Be The Media!
Be The Media!

Sekedar pengalaman ‘manggung’ di ruang siaran radio, serta kelas jurnalisme musik di sebuah sudut kampus.

Jum’at malam lalu, 27 Maret 2015, saya diundang oleh radio Mas FM untuk sekedar bincang-bincang atau talkshow membahas soal musik indie secara on-air. Kata Deedee (Program Director Mas FM), seorang teman yang merekomendasikan saya untuk ‘duduk’ di sana – sebelumnya mereka kerap mengundang band indie lokal pada program tersebut.

Well, agak susah untuk bicara soal musik indie di radio yang punya segmen pendengar keluarga. Mas FM mungkin bukan radio yang hype di kalangan anak muda kota Malang, mereka cenderung lebih adult atau dewasa konsep siarannya. Bahkan, katanya, untuk memutar lagu metal yang berdistorsi saja agak susah di situ.

Tapi ya kudu dicoba. Membahas musik indie dengan cara yang lebih ‘dewasa’ dan ‘serius’ bisa akan jadi lebih tepat serta menarik. Bayangkan radio BBC dengan program Peel Sessions-nya yang smart dan legendaris itu. Mmmh…

Alhasil, dengan dipandu oleh sang penyiar, saya bicara soal musik indie secara umum saja malam itu. Seperti apa maknanya, bagaimana sejarahnya, lalu seperti apa perkembangannya baik di Indonesia atau di kota Malang sendiri. Ada beberapa pendengar yang bertanya dan menanggapi via sosmed juga. Ada yang baru tahu kalau indie itu sebenarnya bukan genre musik, (masih) ada yang nanya apa bedanya indie dengan mainstream/major, dan macem-macem lagi. Sebagian adalah topik yang usang dan membosankan, sejujurnya.

Tidak terasa satu jam berlalu. Mungkin masih ala kadarnya dan kurang lama durasinya. Terus terang, Mas FM butuh konsep program, wawasan musik serta playlist yang lebih baik lagi kalau memang mau serius mengupas musik indie dan komunitasnya. Sekali lagi, coba pelajari Peel Sessions.

Ketika selesai dan keluar dari ruang siaran, saya hanya bisa bergumam, “Di radio…aku dengar…lagu indie kesayanganmu…”

Corporate magazine still sucks?!...
Corporate magazine still sucks?!…

Seminggu kemudian, 03 April 2015, saya diundang jadi narasumber untuk materi Jurnalisme Musik dan Pengelolaan Media Alternatif oleh Ikabama UMM. Mereka adalah organisasi atau UKM yang menaungi mahasiswa yang doyan maen band dan bermusik di lngkup kampus UMM. Kebetulan mereka katanya mau bikin media juga, berupa blog musik atau e-magz. Klop dah.

Seperti biasa, saya selalu membahas Jurnalisme Musik lewat cuplikan film Almost Famous. Di awal sesi saya putarkan potongan adegan ketika Lester Bangs memberi nasehat pada William Miller, pemuda yang terobsesi menjadi jurnalis musik rock. Saya selalu suka kalimat terakhir Lester Bangs soal tips menulis musik kepada Will, “Being Honest, and unmerciful.”

almost-famous-honest-unmerciful
Lester Bangs to William Miller, “Being honest, and unmerciful.”

Lalu saya ulas secara umum perjalanan sejarah dan perkembangan jurnalisme musik sejak abad 18, hingga ke invasi The Beatles di paruh 60-an sampai era MTV di 90-an, serta masuk pada jaman digital di era 2000-an. Di sela-sela itu juga saya paparkan sedikit soal New Journalism dan Gonzo Journalism sebagai kaidah yang paling seru untuk menulis artikel (musik).

Di sesi kedua saya kupas soal Pengelolaan Media Alternatif. Pertama, saya putarkan lagi video A Local Look At Modern Music Journalism sebagai pengantar. Lalu masuk pada ulasan tentang media mainstream vs media alternatif, kondisi media dan jurnalisme saat ini, sampai pada tips & trik tehnis untuk mengelola media komunitas (yang akan diproduksi oleh Ikabama UMM).

Puluhan mahasiswa tertarik untuk diskusi dan bertanya soal banyak hal sore itu. Mereka tampak cukup antusias dan banyak menemukan hal baru. Tidak cuma soal jurnalisme dan media saja, diskusi kami bisa melebar sampai pada fenomena band dan komunitas musik lokal. Kebetulan banyak anak band yang aktif dan cukup paham dengan scene musik di Malang. Jadi makin seru aja suasana diskusinya.

Salah satu pertanyaan yang paling unik dan menggelitik adalah, “Mas, apa bener yang saya baca di internet kemaren kalo lirik lagu ‘Bohemian Rhapsody’ itu berisi pesan-pesan satanisme?!”

Hah?!…

Kelas Jurnalisme & Media Musik - photo by Febbi.
Kelas Jurnalisme & Media Musik – photo by Febbi.

Saya jadi ingat, mahasiswa itu katanya merupakan generasi terakhir yang masih punya idealisme tinggi, tulus berkarya, dan jauh dari berbagai kepentingan yang tidak penting. Semoga mereka juga seperti itu. Menyenangkan bisa belajar bareng dan berbagi dengan anak-anak muda yang penuh semangat.

Well, semoga dua ‘aksi panggung’ saya di atas memang bermanfaat.