CollaborACTION 2015
CollaborACTION 2015

“Foto panggung yang berhasil itu yang berdasarkan mukjizat,” kata Firdaus Fadlil dalam sebuah artikel wawancara di majalah Rolling Stone Indonesia, edisi Maret 2015 lalu. Firdaus Fadlil adalah seorang fotografer musik kawakan yang dibesarkan oleh Majalah Hai sejak era 80-an dan sudah memotret ribuan peristiwa musik mulai dari Metallica, Bon Jovi, Mr.Big, Sepultura, NKOTB, Green Day, Woodstock ’99, serta masih banyak lagi.

Music Photography, atau yang hari ini cenderung pada ‘skala’ Stage Photography, memang lahir untuk merekam segala aktifitas di lingkup (panggung) musik. Dengan obyek utama berupa penampilan musisi atau band di atas panggung, kegiatan ini tetap diyakini penting dalam upaya merekam jejak sejarah perkembangan musik dari waktu ke waktu.

Di Indonesia, proses dokumentasi musik seperti ini sepertinya baru dimulai sejak era 1970-an. Memang jauh terlambat dibandingkan dengan negara-negara lain, blok barat khususnya. Pihak yang paling berperan dalam hal ini tentunya adalah media cetak dan insan pers yang mulai tertarik memberitakan segala peristiwa di lingkup industri musik nasional, terutama soal pertunjukan musik.

Salah satu media yang kerap merekam aksi dan perkembangan musik nasional saat itu adalah majalah Aktuil. Berbagai band dan musisi, dari dalam dan luar negeri, kerap menjadi obyek penting dalam setiap tulisan dan foto artikelnya. Namun, karena perkembangan tehnologi fotografi belum sebaik saat ini, mungkin tidak terlalu banyak dokumen visual atau foto-foto dari peristiwa tersebut. Kalau pun ada pasti sulit untuk ditemukan dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Saking langkanya, foto-foto konser tempo doeloe tersebut hari ini telah menjadi benda klasik yang memorable dan collectible.

Memasuki era 1990-an, berbarengan dengan kemajuan tehnik fotografi analog, hasrat untuk mendokumentasikan momen-momen musikal tumbuh semakin subur – tidak hanya untuk kepentingan jurnalistik, melainkan juga sebagai aktifitas hobi bagi kalangan anak muda. Ketika itu, mulai ada beberapa orang yang datang ke konser musik dengan menenteng kamera analog, baik itu jenis otomatis (pocket) maupun tipe SLR dengan amunisi rol film negatif.

Mereka mulai merekam berbagai jenis konser musik atau gigs yang diorganisir oleh penyelenggara maupun komunitas musik setempat. Sejalan dengan pertumbuhan scene underground/independen di berbagai kota, event-event musik di kampus dan sekolah juga semakin marak. Media-media alternatif produksi swadaya ikut menjadi corong dan paling lantang menyuarakan laporan musik di komunitasnya, sambil mengisi ruang yang luput dari jepretan media arus utama seperti Majalah Hai, Mumu, NewsMusik, Tabloid Rock, dan sejenisnya.

Puncaknya meledak pada era 2000-an yang bisa dibilang sebagai episode awal era digital. Sejak itu, tehnologi dan proses dokumentasi visual dalam bentuk foto maupun video mulai melesat menggapai puncaknya. Ini tentu tidak lepas dari perkembangan tehnologi kamera digital, lensa, software, dan juga internet. Sarana perangkat fotografi semakin mudah dan murah untuk didapat. Komunitas penggiat fotografi juga bermunculan di sejumlah tempat dan institusi. Bahkan saat ini, hampir tidak ada sisi kehidupan yang tidak bisa terdokumentasikan. Sampai-sampai melahirkan celetukan “No pic, hoax!” lah…

Yah, aktifitas fotografi (panggung) musik hari ini telah menjadi suatu fenomena yang menarik. Sekarang, hampir semua orang bisa datang ke venue konser sambil menenteng kamera dan memotret apa saja yang ada di hadapan mereka. Dalam beberapa menit setelah konser usai, kita sudah bisa melihat hasilnya menyebar luas melalui berbagai situs internet, blog atau jejaring sosial. Serba cepat, praktis, dan instan.

Panggung musik adalah salah satu setting yang penting dalam visualisasi foto musik. Karena di ‘petak’ kecil itu ada beragam adegan yang sarat dengan ekspresi, emosi, apresiasi, serta momen-momen yang istimewa. Di dalamnya juga ada proses interaksi, komunikasi dan penyampaian pesan. Segala pose dan adegan dalam foto panggung itu tentunya berlangsung alami. Tidak dibuat-buat. Tampak orisinil dan asli tanpa rekayasa. Di sinilah insting seorang fotografer panggung itu diuji. Seberapa cepat dia bisa menangkap momen. Juga menyiasati kondisi panggung atau venue dengan segala keterbatasan yang ada. Itulah sebenarnya ‘mukjizat’ yang dimaksud oleh Firdaus Fadlil pada paragraf awal di atas.

Sinergi antara musik, fotografi, dan jejak rekam sejarah perkembangan hingar bingar panggung pertunjukan musik itulah yang kemudian mendasari dua orang fotografer muda, Dedi Widianto dan Gaharu Jabal, untuk bikin proyek pameran kolaborasi yang bertajuk collaborACTION di kota Malang, 08 – 10 Mei 2015.

Mereka awalnya adalah penggiat hobi fotografi yang selalu berkeliaran di setiap momen pertunjukan musik dengan segala perangkat tempurnya. Keduanya pernah sama-sama tergabung dalam proyek media musik digital, Anekdotmagz.com, serta menjadi bagian dari anak-anak muda kreatif yang terjun mendokumentasikan peristiwa musik dan komunitasnya dengan penuh gairah.

Melalui bantuan kurasi seorang fotografer senior, Decky Bedebah, akhirnya terpilih beberapa foto terbaik karya mereka berdua untuk dipajang dan diapresiasi bersama-sama. Jika itu dianggap masih amatir dan sekedar hobi belaka, setidaknya kedua fotografer muda ini sudah menapak satu langkah lebih maju daripada mereka yang sekedar memotret lalu memajang foto di sosial media atau menumpuk file-nya dalam harddisk komputer. Hari ini mereka sudah memutuskan untuk berbagi dimensi serta imaji kepada khalayak. Siapa tahu esok hari mereka bakal menambah daya kreatifitas, wawasan, skill dan jam terbang yang lebih tinggi untuk menjadi fotografer musik yang lebih handal dan profesional.

Pada akhirnya, hasrat untuk membidik momen dan merekam peristiwa adalah proses dokumentasi sejarah yang amat penting untuk dilakukan secara terus-menerus. Sebab di sana akan selalu ada emosi, pesan dan semangat zaman yang tersirat dari setiap lembar fotonya. Sama seperti orang-orang yang masih merinding tiap kali memandang foto konser Jimi Hendrix saat tampil di fetival musik Woodstock 1969. Foto panggung kudunya menyimpan aura sekuat itu hingga beberapa tahun ke depan. Maka, tetaplah jeli dan waspada!…

Malang, 04 Mei 2015

Samack

*Tulisan ini sebelumnya dimuat sebagai pengantar atau esai kuratorial dalam katalog pameran CollaborACTION ; Music Photography Exhibition di Malang, 08-10 Mei 2015.