source ; netz.
source ; netz.

“Record stores keep the human social contact alive it brings people together. Without the independent record stores the community breaks down with everyone sitting in front of their computers” – Ziggy Marley.

“Lumayan, dapet hampir sejuta hari ini,” kata kawan saya ketika membereskan lapaknya pada hari pertama Record Store Day (RSD) di Malang, 18 April 2015. Dia tampak sumringah. Saya tersenyum dan cuma bisa mengacungkan jempol padanya. Kalau saja ia tahu bahwa omzet satu lapak pada RSD di Jakarta bisa mencapai puluhan juta mungkin ia bakal kaget dan senyumnya surut seketika.

Tapi, biarlah dia menikmati kebahagiaannya malam itu. Mungkin ia sudah cukup puas dengan omzet ratusan ribu. Tidak perlu menjadi tamak dan serakah dalam berdagang. Toh uangnya juga nanti langsung habis dipakai belanja untuk menyegarkan koleksi musiknya sendiri.

Perayaan RSD di kota Malang tidak sebesar di Jakarta, atau di kota besar lainnya. Mungkin lebih mirip dengan acara RSD di kota-kota kecil lainnya. Yang berjalan cukup wajar, normal dan biasa saja. Rasanya masih jauh untuk di-kooptasi oleh industri atau menarik minat korporat besar seperti yang (dikhawatirkan) terjadi di tempat lain. Mungkin belum terjadi di Malang, tapi sangat kecil juga peluangnya.

Faktanya, di sini tidak ada antrian panjang untuk masuk lokasi atau antrian membeli rilisan spesial di lapak official. Tidak terlalu banyak label dan lapak yang terlibat. Tidak ada rilisan super eksklusif atau ‘harta karun’ yang langka hingga kudu dipatok dengan harga yang gila-gilaan. Dan sejauh ini tidak ada yang mengeluh gara-gara toilet, asap rokok, batasan umur, atau hawa panas di lokasi acara. Kepanasan di Malang? Go home, you’re drunk!

xxxxx

Kadang ada untungnya tinggal di daerah atau kota kecil seperti di Malang ini. Secara umum, harga rilisan musik (kaset, CD, dan plat) masih relatif wajar – atau katakanlah lebih murah daripada di pasaran Jakarta dan Bandung, apalagi jika dibandingkan dengan pasar online yang seringkali bikin emosi harganya.

Lalu, jangan kaget kalau di kota ini kita masih bisa menemui kaset pop Indonesia seharga 3000 rupiah atau vinyl barat lawas seharga 50 ribu pada pasar loak di pusat kota. Kebetulan sepekan yang lalu saya menemukan beberapa album lama Sheila On 7, Dewa 19 dan Padi yang dijual seharga rata-rata tiga ribu perak di sana. Jadi tidak tega untuk tidak membelinya.

Modus operandi yang lagi marak seperti menimbun album-album limited edition masih menjadi sebuah mitos di kota Malang, dan hampir tidak dikenal keberadaannya. Orang-orang di kota ini – terutama di kalangan kami sendiri – tidak terlalu rewel soal apakah itu pita Maxell atau BASF. Hanya sebagian kecil yang menganggap sampul kaset yang dilaminasi adalah sebuah masalah besar. Selebihnya, transaksi berjalan biasa-biasa saja. Selama masih layak putar dan kondisi baik, tidak ada salahnya untuk dibeli atau dikoleksi. “Jangan sampai hal-hal kecil seperti itu justru menjauhkan kita dari pengalaman untuk mendengarkan album musik yang bagus dan bermutu,” begitu pesan dari seorang kawan lama kepada saya.

Memang, populasi kolektor musik tidak terlalu banyak di kota Malang. Mungkin bisa dihitung, dan itu pun sudah saling tahu atau kenal satu sama lain. Nilai uang, pendapatan, kemampuan serta daya jual-beli juga pasti berbeda antara kolektor musik di Malang dengan di Jakarta atau Bandung, misalnya. Maka dari itu, jualan rilisan musik (baru maupun bekas) cenderung sekedar hobi pengisi waktu luang dan tidak jadi profesi utama bagi mereka. Itu mungkin yang bikin harga kami kadang lebih murah daripada di kota anda. Tapi maaf, kami gak murahan. Ha!

xxxxx

Kembali ke momen RSD, tahun ini arek-arek Malang merayakannya di lokasi yang ‘benar’, yaitu di Reka Records, yang sehari-hari juga adalah sebuah record store yang merangkap kafe/kedai kopi. Harapannya biar semangat RSD lebih tepat sasaran. Bukankah konon menurut sang pencetus, Eric Levin dkk, RSD lahir untuk mendukung independent record store, bukan?!

RSD2015 @ Malang
RSD2015 @ Malang

Seperti yang sudah-sudah, pelaksanaan RSD di Malang masih dipelopori oleh label-label lokal setempat. Ritual ini sudah rutin dijalankan sejak tiga tahun lalu – diiringi dengan Cassette Store Day (CSD) juga. Penggagasnya masih orang-orang di lingkaran skena musik independen dan pengelola label rekaman/distribusi. Tentunya mereka sudah kenal satu sama lain, lha wong orangnya itu-itu saja, masih satu tongkrongan juga.

Bagusnya, momen kayak gini bisa bikin mereka lebih erat, kompak, serta membuka ruang kerjasama baru. Label-label kecil itu malah bikin semacam ‘paguyuban’ saat berkicau melalui akun twitter kolektif @MLGrecordDay, dan meramaikan hashtag #RSD2015MLG. Akun tersebut juga selalu mereka gunakan untuk mengabarkan rilisan lokal atau hajatan record fair sejenis, di luar akun institusinya masing-masing. A good thing.

Kegiatan RSD plus aktifitas label rekaman dan lapak distribusi kecil di kota ini mirip seperti yang terjadi di Jogja, sebagaimana yang baru saya baca dari postingan Indra Menus di halaman Facebook-nya, beberapa hari lalu. Menarik kalau ada yang mau bahas eksistensi lapak sebagai sebuah ‘movement’ tersendiri di kancah musik lokal. Anyone?!…

xxxxx

Dua tahun belakangan, saya memang selalu buka lapak pada setiap perayaan RSD di Malang. Tahun ini dengan dibantu Eko Marjani, kami buka booth atas nama @demajors_mlg yang berkongsi dengan stok distribusi @koalisinada dan @sldrck, plus beberapa barang koleksi pribadi kami sendiri.

Pada poin menjual koleksi pribadi ini yang agak berat. Karena sesungguhnya saya termasuk orang yang hampir tidak pernah menjual koleksi musik saya. Ini mungkin akibat saya yang terlanjur sayang pada mereka (…merekaaa!) dan selalu saja ada perasaan menyesal tiap kali ada koleksi saya berkurang. Fetish? Iya. Berhala? Mungkin.

Tapi semenjak ada RSD – atau CSD – saya jadi rutin buka lapak. Saya anggap saja ini momen garage sale sekaligus gathering dengan kawan-kawan sehobi. Dengan sedikit berlagak snobs dan pilih-pilih pembeli yang tepat, saya jual beberapa koleksi pribadi dengan harga yang relatif wajar. Mau dibarter juga boleh, sebab trade are welcome. Sedikit ikhlas kalau akhirnya barang itu jatuh ke tangan yang tepat.

Tapi ya gitu, sejujurnya naluri berdagang saya agak buruk. Suka tidak tega jualan dengan harga tinggi. Setiap sesi tawar-menawar harga pun saya seringkali kalah. Mungkin ini juga gara-gara saya yang tidak bakat menabung.

Tidak seperti orang-orang yang punya tabungan atau bujet khusus untuk belanja di RSD. Saya tidak punya itu. Kepikiran sih, tapi kebanyakan gagal. Maklum sehari-hari saya adalah pekerja partikelir, dengan pemasukan yang susah diduga, apalagi untuk ditabung. Jadi bujet belanja saya untuk RSD selalu tergantung dari berapa hasil penjualan koleksi pribadi saya di lapak ini. Kalau laku banyak, yah lumayan bisa belanja banyak. Kalau laku satu kaset, ya cuma bisa belanja satu kaset saja. Minimal saya cukup menjaga supaya koleksi di rak saya tidak kelihatan berkurang. Itu saja.

Tahun ini, saya terpaksa kudu rela melepas beberapa koleksi pribadi mulai vinyl, CD sampai kaset. Butuh waktu seharian bagi saya untuk memutuskan mana koleksi yang mau dijual, mana yang harus tetap berada di kamar. Barang-barang yang akhirnya saya jual di lapak biasanya karena beberapa kasus dan alasan;

[1]. Sudah punya dobel. Kadang saya punya album yang sama dalam dua format, CD dan kaset. Kalau sudah begitu biasanya versi kasetnya bisa saya lepas.

[2]. Menyerah untuk melengkapi diskografinya, yang terlampau banyak dan sulit dicari itu. Mmmh, The Cure, anyone?

[3]. Sudah bosan dengan musiknya. Misalnya Chimaira atau Coldplay yang so boooring.

[4]. Atau saya tidak paham kenapa dulu bisa ‘khilaf’ membeli musik yang buruk seperti ini. Panic At The Disco? Fall Out Boy? So sorry to mention.

Di luar rilisan musik, untuk lapak RSD tahun ini saya juga membawa buku Living In Harmony-nya Fariz RM kondisi segel hasil rak diskonan dari Gramedia Matraman, tahun lalu. Juga beberapa kaos bekas dalam kondisi lumayan yang saya jual murah seharga @ 50K – mulai dari kaos Koil, Led Zeppelin, Eric Clapton, The Black Crowes, hingga Megadeth. Plus ada beberapa CD promo yang bisa saya bagikan gratis nanti buat pembeli atau kolega di lokasi.

Tepat sehari sebelum perayaan RSD, saya mendapat paket berisi lima keping kaset Morfem album Tersesat Di Antariksa dari demajors (Jakarta). Satu keping dengan angka seri yang cantik (nomer 111) langsung saya amankan di rak kaset saya. Empat sisanya akan saya pasarkan di Reka Records, esok hari.

Belakangan pasca RSD, saya dapat info kalau kaset singel Morfem itu langsung ludes dan sudah ada yang jual lagi dengan harga tinggi di pasar gelap online. Duh!… Eh, kalau saja saya punya insting bisnis yang bagus tentu saya bakal menimbun stok kaset Morfem yang ada di sini. Ha! Tapi, ah sudahlah… Ndak boleh gitu.

xxxxx

Hari pertama RSD di Malang, 18 April 2015, saya datang sore hari pasca hujan reda. Kegiatan saya hari itu hanya menjaga lapak, memandu sesi diskusi, mensurvei lapak para kolega, dan bercengkerama dengan teman-teman. Mengerjai Koko Giman yang hari itu juga buka lapak adalah sebuah hiburan tersendiri bagi kami. CC4O66VVIAEJ2GY Dalam momen-momen seperti ini, saya justru sangat suka dengan interaksinya. Seperti misalnya menemukan kawan baru yang ternyata selera musiknya sama atau menarik. Kadang juga berbagi informasi atau merekomendasikan sebuah album untuk orang yang dirasa tepat.

Status pedagang dan pembeli kadang sudah tidak penting lagi, semuanya melebur jadi satu sebagai sesama pencinta (rilisan) musik. Setelah keliling semua lapak, saya tidak menemukan satu barang berkategori ‘harta karun’ berbahaya yang wajib dibeli atau diamankan segera dalam tempo sesingkat-singkatnya. Entah saya kudu bersyukur atau bersedih karena hal ini.

Hari pertama saya sengaja tidak beli apa-apa, cuma menandai sejumlah barang yang ada di beberapa lapak dan memasukkannya pada daftar rencana belanja esok hari. Semoga barang-barang itu masih ada.

Malam itu, ada seorang pria paruh baya berkaos metal yang mendatangi lapak saya. Ia tampak serius mengamati seluruh album bergenre musik cadas yang ada di meja. Tiba-tiba mengambil kaset Night In Gales dan Slayer lalu membuka casing-nya. Mengamati kondisi pita serta semua sisi sampulnya dengan wajah teliti ala detektif. Sepertinya dia ‘kolektor’ musik tingkat advanced yang paham segala anatomi kaset pita. Seorang kolektor musik yang kasual, bisik saya dalam hati. Saya jadi larut terbawa suasana. Ikut waswas dan deg-degan. Hening sekali saat itu, sampai akhirnya pria itu buka suara…

“Ini gak ada yang kovernya mulus, mas?!” tanyanya sambil memegang dua kaset yang sampulnya memang dilaminasi rapi itu.

“Oh, gak ada mas, cuma itu saja…” jawab saya singkat dan sopan.

“Ooh, ya sudah…” ujarnya kemudian sambil menaruh kembali dua kaset tersebut, lalu beranjak pergi.

“Yah gak laku deh…” batin saya sambil meringis mencari-cari apa salahnya kedua kaset ini.

xxxxx

Di hari kedua RSD, 19 April 2015, saya datang lebih awal. Sejak siang saya sudah siaga menjaga lapak bersama Eko Marjani. Pesan kopi pahit (yang masih kemanisan!) serta bercanda dengan kawan-kawan lapak sebelah. Saling berbagi informasi dan stok antar lapak, pinjam bolpoin, minta plastik kresek, atau kadang saling menjahili satu sama lain.

Seperti misalnya, pas ada kerumunan pembeli yang mengerumuni salah satu lapak, yang lain bersahutan berteriak usil…

“Nah, di situ murah, mas. Kaset The Cure rekaman Amerika cuma sepuluh ribu!”

“Joy Division dan The Smiths diobral lima ribuaaaan… di lapak sebelah!”

“Di lapak itu jualnya kiloan, mas. Minta ditimbang aja…”

…dan macem-macem lagi celetukan usil serupa. Jahil. Kalau udah gitu. Yang punya lapak cuma meringis cengengesan dan salah tingkah di hadapan (calon) pembeli. Sambil menunggu momen yang tepat untuk membalas. A fun thing.

photo by aga terkapar
photo by aga terkapar

Seperti layaknya kalau kita nongkrong dan berkumpul bersama. Selalu saja ada yang punya inisiatif untuk mengumpulkan uang ‘receh’ buat beli minuman beralkohol. Uang keamanan lapak, kata kolega saya, Otong Shaman, yang mulai berkeliling untuk ‘menagih’ patungan.

Proyek ‘crowd-funding’-nya ini cukup sukses dan menghasilkan dua botol besar minuman keras level domestik untuk dinikmati bersama. Hangat, penuh canda. Tapi kalau ada yang salah hitung stok atau omzet, berarti itu efek dari ‘perjamuan’ ini. Salahkan Otong!

Sementara itu, mitra lapak saya, Eko Marjani, ternyata sudah berada di area stage dan tampak sibuk memegang microphone sambil mewawancarai beberapa pengunjung. Sebagian besar ditanyai apa kaset/CD yang pertama mereka beli atau dengarkan. Juga komentarnya tentang RSD, plus topik-topik ringan seputar record store dan koleksi musik.

Kalau kemarin ada sesi diskusi bareng saya, Iksan Skuter dan Kidnep Flanella, pada malam kedua ada sesi open mic bagi para label. Ini program yang menarik dan cukup seru. Setiap pengelola label bergantian naik panggung, lalu menceritakan produk album spesialnya yang dirilis khusus pada momen RSD tahun ini. Sambil promosi tentunya. Suasananya jadi mirip orasi di tengah unjuk rasa. Seru. Provokatif. WP_20150419_005

xxxxx

Menjelang tengah malam, momen RSD 2015 di kota Malang sudah hampir mendekati ending-nya. Menyenangkan melihat anak-anak muda kembali menenteng sejumlah rilisan fisik untuk dibawa pulang, bersama segenggam inspirasi dan wawasan baru di kepala mereka. Sebuah potret yang sederhana, intim dan hangat untuk merayakan kecintaan akan musik.

“Sering-sering dateng ke toko musik independen di kotamu, atau lapak ya kalau di sini, lalu beli rilisan band lokal yang disukai. Sesimpel itu aja sih sebenernya maksud RSD pada awalnya,” kata seorang kawan saat mengobrol ringan di lantai dua Reka Records.

Mungkin kita sudah banyak membaca tentang kritik terhadap RSD – selain beberapa pemberitaan dan headline yang bahagia. Dua hari kemarin saya juga disadarkan kembali bahwa RSD itu bukan semata-mata soal transaksi jual-beli atau seberapa banyak album eksklusif yang dirilis pada hari itu. Juga bukan sekedar kalender event tahunan yang kudu dirayakan melalui festival dagang yang berorientasi bisnis atau kemasan entertainment belaka.

“…supaya di kemudian hari tidak lalu menjadi seperti Kickfest, Jakcloth, atau bahkan PRJ dengan puluhan booth yang dijaga SPG-SPG cantik!” ujar kawan saya tadi seraya terbahak.

Saya jadi termenung dan mengambil intisari dari kalimat kawan saya tadi, digabung dengan segala kritik soal RSD yang termuat di media. Mungkin benar, perayaan RSD di setiap daerah (kota maupun negara) itu pasti berbeda dan kadang sulit untuk dibandingkan.

Namun, menjaga kesakralan dan atmosfir RSD sebagaimana harapannya adalah hal penting yang lain. Toh merayakan RSD tidak selalu sama seperti bikin records fair pada umumnya – yang bisa dilakukan kapanpun, dalam kemasan apapun.

Sebab, yang paling menyenangkan adalah mengalami momen RSD sebagai sebuah peristiwa budaya yang, mau tidak mau, harus tetap melibatkan rasa gelisah sekaligus bersenang-senang, dengan bumbu sentimentil dan nostalgia, serta upaya untuk mencintai musik dalam medium terbaiknya di tempat yang seharusnya.

“Small record stores are the back bone of the indie music industry. A place where small bands and small labels can get their music into the hands of new listeners without the corporate filtration systems of mass distributors. Without small record stores, my band and label would’ve never become what they are today. I can only hope that the digital age doesn’t cause a mass-extinction of these excellent and resourceful businesses run by music fans, for music fans.” – Blake, Nachtmystium.

11049442_994732597204343_8701152343966028057_n (1)

*Tulisan ini sebenarnya adalah prekuel dari postingan saya sebelumnya yang bercerita soal aktifitas belanja pada RSD 2015 di Malang. Kumpulan foto dari gelaran RSD 2015 di Malang bisa dilihat pada album ini.