Sekeping Plat "Barisan Nisan" di Omah Munir.
Sekeping Plat “Barisan Nisan” di Omah Munir.

“Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik ketek kekuasaan. Apakah kita biarkan orang-orang pengecut itu tetep gagah? saya kira tidak, mereka gagal untuk gagah, mereka hanya ganti baju. Tapi dalam tubuh mereka adalah sesuatu kehinaan, sesuatu yang tidak bertanggungjawab, yang mereka akan bayar sampai titik manapun…” – potongan orasi (alm) Munir yang dijadikan intro lagu “Rima Ababil”-nya Homicide.

Salah satu perjanjian semi-rahasia saya dengan Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard a.k.a Ucok Homicide terkait dengan proyek rilis ulang Barisan Nisan adalah mengirimkan piringan hitam itu ke Mbak Suciwati, istri almarhum Munir Said Thalib.

Begitu hasil percakapan kami via mesej Twitter dan WhatsApp kala itu. Setelah saya menulis liner notes di buklet Barisan Nisan, Ucok akan mengirimkan dua biji vinyl ke Malang – satu buat saya, satunya lagi dia nitip buat Mbak Suciwati.

Sudah cukup alasan bagi Ucok kenapa Homicide musti memberikan sekeping piringan hitam album mereka kepada istri (alm) Munir. Tidak perlu dijelaskan lagi jika kita menyimak perjalanan Homicide, inspirasinya, pesan-pesannya, atau sekedar pernah mendengar intro lagu “Rima Ababil” yang saya kutip di bagian awal tulisan ini.

Begitu Barisan Nisan sampai di Malang. Saya langsung kontak Mbak Fifi, senior saya di kampus yang saat ini menjabat sebagai Direktur Omah Munir. Dia termasuk orang terdekat dan sahabat Mbak Suciwati. Saya menanyakan jadwal Mbak Suci dan kemungkinan bertemu dengan beliau untuk menyampaikan plat Barisan Nisan. Maklum, Mbak Suci juga jadwalnya padat dan tidak selalu berada di Malang.

“Oke, nanti saya kabari ya dek…” jawab Mbak Fifi singkat lewat pesan pendeknya kepada saya.

Selang beberapa hari, tiba-tiba di suatu pagi, 25 Februari 2015, muncul missed-call dan sms di ponsel saya. Ternyata dari Mbak Fifi, yang mengabarkan kalau hari itu Mbak Suciwati sedang berada di Omah Munir. Sebaiknya sekarang kalau mau menemui Mbak Suci, katanya. Saya langsung bangkit dari tempat tidur, mandi, dan bergegas berangkat ke Omah Munir di Batu.

Kurang dari 30 menit saya sudah sampai di sana. Di teras depan, sudah tampak Mbak Fifi dan Mbak Suci yang sedang asyik berbincang berdua. Saya sapa mereka dan ikut duduk di kursi panjang itu. Sembari mengobrol, saya keluarkan plat Barisan Nisan dan sepucuk surat tertutup titipan Ucok dari tas dan langsung saya sampaikan ke tangan Mbak Suci.

Tak lupa, saya kenalkan sedikit soal Ucok dan Homicide kepada beliau.

“Oh, Ucok? Bandung? Yayaya, saya tahu namanya. Pernah diceritain juga,” katanya sambil manggut-manggut. “Eh, tapi orang Sunda kok namanya Ucok yah?!…”

Mata Mbak Suci langsung berbinar ketika memegang plat Barisan Nisan. Membolak-balik sampulnya dengan antusias, lalu berujar, “Wah, kudu punya pemutar piringan hitam nih! Pingin denger lagunya.”

Mbak suci lalu membuka amplop dan membaca serius surat yang sepertinya ditulis tangan oleh Ucok sendiri. Entah apa isinya, hanya Ucok dan Mbak Suci yang tahu.

“Wah, keren ini. Eh ada nomer hape-nya Ucok? Mau aku telpon sekarang nih…”

Dengan lancang saya lalu menuliskan nomer ponsel Ucok di balik kertas suratnya. Mbak Suci langsung menelpon dan berbincang sebentar Ucok saat itu juga. Mengenalkan diri, mengucapkan terima kasih, bercanda soal bagaimana cara mutar piringan hitam, dan diakhiri dengan ucapan salam perjuangan.

Percakapan mereka cukup singkat, dan sepertinya bermakna. Saya suka melihatnya.
Saya juga membayangkan Ucok pasti kaget kok tiba-tiba ditelpon oleh Mbak Suciwati. Ha!

Mbak Suciwati dan Mbak Fifi lalu semangat minta difoto sambil memegang vinyl Barisan Nisan. Dalam berbagai pose, layaknya anak muda jaman sekarang yang baru dapat barang baru. Seru dan menyenangkan.

Mbak Suciwati bersama "Barisan Nisan" di teras Omah Munir [25/02].
Mbak Suciwati bersama “Barisan Nisan” di teras Omah Munir [25/02].

Sampai di sini, berarti tugas saya untuk mengantarkan pulang “Rima Ababil” sudah selesai. Barisan Nisan sudah sampai ke tangan Mbak Suciwati, di hadapan foto besar (alm) Munir yang sedang berdiri, dan tepat di halaman rumah keluarga mereka sendiri.

Salam Perjuangan!…

“Rima ini kurancang untuk menantang mitos, hegemoni rezim dewa logos, kurancang rima ababil yang bidani holokos, jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos.”

*Tulisan liner notes saya untuk proyek reissue “Barisan Nisan” bisa dibaca melalui situs Jakartabeat atau pada bagian lain di blog ini.