welcome home, RSD2015 stuffs!
welcome home, RSD2015 stuffs!

…..

19 April 2015, pada jam-jam terakhir perayaan Record Store Day (RSD) di kota Malang, saya baru menghitung hasil penjualan koleksi pribadi di lapak. Lumayan sih, tidak terlalu sedikit, apalagi banyak. Setidaknya cukup buat sedikit berburu dan belanja hari ini.

Menurut catatan, saya telah menjual rekaman Mocca, Homogenic, Panic At The Disco, Rocket Rockers, Autopsy, buku Fariz RM, dan beberapa barang lain. Juga melepas kaset Coldplay dan Franz Ferdinand untuk trade/barter dengan satu keping CD di lapak Barongsai Records. Lumayan.

Sebelum acaranya kelar dan lapak-lapak ini bubar, saya putuskan untuk segera berburu. Ternyata saya tidak sendirian. Para kolega pengelola label pun sudah beranjak meninggalkan lapaknya masing-masing dan mulai mengintip ke lapak sebelah. Ada yang transaksi kerjasama distribusi, ada pula yang memang niat beli rilisan untuk dikoleksi. Maklum, selain ‘pedagang’, sejatinya mereka adalah kolektor musik yang hobi berburu dan belanja demi ‘kesejahteraan’ rak koleksinya.

Sambil berkeliling, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya sudah berhasil mengamankan beberapa barang incaran. Bukan album-album yang langka sih. Sebagian besar cuma untuk melengkapi koleksi, sisanya memang produk lokal edisi rilisan khusus RSD tahun ini.

Tidak perlu saya ulas juga musiknya, toh hampir semua nama band dan album-album ini sudah cukup dikenal kok.

Faith No More – Introduce Yourself
Faith No More – Live At The Brixton Academy
Dengan tambahan dua album ini berarti koleksi album FNM saya sudah komplit. Semuanya dalam format kaset. Saya jadi lebih tenang untuk menunggu album baru Mike Patton dkk yang konon bakal dirilis sebentar lagi.

Nah, ketika sedang serius memilih kaset Faith No More ini, kawan saya, Indra Zulkarnain (FTP Inc) justru menemukan ‘harta karun’ yang cukup langka di lapak yang sama. Dia nemu satu-satunya album yang pernah dirilis oleh Hindsight, band hardcore lokal di penghujung 90-an. Sialan, kok saya tadi gak melihat kaset itu ya?! Tapi syukurlah kaset itu sudah menemukan pemiliknya yang tepat.

Billy Corgan – The Future Embrace
Ini hasil barter dengan dua kaset di lapak Barongsai Records. Ketika menggenggam CD ini, seorang kawan yang penasaran bertanya, “Album ini bagus tha?!” Mmmh, saya susah untuk menjawabnya. Sebab kalau soal karya Billy Corgan – pakai nama The Smashing Pumpkins, Zwan atau apapun – sifatnya sudah sangat subyektif sekali bagi saya. Saya mungkin terlalu tulus untuk memuja seluruh karya musik si kepala botak ini. Apalagi ada lagu “To Love Somebody”-nya Bee Gees yang dikover oleh Billy Corgan bareng Robert Smith dengan aduhai di album ini.

The Milo – Let Me Begin (repackaged)
Beruntung Barongsai Records mendatangkan album rilis ulang edisi RSD 2015 ini ke Malang, jadi saya tidak perlu order jauh-jauh untuk memilikinya. Ini salah satu band favorit. Saya sudah ada kasetnya sih, tapi format CD yang punya bonus track yang menarik itu memang pantang ditolak.

Oya, untungnya kemarin saya sudah nitip ke seorang teman di ibukota untuk ‘mengamankan’ CD Antah Berantah-nya The Upstairs dan kaset Sajama Cut Manimal yang juga diedarkan spesial di RSD Jakarta. Sebelumnya, sudah ‘mengamankan’ juga satu keping kaset Morfem album Tersesat Di Antariksa yang bernomer seri 111 dari stok dagangan sendiri di lapak @demajors_mlg. Ha!

Octopus – Lucy
Setelah menonton live band ini di malam terakhir RSD, saya langsung memutuskan untuk membeli karya mereka. Octopus memainkan blues-rock yang berat dengan asupan noise dan psikedelia di beberapa bagian. Bayangkan pergumulan musik Black Sabbath dengan The Swords dan Melvins. Kurang lebih seperti itu.

Jenar – Fase
Ini band lokal Malang. Tergolong baru tapi punya mutu musik yang bagus. Jenar memainkan alternatif rock yang tangguh dengan kadar eksperimental/post-rock yang syahdu ala Mew. Mereka punya potensi untuk berkembang lebih jauh. We’ll see.

Spool – Discography
Ini juga rilisan spesial edisi RSD 2015 hasil kolaborasi antara label Gerpfast Kolektif dengan The Paimo Distribution. Spool adalah band shoegaze/ambient asal Jepang yang seluruh personilnya perempuan. Belum saya coba musiknya, kaset ini masih tersegel rapi.

The Flinstone – Flinsnopsis
Ketika sedang diam melamun menjaga lapak, saya tiba-tiba dihampiri seorang pemuda jangkung berambut agak gondrong yang mengajak kenalan. Kemudian dia menyodorkan CD berdesain lucu ini. “Ini album band saya, mas. Buat sampeyan,” katanya ramah. “Ooh, makasih ya. Mmmh…” jawab saya sambil mengangguk-angguk mengamati CD itu. “Eh tapi ini bandnya udah bubar, mas…” ujarnya sambil tertawa meringis. “Loooh?!…” saya langsung berteriak kaget dan sontak membatalkan untuk bertanya lebih lanjut soal band-nya ini. Yah sudahlah…

Napalm Death – Utilitarian
Ini versi kaset yang dirilis oleh Zim Zum Prod (Jakarta). Kebetulan tersedia di lapaknya Andika Terserahati yang bersebelahan dengan lapak saya. Hanya dengan satu gapaian tangan tanpa harus beranjak dari kursi, kaset ini sudah berpindah tangan. Menambah katalog Napalm Death tidak pernah semudah ini sebelumnya.

Sebenarnya ada satu lagi harta karun yang menarik di lapak Hell Is Other Records, yaitu album split Ghaust / Kelelawar Malam dalam format vinyl 7”. Sayang barang itu hanya untuk trade / barter saja, kata empunya. Sampai saya datangi tiga kali ke lapaknya, barang itu tidak juga dilepas meski dengan bujuk rayu nominal atau barter dengan plat kayak No Man’s land, misalnya. Eh tadi di situ juga ada CD mini album Neurosis, tapi ke mana sekarang barangnya?!

Bergeser ke booth sebelah, saya agak panik dan langsung migren saat melihat sekumpulan vinyl Jesu, Darkthrone, Pelican, atau Watain di lapaknya Thrall Division (Kediri). Tapi setelah lihat label harga yang tertera, seketika itu juga saya sadar kalau tidak akan mampu untuk membelinya. Ya sudah, gak papa, saya belum seganas Arman Dhani kok kalau belanja vinyl. Ups…

Ah ya, saya juga kecolongan CD Daft Punk yang album Random Access Memory di salah satu lapak. Ternyata sudah laku ke tangan seorang kawan baik dan kolektor musik veteran, Rusli Hatta.

Uniknya, penemuan terbaik saya justru terjadi lewat pesan pendek. Malam hari menjelang bubaran RSD itu, tiba-tiba muncul WhatsApp dari seorang kawan di ponsel saya. Isinya foto beberapa CD dan kaset, dengan disertai teks singkat, “Ini mau aku lempar, ada yang minat?!…”

Aduh!…

“Oke, sebentar aku cek dulu ya,” jawab saya pura-pura tenang. Padahal seketika itu saya langsung duduk lemas bersandar di kursi lapak. Mencoba tenang sambil mengambil nafas panjang. Lalu menghitung sisa bujet #jajanrock dan siaga memegang hape untuk menyiapkan satu pesan singkat sebagai serangan balik yang mematikan.

Tidak pakai lama, saya langsung ‘hold’ lima barang dagangannya untuk diambil besok siang. Stok sisanya seperti gerombolan kaset Sonic Youth, TAD, Alice In Chains dan Melvins saya relakan untuk dikonsumsi kawan saya, Udin Endeske dari Nadapita Store.

Hasil transaksi via WhatsApp barusan sukses merebut barang-barang sebagai berikut…

Forgotten – Laras Perlaya
Sialan, saya sudah bertahun-tahun cari CD yang dikemas bareng novel ini. Saya berburu sampai ke teman-teman di Jakarta dan Bandung, tapi hasilnya nihil. Mencari lewat lapak online di Facebook juga hampir rutin saya lakukan, tapi selalu menthok. Kalaupun ada, harganya sudah melambung tinggi dan tidak masuk akal. Seringkali kita tidak sadar, barang seperti ini ternyata terdapat pada rak milik teman lama yang berjarak tak lebih tiga kilometer dari rumah kita, dan bisa dituntaskan dengan damai hanya dalam dua kali layanan pesan singkat. Seperti yang kerap diucapkan di media sosial; ini adalah rejeki anak (metal) yang sholeh.

Soundgarden – A Sides
Belakangan, saya mulai mengumpulkan katalog Soundgarden kembali. Saya tidak pernah tahu album yang satu ini. Hanya lewat foto saya lihat sampulnya tertulis nama band ini dan sadar kalau tidak punya, saya langsung putuskan untuk beli. Selamat datang Kim Thayil!

Helmet – Afterstate
Helmet – Meantime
Album Afterstate mungkin hanyalah sebuah hiburan pelengkap dan masih mudah ditemukan, tapi Meantime yang edisi rilisan Philipina ini adalah sebuah ‘smash’ yang layak untuk dirayakan.

Godflesh – Streetcleaner
Sebenarnya saya sudah punya versi CD-nya album ini. Hanya saja saya tidak tega membiarkan kaset rilisan VSP (Malaysia) ini tertinggal sendirian atau jatuh ke tangan yang salah. Akhirnya saya ambil segera, mengingat ini juga salah satu album favorit saya sepanjang masa. Setelah CD dan kaset, saya jadi ingin punya versi vinyl-nya album ini. Huft, bahaya.

Selesai?!… Eh ternyata belum.
Begitu pulang dan sampai di rumah, saya sudah disambut oleh dua paket yang tergeletak di atas meja.

Depraved Murder – Remnants of Depravity
Ini kiriman CD dari Waar Production, untuk materi review di situs The Metal Rebel. Belum saya putar dengan seksama. Namun dari nama, titel dan imejnya, jelas ini adalah komposisi brutal death metal yang kencang serta menyeramkan.

Thrashpit – Perpetual Malice
Akhirnya datang juga kiriman paket dari Undying Music. Thrashpit adalah band thrash metal anyar asal Jakarta. Sangat direkomendasikan jika anda suka Testament, Exodus, atau Death Angel. Thrash on!

Selesai. Sudah itu saja.

Pada akhirnya, rak koleksi saya kembali segar dengan kehadiran album-album tersebut di atas. Saya jadi punya banyak amunisi baru untuk diputar di stereo set dalam beberapa hari ke depan. Meski ikut buka lapak selama dua hari dan berhasil menjual beberapa koleksi pribadi, saya toh tetap pulang dengan saldo nol. RSD memang bikin khilaf, tapi saya cukup puas.

“Independent record stores are like a casino where you put down your money and you always win. How amazing to discover gems you didn’t know about, to meet someone more passionate than you are, and to feel at home in a place you may never have been to before. I’m convinced they will never lose their place – Long may they rule.” – KT Tunstall.

*Oh ya, sebenarnya ada prekuel dari tulisan ini, tentang suasana RSD di Malang dan kegiatan melapak. Silahkan baca pada bagian lain di blog ini.