbag. Rasanya seperti mimpi buruk. Ditambah beban pikiran tiga minggu lagi album Beyond Coma and Despair akan dirilis ke publik. Kami benar-benar drop waktu itu…

Apa hal tergila atau ternekat yang pernah anda lakukan demi kelangsungan karir Burgerkill?
Memutuskan untuk memilih hidup menjadi musisi dari sebuah band metal di Indonesia adalah keputusan ternekat yang pernah saya ambil!

Ada hal yang paling memalukan dan paling anda sesali dalam karir Burgerkill?
Banyak hal yang sering kami sesali apabila hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi semua terjadi karena ada alasannya dan kami terus belajar dari pengalaman-pengalaman buruk agar bisa lebih baik lagi ke depannya.

Oya, sebentar lagi kalian mau manggung di Eropa. Bagaimana ceritanya Burgerkill bisa diundang ke sana?
Awalnya sahabat kami, John Resborn dari The Metal Rebel, yang membantu untuk menghubungi beberapa festival di Eropa sehubungan dengan rencana tour di sana. Di luar dugaan, Wacken Open Air di Jerman yang merespon lebih dulu dan mengirim undangan resmi supaya tampil di festival metal terbesar di dunia itu. Dari sanalah semuanya dimulai. Sampai akhirnya kami mendapat slot untuk tampil di Bloodstock Festival di Inggris bersama Jasad. Ini kesempatan yang luar biasa bagi kami. Sebuah momen penting untuk bisa membawa band ini ke level yang berbeda.

Masih ada agenda lain di luar dua festival besar itu?
Sejauh ini kami hanya fokus di dua festival tersebut, sambil mencari informasi dan menyusun strategi untuk bisa kembali lagi ke Eropa di tahun berikutnya.

Oya, sudah sampai mana proses pengerjaan materi musik terbaru Burgerkill?
Sampai hari ini sudah ada lima lagu yang kami garap. Agak lambat memang mengingat kesibukan jadwal show Burgerkill dan aktifitas kami sebagai kepala rumah tangga. Rencananya saat bulan puasa nanti kami akan kembali ke studio menggarap materi-materi baru untuk album kelima Burgerkill. Semoga bisa dirilis pada akhir tahun 2015 ini.

Dengan segala pengalaman dan pencapaian Burgerkill selama ini, apakah itu sudah cukup buat kalian?
Sebagai band tentunya kami selalu punya target dan mimpi-mimpi baru untuk dikejar. Di tingkat Internasional, Burgerkill baru saja memulai langkahnya di tour Eropa nanti. Masih banyak tempat-tempat lain di dunia yang ingin kami datangi. It’s never enough, haha.

Dua puluh tahun tentu bukan usia yang singkat untuk sebuah band. Apa tips yang bisa anda bagi untuk musisi/band muda supaya bisa produktif dan bertahan selama itu?
Pelihara komunikasi dalam band dengan baik, karena semua hal dimulai dari sana. Apabila komunikasi harmonis bisa terjalin pasti akan timbul tanggung jawab dan rasa toleransi antar personil dan juga kru. Itu sebuah modal penting untuk bisa menghasilkan karya yang baik, karena ada sinergi positif di sana. Satu hal lagi, tekuni apa yang kalian kerjakan dan rajin melakukan hal-hal baru dengan musikmu. Karena sebagus apapun karyamu tidak akan bisa berbuat banyak kalo tidak disertai kerja keras untuk mengolahnya lebih lanjut.

Jadi, sebenarnya apa hal penting yang anda pelajari setelah 20 tahun berkarir bersama Burgerkill?
Ada satu hal yang saya pelajari selama 20 tahun ini, yaitu tentang indahnya kebersamaan. Menjalani hidup dari panggung ke panggung bersama teman-teman satu tim Burgerkill juga telah mengajarkan kami banyak hal; tentang pentingnya saling menghargai, saling berbagi dan menyayangi satu sama lain sebagai saudara. Harapannya semoga nanti apa yang sudah kami lakukan bisa bermanfaat untuk orang banyak dan tentunya juga bagi generasi kami berikutnya…

*Artikel ini awalnya saya tulis dalam versi bahasa Inggris untuk dimuat pada The Metal Rebel yang berbasis di Swedia. Sembari menunggu tayang di situs tersebut, ada baiknya saya muat dulu versi Bahasa Indonesia-nya di blog ini. Ya, eksklusif hanya di Sesikopipait. By the way, judul artikel di atas diadopsi dari dua judul lagu milik Burgerkill yang cukup depresif, “Unblessing Life” dan “Blank Proudness”. Setelah 20 tahun, masa-masa ‘kelam’ itu rasanya telah lewat.